Share

Bab 7

Author: jimskin003
last update publish date: 2026-02-27 19:50:42

SERIGALA DI LANTAI MARMER

Gedung Adhitama Tower berdiri angkuh mencakar langit Jakarta dengan dinding kaca yang berkilau tajam. Mobil Rolls-Royce hitam itu berhenti tepat di depan lobi utama dengan suara derit rem yang halus namun berwibawa. Puluhan karyawan yang sedang berlalu-lalang mendadak mematung saat pintu mobil terbuka secara otomatis.

Valencia Adhitama turun dengan langkah presisi, membiarkan sepatu hak tingginya menciptakan bunyi ketukan ritmis di atas lantai granit. Ia mengenakan blazer hitam dengan potongan tajam yang menegaskan otoritasnya sebagai pemimpin tertinggi di gedung ini. Aura dinginnya mendadak pecah saat sosok di sisi lain mobil menampakkan diri ke hadapan publik.

Ragnar keluar dengan gaya yang sangat santai, hampir terlihat seperti sedang berjalan di bengkel lamanya. Ia tidak mengenakan dasi, membiarkan kancing kemejanya terbuka hingga memperlihatkan pangkal dadanya yang kokoh. Ia mengabaikan tatapan memuja sekaligus bingung dari para staf wanita, lebih memilih menyulut sebatang rokok tanpa memedulikan tanda larangannya.

"Matikan rokok itu, Ragnar. Di sini bukan tempat sampah," desis Valencia sambil terus berjalan tanpa menoleh.

Ragnar menghisap rokoknya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya ke arah resepsionis yang hanya bisa melongo kaget. "Gedung ini terlalu wangi, Valencia. Sedikit aroma tembakau akan membuat orang-orangmu lebih terjaga," sahut Ragnar dengan suara serak yang tenang.

Valencia mengepalkan tangannya di samping tubuh sambil menahan amarah yang mulai merayap ke ubun-ubun. "You akan membuat I terlihat buruk di depan dewan direksi jika terus bertingkah liar. Ingat peran You hari ini sebagai suami I yang terhormat," bisiknya tajam.

Mereka masuk ke dalam lift eksekutif yang melesat cepat menuju lantai paling atas. Keheningan di dalam kotak logam itu terasa sangat mencekam dan hanya diisi oleh suara deru mesin yang sangat halus. Ragnar berdiri tepat di belakang Valencia, menatap pantulan tubuh wanita itu di dinding lift yang mengilap layaknya cermin.

"Jangan tegang begitu, Valencia. Kursi CEO itu tidak akan lari ke mana-mana jika kamu tetap tenang," ujar Ragnar sambil meletakkan tangannya di bahu Valencia.

Valencia segera menepis tangan itu dengan gerakan yang sangat kasar. "Jangan sentuh I saat kita akan masuk ke ruang perang. Simpan gairah You untuk nanti malam jika You memang masih punya nyali menghadapi dewan direksi."

Ragnar tertawa pendek, sebuah suara tawa yang terdengar sangat meremehkan sekaligus memuja. Pintu lift terbuka, menyingkap koridor panjang menuju ruang rapat utama yang sudah dijaga oleh dua pengawal berseragam rapi. Pintu jati setinggi tiga meter itu didorong terbuka oleh Valencia dengan satu sentuhan kuat.

Di dalam sana, sepuluh direktur senior sudah duduk melingkar di meja marmer panjang yang dingin. Di ujung meja, Bella duduk dengan gaya kemenangan yang sangat mencolok sambil mengenakan blazer putih. "Akhirnya, CEO kita yang terhormat datang juga," sapa Bella dengan nada yang sangat manis namun beracun.

Bella melirik Ragnar dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu tertawa kecil di balik telapak tangannya yang lentik. "I lihat, You benar-benar membawa mekanik itu untuk ikut mencicipi kopi mahal kita di ruangan ini. Apa dia tidak akan mengotori kursi mahal milik perusahaan kita dengan oli di bajunya?" sindir Bella pedas.

Valencia menarik kursi di ujung meja yang berseberangan dengan Bella tanpa sepatah kata pun. Ragnar tidak duduk di kursi yang disediakan, melainkan menarik kursi tambahan dan meletakkannya tepat di samping Valencia. Ia duduk dengan kaki menyilang sambil menatap satu per satu wajah para direktur dengan tatapan predator.

"Nona Valencia, keberadaan pria ini adalah penghinaan bagi sejarah besar Adhitama," sahut Pak Haris, direktur tertua di sana. Ia meletakkan laporan tahunan dengan kasar hingga menimbulkan suara debuman yang menggema. "Kami tidak butuh orang jalanan untuk duduk di ruangan yang sakral ini bersama kami."

