Share

Bab 4

Author: jimskin003
last update Last Updated: 2026-02-23 12:53:42

BUKTI DI ATAS SUTRA

Pintu kayu jati berukir itu terbuka lebar, menyingkap privasi terdalam dari seorang Valencia Adhitama. Bella melangkah masuk dengan senyum sinis yang sudah siap meledak, namun senyum itu membeku di detik pertama matanya menyapu seisi ruangan.

Kamar yang biasanya tertata sangat rapi dan steril layaknya museum itu kini nampak kacau. Di atas karpet bulu domba seharga ratusan juta rupiah, tergeletak sepasang sepatu bot kulit yang kotor dan penuh noda oli. Di kursi rias desainer milik Valencia, tersampir sebuah kemeja denim lusuh yang aromanya, campuran keringat, bensin, dan tembakau, tercium hingga ke ambang pintu.

Namun yang paling menyita perhatian adalah ranjang besar di tengah ruangan. Seprai sutra yang biasanya kaku tanpa lipatan itu kini berantakan hebat. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan selimut tebalnya tergulung tak beraturan, menciptakan kesan kuat bahwa baru saja terjadi pergulatan intens di atas sana.

"Tidak mungkin," gumam Bella. Ia berjalan mendekati ranjang, matanya mencari celah kepalsuan.

Ragnar yang masih berdiri di ambang pintu bersama Valencia hanya bersedekap. Ia menatap punggung Bella dengan sorot mata meremehkan. "Nona Bella, apa Anda perlu memeriksa kolong tempat tidur juga? Atau mungkin Anda ingin mencium aroma bantal kami untuk memastikan?"

Valencia tersentak kecil mendengar keberanian Ragnar, namun ia segera menguasai diri. Ia melirik Ragnar melalui sudut matanya. Pria itu nampak begitu tenang, seolah kekacauan di dalam kamarnya adalah hal alami yang ia buat. Valencia sendiri bingung kapan Ragnar sempat memindahkan barang-barangnya ke sana.

"Pak Baskoro, apa ini sudah cukup?" Valencia bertanya dengan nada dingin. "I rasa You sudah mendapatkan bukti visual yang diperlukan untuk laporan dewan direksi."

Pak Baskoro terbatuk kecil, nampak merasa sangat canggung melihat suasana kamar yang begitu intim. "Sudah lebih dari cukup, Nona Valencia. Keberadaan barang pribadi Tuan Ragnar di kamar utama adalah bukti domisili yang sah menurut hukum wasiat."

Bella berbalik, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. Ia menatap Ragnar dengan kebencian murni. "Jangan merasa menang dulu, mekanik sampah. Valencia mungkin bisa membeli tubuhmu untuk sandiwara ini, tapi dewan direksi tidak akan membiarkan orang sepertimu menyentuh aset Adhitama."

Ragnar melangkah maju, melewati Valencia hingga ia berdiri tepat di depan Bella. Sosoknya yang tinggi dan bertelanjang dada menciptakan tekanan yang luar biasa di ruangan itu. Ragnar menunduk, menatap Bella dengan senyum miring yang provokatif.

"Anda salah, Nona Bella," suara Ragnar merendah, berat dan penuh ancaman. "Saya tidak dibeli. Saya hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi hak saya. Dan jika Anda terus mengganggu kenyamanan saya dengan istri saya, saya tidak akan ragu untuk menunjukkan cara saya menangani gangguan di bengkel."

Ragnar menggerakkan tangannya, seolah ingin meraih leher Bella, yang membuat wanita itu tersentak mundur ketakutan hingga menabrak ujung ranjang. Ragnar hanya tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tajam.

"Silakan keluar. Istri saya butuh istirahat, dan saya tidak suka ada penonton di kamar ini," usir Ragnar tanpa basa-basi.

Bella segera menyambar tasnya dan berjalan cepat keluar dari kamar, diikuti oleh para pengacara yang nampak terburu-buru. Pak Baskoro hanya membungkuk singkat sebelum menutup pintu utama penthouse dari luar.

Keheningan mendadak jatuh menyelimuti ruangan. Suara deru halus pendingin ruangan kembali terdengar. Valencia masih berdiri mematung di dekat pintu, napasnya perlahan mulai stabil namun jantungnya masih berdegup liar. Ia menatap kekacauan di kamarnya, lalu beralih pada pria yang masih berdiri dengan punggung tegap di tengah ruangan.

"Kapan kamu memindahkan semua itu?" tanya Valencia pelan.

