Share

Bab 6

Author: jimskin003
last update publish date: 2026-02-27 10:58:07

PERJANJIAN DI BAWAH CAHAYA PAGI

Cahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang besar itu, Valencia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa aroma maskulin yang masih tertinggal di bantal sebelahnya. Ia segera terduduk, merapatkan jubah tidurnya yang berantakan, dan menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.

Ragnar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat bisnis Jakarta. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam milik setelan semalam, namun ia membiarkan kemeja putihnya terbuka tanpa dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang tegap serta guratan bekas luka di perutnya. Di tangannya, sebatang rokok menyala, meskipun ada larangan merokok di dalam seluruh area penthouse.

"You merusak udara di sini, Ragnar," ujar Valencia sambil turun dari ranjang. Langkah kakinya nampak sedikit ragu saat ia berjalan menuju meja rias.

Ragnar memutar tubuhnya perlahan, menghembuskan asap rokok ke arah langit-langit dengan gaya yang sangat acuh tak acuh. Matanya menyapu tubuh Valencia yang masih nampak berantakan karena kejadian semalam. Senyum miring yang provokatif kembali muncul di wajahnya.

"Udara di sini memang terlalu bersih dan palsu, Valencia. Sedikit asap tidak akan membunuhmu," jawab Ragnar. Ia berjalan mendekati Valencia, langkah kakinya yang berat terdengar kontras dengan kesunyian ruangan itu.

Valencia mencoba membuang muka, namun bayangan Ragnar di cermin besar di depannya justru nampak semakin mengintimidasi. Ragnar berhenti tepat di belakangnya, meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi rias, mengunci posisi Valencia.

"Tentang semalam..." Valencia memulai bicara, suaranya sedikit tertahan. "I harap You tidak berpikir bahwa hal itu akan terulang kembali. Itu hanya bagian dari akting untuk Bella."

Ragnar menunduk, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Valencia. "Akting? Napasmu yang memburu dan caramu mencengkeram bahu saya semalam tidak terasa seperti akting, Valencia. Jangan mencoba membohongi diri sendiri di depan saya."

Valencia mengepalkan tangannya di atas meja rias. "You lancang. Jangan lupa siapa yang membayar utang-utang You."

Ragnar tertawa pelan, suara tawa yang berat dan penuh dominasi. Ia menegakkan tubuhnya kembali dan mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia meletakkan benda itu di atas meja rias, tepat di hadapan Valencia. Di layar itu, terpampang dokumen audit internal yang memperlihatkan aliran dana mencurigakan ke rekening perusahaan cangkang milik Bella.

"Lupakan soal utang saya sebentar. Fokus pada ini," ujar Ragnar. "Sepupu kamu itu bukan hanya ingin mengambil jabatanmu, dia ingin menghancurkan Adhitama dari dalam. Jika dokumen ini jatuh ke tangan dewan direksi pagi ini, Bella tidak akan punya waktu untuk sekadar memikirkan siapa suami kamu."

Valencia tertegun. Ia mengambil ponsel itu dan memeriksa angkanya dengan teliti. Keakuratan data itu sangat mengerikan. Dokumen rahasia yang bahkan tim auditor kepercayaannya tidak sanggup temukan dalam tiga bulan terakhir.

"Dari mana kamu mendapatkan ini, Ragnar?" tanya Valencia. Matanya menatap tajam ke arah Ragnar melalui pantulan cermin. "Mekanik bengkel tidak mungkin punya akses ke server rahasia Adhitama."

Ragnar tidak segera menjawab. Ia mematikan rokoknya di atas sebuah asbak kristal yang ia ambil dari meja samping. "Ada banyak hal yang tidak perlu kamu tahu tentang masa lalu saya, Valencia. Untuk sekarang, anggap saja suamimu ini punya cara tersendiri untuk mengumpulkan rongsokan, termasuk rongsokan informasi seperti ini."

Ragnar melangkah menuju lemari besar dan mengambil jas hitam yang telah disiapkan Pak Danu. Ia mengenakannya dengan gerakan yang sangat efisien, meskipun auranya tetap terlihat liar dan tidak terkendali.

"Siapkan dirimu. Kita akan ke kantor sekarang," perintah Ragnar.

Valencia berdiri, menatap Ragnar dengan pandangan benci sekaligus penasaran yang mendalam. "Sejak kapan You yang memberi perintah pada I?"