Ragnar mengeluarkan sebuah diska lepas dari saku jasnya dan memainkannya di antara jari-jarinya yang panjang. Ia mencondongkan tubuh ke depan, membuat beberapa direktur secara refleks mundur menjauh karena merasa terintimidasi.

"Gedung ini memang sakral, Pak Tua, tapi sayangnya pondasinya sudah mulai membusuk karena tikus-tikus di dalamnya," ujar Ragnar pelan. Ia melemparkan flashdisk  ke tengah meja hingga meluncur tepat di depan laptop pengacara perusahaan. "Buka isinya sekarang juga, karena pertunjukan yang sebenarnya baru saja dimulai."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 85

    Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 2)Saat Ragnar, Valencia, dan sang bayi melompat ke dalam pusaran merkuri, gravitasi seolah-olah berbalik arah, menarik setiap molekul tubuh mereka hingga terasa seperti benang cahaya yang halus.Mereka tidak lagi merasakan berat badan atau sentuhan air; sebaliknya, mereka terseret masuk ke dalam terowongan dimensi yang disebut "The Chronos-Tunnel", di mana waktu tidak lagi mengalir secara linear.Di dalam lorong cahaya yang memusingkan itu, Ragnar melihat kilasan sejarah masa lalu yang bertabrakan dengan bayangan masa depan—perang besar para Arsitek, pembangunan kota bawah laut, hingga kehancuran permukaan bumi.Sang bayi yang berada di dekapan Valencia bertindak sebagai navigator; setiap kali denyut jantungnya berdetak, arah cahaya di dalam terowongan tersebut bergeser, mencari celah di antara realitas yang retak.Ragnar melihat proyeksi dirinya sendiri dalam ribuan versi yang berbeda: satu di mana ia mati di Pulse Core, satu di mana ia

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 84

    Eksodus Abisal dan Pergeseran Realitas (Bagian 1)Gelombang kejut dari hantaman pertama bom antimateri Maya merobek lapisan luar Katedral, menciptakan distorsi gravitasi yang membuat lantai logam di bawah kaki Ragnar melengkung seperti kertas yang diremas.Suara alarm dari sisa-sisa sistem Elias memekik dalam frekuensi tinggi, memperingatkan bahwa integritas ruang di dalam The Forge sedang menuju kehancuran total dalam hitungan detik.Ragnar mendekap Valencia dan bayinya sekuat tenaga, namun ia menyadari bahwa pelarian fisik menggunakan kapal penyelamat sudah mustahil; air laut di luar sana telah berubah menjadi plasma panas yang akan menguapkan baja apa pun dalam sekejap."Tekanan gravitasi ini... ia mulai melipat dimensi di sekitar kita, Ragnar!" teriak Elias sambil berusaha menahan konsol kendali yang mulai mengeluarkan percikan api biru yang mematikan.Plafon katedral yang megah mulai rontok, menjatuhkan pilar-pilar kristal raksasa yang hancur berkeping-keping sebelum sempat menye

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 83

    Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 2)Ragnar menyadari bahwa untuk melawan kekuatan janin yang bersifat digital-biologis ini, ia tidak bisa menggunakan senjata api, melainkan harus menggunakan "jangkar" dari darah dagingnya sendiri.Ia menarik belati taktisnya dan tanpa ragu menyayat telapak tangannya sendiri cukup dalam, membiarkan darah merah pekatnya yang telah terkontaminasi serum Guardians mengucur deras.Ragnar segera menempelkan telapak tangannya yang bersimbah darah itu tepat di atas perut Valencia yang membara, membiarkan cairan merahnya membasahi sirkuit hitam-emas yang sedang berpendar liar di sana."Ragnar... hhh... apa yang You lakukan?" rintih Valencia saat ia merasakan sensasi dingin dan kental dari darah suaminya mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya.Seketika, "The Singularity" di dalam rahim bereaksi hebat; darah Ragnar yang mengandung kode genetik murni sang ayah bertindak sebagai perisai biologis yang memaksa sang janin untuk kembali