Ragnar berbalik. Aura predator yang tadi ia tunjukkan pada Bella menghilang, digantikan oleh ekspresi datar yang sulit dibaca. Ia berjalan menuju kursi rias dan mengambil kemeja denimnya.

"Saat Kamu sedang sibuk berdebat di interkom," jawab Ragnar singkat. "Saya tahu wanita seperti dia tidak akan percaya pada kata-kata. Dia butuh melihat sampah untuk mempercayai sebuah hubungan."

Valencia melangkah mendekat, matanya tertuju pada ranjangnya yang berantakan. "I tidak pernah mengizinkan You mengotori ranjang I, Ragnar. Dan baju-baju kotor itu sangat mengganggu."

"Mau tetap jadi CEO atau mau ranjang yang rapi?" potong Ragnar. Ia melangkah mendekati Valencia, memperpendek jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan.

Valencia terdiam. Ia bisa merasakan hawa panas yang memancar dari kulit dada Ragnar. Pria ini bukan lagi pria bengkel yang ia temukan tersungkur di lantai semen. Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang sedang bergejolak di balik tatapan matanya.

"Mulai sekarang, kamar ini adalah wilayah saya juga, Valencia," bisik Ragnar. Tangannya terangkat, jari-jarinya yang kasar menyisir helai rambut Valencia yang tergerai di bahu. "Jangan pernah berpikir Kamu bisa mengatur saya seperti pelayanmu. Saya bukan suami pajangan yang penurut."

Valencia ingin membalas, ingin membentak pria lancang ini, namun lidahnya terasa kelu. Keberadaan fisik Ragnar yang begitu dominan seolah melumpuhkan seluruh otoritas yang ia bangun selama bertahun-tahun.

Tiba-tiba, Ragnar menarik tangan Valencia dan meletakkannya tepat di atas dadanya yang telanjang, memaksa telapak tangan halus Valencia merasakan detak jantungnya yang kuat dan konstan.

"Malam ini kita berbagi ranjang, Valencia. Bukan karena saya ingin, tapi karena saya tahu orang-orang Bella mungkin masih mengawasi dari gedung seberang dengan lensa jarak jauh," ujar Ragnar dingin.

Valencia membelalakkan matanya, menatap jendela besar yang tertutup tirai tipis. Tantangan baru saja dimulai, dan ia menyadari bahwa ia telah mengundang badai masuk ke dalam tempat perlindungan pribadinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 9

    DI BALIK JENDELA SATU ARAHKeheningan di ruang rapat itu terasa lebih memekakkan telinga daripada suara sepatu bot tadi. Bella berdiri dari kursinya dengan tawa kemenangan yang tidak lagi disembunyikan. "Sudah I katakan, dia hanya sampah yang akan menyeret You ke dasar neraka, Valencia."Valencia tidak menoleh sedikit pun ke arah sepupunya. Matanya terpaku pada layar proyektor yang masih menampilkan bukti penggelapan dana milik Bella. Tangannya yang gemetar kini mengepal kuat di atas meja marmer yang dingin."Duduk atau I akan memastikan polisi tadi kembali untuk menjemput You, Bella," desis Valencia dengan nada yang begitu tajam. Suasana ruangan mendadak membeku saat ia menatap satu per satu direktur yang tadi berkhianat. "Rapat ini selesai dan siapa pun yang mencoba keluar dari gedung ini sebelum audit selesai akan berhadapan dengan pengacara I."Valencia melangkah keluar dari ruangan dengan langkah yang sangat cepat. Ia tidak memedulikan tatapan bingung para karyawannya di sepanjan

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 8

    SKAKMAT DAN SURAT PERINTAHPak Baskoro memasukkan flashdisk tersebut dengan tangan yang sedikit gemetar karena suasana yang semakin memanas. Layar proyektor besar di dinding belakang Valencia mendadak menyala menampilkan bagan alur transaksi keuangan yang sangat rumit. Seluruh orang di ruangan itu mendadak terdiam saat melihat data yang terpampang nyata di depan mata mereka."Ini adalah bukti penggelapan dana proyek infrastruktur di Kalimantan yang sangat besar," suara Valencia memecah keheningan dengan nada yang sangat dingin. "Totalnya mencapai dua ratus miliar rupiah dan semuanya berakhir di rekening perusahaan cangkang di Panama. Siapa yang bertanggung jawab atas rekening ini, Bella?"Seluruh direktur senior mendadak riuh dan mereka saling berbisik dengan wajah yang nampak pucat pasi. Ragnar berdiri dari kursinya lalu melangkah perlahan mengelilingi meja rapat layaknya serigala yang sedang mengincar leher mangsanya. Ia berhenti tepat di belakang kursi Bella dan meletakkan kedua ta