Ragnar berbalik di ambang pintu kamar, menatap Valencia dengan tatapan predatornya yang dingin. "Sejak semalam, saat kamu membiarkan saya menyentuh bagian terdalam dari otoritasmu. Cepatlah. Saya tidak suka menunggu, dan Bella pasti sudah menanti kita dengan pisau di tangannya."

Ragnar keluar dari kamar, meninggalkan Valencia yang masih terpaku dengan dokumen penggelapan dana di tangannya. Valencia menyadari bahwa pria yang ia anggap sebagai pajangan ini justru sedang memegang kendali atas seluruh bidak catur di hidupnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 85

    Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 2)Saat Ragnar, Valencia, dan sang bayi melompat ke dalam pusaran merkuri, gravitasi seolah-olah berbalik arah, menarik setiap molekul tubuh mereka hingga terasa seperti benang cahaya yang halus.Mereka tidak lagi merasakan berat badan atau sentuhan air; sebaliknya, mereka terseret masuk ke dalam terowongan dimensi yang disebut "The Chronos-Tunnel", di mana waktu tidak lagi mengalir secara linear.Di dalam lorong cahaya yang memusingkan itu, Ragnar melihat kilasan sejarah masa lalu yang bertabrakan dengan bayangan masa depan—perang besar para Arsitek, pembangunan kota bawah laut, hingga kehancuran permukaan bumi.Sang bayi yang berada di dekapan Valencia bertindak sebagai navigator; setiap kali denyut jantungnya berdetak, arah cahaya di dalam terowongan tersebut bergeser, mencari celah di antara realitas yang retak.Ragnar melihat proyeksi dirinya sendiri dalam ribuan versi yang berbeda: satu di mana ia mati di Pulse Core, satu di mana ia

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 84

    Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 1)Gelombang kejut dari hantaman pertama bom antimateri Maya merobek lapisan luar Katedral, menciptakan distorsi gravitasi yang membuat lantai logam di bawah kaki Ragnar melengkung seperti kertas yang diremas.Suara alarm dari sisa-sisa sistem Elias memekik dalam frekuensi tinggi, memperingatkan bahwa integritas ruang di dalam The Forge sedang menuju kehancuran total dalam hitungan detik.Ragnar mendekap Valencia dan bayinya sekuat tenaga, namun ia menyadari bahwa pelarian fisik menggunakan kapal penyelamat sudah mustahil; air laut di luar sana telah berubah menjadi plasma panas yang akan menguapkan baja apa pun dalam sekejap."Tekanan gravitasi ini... ia mulai melipat dimensi di sekitar kita, Ragnar!" teriak Elias sambil berusaha menahan konsol kendali yang mulai mengeluarkan percikan api biru yang mematikan.Plafon katedral yang megah mulai rontok, menjatuhkan pilar-pilar kristal raksasa yang hancur berkeping-keping sebelum sempat menye

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 83

    Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 2)Ragnar menyadari bahwa untuk melawan kekuatan janin yang bersifat digital-biologis ini, ia tidak bisa menggunakan senjata api, melainkan harus menggunakan "jangkar" dari darah dagingnya sendiri.Ia menarik belati taktisnya dan tanpa ragu menyayat telapak tangannya sendiri cukup dalam, membiarkan darah merah pekatnya yang telah terkontaminasi serum Guardians mengucur deras.Ragnar segera menempelkan telapak tangannya yang bersimbah darah itu tepat di atas perut Valencia yang membara, membiarkan cairan merahnya membasahi sirkuit hitam-emas yang sedang berpendar liar di sana."Ragnar... hhh... apa yang You lakukan?" rintih Valencia saat ia merasakan sensasi dingin dan kental dari darah suaminya mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya.Seketika, "The Singularity" di dalam rahim bereaksi hebat; darah Ragnar yang mengandung kode genetik murni sang ayah bertindak sebagai perisai biologis yang memaksa sang janin untuk kembali

