Share

Bab 2. Tunangan?

Author: Zara Kisaka
last update publish date: 2026-04-09 16:34:10

Vio masih terpaku di kursinya bahkan setelah Kael meninggalkan ruangan. Kalimat ‘Hanya aku yang boleh melakukannya’ terus terngiang dalam pikiran, menciptakan getaran aneh di perut bawahnya yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh delapan tahun hidupnya.

​Baru saja ia hendak menarik napas panjang, telepon di mejanya berdering.

​“Vio, segera ke lantai paling atas. Ke ruangan CEO yang baru. Beliau meminta berkas administrasi proyek Golden City diserahkan secara pribadi,” suara atasannya terdengar tegang.

​Vio mengernyit. Lantai atas? Itu adalah area eksklusif yang jarang ia pijak sebagai karyawan biasa. Dengan perasaan yang sedikit tidak nyaman, Vio merapikan rok span-nya yang sedikit kusut, memoles lipstik tipis untuk menutupi wajahnya yang pucat, lalu melangkah menuju lift.

​Sesampainya di depan pintu kayu jati yang cukup mewah, Vio langsung mengetuk pelan.

​“Masuk.”

​Suara itu membuat Vio menelan ludah. Ia mendorong pintu dan mendapati Kael sedang duduk dibalik meja besar dengan kacamata menyamarkan tatapannya yang tajam. Kael terlihat begitu dominan, sangat berbeda dengan adik yang tadi pagi ia lihat di meja makan.

​“Ini berkasnya, Pak… maksudku, Kael,” ucap Vio canggung, meletakkan map di meja.

​Kael tidak menyentuh map itu. Ia justru melepas kacamatanya, menyandarkan punggung ke kursi, dan menatap Vio dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapan itu begitu intens, seolah sedang menyelidiki Vio secara detail.

“Mulai hari ini, meja kerja Kakak ada di ruangan sebelahku. Kakak akan membantuku sebagai asisten pribadi,” Kael berkata sambil melangkah mendahului Vio. “Ini amanah Papa, Kak. Apa Kakak mau aku dicap sebagai anak angkat yang tidak becus menjaga kakaknya sendiri?”

​Senjata itu benar-benar ampuh. Vio langsung terdiam, berfikir sejenak. Ia paling tidak suka jika Kael merasa rendah diri karena statusnya sebagai anak angkat, tetapi di sisi lain juga tidak menyukai pekerjaan rumit yang merepotkan seperti menjadi sekertaris.

“Tapi, aku tidak suka pekerjaan merepotkan seperti itu, Kael.”

“Kakak tidak perlu repot-repot.” Kael beranjak dari tempat duduknya, lalu mendekati Vio yang kini tengah berdiri. Ia berjalan ke belakang Vio sambil menghirup aroma rambut.

Jarak sedekat itu membuat jantung Vio berdebar tak karuan. Ia bisa merasakan hangatnya napas Kael, juga aroma tubuh khas seorang pria maskulin.

Sambil berusaha menenangkan diri, Vio kembali bertanya, “tidak perlu repot bagaimana? Jelas-jelas aku harus mengurus segala keperluanmu.”

Kael yang tengah berfantasi dalam pikiran dengan Vio sebagai pemeran utama pun dengan santainya mengatakan. “Semua pekerjaan Kakak biar asisten pribadiku yang mengerjakan.”

Vio bergidik, entah sejak kapan Kael menjadi aneh seperti ini. Hanya saja, ia pun tak bisa menolak kedekatan yang baginya menyenangkan ini.

“Aku takut orang berfikir kalau aku makan gaji buta.”

Kael menghentikan fantasinya, lalu duduk di sofa dengan kaki menyilang. “Tidak akan ada yang tau apa yang terjadi. Mereka hanya tau kakak asistenku.”

Vio tau betul sikap Kael yang keras kepala. Jika sudah bersikeras, maka kecil kemungkinan baginya untuk bisa menolak.

Sambil menghela napas panjang, Vio akhirnya mengangguk pelan.

Kael tersenyum tipis, lalu beranjak. “Kalau begitu ikut aku.”

Vio lagi-lagi menghela napas.

