Share

Bab 5

Author: jimskin003
last update Huling Na-update: 2026-02-23 13:23:42

PANAS DI BALIK SUTRA

Lampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela besar nampak seperti taburan berlian yang tidak berarti di mata Valencia. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecah oleh suara napas mereka yang saling beradu secara tidak teratur. Valencia berdiri mematung di sisi ranjang, menatap seprai sutra yang berantakan dengan perasaan campur aduk.

"Kamu mau berdiri di situ sampai pagi, Valencia?" suara Ragnar terdengar rendah dari arah belakang.

Valencia berbalik, mendapati Ragnar sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu masih belum mengenakan atasan. Otot-otot perutnya nampak jelas di bawah cahaya lampu tidur yang remang, menciptakan bayangan yang menonjolkan setiap lekuk maskulin tubuhnya. Ragnar menatap Valencia dengan tatapan menantang, seolah sedang menikmati kegelisahan wanita itu.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak. I melakukan ini hanya karena Bella," ujar Valencia dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "You tidur di sisi kiri. Jangan berani melewati batas tengah ranjang ini."

Ragnar hanya mendengus, sebuah tawa kecil yang terdengar mengejek. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur yang sangat empuk itu, lalu menumpu kepalanya dengan satu tangan. "Kamar kamu, aturan kamu. Tapi ingat, tidur di kasur semewah ini adalah pengalaman baru buat saya. Saya tidak menjamin bisa diam seperti patung."

Valencia menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup liar. Ia merangkak naik ke sisi lain ranjang, menjaga jarak sejauh mungkin dari Ragnar. Sutra tipis dari jubah tidurnya bergesekan dengan seprai, menciptakan suara desiran halus yang justru menambah ketegangan di antara mereka.

Kegelapan menyelimuti ruangan setelah Valencia mematikan lampu utama. Hanya ada sisa cahaya biru tipis dari gedung-gedung pencakar langit yang menembus tirai. Suasana menjadi jauh lebih intim dan berbahaya. Valencia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Ragnar yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya.

Lama mereka terdiam dalam kegelapan. Valencia memejamkan mata, namun tidurnya tidak kunjung datang. Pikirannya dipenuhi oleh rasa benci, namun tubuhnya justru memberikan reaksi yang berkhianat. Aroma tubuh Ragnar yang mentah dan maskulin seolah memenuhi setiap inci paru-parunya.

Tiba-tiba, ranjang berguncang pelan. Ragnar bergerak dalam tidurnya, atau mungkin ia sengaja melakukannya. Tubuh besar Ragnar berputar ke arah Valencia. Dalam ketidaksengajaan yang terasa begitu sinkron, kaki Ragnar yang panjang dan berotot tanpa sengaja tersangkut di antara kedua kaki Valencia yang terbalut sutra.

Valencia tersentak, mencoba menarik diri, namun gerakan itu justru membuat jubah tidurnya yang licin tersingkap hingga ke pangkal paha. Kulit mereka bersentuhan secara langsung. Kekasaran kulit kaki Ragnar yang penuh dengan bekas luka kecil bergesekan dengan kulit paha Valencia yang sangat halus.

"Ragnar... jangan..." bisik Valencia, suaranya tercekat di tenggorokan.

Alih-alih menjauh, Ragnar justru menarik tubuh Valencia mendekat. Tangan besarnya yang kasar merayap di bawah pinggang Valencia, menarik wanita itu hingga punggungnya menempel erat pada dada Ragnar yang bidang. Valencia bisa merasakan kejantanan Ragnar yang mulai menegang, menekan kuat di bokongnya melalui lapisan sutra tipis yang tidak lagi berarti apa-apa.

Napas Ragnar yang panas menerpa tengkuk Valencia, membuat seluruh tubuh wanita itu meremang hebat. Ragnar tidak bicara, namun tangannya yang lain kini bergerak liar, meremas perut rata Valencia sebelum naik ke atas, menangkup salah satu payudara Valencia dengan remasan yang kuat dan posesif.

"Kamu bilang jangan melewati batas, tapi tubuhmu sendiri sedang mengundang saya, Valencia," bisik Ragnar tepat di telinga Valencia. Suaranya terdengar sangat parau, penuh dengan gairah yang tidak lagi ia sembunyikan.

Valencia mendesah pelan, sebuah suara yang meluncur begitu saja tanpa bisa ia tahan. Jemari Ragnar yang kasar mulai menelusuri puncak payudara Valencia yang mengeras di balik kain sutra, memberikan sensasi gesekan yang terasa begitu nikmat. Tangan Ragnar yang berada di pinggang kini menarik panggul Valencia lebih erat, membuat gesekan di antara tubuh bagian bawah mereka menjadi semakin intens.

