تسجيل الدخولVio masih terpaku di kursinya bahkan setelah Kael meninggalkan ruangan. Kalimat ‘Hanya aku yang boleh melakukannya’ terus terngiang dalam pikiran, menciptakan getaran aneh di perut bawahnya yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh delapan tahun hidupnya.
Baru saja ia hendak menarik napas panjang, telepon di mejanya berdering. “Vio, segera ke lantai paling atas. Ke ruangan CEO yang baru. Beliau meminta berkas administrasi proyek Golden City diserahkan secara pribadi,” suara atasannya terdengar tegang. Vio mengernyit. Lantai atas? Itu adalah area eksklusif yang jarang ia pijak sebagai karyawan biasa. Dengan perasaan yang sedikit tidak nyaman, Vio merapikan rok span-nya yang sedikit kusut, memoles lipstik tipis untuk menutupi wajahnya yang pucat, lalu melangkah menuju lift. Sesampainya di depan pintu kayu jati yang cukup mewah, Vio langsung mengetuk pelan. “Masuk.” Suara itu membuat Vio menelan ludah. Ia mendorong pintu dan mendapati Kael sedang duduk dibalik meja besar dengan kacamata menyamarkan tatapannya yang tajam. Kael terlihat begitu dominan, sangat berbeda dengan adik yang tadi pagi ia lihat di meja makan. “Ini berkasnya, Pak… maksudku, Kael,” ucap Vio canggung, meletakkan map di meja. Kael tidak menyentuh map itu. Ia justru melepas kacamatanya, menyandarkan punggung ke kursi, dan menatap Vio dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu begitu intens, seolah sedang menyelidiki Vio secara detail. “Mulai hari ini, meja kerja Kakak ada di ruangan sebelahku. Kakak akan membantuku sebagai asisten pribadi,” Kael berkata sambil melangkah mendahului Vio. “Ini amanah Papa, Kak. Apa Kakak mau aku dicap sebagai anak angkat yang tidak becus menjaga kakaknya sendiri?” Senjata itu benar-benar ampuh. Vio langsung terdiam, berfikir sejenak. Ia paling tidak suka jika Kael merasa rendah diri karena statusnya sebagai anak angkat, tetapi di sisi lain juga tidak menyukai pekerjaan rumit yang merepotkan seperti menjadi sekertaris. “Tapi, aku tidak suka pekerjaan merepotkan seperti itu, Kael.” “Kakak tidak perlu repot-repot.” Kael beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati Vio yang kini tengah berdiri. Ia berjalan ke belakang Vio sambil menghirup aroma rambut. Jarak sedekat itu membuat jantung Vio berdebar tak karuan. Ia bisa merasakan hangatnya napas Kael, juga aroma tubuh khas seorang pria maskulin. Sambil berusaha menenangkan diri, Vio kembali bertanya, “tidak perlu repot bagaimana? Jelas-jelas aku harus mengurus segala keperluanmu.” Kael yang tengah berfantasi dalam pikiran dengan Vio sebagai pemeran utama pun dengan santainya mengatakan. “Semua pekerjaan Kakak biar asisten pribadiku yang mengerjakan.” Vio bergidik, entah sejak kapan Kael menjadi aneh seperti ini. Hanya saja, ia pun tak bisa menolak kedekatan yang baginya menyenangkan ini. “Aku takut orang berfikir kalau aku makan gaji buta.” Kael menghentikan fantasinya, lalu duduk di sofa dengan kaki menyilang. “Tidak akan ada yang tau apa yang terjadi. Mereka hanya tau kakak asistenku.” Vio tau betul sikap Kael yang keras kepala. Jika sudah bersikeras, maka kecil kemungkinan baginya untuk bisa menolak. Sambil menghela napas panjang, Vio akhirnya mengangguk pelan. Kael tersenyum tipis, lalu beranjak. “Kalau begitu ikut aku.” Vio lagi-lagi menghela napas. ‘Awas saja Kael, di rumah nanti kamu tidak akan bisa berlagak seperti bos seperti sekarang,’ batin