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 82

    Ritual di Jantung Katedral dan Pilihan Sang Pelindung (Bagian 1)Elias melangkah dengan kaku menuju pusat piramida terbalik, menyeret kakinya yang sebagian besar telah menyatu dengan logam katedral, sementara suaranya menggema seperti logam yang beradu."Selamat datang di The Forge, tempat di mana garis antara pencipta dan ciptaan dihapuskan selamanya," ujar Elias sambil menyentuh altar utama yang terbuat dari kristal hitam.Ragnar memapah Valencia masuk ke dalam ruangan melingkar yang sangat luas, di mana di tengahnya terdapat sebuah kolam berisi merkuri cair yang berpendar dengan energi panas bumi murni yang memancarkan uap berwarna ungu keperakan.Begitu Valencia berada di tepian kolam, seluruh Katedral seolah-olah bernapas kembali; dinding-dinding kuno itu mulai berpendar dengan garis-garis cahaya yang mengikuti denyut jantung Valencia.Langit-langit ruangan yang semula gelap gulita mendadak berubah menjadi layar hologram raksasa yang menampilkan proyeksi rasi bintang kuno yang su

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 81

    Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (Bagian 2)Ragnar tidak bisa lagi hanya menjadi penonton saat melihat Valencia menderita dalam pergolakan batinnya, maka ia memutuskan untuk melakukan hal yang paling berbahaya: menyentuh pusat dari segala kekacauan itu.Ia berlutut di depan Valencia dan perlahan meletakkan telapak tangan besarnya tepat di atas perut istrinya yang terus berdenyut dengan pendar cahaya hitam-emas yang kontradiktif.Seketika, sebuah sengatan listrik statis menghantam telapak tangan Ragnar, namun ia menolak untuk melepaskannya, justru menekan lebih dalam untuk mencari resonansi dengan darah dagingnya sendiri.Pandangan Ragnar mendadak memutih, dan dalam sekejap, kesadarannya ditarik paksa masuk ke dalam sebuah ruang hampa yang disebut "The Neural Womb", sebuah dimensi mental yang diciptakan oleh sang janin.Di sana, Ragnar tidak melihat bayi yang mungil, melainkan sebuah proyeksi entitas raksasa yang tersusun dari jalinan saraf bercahaya dan kode-kode purba yang mel

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 80

    Palung Tak Bertepi dan Suara dari Rahim (bagian 1)Kapal penyelamat eksperimental itu terus meluncur turun melewati batas kedalaman 11.000 meter, memasuki kegelapan yang begitu pekat hingga cahaya dari lampu kabin terasa seperti redupnya lilin di tengah badai.Sistem navigasi mulai mengeluarkan suara dengingan statis yang tidak beraturan, menandakan bahwa mereka telah memasuki wilayah "The Void", sebuah palung tak bertepi yang secara teknis tidak tercatat dalam peta maritim dunia.Di wilayah ini, hukum fisika seolah-olah mulai melengkung, di mana tekanan air yang seharusnya meremukkan baja kapal justru terasa seperti gravitasi yang menarik mereka ke dimensi lain.Ragnar menempelkan telapak tangannya pada jendela observasi yang terbuat dari berlian sintetis, menyaksikan pemandangan yang membuat bulu kuduknya berdiri tegak.Di bawah sana, dasar samudra tidak dipenuhi oleh lumpur atau terumbu karang, melainkan oleh ribuan fosil mekanik raksasa yang tampak seperti bangkai naga logam dari

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 53

    GERAHAM SAMUDRA DAN TARIAN MAUT DI KEDALAMAN​Dinding akrilik The Nautilus Pod mulai mengeluarkan suara derit halus—krek... krek...—sebuah peringatan mekanis bahwa tekanan hidrostatis di kedalaman Palung Sunda mulai menguji batas elastisitas baja dan kaca. Di dalam kabin yang sempit, uap panas dari

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 29

    BAYANG-BAYANG MACAUDermaga nelayan di pinggiran Coloane menyambut mereka dengan aroma amis ikan dan hawa lembap yang menyesakkan paru-paru. Langit Macau yang kelabu menumpahkan rintik hujan tipis, menciptakan bunyi tik tik tik yang monoton di atas atap seng gudang-gudang tua. Ragnar merangkul ping

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 27

    PELURU TERAKHIR DI KEGELAPANKegelapan di Level Zero bukan lagi sekadar ketiadaan cahaya bagi Valencia. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia mulai melihat aliran energi statis yang merayap di dinding beton seperti urat emas yang berdenyut lemah. Namun, kekuatan itu tidak memberinya ketenangan

  • Jerat Rahasia Kapten Ragnar   Bab 26

    PILIHAN SANG PERMAISURIKeheningan di aula bawah tanah itu terasa lebih tajam daripada mata pisau. Cahaya dari layar monitor yang menampilkan wajah mendiang ibunya bergetar, memberikan efek distorsi bzzzt-klip yang membuat suasana semakin mengerikan. Valencia berdiri mematung di depan konsol digita

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status