‘Awas saja Kael, di rumah nanti kamu tidak akan bisa berlagak seperti bos seperti sekarang,’ batin Vio sambil mengepalkan tangan.

Kael kini berdiri di luar ruang kerjanya, tepat di depan meja sekertaris.

“Ini meja kerja Kakak, aku sengaja mengatur posisi seperti ini agar aku bisa terus mengawasi Kakak.”

‘Apa? Bukankah ini namanya dia merusak kebebasanku? Apa-apaan jendela kaca yang langsung mengarah ke mejanya ini?’ batin Vio lagi.

Sebelum Vio sempat protes, ponsel Kael berdering.

“Ya, saya segera kesana,” jawab Kael singkat.

“Kak, aku ada urusan penting. Kakak di sini saja tidak perlu ikut.”

Kael sengaja tidak membawa Vio pergi bersamanya karena ada urusan yang ia tak ingin kakak angkatnya itu tau.

“Ya sudah, hati-hati di jalan.”

Dengan langkah gontai Vio berjalan menuju meja kerjanya.

“Hari pertama kerja jadi sekretaris tapi malah sudah ditinggal seperti anak ayam kehilangan induknya.” Vio lagi-lagi menghela napas panjang. “Kenapa Kael sangat menyebalkan?”

Vio memilih untuk menyibukkan diri, dengan bersih-bersih meja kerjanya. Ya, tentu saja karena dia sama sekali tidak tahu harus mengerjakan apa.

Di tengah kesibukan bersih-bersih Vio. Seorang wanita dengan gaya glamour tiba-tiba muncul. Dia menerobos masuk, mengabaikan security di depan lift karena merasa punya hak. Wanita itu kini berdiri di belakang Vio sambil menyilangkan tangan.

“Di mana Kael?” tanyanya, ketus.

Vio mengernyitkan alis. “Pak Kael sedang tidak di kantor, katanya ada urusan penting.”

“Jangan bohong kamu! Urusan apa yang lebih penting dariku? Aku ini tunangannya! Seseorang yang selalu dia prioritaskan!”

Jantung Vio berdegup tak karuan, ada sesuatu yang seakan menghantam dadanya. Tunangan? Kael tidak pernah mengatakan apa pun pada Vio. Benarkah perempuan ini tunangan Kael?

“Pak Kael tidak pernah mengatakan apapun tentang Anda! Jadi tidak perlu ngaku-ngaku seperti itu.” Vio mulai kesal, terlebih saat wanita itu bertingkah layaknya bos.

“Oh, memang kamu siapa? Keluarganya? Cih.” Wanita itu meludah, seakan Vio begitu hina. “Hanya karyawan rendahan saja sudah berani ikut campur urusan atasannya.”

Vio tersenyum miring. Tentu saja dia tau karena memang saudaranya Kael. Hanya saja, Vio enggan membongkar hubungan mereka di kantor. Ia tak ingin terjadi kehebohan karena ia tak suka dengan hal yang merepotkan.

“Lebih baik Anda pergi sekarang juga sebelum saya panggil security!” ancam Vio yang semakin muak dengan tingkah perempuan itu.

Bukannya pergi, wanita itu malah berjalan mendekat, lalu sebuah tamparan mendarat dengan cepat di pipi Vio.

“Itulah hukumannya jika berani kurang ajar dengan tunangan atasan.” Wanita itu mengusapkan telapak tangannya ke rok, seakan baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikan.

Vio mengusap pipi yang terasa panas sambil menatap tajam wanita menyebalkan di depannya, bersiap untuk membalas tamparan barusan. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu mengayunkan dengan cepat.

Namun, belum sempat telapak Vio menyentuh wanita itu, sebuah tangan kekar menahannya dengan cepat.

“Violleta, hentikan ini!”