Vio sambil mengepalkan tangan. Kael kini berdiri di luar ruang kerjanya, tepat di depan meja sekertaris. “Ini meja kerja Kakak, aku sengaja mengatur posisi seperti ini agar aku bisa terus mengawasi Kakak.” ‘Apa? Bukankah ini namanya dia merusak kebebasanku? Apa-apaan jendela kaca yang langsung mengarah ke mejanya ini?’ batin Vio lagi. Sebelum Vio sempat protes, ponsel Kael berdering. “Ya, saya segera kesana,” jawab Kael singkat. “Kak, aku ada urusan penting. Kakak di sini saja tidak perlu ikut.” Kael sengaja tidak membawa Vio pergi bersamanya karena ada urusan yang ia tak ingin kakak angkatnya itu tau. “Ya sudah, hati-hati di jalan.” Dengan langkah gontai Vio berjalan menuju meja kerjanya. “Hari pertama kerja jadi sekretaris tapi malah sudah ditinggal seperti anak ayam kehilangan induknya.” Vio lagi-lagi menghela napas panjang. “Kenapa Kael sangat menyebalkan?” Vio memilih untuk menyibukkan diri, dengan bersih-bersih meja kerjanya. Ya, tentu saja karena dia sama sekali tidak tahu harus mengerjakan apa. Di tengah kesibukan bersih-bersih Vio. Seorang wanita dengan gaya glamour tiba-tiba muncul. Dia menerobos masuk, mengabaikan security di depan lift karena merasa punya hak. Wanita itu kini berdiri di belakang Vio sambil menyilangkan tangan. “Di mana Kael?” tanyanya, ketus. Vio mengernyitkan alis. “Pak Kael sedang tidak di kantor, katanya ada urusan penting.” “Jangan bohong kamu! Urusan apa yang lebih penting dariku? Aku ini tunangannya! Seseorang yang selalu dia prioritaskan!” Jantung Vio berdegup tak karuan, ada sesuatu yang seakan menghantam dadanya. Tunangan? Kael tidak pernah mengatakan apa pun pada Vio. Benarkah perempuan ini tunangan Kael? “Pak Kael tidak pernah mengatakan apapun tentang Anda! Jadi tidak perlu ngaku-ngaku seperti itu.” Vio mulai kesal, terlebih saat wanita itu bertingkah layaknya bos. “Oh, memang kamu siapa? Keluarganya? Cih.” Wanita itu meludah, seakan Vio begitu hina. “Hanya karyawan rendahan saja sudah berani ikut campur urusan atasannya.” Vio tersenyum miring. Tentu saja dia tau karena memang saudaranya Kael. Hanya saja, Vio enggan membongkar hubungan mereka di kantor. Ia tak ingin terjadi kehebohan karena ia tak suka dengan hal yang merepotkan. “Lebih baik Anda pergi sekarang juga sebelum saya panggil security!” ancam Vio yang semakin muak dengan tingkah perempuan itu. Bukannya pergi, wanita itu malah berjalan mendekat, lalu sebuah tamparan mendarat dengan cepat di pipi Vio. “Itulah hukumannya jika berani kurang ajar dengan tunangan atasan.” Wanita itu mengusapkan telapak tangannya ke rok, seakan baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikan. Vio mengusap pipi yang terasa panas sambil menatap tajam wanita menyebalkan di depannya, bersiap untuk membalas tamparan barusan. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu mengayunkan dengan cepat. Namun, belum sempat telapak Vio menyentuh wanita itu, sebuah tangan kekar menahannya dengan cepat. “Violleta, hentikan ini!” Deg Dada Vio terasa sesak saat tau seseorang yang menahannya adalah Kael.Ciuman panjang dan dalam di atas meja bar tadi akhirnya mereda. Kael perlahan melepaskan tautan bibir mereka, menatap Vio yang terkulai lemas di dalam dekapannya dengan napas naik turun yang berantakan.Vio menyandarkan kepalanya di dada bidang Kael, mendengarkan detak jantung suaminya yang bergemuruh kencang. Pikiran polosnya yang tadi dipenuhi pertanyaan tentang orang tua, perlahan memudar, tergantikan oleh rasa hangat dan cinta murni yang selalu ditawarkan Kael.