LOGINCahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang besar itu, Valencia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa aroma maskulin yang masih tertinggal di bantal sebelahnya. Ia segera terduduk, merapatkan jubah tidurnya yang berantakan, dan menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.
Ragnar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat bisnis Jakarta. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam milik setelan semalam, namun ia membiarkan kemeja putihnya terbuka tanpa dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang tegap serta guratan bekas luka di perutnya. Di tangannya, sebatang rokok menyala, meskipun ada larangan merokok di dalam seluruh area penthouse.
"You merusak udara di sini, Ragnar," ujar Valencia sambil turun dari ranjang. Langkah kakinya nampak sedikit ragu saat ia berjalan menuju meja rias.
Ragnar memutar tubuhnya perlahan, menghembuskan asap rokok ke arah langit-langit dengan gaya yang sangat acuh tak acuh. Matanya menyapu tubuh Valencia yang masih nampak berantakan karena kejadian semalam. Senyum miring yang provokatif kembali muncul di wajahnya.
"Udara di sini memang terlalu bersih dan palsu, Valencia. Sedikit asap tidak akan membunuhmu," jawab Ragnar. Ia berjalan mendekati Valencia, langkah kakinya yang berat terdengar kontras dengan kesunyian ruangan itu.
Valencia mencoba membuang muka, namun bayangan Ragnar di cermin besar di depannya justru nampak semakin mengintimidasi. Ragnar berhenti tepat di belakangnya, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi rias, mengunci posisi Valencia.
"Tentang semalam..." Valencia memulai bicara, suaranya sedikit tertahan. "I harap You tidak berpikir bahwa hal itu akan terulang kembali. Itu hanya bagian dari akting untuk Bella."
Ragnar menunduk, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Valencia. "Akting? Napasmu yang memburu dan caramu mencengkeram bahu saya semalam tidak terasa seperti akting, Valencia. Jangan mencoba membohongi diri sendiri di depan saya."
Valencia mengepalkan tangannya di atas meja rias. "You lancang. Jangan lupa siapa yang membayar utang-utang You."
Ragnar tertawa pelan, suara tawa yang berat dan penuh dominasi. Ia menegakkan tubuhnya kembali dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia meletakkan benda itu di atas meja rias, tepat di hadapan Valencia. Di layar itu, terpampang dokumen audit internal yang memperlihatkan aliran dana mencurigakan ke rekening perusahaan cangkang milik Bella.
"Lupakan soal utang saya sebentar. Fokus pada ini," ujar Ragnar. "Sepupu kamu itu bukan hanya ingin mengambil jabatanmu, dia ingin menghancurkan Adhitama dari dalam. Jika dokumen ini jatuh ke tangan dewan direksi pagi ini, Bella tidak akan punya waktu untuk sekadar memikirkan siapa suami kamu."
Valencia tertegun. Ia mengambil ponsel itu dan memeriksa angkanya dengan teliti. Keakuratan data itu sangat mengerikan. Dokumen rahasia yang bahkan tim auditor kepercayaannya tidak sanggup temukan dalam tiga bulan terakhir.
"Dari mana kamu mendapatkan ini, Ragnar?" tanya Valencia. Matanya menatap tajam ke arah Ragnar melalui pantulan cermin. "Mekanik bengkel tidak mungkin punya akses ke server rahasia Adhitama."
Ragnar tidak segera menjawab. Ia mematikan rokoknya di atas sebuah asbak kristal yang ia ambil dari meja samping. "Ada banyak hal yang tidak perlu kamu tahu tentang masa lalu saya, Valencia. Untuk sekarang, anggap saja suamimu ini punya cara tersendiri untuk mengumpulkan rongsokan, termasuk rongsokan informasi seperti ini."
Ragnar melangkah menuju lemari besar dan mengambil jas hitam yang telah disiapkan Pak Danu. Ia mengenakannya dengan gerakan yang sangat efisien, meskipun auranya tetap terlihat liar dan tidak terkendali.
"Siapkan dirimu. Kita akan ke kantor sekarang," perintah Ragnar.
Valencia berdiri, menatap Ragnar dengan pandangan benci sekaligus penasaran yang mendalam. "Sejak kapan You yang memberi perintah pada I?"
Ragnar berbalik di ambang pintu kamar, menatap Valencia dengan tatapan predatornya yang dingin. "Sejak semalam, saat kamu membiarkan saya menyentuh bagian terdalam dari otoritasmu. Cepatlah. Saya tidak suka menunggu, dan Bella pasti sudah menanti kita dengan pisau di tangannya."
Ragnar keluar dari kamar, meninggalkan Valencia yang masih terpaku dengan dokumen penggelapan dana di tangannya. Valencia menyadari bahwa pria yang ia anggap sebagai pajangan ini justru sedang memegang kendali atas seluruh bidak catur di hidupnya.
