LOGIN
“Jangan berhenti, Kak. Aku suka kakak menyentuh bagian itu.”
Violletta Mahendra tak pernah menyangka di usianya yang ke dua puluh delapan tahun, dia malah harus dihadapkan pada masalah perasaan yang baginya tak masuk akal. Selain terpaksa harus tinggal dengan adik angkat tampan yang baru saja pulang dari luar negri, ia pun kelabakan saat setiap malam mimpi bercinta dengan sang adik angkat. Pagi itu masih seperti biasa, Vio terbangun dengan keringat dingin bercucuran. Ia menatap kedua telapak tangannya, membayangkan mimpi semalam dimana dirinya menyentuh setiap jengkal bagian tubuh Kael sang adik angkat. Vio mengacak rambut dengan kasar, berusaha menjernihkan pikirannya. “Nggak! Dia adik angkatmu Vio! Papa Mama percaya sama dia buat menjagamu bukan buat kamu jadikan fantasi liar.” Vio mengoceh sendiri, sesekali menepuk kepalanya demi mengembalikan kewarasan. Setiap kali terbayang mimpi semalam, bulu kuduknya mendadak berdiri, ada sebuah sensasi yang tak bisa diungkapkan. Suara ketukan pintu menyadarkan Vio yang isi otaknya kacau kala itu. “Sarapan sudah siap.” Suara bass Kael membuat Vio semakin terbayang mimpi semalam. Hanya saja, demi menjaga kewarasan, Vio semaksimal mungkin berusaha bersikap normal. “Iya, mandi dulu,” teriak Vio. Langkah kaki Kael terdengar menjauh. Vio pun bisa menghela napas lega, lalu buru-buru bersiap agar bisa sarapan bersama Kael. Seperti biasa, setiap kali hendak bertemu Kael, jantung Vio berdebar tak karuan. Adik angkatnya itu memiliki kebiasaan memakai pakaian tipis ketika berada di rumah, otot perut dan dada bidangnya dapat Vio lihat dengan jelas. Kini keduanya sudah duduk berdampingan dalam satu meja makan. Hanya diisi suasana hening dengan denting sendok garpu sebagai musik pengiring. Namun, semua berubah saat Kael mendadak membuka mulutnya. “Aku pindah kerja ke kantor Kakak.” Kael berkata dengan sangat pelan. “A-apa?” Vio yang terkejut tanpa sengaja menyenggol gelas, membuat air tumpah tepat mengenai Kael. Reflek Vio mengambil gelas yang ada di pangkuan Kael. Air yang tumpah membasahi bagian depan Kael, membuat otot perut terjiplak dengan jelas. Mata Vio tak berkedip, tangannya mengusap lembut perut Kael. ‘Perut ini seperti yang ada di mimpiku. Keras dan hangat,’ batinnya. Sekian menit kemudian Vio menyadari ada yang janggal, sesuatu berubah dari bagian depan celana Kael. Kael buru-buru berdiri, situasi keduanya menjadi sangat canggung. “A-ah, itu maaf. Aku nggak sengaja.” Wajah Vio memerah. Pikirannya sudah tak karuan saat itu. “Aku ganti baju dulu.” Kael buru-buru menuju ke kamarnya. Vio mengangguk. Saking malunya ia tak menyelesaikan sarapan dan memilih langsung ke kantor tanpa berpamitan pada Kael. Sepanjang perjalanan Vio terus menggerutu. “Apa yang Papa Mama pikirkan? Kenapa Kael malah di suruh tinggal di rumah? Dia kan sudah hidup nyaman di luar negri. Padahal aku juga bukan anak kecil yang harus dijaga,” ocehnya sambil menghela napas panjang. “Lagian, kenapa Kael sekarang jadi ganteng begini sih? Dulu dia cuma cowok kurus yang nggak menarik.” Di sisi lain, Kael yang kembali ke kamarnya memilih untuk menenangkan diri sejenak. Pikirannya pun tak kalah kacau terlebih saat teringat posisi Vio ketika sedang mengusap perutnya. Posisi itu, benar-benar membuatnya tak bisa menahan diri. Aroma rambut Vio masih terngiang, menari-nari dalam pikirannya. “Kak Vio, padahal aku sudah sekuat tenaga menahan,” gumam Kael sambil membayangkan kejadian tadi. Kael merasa ada sesuatu yang bergejolak di dada, sebuah perasaan yang muncul setiap kali dirinya membayangkan Vio. Segera ia mengambil foto Vio dari laci meja, tatapannya tajam saat pikirannya tengah berselancar jauh membuat dongeng dalam kepala. “Kak Vio… seandainya kamu bukan kakakku.” Kael menghela napas dalam. “Seandainya Papa Mama tidak mengadopsiku.” Kael berusaha menenangkan pikirannya. Ia berdiri di bawah shower dengan air dingin menghujani ujung rambut hingga kaki. Setidaknya inilah caranya untuk melawan pikiran yang baginya tak pantas itu. Setelah merasa sedikit tenang. Kael langsung bersiap, lalu bergegas menuju kantor tempat Vio bekerja. Hari ini, ia ingin memberi kejutan pada Vio karena pada akhirnya mereka bisa bekerja di perusahaan yang sama. Vio mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas di meja kantornya. Namun, bayangan otot perut Kael yang keras dan hangat di bawah telapak tangannya tadi pagi masih terus mengusik pikirannya. “Vio, fokus!” bisiknya pada diri sendiri sambil memijat kepala. Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Seorang pria bernama Anton yang merupakan rekan kerja yang sudah lama mengejarnya dengan cara yang agresif. Pria itu melangkah masuk dengan senyum menyebalkan. “Vi, makan siang bareng yuk? Aku tahu tempat baru yang oke,” ujar Anton sambil bersandar di meja Vio, tangannya mencoba menyentuh bahu Vio dengan akrab. Vio refleks menjauh. “Aku sibuk. Lagi banyak kerjaan.” Sutan justru tertawa, lalu condong maju hingga wajahnya begitu dekat. “Ayolah, jangan kaku begitu. Kita sudah lama kenal. Lagian, kamu butuh juga hiburan supaya nggak kelihatan tegang terus.” Vio merasa tidak nyaman, tangannya terkepal di bawah meja. Saat hendak menarik kursi Vio agar lebih dekat, tiba-tiba sebuah tangan besar mencengkram pergelangan tangan Anton dengan tenaga yang membuatnya memekik kecil. “Dia bilang, dia sibuk.” Suara berat dan dingin itu membuat bulu kuduk Vio meremang. Ia mendongak dan menemukan Kael sudah berdiri di sana. Aura Kael berubah total, tidak ada lagi adik angkat yang ramah, yang ada hanyalah pria asing dengan tatapan tajam mematikan. “Si-siapa kamu? Main masuk saja!” bentak Anton sambil berusaha melepaskan tangannya. Kael tidak menjawab. Ia justru menarik pergelangan tangan Anton jauh lebih kuat, lalu menghempaskannya hingga pria itu terhuyung ke belakang. Dengm cepat Kael berpindah posisi ke belakang kursi Vio, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi, seolah sedang mengurung Vio dalam perlindungannya. “Mulai hari ini, aku akan memastikan tidak ada pria sembarangan yang mengganggunya,” ucap Kael datar, tetapi penuh penekanan. “Sekarang, keluar!” Anton yang ketakutan melihat postur tubuh Kael yang jauh lebih atletis dan mengintimidasi pun akhirnya memilih pergi sambil menggerutu. Ruangan itu mendadak sunyi. Vio terpaku, jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia bisa merasakan deru napas Kael di atas kepalanya. Parfum maskulin Kael yang tajam memenuhi indra penciumannya, persis seperti aroma pria dalam mimpinya semalam. “Kael, apa yang kamu lakukan?” Suara Vio bergetar. Kael menunduk, bibirnya tepat berada di samping telinga Vio. “Papa sama Mama titip Kakak ke aku supaya nggak ada yang berani menyentuh Kakak sedikitpun.” Kael menjeda kalimatnya, lalu berbisik lebih rendah, “Karena hanya aku yang boleh melakukannya, Kak.” Vio membeku. Sebelum ia sempat mencerna kalimat itu, Kael sudah kembali berdiri tegak dengan senyum tipis yang sulit diartikan.Kael mematung sejenak, tetapi perlahan rahangnya yang kaku mulai mengendur. Sebuah senyum tipis menyerupai seringai predator yang baru saja menemukan mangsa untuk dipermainkan, perlahan terukir di wajah tampannya.Kael menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil yang dingin, lalu menoleh perlahan ke arah Shasya. Matanya yang tajam menatap wanita di sampingnya dari ujung rambut hingga kaki, seolah sedang membedah setiap inci kebohongan yang baru saja wanita itu lontarkan.“Hamil?” Kael mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan dengan rayuan, tetapi mematikan. “Shasya aku tidak menyangka kamu seberani ini.”Shasya yang melihat senyuman Kael merasa mendapat angin segar. Ia segera menghapus air matanya, berusaha memasang wajah paling menyedihkan yang ia miliki. “Kael, aku juga takut. Tapi ini kenyataannya. Aku sedang mengandung anakmu, dan aku tidak mau anak ini terlahir tanpa seorang ayah.”Kael terkekeh rendah. Tawa yang terdengar sangat hambar dan ke
Vio panik luar biasa. Ia berusaha sekuat tenaga mendorong dada Kael, tetapi pria itu seperti tembok yang tak tergoyahkan. Bukannya menjauh, Kael justru sengaja mengeraskan otot lengannya, mengunci Vio dalam dekapan yang sangat rapat tepat saat suara engsel pintu balkon berderit terbuka.Adrian berdiri di sana, tetapi ia tidak bisa melihat siapa wanita yang sedang didekap Kael. Posisi tubuh Kael yang menjulang tinggi membelakangi pintu, secara sempurna menutupi seluruh tubuh Vio yang mungil. Bagi Adrian, ia hanya melihat punggung Kael yang sedang memojokkan seorang wanita di pagar balkon.“Kael? Kamu di sana?” Suara Adrian terdengar ragu, langkah kakinya semakin mendekat.Vio gemetar hebat. Ia mendongak, menatap mata Kael dengan tatapan memohon. “Kael, pergilah! Aku mohon, menjauh sekarang,” bisiknya nyaris tak terdengar, suaranya tercekat di tenggorokan.Kael tidak bergerak. Alih-alih menjauh, ia justru semakin mencondongkan tubuhnya, mengurung Vio hingga punggung gadis itu mene