“Maafkan aku ya, Suamiku,” bisik Vio lirih, jemari kecilnya meremas kemeja putih yang dikenakannya. “Aku tidak akan bertanya yang aneh-aneh lagi. Aku tidak ingin membuat suamiku sedih.”Mendengar bisikan itu, dada Kael serasa dihantam rasa bersalah yang luar biasa. Namun, rasa posesifnya dengan cepat meredam penyesalan itu. Kael mengecup puncak kepala Vio dengan amat lama, mengusap punggung halus istrinya penuh kasih sayang.“Kamu tidak salah, Sayang. Tidak perlu minta maaf,” balas Kael lembut, suaranya kembali tenang me
Sinar matahari pagi menerobos dinding kaca raksasa, membiaskan warna keemasan di atas meja makan kayu yang menghadap langsung ke hamparan laut biru. Suara deburan ombak yang tenang dan aroma kopi hangat mengisi keheningan villa yang privat itu.Vio sedang duduk di kursi tinggi dekat meja bar dapur, mengenakan salah satu kemeja putih milik Kael yang kebesaran hingga menutupi separuh pahanya. Pria itu baru saja memanjakannya dengan kecupan-kecupan hangat di pergelangan tangan sebelum sibuk membuatkan sarapan omelet untuk mereka berdua.Melihat Kael yang begitu telaten membolak-balikkan masakan, dada Vio dipenuhi rasa hangat yang membuncah. Namun, di tengah ketenangan itu, ada satu ruang kosong di benaknya yang mendadak terusik sejak beberapa hari terakhir.Vio meletakkan cangkir tehnya perlahan. Manik matanya yang jernih dan polos menatap punggung tegap Kael yang membelakanginya.“Suamiku,” panggil Vio pelan.“Iya, Sayang?” sahut Kael lembut tanpa berbalik, mengulas senyum manis kar
Mesin mobil menderu kencang menembus kegelapan malam. Hujan deras dan petir menyambar di luar, membasahi kaca mobil yang sudah dirancang khusus tahan peluru.Di kursi belakang yang luas dan bernuansa kulit mewah, Kael duduk bersandar. Keagresifan dan emosi Kael yang meletup-letup sejak kejadian tadi belum benar-benar mereda. Pria itu tidak membiarkan Vio duduk di kursinya sendiri. Sejak awal mobil bergerak, Kael sudah menarik Vio ke dalam pangkauannya.Kael merangkul pinggang ramping istrinya sangat erat, menyembunyikan wajah tampannya di ceruk leher Vio. Napasnya hangat dan memburu, menyesap aroma tubuh Vio berulang kali bagaikan pria yang sedang kecanduan.“Suamiku,” ucap Vio lembut, memegang bahu lebar Kael. Pipi Vio merona merah sempurna di bawah remang lampu interior mobil. “Jangan memelukku terlalu kencang, nanti lukamu makin sakit.”Vio memegang kapas bertotol alkohol dan perban kecil di tangan kirinya. Dengan telaten Vio berusaha mengobati luka robek di sudut bibir dan buku-bu
Angin malam yang biasanya sejuk mendadak berubah menjadi badai buatan. Suara baling-baling helikopter begitu memekakkan telinga, menerbangkan dedaunan dan membuat debu berhamburan.Vio yang baru saja melangkah keluar dengan balutan gaun tidur putih tipisnya dan sebuah kardigan rajut, terpaksa menyipitkan mata dan menghalangi wajahnya dengan tangan. Jantungnya berdebar kencang, ketakutan mulai merayap di dadanya yang lugu.“Suamiku, kamu di mana?” panggil Vio dengan suara bergetar, nyaris tenggelam oleh suara bising baling-baling.Dari balik pepohonan yang tersorot lampu helikopter, sesosok pria berjaket kulit melangkah cepat mendekati pekarangan. Itu bukan Kael. Pria itu adalah Rey, dengan wajah tegang dan luka tembak di dadanya yang belum sepenuhnya pulih.Melihat Vio berdiri di teras dengan raut ketakutan, Rey bernapas lega. “Violletta! Akhirnya aku menemukanmu!” panggil Rey seraya berlari menaiki tangga teras kayu.Vio tersentak kaget. Secara refleks, naluri bertahannya beker