"Lepaskan I... You lancang..." Valencia mencoba memprotes, namun suaranya justru terdengar seperti rintihan.

Ragnar tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dominan. Ia membalikkan tubuh Valencia dengan gerakan cepat hingga kini wanita itu berada di bawah kungkungan tubuhnya. Ragnar menatap mata Valencia di tengah kegelapan, matanya berkilat liar layaknya seekor serigala yang telah menemukan mangsanya.

Tangan Ragnar menjambak pelan rambut Valencia, memaksa wanita itu mendongak. Tanpa basa-basi, Ragnar mencium leher Valencia dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan bekas kemerahan. Lidahnya menyapu kulit putih itu dengan gerakan yang sangat provokatif, sementara tangannya yang lain sudah menyusup ke dalam jubah tidur Valencia, meraba setiap inci kulit yang selama ini tidak pernah disentuh oleh siapapun.

"Pajangan ini sedang lapar, Valencia. Dan sepertinya majikannya juga memiliki nafsu yang sama besarnya," ujar Ragnar dengan nada yang sangat meremehkan sekaligus memuja.

Valencia merasakan jemari Ragnar yang kasar mulai menyentuh area pribadinya yang sudah basah dan berdenyut kencang. Sentuhan itu sangat kasar namun tepat sasaran, membuat Valencia membusungkan dadanya dan mencengkeram bahu Ragnar dengan kuku-kukunya yang tajam. Ia benci pria ini, ia benci status pria ini, namun di bawah tekanan fisik Ragnar, segala logika Valencia runtuh.

Tiba-tiba, suara notifikasi pesan dari ponsel Ragnar yang tergeletak di meja samping ranjang bergetar nyaring. Cahaya layar ponsel itu menyala, memperlihatkan sebuah foto dokumen rahasia yang dikirimkan oleh seseorang.

Ragnar berhenti sejenak, matanya melirik ke arah ponsel tersebut tanpa melepaskan kungkungannya pada Valencia. Senyum miring kembali muncul di wajahnya.

"Sepertinya hiburan kita harus tertunda sebentar, Valencia," ujar Ragnar sambil menarik diri dari atas tubuh Valencia. Ia mengambil ponselnya, membelakangi Valencia yang masih terengah-engah dengan tubuh yang gemetar karena gairah yang tidak tuntas.

Ragnar menatap layar ponsel itu dengan tatapan tajam dan dingin. "Bella benar-benar tidak sabar untuk mati."

Valencia duduk di ranjang, mencoba menutupi tubuhnya dengan jubah tidur yang sudah berantakan. Ia menatap punggung Ragnar dengan perasaan campur aduk antara amarah dan hasrat yang belum terpenuhi. Ia baru saja menyadari bahwa pria yang ia pungut dari bengkel ini tidak hanya berbahaya di atas ranjang, tapi juga memiliki akses ke informasi yang bahkan ia sendiri tidak tahu.

"Apa itu?" tanya Valencia, suaranya masih bergetar.

Ragnar berbalik, menatap Valencia dengan tatapan predatornya kembali. "Bukti penggelapan dana yang dilakukan sepupu kesayanganmu. Dan besok, saya yang akan menentukan siapa yang akan bertekuk lutut di ruang rapat itu."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 9

    DI BALIK JENDELA SATU ARAHKeheningan di ruang rapat itu terasa lebih memekakkan telinga daripada suara sepatu bot tadi. Bella berdiri dari kursinya dengan tawa kemenangan yang tidak lagi disembunyikan. "Sudah I katakan, dia hanya sampah yang akan menyeret You ke dasar neraka, Valencia."Valencia tidak menoleh sedikit pun ke arah sepupunya. Matanya terpaku pada layar proyektor yang masih menampilkan bukti penggelapan dana milik Bella. Tangannya yang gemetar kini mengepal kuat di atas meja marmer yang dingin."Duduk atau I akan memastikan polisi tadi kembali untuk menjemput You, Bella," desis Valencia dengan nada yang begitu tajam. Suasana ruangan mendadak membeku saat ia menatap satu per satu direktur yang tadi berkhianat. "Rapat ini selesai dan siapa pun yang mencoba keluar dari gedung ini sebelum audit selesai akan berhadapan dengan pengacara I."Valencia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang sangat cepat. Ia tidak memedulikan tatapan bingung para karyawannya di sepanjan

