Home / Mafia / Jerat Sang Iblis / Bab 1: Sonata di Ambang Kehancuran

Share

Bab 1: Sonata di Ambang Kehancuran

last update Last Updated: 2025-11-30 23:00:42

Lampu sorot itu terasa panas di kulitnya, kontras dengan dingin yang merambat di ujung jemarinya. Di tengah panggung Grand Hall yang megah, Elena Wijaya duduk sendirian di depan sebuah grand piano Steinway hitam yang mengkilap.

Dunia di sekelilingnya gelap gulita, hanya menyisakan dirinya dan instrumen itu dalam lingkaran cahaya putih yang menyilaukan. Hening. Ribuan pasang mata menatap dari kegelapan, menahan napas, menunggu not pertama memecah kebisuan.

Elena menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan aroma kayu tua, vernis, dan debu beludru yang khas dari gedung teater tua. Dia memejamkan mata sejenak, membiarkan dunia nyata—tagihan listrik yang menunggak, ancaman pemilik apartemen, dan wajah ayahnya yang selalu tampak gelisah—luruh dari benaknya.

Di sini, di atas bangku piano ini, dia bukan Elena si gadis miskin yang berjuang melunasi utang ayahnya. Di sini, dia adalah ratu.

Tangannya terangkat, lalu mendarat dengan tegas di atas tuts.

Rachmaninoff. Prelude in C Sharp Minor.

Tiga not pembuka yang berat dan menggelegar menghantam udara, seperti lonceng kematian yang berbunyi dari kejauhan. Bunyi itu bergaung, memantul di dinding-dinding akustik, menciptakan getaran yang merambat hingga ke tulang rusuk para penonton. Musik itu gelap, penuh amarah, dan menuntut perhatian penuh.

Jari-jari Elena menari dengan kecepatan yang memusingkan saat tempo lagu meningkat. Ada keputusasaan dalam melodi itu, sesuatu yang sangat dipahami Elena. Setiap tekanan pada tuts adalah pelampiasan dari rasa frustrasi yang dia pendam selama bertahun-tahun. Rasa lelah menjadi tulang punggung keluarga di usia dua puluh tiga tahun, rasa takut akan masa depan yang suram, dan rasa sepi yang tak pernah benar-benar hilang sejak ibunya meninggal.

Keringat dingin menetes di pelipisnya, menelusuri rahangnya yang tegas. Gaun hitam sederhana yang dia kenakan—hasil jahitan tangan karena dia tak mampu membeli gaun desainer—membalut tubuh rampingnya dengan anggun. Rambut hitam panjangnya yang digelung mulai sedikit berantakan seiring intensitas permainannya.

Saat dia mencapai bagian fortissimo, Elena tidak lagi sekadar bermain piano. Dia sedang bertarung. Dia memukul tuts itu dengan seluruh tenaganya, menyalurkan kemarahan yang membakar dadanya. Musik itu menjerit, memohon, dan akhirnya, melambat menuju keheningan yang tak terelakkan.

Not terakhir bergema, menggantung di udara selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya.

Kemudian, tepuk tangan meledak.

Suara gemuruh itu menarik Elena kembali ke realitas. Dia berdiri, lututnya sedikit gemetar, lalu membungkuk hormat. Senyum tipis, terlatih dan sopan, terukir di bibirnya. Namun, matanya tidak tersenyum. Matanya, yang berwarna cokelat gelap seperti kopi pahit, menyapu lautan penonton dengan tatapan kosong.

Dia tidak mencari pujian. Dia mencari wajah ayahnya.

Handry Wijaya berjanji akan datang malam ini. "Kali ini Ayah tidak akan ingkar, El. Ayah sudah menang besar kemarin. Ayah akan duduk di barisan depan," begitu katanya tiga hari yang lalu.

Elena menyipitkan mata, mencoba menembus silau lampu sorot. Barisan depan dipenuhi oleh para donatur yayasan, kritikus musik berwajah masam, dan beberapa pejabat kota.

Kursi nomor 12 di barisan A kosong.

Hati Elena mencelos. Kekecewaan itu terasa familiar, seperti teman lama yang datang berkunjung tanpa diundang. Dia menegakkan tubuh, mempertahankan postur anggunnya, lalu berjalan keluar panggung dengan langkah terukur.