Gemericik air sungai yang jernih dan udara perbukitan yang sejuk menjadi latar sempurna di sore itu. Vio sedang melangkah pelan di tepi sungai, mencelupkan jemari kakinya ke dalam air yang dingin. Gaun terusan berwarna putih lembut yang dikenakannya melambai ditiup angin, membuatnya tampak begitu murni dan cantik.Kael melangkah mendekat dari belakang tanpa suara. Dengan sifat agresif yang makin tak terkendali setiap harinya, pria itu langsung merengkuh pinggang Vio, menarik tubuh ramping istrinya hingga menempel ketat di dada bidangnya.“Suamiku!” Vio tertawa renyah, refleks memegang kedua lengan kokoh Kael yang melingkar di perutnya.Kael tidak membiarkan Vio berbalik. Dia menenggelamkan wajahnya di antara leher dan bahu Vio, menyesap wangi tubuh istrinya dengan hembusan napas yang berat dan memabukkan. Bibirnya menyusuri leher jenjang Vio, memberikan gigitan-gigitan kecil yang manja hingga Vio menggeliat geli dan melenguh pelan.“Sayang, airnya dingin, tapi tubuhmu sangat hangat,”
Sinar matahari pagi menembus celah jendela kayu, membiaskan cahaya keemasan di atas meja makan. Vio terbangun lebih dulu dengan tubuh yang terasa sedikit pegal, tetapi dipenuhi kehangatan luar biasa. Dengan berbalut gaun tidur santai sebatas lutut, Vio berniat menyiapkan sarapan sederhana untuk suami tercintanya.Saat Vio sedang fokus memotong buah apel dan merebus telur, dua lengan kokoh nan hangat tiba-tiba melingkar erat di pinggangnya dari belakang, membuat Vio terkejut bukan main. “Suamiku... ih,” protes Vio, tubuhnya sedikit tersentak.Kael tidak menyahut dengan kata-kata. Pria itu menenggelamkan wajah tampannya di leher jenjang Vio, menyesap aroma alami tubuh sang istri yang selalu berhasil membakar nalurinya. Dengan sifat agresifnya yang dominan, Kael langsung mengecupi leher Vio dari belakang, membuat desah pelan terlepas begitu saja dari bibir mungil Vio.“Pagi istriku,” bisik Kael dengan suara serak khas bangun tidur, seraya memutar tubuh Vio agar menghadapnya.Sebelum Vio
Malam semakin larut, tetapi kelopak mata Violletta seolah enggan merapat. Ia berbaring telentang, menatap langit-langit kamar dengan cahaya remang sementara pikirannya berkecamuk hebat. Ucapan Kael tadi dan permintaan perjodohan dari Papa berputar-putar seperti badai yang tak kunjung reda.Vio men
Vio masih merasakan sensasi dingin dari salep yang dioleskan Kael saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama ‘Papa’ berkedip di layar. Tanpa berfikir panjang, Vio meraihnya dan langsung menekan tombol loudspeaker. Ini sudah menjadi tradisi sejak Kael masih remaja dimana saat Papa atau Mama mene
Sore itu, perjalanan pulang yang seharusnya menjadi momen untuk menjernihkan pikiran justru berubah menjadi neraka baru bagi Violletta. Di dalam kabin mobil yang mewah, keheningan terasa begitu berat, hanya aroma parfum milik Kael yang memenuhi indra penciuman Vio, membuatnya merasa seolah sedang
Vio merasakan matanya panas. Bukan karena rasa perih di pipinya yang mulai membiru, tapi karena cengkeraman tangan Kael di pergelangan tangannya terasa begitu dingin. Pria yang tadi pagi bersikap seolah ingin menjaga dan melindunginya, kini justru berdiri menjadi tameng bagi wanita yang baru saja m







