共有

Bab 45. Aku Rindu, Kak

作者: Zara Kisaka
last update 公開日: 2026-06-03 22:58:10

Sore harinya, suasana di lantai teratas kantor menjadi semakin sunyi setelah jarum jam melewati angka lima. Sebagian besar staf administrasi sudah merapikan meja dan bersiap untuk pulang.

​Vio menatap layar komputernya yang menampilkan tabel jadwal kegiatan untuk pekan depan. Matanya berulang kali melirik ke arah ponsel yang diletakkan telungkup di samping papan ketik.

​Tepat pukul lima lebih lima belas menit, layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah pesan singkat dari Gisella.

[Aku dan
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 72. Apa Isi Surat Itu?

    Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 71. Rasa Gelisah

    Pagi itu, sinar matahari menembus celah kelambu sutra vila dengan kehangatan yang lembut. Vio menggeliat pelan, perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraba sisi ranjang di sebelahnya, mencari kehangatan tubuh Kael yang semalam memeluknya begitu protektif.Namun ternyata kosong. Kasur di sebelahnya sudah tak ada siapa pun lagi, menyisakan seprai yang sedikit berantakan.Vio membuka mata sepenuhnya, lalu tersenyum kecil. Sambil memegangi lehernya yang masih menyisakan rasa perih manis akibat tanda kemerahan hasil ciuman panas Kael semalam, dia beranjak bangun. Pagi ini, ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Vio tidak sabar ingin segera berlari, menghambur ke pelukan Kael, dan menggelayut manja di lengan pria itu seperti hari-hari sebelumnya.Dengan langkah ringan, Vio berjalan keluar kamar. “Kael?” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.Vio melangkah menuju ruang tengah, sepi. Dia kemudian berbelok ke arah dapur. Biasanya, setiap

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 70. Malam Manis yang Menyakitkan

    ​Matahari sore itu turun dengan warna jingga di langit perairan vila. Demi memberikan ketenangan bagi Vio, Kael telah memerintahkan Bagas dan seluruh anak buahnya untuk menyingkir dari area pulau. Mereka semua diperintahkan berjaga di kapal patroli yang jauh di batas perairan, memastikan pulau privat itu benar-benar menjadi dunia milik mereka berdua saja.​Vio keluar dari teras vila dengan gaun pantai berbahan katun tipis berwarna putih. Di tepi pantai, Kael sudah menunggu. Pria itu menanggalkan seluruh atributnya, hanya mengenakan celana pendek dan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Di dekat sebuah pohon kelapa yang rindang, Kael telah menyiapkan panggangan arang kecil untuk membakar ikan hasil pancingannya, persis seperti yang pernah Vio impikan dulu.​Begitu makanan habis dan langit berubah menjadi keunguan, Kael langsung menarik Vio ke dalam pangkuannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun yang tersisa. Vio berbalik posisi hingga kini duduk menghadap K

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 69. Tak Ingin Kehilangan Lagi

    Kapal milik Kael tidak membawa mereka kembali ke hiruk-pikuk Jakarta. Atas perintah Kael langsung, kemudi diputar menuju sebuah pulau privat kecil lainnya sebuah vila peristirahatan tersembunyi milik klan naga hitam yang jauh dari jangkauan siapa pun.Sebelum kapal merapat, Kael sempat menghubungi sang kakek melalui jalur telepon satelit yang aman. Di bawah langit subuh yang remang, Kael mengabaikan sisa harga dirinya demi memohon satu hal terakhir.“Beri aku waktu, Kek.” Suara Kael terdengar sangat berat, penuh dengan keputusasaan yang melelahkan. “Kondisinya kritis. Izinkan aku merawatnya di vila sampai dia benar-benar pulih dan siap berdiri di atas kakinya sendiri. Setelah itu... aku akan datang ke Bogor, memakai cincin pertunangan itu, dan pergi dari kehidupannya untuk selamanya.”Di seberang telepon, sang kakek sempat terdiam, sebelum akhirnya terkekeh rendah. Pria tua itu tahu cucunya tidak akan ingkar janji setelah takhta mafia dilepaskan untuknya. “Baik. Aku akan menunggumu.