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 82

    Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 1)Elias melangkah dengan kaku menuju pusat piramida terbalik, menyeret kakinya yang sebagian besar telah menyatu dengan logam katedral, sementara suaranya menggema seperti logam yang beradu."Selamat datang di The Forge, tempat di mana garis antara pencipta dan ciptaan dihapuskan selamanya," ujar Elias sambil menyentuh altar utama yang terbuat dari kristal hitam.Ragnar memapah Valencia masuk ke dalam ruangan melingkar yang sangat luas, di mana di tengahnya terdapat sebuah kolam berisi merkuri cair yang berpendar dengan energi panas bumi murni yang memancarkan uap berwarna ungu keperakan.Begitu Valencia berada di tepian kolam, seluruh Katedral seolah-olah bernapas kembali; dinding-dinding kuno itu mulai berpendar dengan garis-garis cahaya yang mengikuti denyut jantung Valencia.Langit-langit ruangan yang semula gelap gulita mendadak berubah menjadi layar hologram raksasa yang menampilkan proyeksi rasi bintang kuno yang su

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 81

    Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (Bagian 2)Ragnar tidak bisa lagi hanya menjadi penonton saat melihat Valencia menderita dalam pergolakan batinnya, maka ia memutuskan untuk melakukan hal yang paling berbahaya: menyentuh pusat dari segala kekacauan itu.Ia berlutut di depan Valencia dan perlahan meletakkan telapak tangan besarnya tepat di atas perut istrinya yang terus berdenyut dengan pendar cahaya hitam-emas yang kontradiktif.Seketika, sebuah sengatan listrik statis menghantam telapak tangan Ragnar, namun ia menolak untuk melepaskannya, justru menekan lebih dalam untuk mencari resonansi dengan darah dagingnya sendiri.Pandangan Ragnar mendadak memutih, dan dalam sekejap, kesadarannya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah ruang hampa yang disebut "The Neural Womb", sebuah dimensi mental yang diciptakan oleh sang janin.Di sana, Ragnar tidak melihat bayi yang mungil, melainkan sebuah proyeksi entitas raksasa yang tersusun dari jalinan saraf bercahaya dan kode-kode purba yang mel

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 80

    Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (bagian 1)Kapal penyelamat eksperimental itu terus meluncur turun melewati batas kedalaman 11.000 meter, memasuki kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya dari lampu kabin terasa seperti redupnya lilin di tengah badai.Sistem navigasi mulai mengeluarkan suara dengingan statis yang tidak beraturan, menandakan bahwa mereka telah memasuki wilayah "The Void", sebuah palung tak bertepi yang secara teknis tidak tercatat dalam peta maritim dunia.Di wilayah ini, hukum fisika seolah-olah mulai melengkung, di mana tekanan air yang seharusnya meremukkan baja kapal justru terasa seperti gravitasi yang menarik mereka ke dimensi lain.Ragnar menempelkan telapak tangannya pada jendela observasi yang terbuat dari berlian sintetis, menyaksikan pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak.Di bawah sana, dasar samudra tidak dipenuhi oleh lumpur atau terumbu karang, melainkan oleh ribuan fosil mekanik raksasa yang tampak seperti bangkai naga logam dari

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 29

    BAYANG-BAYANG MACAUDermaga nelayan di pinggiran Coloane menyambut mereka dengan aroma amis ikan dan hawa lembap yang menyesakkan paru-paru. Langit Macau yang kelabu menumpahkan rintik hujan tipis, menciptakan bunyi tik tik tik yang monoton di atas atap seng gudang-gudang tua. Ragnar merangkul ping

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 27

    PELURU TERAKHIR DI KEGELAPANKegelapan di Level Zero bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya bagi Valencia. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia mulai melihat aliran energi statis yang merayap di dinding beton seperti urat emas yang berdenyut lemah. Namun, kekuatan itu tidak memberinya ketenangan

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 26

    PILIHAN SANG PERMAISURIKeheningan di aula bawah tanah itu terasa lebih tajam daripada mata pisau. Cahaya dari layar monitor yang menampilkan wajah mendiang ibunya bergetar, memberikan efek distorsi bzzzt-klip yang membuat suasana semakin mengerikan. Valencia berdiri mematung di depan konsol digita

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 53

    GERAHAM SAMUDRA DAN TARIAN MAUT DI KEDALAMAN​Dinding akrilik The Nautilus Pod mulai mengeluarkan suara derit halus—krek... krek...—sebuah peringatan mekanis bahwa tekanan hidrostatis di kedalaman Palung Sunda mulai menguji batas elastisitas baja dan kaca. Di dalam kabin yang sempit, uap panas dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status