Dunia seakan runtuh di bawah pijakan kaki Vio. Ia mematung di anak tangga terakhir, menatap pemandangan di ruang tamu yang terasa seperti mimpi buruk di siang bolong. Di sana, di sofa keluarga yang biasanya hangat, Kael duduk dengan angkuh. Tangannya melingkar posesif di pinggang seorang wanita yang sangat Vio kenali, ya itu adalah Shasya. Wanita yang tempo hari menamparnya di kantor itu kini tersenyum manis seolah tak pernah terjadi apa-apa, mengenakan terusan merah ketat yang sangat provokatif. “Vio! Sini, Sayang, turun,” panggil Mama dengan nada canggung. “Ini Shasya datang bersama Kael. Kael bilang mereka ingin menjalin hubungan serius.”Vio melangkah mendekat dengan kaki yang terasa berat. Matanya terpaku pada tangan Kael yang masih merangkul pinggang Shasya. Kael mendongak, menatap Vio dengan tatapan datar yang sangat asing. Tidak ada lagi binar memuja, hanya tatapan yang kosong dan dingin.“Ma, aku rasa sudah waktunya Shasya diperkenalkan secara resmi sebagai calonku,” ucap
Kini keduanya sudah berada di dalam mobil dengan suasana yang terasa begitu sunyi, hanya deru mesin dan isak tangis tertahan Vio yang mengisi kekosongan. Vio menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur karena air mata. Hatinya terasa remuk, bayangan Kael yang tertawa di antara kerumunan wanita seksi itu terus berputar, mengoyak harga dirinya sebagai seorang kakak dan juga sebagai wanita.“Sudah, Vio. Jangan menangisi pria seperti itu. Dia sama sekali tidak menghargaimu,” ucap Adrian lembut, sebelah tangannya melepas kemudi sebentar untuk menepuk bahu Vio dengan gerakan menenangkan.“Aku cuma tidak menyangka dia bisa seliar itu, Adrian. Dia adikku, aku yang menjaganya selama ini,” isak Vio, masih terjebak dalam penolakan bahwa Kael telah berubah total.Adrian memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumah Vio. Suasana kompleks sudah sepi karena jam menunjukkan pukul dua dini hari. Adrian mematikan mesin, lalu memutar tubuhnya menghadap Vio. Matanya me
Vio tertegun melihat Kael yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Harapannya melambung tinggi, mengira Kael akan menunjukkan sikap dinginnya pada wanita asing itu seperti biasanya. Namun, kenyataan menghantam Vio lebih keras dari tamparan mana pun.Kael melangkah mantap, lalu dengan santai mendaratkan lengannya di pinggang wanita seksi itu. Ia menarik wanita itu mendekat, memamerkan keintiman yang belum pernah Vio lihat sebelumnya.“Ayo berangkat. Aku sudah pesan meja di The Nightfall Bar,” ucap Kael dengan suara yang datar. Ia sempat melirik Vio sekilas, sebuah tatapan kosong seolah gadis itu hanyalah pajangan yang tidak berarti. “Kak, aku tidak akan pulang malam ini. Jangan menungguku.”Vio mengepal kencang. “Kael, apa-apaan ini? Kamu baru saja—”“Bukan urusanmu, Kak,” potong Kael dingin sebelum membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Deru mesin mobil SUV hitam itu menjauh, meninggalkan Vio yang mematung di depan gerbang dengan rasa panas yang menjalar di dadanya.Vio kembali
Ponsel di genggaman Vio bergetar hebat, menampilkan wajah Papa di layar dalam panggilan video. Jantung Vio nyaris meloncat keluar. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia mendorong dada bidang Kael sekuat mungkin.“Kael, menjauh! Papa telepon!” bisik Vio panik.Kael mendengus, tetapi ia memberikan sedikit ruang. Vio segera merapikan rambut dan kerah bajunya yang sedikit berantakan sebelum menekan tombol terima. Layar menampilkan wajah Papa dan Mama yang tampak ceria di ruang tengah rumah mereka.“Vio! Wah, lagi di luar ya? Gimana kencannya dengan Adrian? Dia laki-laki yang baik, kan?” Suara Papa terdengar penuh harap.Vio berusaha tersenyum semanis mungkin, meski hatinya sedang kacau.“Iya, Pa. Ini Vio baru mau pulang.”Namun, di saat Vio sedang berjuang menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat normal di depan kamera, Kael mulai beraksi. Merasa kakaknya sedang lengah dan terikat oleh tatapan orang tua mereka, Kael mulai bersikap nakal. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Vio, lalu jemari