Begitu dia berada di balik tirai beludru merah yang berat, topengnya runtuh. Bahunya merosot. Suara tepuk tangan di belakangnya terdengar jauh dan asing.

"Penampilan yang luar biasa, Elena! Benar-benar... menusuk jiwa."

Elena menoleh, mendapati Pak Baskoro, manajer panggung, tersenyum lebar padanya. Pria paruh baya itu menepuk bahunya dengan bangga. "Direktur Konservatorium sangat terkesan. Aku dengar dia sedang mempertimbangkanmu untuk beasiswa master di Vienna."

Vienna. Kota impiannya.

"Terima kasih, Pak," jawab Elena, suaranya serak. Dia mencoba tersenyum, tapi rasanya kaku. "Apa... apa ada pesan untukku? Atau mungkin seseorang mencariku di lobi?"

Pak Baskoro mengerutkan kening, berpikir sejenak. "Tidak ada. Hanya buket bunga dari panitia. Kenapa? Kau menunggu seseorang?"

"Ayahku," gumam Elena pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Dia bilang dia akan datang."

Ekspresi Pak Baskoro berubah simpati. Dia tahu reputasi Handry Wijaya—siapa yang tidak tahu di lingkungan ini? Seorang mantan akuntan cerdas yang hancur karena judi dan alkohol setelah kematian istrinya. "Ah... mungkin dia terjebak macet. Hujan deras sekali di luar, Nak."

Elena mengangguk, meski dia tahu itu bohong. Ayahnya tidak terjebak macet. Ayahnya mungkin sedang berada di meja hijau, mempertaruhkan uang sewa apartemen mereka, atau lebih buruk lagi, meminjam uang dari orang-orang yang salah.

"Mungkin," kata Elena singkat. Dia tidak ingin dikasihani. "Saya permisi ganti baju dulu, Pak."

Ruang ganti terasa sempit dan lembap. Cermin rias yang retak di sudut memantulkan wajah Elena yang pucat. Dia menghapus riasan tebalnya dengan kapas kasar, menatap bayangannya sendiri. Cantik, kata orang-orang. Tapi Elena hanya melihat kelelahan di bawah matanya.

Dia mengganti gaun hitamnya dengan kemeja flanel kebesaran dan celana jeans usang. Sepatu hak tingginya digantikan oleh sneakers putih yang sudah berubah warna menjadi abu-abu. Dalam sekejap, sang pianis virtuoso lenyap, digantikan oleh seorang gadis biasa yang harus pulang naik bus di tengah badai.

Saat dia meraih tasnya, ponselnya bergetar di atas meja rias.

Jantung Elena melompat. Dia menyambar benda pipih itu dengan cepat. Layarnya menyala, menampilkan nama 'Ayah' dengan foto Handry yang sedang tersenyum canggung.

Kelegaan membanjiri dadanya, tapi segera diikuti oleh amarah.

"Di mana Ayah?" sergah Elena begitu menempelkan ponsel ke telinga. Dia tidak memberi kesempatan ayahnya bicara. "Aku menyisakan tiket VIP untuk Ayah. Kursi itu kosong, Yah! Kosong! Apa Ayah tahu betapa malunya aku saat—"

"El... dengarkan Ayah."

Suara di seberang sana memotong omelannya. Suara itu bukan suara ayahnya yang biasanya—bukan suara penuh alasan atau permintaan maaf yang manis. Itu adalah suara ketakutan murni. Suara seseorang yang sedang menatap laras senapan.

Napas Elena tercekat. "Yah? Ada apa?"

"Jangan pulang," bisik Handry, suaranya gemetar hebat dan terengah-engah, seolah dia sedang berlari atau bersembunyi di ruang sempit. "Demi Tuhan, Elena, jangan pulang ke apartemen."

Darah Elena membeku. Suara hujan yang menghantam atap gedung teater tiba-tiba terdengar sangat jauh. "Apa maksud Ayah? Ayah di mana?"

"Mereka menemukanku, El. Aku pikir... aku pikir aku bisa menang kali ini. Aku pikir aku bisa melunasi semuanya." Isak tangis tertahan terdengar di ujung telepon. "Tapi jumlahnya terlalu banyak. Bunganya... mereka gila."