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 7

    SERIGALA DI LANTAI MARMERGedung Adhitama Tower berdiri angkuh mencakar langit Jakarta dengan dinding kaca yang berkilau tajam. Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan lobi utama dengan suara derit rem yang halus namun berwibawa. Puluhan karyawan yang sedang berlalu-lalang mendadak mematung saat pintu mobil terbuka secara otomatis.Valencia Adhitama turun dengan langkah presisi, membiarkan sepatu hak tingginya menciptakan bunyi ketukan ritmis di atas lantai granit. Ia mengenakan blazer hitam dengan potongan tajam yang menegaskan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Aura dinginnya mendadak pecah saat sosok di sisi lain mobil menampakkan diri ke hadapan publik.Ragnar keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir terlihat seperti sedang berjalan di bengkel lamanya. Ia tidak mengenakan dasi, membiarkan kancing kemejanya terbuka hingga memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Ia mengabaikan tatapan memuja sekaligus bingung dari para staf wanita, lebih memili

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 6

    PERJANJIAN DI BAWAH CAHAYA PAGICahaya matahari pagi menembus celah tirai sutra yang sedikit terbuka, menciptakan garis-garis emas di atas lantai marmer yang dingin. Di atas ranjang besar itu, Valencia membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sisa aroma maskulin yang masih tertinggal di bantal sebelahnya. Ia segera terduduk, merapatkan jubah tidurnya yang berantakan, dan menyadari bahwa sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong.Ragnar berdiri di depan dinding kaca raksasa yang menghadap langsung ke arah pusat bisnis Jakarta. Pria itu sudah mengenakan celana kain hitam milik setelan semalam, namun ia membiarkan kemeja putihnya terbuka tanpa dikancingkan, memperlihatkan otot dadanya yang tegap serta guratan bekas luka di perutnya. Di tangannya, sebatang rokok menyala, meskipun ada larangan merokok di dalam seluruh area penthouse."You merusak udara di sini, Ragnar," ujar Valencia sambil turun dari ranjang. Langkah kakinya nampak sedikit ragu saat ia berjalan menuju me

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 5

    PANAS DI BALIK SUTRALampu-lampu kota Jakarta yang berpijar di luar jendela besar nampak seperti taburan berlian yang tidak berarti di mata Valencia. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan terasa begitu berat, hanya dipecah oleh suara napas mereka yang saling beradu secara tidak teratur. Valencia berdiri mematung di sisi ranjang, menatap seprai sutra yang berantakan dengan perasaan campur aduk."Kamu mau berdiri di situ sampai pagi, Valencia?" suara Ragnar terdengar rendah dari arah belakang.Valencia berbalik, mendapati Ragnar sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu masih belum mengenakan atasan. Otot-otot perutnya nampak jelas di bawah cahaya lampu tidur yang remang, menciptakan bayangan yang menonjolkan setiap lekuk maskulin tubuhnya. Ragnar menatap Valencia dengan tatapan menantang, seolah sedang menikmati kegelisahan wanita itu."Jangan berpikir yang tidak-tidak. I melakukan ini hanya karena Bella," ujar Valencia dengan suara yang ia usahakan tetap stabil. "You tidur di sisi kir

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 4

    BUKTI DI ATAS SUTRAPintu kayu jati berukir itu terbuka lebar, menyingkap privasi terdalam dari seorang Valencia Adhitama. Bella melangkah masuk dengan senyum sinis yang sudah siap meledak, namun senyum itu membeku di detik pertama matanya menyapu seisi ruangan.Kamar yang biasanya tertata sangat rapi dan steril layaknya museum itu kini nampak kacau. Di atas karpet bulu domba seharga ratusan juta rupiah, tergeletak sepasang sepatu bot kulit yang kotor dan penuh noda oli. Di kursi rias desainer milik Valencia, tersampir sebuah kemeja denim lusuh yang aromanya, campuran keringat, bensin, dan tembakau, tercium hingga ke ambang pintu.Namun yang paling menyita perhatian adalah ranjang besar di tengah ruangan. Seprai sutra yang biasanya kaku tanpa lipatan itu kini berantakan hebat. Bantal-bantal berserakan di lantai, dan selimut tebalnya tergulung tak beraturan, menciptakan kesan kuat bahwa baru saja terjadi pergulatan intens di atas sana."Tidak mungkin," gumam Bella. Ia berjalan mendekat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status