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 8

    SKAKMAT DAN SURAT PERINTAHPak Baskoro memasukkan flashdisk tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar karena suasana yang semakin memanas. Layar proyektor besar di dinding belakang Valencia mendadak menyala menampilkan bagan alur transaksi keuangan yang sangat rumit. Seluruh orang di ruangan itu mendadak terdiam saat melihat data yang terpampang nyata di depan mata mereka."Ini adalah bukti penggelapan dana proyek infrastruktur di Kalimantan yang sangat besar," suara Valencia memecah keheningan dengan nada yang sangat dingin. "Totalnya mencapai dua ratus miliar rupiah dan semuanya berakhir di rekening perusahaan cangkang di Panama. Siapa yang bertanggung jawab atas rekening ini, Bella?"Seluruh direktur senior mendadak riuh dan mereka saling berbisik dengan wajah yang nampak pucat pasi. Ragnar berdiri dari kursinya lalu melangkah perlahan mengelilingi meja rapat layaknya serigala yang sedang mengincar leher mangsanya. Ia berhenti tepat di belakang kursi Bella dan meletakkan kedua ta

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 7

    SERIGALA DI LANTAI MARMERGedung Adhitama Tower berdiri angkuh mencakar langit Jakarta dengan dinding kaca yang berkilau tajam. Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan lobi utama dengan suara derit rem yang halus namun berwibawa. Puluhan karyawan yang sedang berlalu-lalang mendadak mematung saat pintu mobil terbuka secara otomatis.Valencia Adhitama turun dengan langkah presisi, membiarkan sepatu hak tingginya menciptakan bunyi ketukan ritmis di atas lantai granit. Ia mengenakan blazer hitam dengan potongan tajam yang menegaskan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Aura dinginnya mendadak pecah saat sosok di sisi lain mobil menampakkan diri ke hadapan publik.Ragnar keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir terlihat seperti sedang berjalan di bengkel lamanya. Ia tidak mengenakan dasi, membiarkan kancing kemejanya terbuka hingga memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Ia mengabaikan tatapan memuja sekaligus bingung dari para staf wanita, lebih memili

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 6

    PERJANJIAN DI BAWAH CAHAYA PAGICahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang besar itu, Valencia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa aroma maskulin yang masih tertinggal di bantal sebelahnya. Ia segera terduduk, merapatkan jubah tidurnya yang berantakan, dan menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.Ragnar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat bisnis Jakarta. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam milik setelan semalam, namun ia membiarkan kemeja putihnya terbuka tanpa dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang tegap serta guratan bekas luka di perutnya. Di tangannya, sebatang rokok menyala, meskipun ada larangan merokok di dalam seluruh area penthouse."You merusak udara di sini, Ragnar," ujar Valencia sambil turun dari ranjang. Langkah kakinya nampak sedikit ragu saat ia berjalan menuju me

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 5

    PANAS DI BALIK SUTRALampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela besar nampak seperti taburan berlian yang tidak berarti di mata Valencia. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecah oleh suara napas mereka yang saling beradu secara tidak teratur. Valencia berdiri mematung di sisi ranjang, menatap seprai sutra yang berantakan dengan perasaan campur aduk."Kamu mau berdiri di situ sampai pagi, Valencia?" suara Ragnar terdengar rendah dari arah belakang.Valencia berbalik, mendapati Ragnar sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu masih belum mengenakan atasan. Otot-otot perutnya nampak jelas di bawah cahaya lampu tidur yang remang, menciptakan bayangan yang menonjolkan setiap lekuk maskulin tubuhnya. Ragnar menatap Valencia dengan tatapan menantang, seolah sedang menikmati kegelisahan wanita itu."Jangan berpikir yang tidak-tidak. I melakukan ini hanya karena Bella," ujar Valencia dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "You tidur di sisi kir

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 4

    BUKTI DI ATAS SUTRAPintu kayu jati berukir itu terbuka lebar, menyingkap privasi terdalam dari seorang Valencia Adhitama. Bella melangkah masuk dengan senyum sinis yang sudah siap meledak, namun senyum itu membeku di detik pertama matanya menyapu seisi ruangan.Kamar yang biasanya tertata sangat rapi dan steril layaknya museum itu kini nampak kacau. Di atas karpet bulu domba seharga ratusan juta rupiah, tergeletak sepasang sepatu bot kulit yang kotor dan penuh noda oli. Di kursi rias desainer milik Valencia, tersampir sebuah kemeja denim lusuh yang aromanya, campuran keringat, bensin, dan tembakau, tercium hingga ke ambang pintu.Namun yang paling menyita perhatian adalah ranjang besar di tengah ruangan. Seprai sutra yang biasanya kaku tanpa lipatan itu kini berantakan hebat. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan selimut tebalnya tergulung tak beraturan, menciptakan kesan kuat bahwa baru saja terjadi pergulatan intens di atas sana."Tidak mungkin," gumam Bella. Ia berjalan mendekat

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status