Deg

Dada Vio terasa sesak saat tau seseorang yang menahannya adalah Kael.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 75. Singkirkan Tanganmu

    Aula utama mansion itu masih menyisakan aroma alkohol mahal setelah perhelatan besar pelantikan Kael semalam. Kini, Kael duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas, sebuah ruangan yang kini menjadi pusat kendali klan naga hitam. Di depan mejanya, berbagai laporan keuangan dan daftar musuh berjejer, menuntut perhatiannya sebagai pemimpin baru. Namun, fokus Kael sama sekali tidak di sana. Di samping tumpukan dokumen itu, dia meletakkan sebuah tablet khusus yang tersambung langsung ke jaringan kamera rahasia di kediaman orang tua Vio. Kael melihat Vio di layar. Gadis itu tertidur dengan napas yang tidak teratur, tangannya masih mencengkram kain seprai seolah sedang menarik pegangan di tengah badai. Wajahnya sembab, rambutnya berantakan, dan gurat kesedihan itu tampak begitu nyata meski dalam kondisi terlelap. Kael memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga nyeri. “Maafkan aku, Vio. Hanya ini satu-satunya cara,” gumam Kael. Tiba-tiba, pintu ruang kerjanya terbuka tanpa diketuk. Cl

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 74. Kamu Bilang Merindukanku

    Matahari perlahan tenggelam, digantikan oleh malam yang merayap dingin menusuk yang sama ke dua tempat yang berbeda. Jarak antara Bogor dan Jakarta mungkin hanya puluhan kilometer, tetapi bagi Kael dan Vio, benteng takdir telah membentang sejauh jutaan tahun cahaya, mengurung mereka dalam ruang kesedihan yang tak berdasar.Di sudut kamar tidurnya yang dulu selalu terasa hangat, Vio masih meringkuk di atas lantai yang dingin. Seprai tempat tidurnya berantakan, mencerminkan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Secarik surat dari Kael yang telah lecek dan basah oleh air mata masih tercengkeram erat di tangan kanan Vio, seolah kertas itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa antara dirinya dan pria yang dia cintai.Vio menatap kosong ke arah cermin meja rias di seberangnya. Di bawah cahaya lampu kamar, pantulan dirinya terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya yang bengkak akibat ciuman panas Kael semalam kini terasa kering dan kelu. Namun yang paling menyiksa adalah ketika mata

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 73. Kael dan Wanita Licik Itu

    Mansion megah di perbukitan Bogor itu terasa sedingin es, seolah ikut mengubur sisa-sisa kemanusiaan yang dimiliki oleh pewaris tunggalnya. Malam ini adalah malam pelantikan resmi pergantian pemimpin tertinggi klan naga hitam. Namun sejak subuh tadi, Kael memilih mengurung diri di dalam kamar utamanya yang luas dan remang-remang. Dia menolak menemui siapa pun, dengan alasan ingin beristirahat total sebelum takhta berdarah itu diserahkan ke tangannya nanti malam. Sang kakek pun menyetujuinya, mengira cucu unggulannya sedang mempersiapkan mental untuk memimpin dunia bawah tanah.Namun, Kael sama sekali tidak sedang beristirahat.Dia duduk kaku di tepi ranjang berukuran king-size, dengan tatapan mata yang tak lepas dari layar ponsel di genggamannya. Napasnya memburu pendek, dan rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di pelipisnya menegang.Layar ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kamera-kamera pengawas tersembunyi yang sengaja dia pasang. Kael memantau setiap gerak-ge

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 72. Apa Isi Surat Itu?

    Vio melepaskan pelukan ibunya perlahan, napasnya mulai memburu pendek karena ketakutan yang kian nyata. “Ibu, Ayah... kenapa wajah kalian seperti itu? Kael mana? Bagas bilang Kael pergi karena urusan keluarga. Apa Kael sudah ke sini?” tanya Vio yang masih berusaha untuk terus menghilangkan pikiran buruknya. Ayah Vio menghela napas berat, seolah ada beban berton-ton yang menghimpit dadanya. Pria paruh baya itu melangkah mendekat, lalu menyerahkan selembar amplop putih tebal ke tangan Vio yang kini sudah sedingin es. Ayah Vio awalnya sedikit merasa berat memberikan surat itu karena ia yakin pasti isinya bukanlah sesuatu yang akan membuat anaknya bahagia, hanya saja jika tak diberikan ia juga khawatir semuanya akan menjadi jauh lebih menyakitkan. “Kael tidak ke sini, Vio. Tapi anak buahnya mengantarkan surat ini subuh tadi,” ujar Ayahnya dengan suara rendah, bergetar. “Kael... dia sudah menemukan keluarga kandungnya, Vio. Dan dia sudah kembali ke tempat asalnya yang sebenarnya.”Vio m