"Siapa 'mereka', Yah?" Elena mencengkeram ponselnya begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia mulai berjalan mondar-mandir di ruang ganti yang sempit itu.

"Black Viper," desis Handry.

Nama itu asing bagi Elena, tapi aura bahaya yang menyertainya terasa nyata.

"Ayah, tenanglah. Kita bisa lapor polisi. Katakan Ayah di mana, aku akan jemput," kata Elena, berusaha terdengar rasional meski kakinya lemas.

"TIDAK! Jangan polisi!" teriak Handry histeris. "Jika ada sirine, mereka akan memotong lidahku! Mereka ada di mana-mana, El. Dengar... lari. Pergi ke rumah Bibi Marni di Bandung. Bawa paspormu. Jangan cari Ayah."

"Aku tidak akan meninggalkan Ayah!"

BRAK!

Suara pintu didobrak terdengar jelas dari sambungan telepon. Diikuti bunyi pecahan kaca dan langkah kaki berat yang berderap.

Elena mematung. "Yah? Ayah!"

"Katakan selamat tinggal pada putrimu, Handry."

Itu bukan suara ayahnya. Itu suara pria lain—dalam, tenang, dan mengerikan. Suara yang terdengar seperti gesekan belati di atas batu.

"Tolong... jangan libatkan dia," suara Handry terdengar menjauh, seolah ponselnya telah terlempar atau jatuh. "Dia tidak tahu apa-apa! Ambil saja aku!"

"Kami tidak menginginkan nyawamu yang tidak berharga, Pak Tua. Tapi Bos kami mungkin tertarik dengan asetmu yang lain."

Suara tawa dingin terdengar, lalu suara pukulan tumpul—daging bertemu daging. Handry menjerit kesakitan.

"AYAH!" Elena berteriak di ruang ganti, tidak peduli jika orang di luar mendengarnya. Air mata mulai mengalir deras di pipinya. "JANGAN SAKITI DIA! HALO?! SIAPA KAU?!"

Hening sejenak. Lalu, seseorang mengangkat ponsel itu. Elena bisa mendengar napas orang itu—teratur dan tenang.

"Elena Wijaya," suara pria asing itu menyapanya. Nada bicaranya santai, seolah sedang memesan kopi, bukan sedang menyiksa seseorang. "Ayahmu membuat kesalahan fatal."

"Siapa kau? Apa maumu? Uang? Aku akan membayarnya!" Elena memohon, suaranya pecah. "Aku akan bekerja, aku akan jual semua yang aku punya. Tolong jangan bunuh dia."

"Uang?" Pria itu mendengus. "Jumlah yang dicuri ayahmu dari Tuan Kael bukan jumlah yang bisa dibayar dengan main piano di gedung usang ini, Nona Manis."

Tuan Kael?

"Beri aku waktu," pinta Elena putus asa.

"Waktumu habis saat ayahmu memutuskan untuk menggelapkan dana kasino kami," jawab pria itu dingin. "Tapi Tuan Kael adalah pebisnis yang adil. Jika kau ingin ayahmu tetap bernapas... datanglah ke apartemenmu sekarang. Kami menunggu."

"Kau bilang jangan pulang tadi..."

"Itu kata ayahmu. Kata-kataku adalah hukum sekarang. Datanglah, atau kami akan mengirim ayahmu dalam paket-paket kecil ke alamat konservatoriummu besok pagi."

Klik.

Sambungan terputus.

Elena berdiri mematung, menatap layar ponsel yang kini gelap. Dunia di sekitarnya terasa runtuh. Kakinya lemas, memaksanya berpegangan pada tepi meja rias agar tidak ambruk ke lantai.

Dia harus lari. Insting pertamanya meneriakkan itu. Ayahnya menyuruhnya lari ke Bandung.

Tapi jika dia lari, ayahnya mati. Potongan tubuh. Paket kecil.

Imajinasi mengerikan itu membuat perutnya mual. Elena menelan ludah, rasa empedu naik ke tenggorokannya. Dia menyeka air matanya dengan kasar menggunakan lengan kemejanya.

Dia tidak punya pilihan.

Elena menyambar tasnya, berlari keluar dari ruang ganti, mengabaikan sapaan bingung beberapa staf panggung yang berpapasan dengannya. Dia menerobos pintu keluar belakang, langsung disambut oleh hujan deras yang mengguyur Jakarta malam itu.