DI BALIK JENDELA SATU ARAHKeheningan di ruang rapat itu terasa lebih memekakkan telinga daripada suara sepatu bot tadi. Bella berdiri dari kursinya dengan tawa kemenangan yang tidak lagi disembunyikan. "Sudah I katakan, dia hanya sampah yang akan menyeret You ke dasar neraka, Valencia."Valencia tidak menoleh sedikit pun ke arah sepupunya. Matanya terpaku pada layar proyektor yang masih menampilkan bukti penggelapan dana milik Bella. Tangannya yang gemetar kini mengepal kuat di atas meja marmer yang dingin."Duduk atau I akan memastikan polisi tadi kembali untuk menjemput You, Bella," desis Valencia dengan nada yang begitu tajam. Suasana ruangan mendadak membeku saat ia menatap satu per satu direktur yang tadi berkhianat. "Rapat ini selesai dan siapa pun yang mencoba keluar dari gedung ini sebelum audit selesai akan berhadapan dengan pengacara I."Valencia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang sangat cepat. Ia tidak memedulikan tatapan bingung para karyawannya di sepanjan
SKAKMAT DAN SURAT PERINTAHPak Baskoro memasukkan flashdisk tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar karena suasana yang semakin memanas. Layar proyektor besar di dinding belakang Valencia mendadak menyala menampilkan bagan alur transaksi keuangan yang sangat rumit. Seluruh orang di ruangan itu mendadak terdiam saat melihat data yang terpampang nyata di depan mata mereka."Ini adalah bukti penggelapan dana proyek infrastruktur di Kalimantan yang sangat besar," suara Valencia memecah keheningan dengan nada yang sangat dingin. "Totalnya mencapai dua ratus miliar rupiah dan semuanya berakhir di rekening perusahaan cangkang di Panama. Siapa yang bertanggung jawab atas rekening ini, Bella?"Seluruh direktur senior mendadak riuh dan mereka saling berbisik dengan wajah yang nampak pucat pasi. Ragnar berdiri dari kursinya lalu melangkah perlahan mengelilingi meja rapat layaknya serigala yang sedang mengincar leher mangsanya. Ia berhenti tepat di belakang kursi Bella dan meletakkan kedua ta
SERIGALA DI LANTAI MARMERGedung Adhitama Tower berdiri angkuh mencakar langit Jakarta dengan dinding kaca yang berkilau tajam. Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan lobi utama dengan suara derit rem yang halus namun berwibawa. Puluhan karyawan yang sedang berlalu-lalang mendadak mematung saat pintu mobil terbuka secara otomatis.Valencia Adhitama turun dengan langkah presisi, membiarkan sepatu hak tingginya menciptakan bunyi ketukan ritmis di atas lantai granit. Ia mengenakan blazer hitam dengan potongan tajam yang menegaskan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Aura dinginnya mendadak pecah saat sosok di sisi lain mobil menampakkan diri ke hadapan publik.Ragnar keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir terlihat seperti sedang berjalan di bengkel lamanya. Ia tidak mengenakan dasi, membiarkan kancing kemejanya terbuka hingga memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Ia mengabaikan tatapan memuja sekaligus bingung dari para staf wanita, lebih memili
PERJANJIAN DI BAWAH CAHAYA PAGICahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang besar itu, Valencia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa aroma maskulin yang masih tertinggal di bantal sebelahnya. Ia segera terduduk, merapatkan jubah tidurnya yang berantakan, dan menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.Ragnar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat bisnis Jakarta. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam milik setelan semalam, namun ia membiarkan kemeja putihnya terbuka tanpa dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang tegap serta guratan bekas luka di perutnya. Di tangannya, sebatang rokok menyala, meskipun ada larangan merokok di dalam seluruh area penthouse."You merusak udara di sini, Ragnar," ujar Valencia sambil turun dari ranjang. Langkah kakinya nampak sedikit ragu saat ia berjalan menuju me
PANAS DI BALIK SUTRALampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela besar nampak seperti taburan berlian yang tidak berarti di mata Valencia. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecah oleh suara napas mereka yang saling beradu secara tidak teratur. Valencia berdiri mematung di sisi ranjang, menatap seprai sutra yang berantakan dengan perasaan campur aduk."Kamu mau berdiri di situ sampai pagi, Valencia?" suara Ragnar terdengar rendah dari arah belakang.Valencia berbalik, mendapati Ragnar sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu masih belum mengenakan atasan. Otot-otot perutnya nampak jelas di bawah cahaya lampu tidur yang remang, menciptakan bayangan yang menonjolkan setiap lekuk maskulin tubuhnya. Ragnar menatap Valencia dengan tatapan menantang, seolah sedang menikmati kegelisahan wanita itu."Jangan berpikir yang tidak-tidak. I melakukan ini hanya karena Bella," ujar Valencia dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "You tidur di sisi kir
BUKTI DI ATAS SUTRAPintu kayu jati berukir itu terbuka lebar, menyingkap privasi terdalam dari seorang Valencia Adhitama. Bella melangkah masuk dengan senyum sinis yang sudah siap meledak, namun senyum itu membeku di detik pertama matanya menyapu seisi ruangan.Kamar yang biasanya tertata sangat rapi dan steril layaknya museum itu kini nampak kacau. Di atas karpet bulu domba seharga ratusan juta rupiah, tergeletak sepasang sepatu bot kulit yang kotor dan penuh noda oli. Di kursi rias desainer milik Valencia, tersampir sebuah kemeja denim lusuh yang aromanya, campuran keringat, bensin, dan tembakau, tercium hingga ke ambang pintu.Namun yang paling menyita perhatian adalah ranjang besar di tengah ruangan. Seprai sutra yang biasanya kaku tanpa lipatan itu kini berantakan hebat. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan selimut tebalnya tergulung tak beraturan, menciptakan kesan kuat bahwa baru saja terjadi pergulatan intens di atas sana."Tidak mungkin," gumam Bella. Ia berjalan mendekat