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 68. Aku Merindukanmu

    Laut malam itu bergulung hitam di bawah langit yang gelap tanpa bintang. Di atas dek kapal perang berkecepatan tinggi yang membelah ombak dengan liar, Kael berdiri tegak di barisan paling depan. Seragam hitamnya melekat pas di tubuh, lengkap dengan rompi anti peluru dan senjata laras panjang yang tergantung di dadanya. Di kerah bajunya, sebuah emblem naga emas berkilat samar tertimpa cahaya lampu, sebuah simbol kekuasaan mafia yang kini resmi dia genggam. Di belakang Kael, puluhan pria bersenjata lengkap dari klan naga hitam berdiri kokoh dalam kesunyian yang mencekam. Mereka semua tunduk pada satu perintah mutlak dari sang pewaris baru. Namun, di balik penampilannya yang tampak dingin dan mematikan seperti malaikat pencabut nyawa, dada Kael bergemuruh hebat. Pikirannya tidak berada di medan pertempuran ini, pikirannya telah melesat jauh ke dalam sebuah kamar di Pulau Caraka. ‘Bagaimana keadaanmu sekarang, Vio?’ batin Kael meraung frustrasi. Setiap detik yang berlalu terasa sep

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 67. Ingin Malam Pertama

    Rintik hujan di luar jendela kaca besar vila Pulau Caraka seolah menjadi latar musik bagi penderitaan Vio yang tiada akhir. Di sudut lantai dingin itu, kondisi fisik Vio sudah berada di ambang batas pertahanan manusia. Bibirnya pecah-pecah hingga mengeluarkan darah kering, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang pekat, dan tubuhnya terus menggigil akibat mogok makan dan minum sejak menginjakkan kaki di pulau terkutuk ini. Namun, rasa sakit di perutnya yang melilit tidak sebanding dengan siksaan mental yang menghantam jiwanya. Penyesalan karena telah salah paham pada Kael terus merongrong dadanya. ‘Kael... maafkan aku... aku tahu kamu tidak bersalah,’ batin Vio menjerit pilu dalam sunyi, meratapi ketololannya yang langsung berlari pergi malam itu hingga berakhir di tangan monster berwajah malaikat ini. Klek. Suara pintu terbuka seketika memicu alarm bahaya di otak Vio. Tubuhnya yang lemas refleks menegang, mempererat pelukan pada lututnya seolah ingin menghilang ke dalam dindi

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 57. Siapa yang Menyuruhmu?

    Gisella terkesiap. Cengkeraman tangan Kael di kerah gaunnya begitu kuat hingga ia merasa pasokan oksigen ke tenggorokannya mendadak menipis. Namun, alih-alih ketakutan, seulas senyum tipis yang sarat akan kelicikan justru terukir di sudut bermake-up-nya yang berantakan.“Lepas... Pak Kael…” Gisella

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 56. Jangan Sentuh Aku!

    Taksi yang membawa Vio melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang dengan kecepatan tinggi. Di kursi belakang, gadis itu tidak bisa duduk dengan tenang. Kedua tangannya bertautan erat, meremas tali tas hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata kecemasan sudah merebak di pelupuk matanya. Pikira

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 55. Rencana Licik Gisella

    ​Suasana malam di ballroom hotel bintang lima itu tampak begitu gemerlap. Alunan musik jazz lembut mengiringi obrolan para petinggi perusahaan dan klien asing yang hadir dalam acara jamuan makan malam penting malam itu. Kael, dengan setelan tuksedo hitam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, b

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 54. Memanfaatkan Vio

    Vio melangkah keluar dari ruangan Kael dengan dada yang bergemuruh hebat. Dia buru-buru duduk di kursi kerjanya, menundukkan kepala sedalam mungkin, dan berpura-pura sangat sibuk menatap layar monitor yang menampilkan barisan angka laporan keuangan. Di balik meja, jemari tangannya masih bergetar h

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status