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 71. Rasa Gelisah

    Pagi itu, sinar matahari menembus celah kelambu sutra vila dengan kehangatan yang lembut. Vio menggeliat pelan, perlahan membuka kelopak matanya yang sayu. Hal pertama yang dia lakukan adalah meraba sisi ranjang di sebelahnya, mencari kehangatan tubuh Kael yang semalam memeluknya begitu protektif.Namun ternyata kosong. Kasur di sebelahnya sudah tak ada siapa pun lagi, menyisakan seprai yang sedikit berantakan.Vio membuka mata sepenuhnya, lalu tersenyum kecil. Sambil memegangi lehernya yang masih menyisakan rasa perih manis akibat tanda kemerahan hasil ciuman panas Kael semalam, dia beranjak bangun. Pagi ini, ada kerinduan yang membuncah di dadanya. Vio tidak sabar ingin segera berlari, menghambur ke pelukan Kael, dan menggelayut manja di lengan pria itu seperti hari-hari sebelumnya.Dengan langkah ringan, Vio berjalan keluar kamar. “Kael?” panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur.Vio melangkah menuju ruang tengah, sepi. Dia kemudian berbelok ke arah dapur. Biasanya, setiap

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 70. Malam Manis yang Menyakitkan

    ​Matahari sore itu turun dengan warna jingga di langit perairan vila. Demi memberikan ketenangan bagi Vio, Kael telah memerintahkan Bagas dan seluruh anak buahnya untuk menyingkir dari area pulau. Mereka semua diperintahkan berjaga di kapal patroli yang jauh di batas perairan, memastikan pulau privat itu benar-benar menjadi dunia milik mereka berdua saja.​Vio keluar dari teras vila dengan gaun pantai berbahan katun tipis berwarna putih. Di tepi pantai, Kael sudah menunggu. Pria itu menanggalkan seluruh atributnya, hanya mengenakan celana pendek dan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka. Di dekat sebuah pohon kelapa yang rindang, Kael telah menyiapkan panggangan arang kecil untuk membakar ikan hasil pancingannya, persis seperti yang pernah Vio impikan dulu.​Begitu makanan habis dan langit berubah menjadi keunguan, Kael langsung menarik Vio ke dalam pangkuannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan satu detik pun yang tersisa. Vio berbalik posisi hingga kini duduk menghadap K

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 67. Ingin Malam Pertama

    Rintik hujan di luar jendela kaca besar vila Pulau Caraka seolah menjadi latar musik bagi penderitaan Vio yang tiada akhir. Di sudut lantai dingin itu, kondisi fisik Vio sudah berada di ambang batas pertahanan manusia. Bibirnya pecah-pecah hingga mengeluarkan darah kering, matanya cekung dengan l

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 66. Identitas Sesungguhnya

    Kapal cepat itu kembali bersandar di dermaga sunyi Jakarta Utara dengan kondisi mengenaskan. Lambung kapal dipenuhi baretan akibat hantaman ombak, dan rintik hujan yang kian menderu seolah ikut meratapi kegagalan Kael.​Kael melangkah turun dengan tubuh yang basah kuyup. Langkahnya tak lagi limbung

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 65. Di Sebuah Pulau

    Kembali ke dalam mobil sport hitamnya, Kael mencengkeram kemudi dengan napas yang memburu. Bagas yang duduk di kursi penumpang depan bergerak secepat kilat dengan laptopnya, meretas sistem pemantauan radar maritim swasta yang sempat melintasi wilayah pesisir subuh tadi.Suasana di dalam kabin mobil

  • Jerat Posesif Adik Angkat Menawan   Bab 1. Mimpi yang Mendebarkan

    “Jangan berhenti, Kak. Aku suka kakak menyentuh bagian itu.” Violletta Mahendra tak pernah menyangka di usianya yang ke dua puluh delapan tahun, dia malah harus dihadapkan pada masalah perasaan yang baginya tak masuk akal. Selain terpaksa harus tinggal dengan adik angkat tampan yang baru saja pula

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status