Air hujan yang dingin menusuk kulitnya, membasahi pakaiannya dalam sekejap, tapi Elena tidak merasakannya. Dia berlari menuju halte, melompat ke dalam taksi pertama yang lewat tanpa mempedulikan biayanya.

"Jalan Cempaka Putih. Cepat, Pak!" perintahnya dengan napas terengah.

Di dalam taksi yang melaju menembus kemacetan dan tirai hujan, Elena meremas tangannya sendiri. Dia berdoa pada Tuhan yang sudah lama tidak dia sapa.

Selamatkan dia. Ambil apa saja dariku, tapi jangan biarkan dia mati.

Apartemen Elena terletak di lantai tiga sebuah gedung tua tanpa lift di pinggiran kota. Biasanya, lingkungan ini ramai oleh pedagang nasi goreng dan anak-anak muda yang nongkrong. Tapi malam ini, jalanan sepi. Hujan telah mengusir semua orang masuk ke dalam rumah.

Taksi berhenti. Elena melempar uang lima puluh ribu, tidak menunggu kembalian, dan langsung berlari menaiki tangga beton yang licin.

Jantungnya berdetak begitu kencang hingga telinganya berdenging.

Lantai satu. Aman.

Lantai dua. Lampu koridor berkedip-kedip mau mati.

Lantai tiga.

Pintu apartemen nomor 304—rumahnya—terbuka sedikit.

Darah Elena berdesir. Dia berhenti sejenak di depan pintu, napasnya tertahan. Tidak ada suara dari dalam. Tidak ada teriakan, tidak ada bentakan. Hanya suara rintik hujan yang menghantam jendela koridor.

Dengan tangan gemetar, dia mendorong pintu itu.

Engsel pintu berderit pelan, suara yang biasanya tidak dia pedulikan kini terdengar seperti ledakan di telinganya.

"Ayah?" panggilnya lirih.

Pemandangan di depannya membuat lututnya benar-benar menyerah.

Apartemen kecil itu hancur total. Sofa murah mereka terbalik dengan isi busa yang berhamburan keluar. Rak buku—harta paling berharga Elena berisi partitur musik klasik—roboh, kertas-kertas berserakan di lantai yang basah oleh... sesuatu yang berwarna merah.

Itu bukan anggur. Baunya anyir. Logam. Darah.

"AYAH!" Elena berteriak, rasa takutnya kini berubah menjadi kepanikan total.

Dia berlari masuk, kakinya tersandung pecahan vas bunga ibunya. Dia memeriksa kamar tidur ayahnya. Kosong. Kasurnya tercabik-cabik. Lemari pakaian terbuka, isinya diacak-acak seolah mereka mencari sesuatu yang spesifik.

Elena berlari ke kamarnya sendiri. Sama hancurnya. Bahkan piano tegak (upright piano) tua miliknya—hadiah ulang tahun ke-17—tuts-tutsnya dihantam hingga patah.

Mereka tidak hanya mencari orang. Mereka ingin mengirim pesan.

Elena mundur, punggungnya menabrak dinding ruang tamu. Dia merosot ke lantai, di antara pecahan kaca dan kertas partitur yang ternoda darah. Dia sendirian. Mereka sudah pergi. Dan mereka membawa ayahnya.

Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu di atas meja makan yang posisinya sudah miring. Satu-satunya benda yang tampak utuh di ruangan itu.

Sebuah kartu hitam.

Elena merangkak mendekat, tangannya gemetar hebat saat meraih kartu itu. Kartu itu tebal, terbuat dari bahan mahal, dengan tekstur beludru. Tidak ada nama, tidak ada nomor telepon.

Hanya ada gambar seekor ular melilit sebuah pedang, dicetak dengan tinta emas yang mengkilap. Dan di bawahnya, sebuah alamat di kawasan elite Jakarta Selatan, ditulis tangan dengan tinta merah yang masih basah.

Penthouse Sky Tower. Datang sendiri sebelum tengah malam. Atau kami kirim kepalanya.

Elena melirik jam dinding yang retak di lantai. Pukul 10.30 malam.

Dia punya waktu sembilan puluh menit.

Sembilan puluh menit untuk menyerahkan diri ke sarang singa. Sembilan puluh menit sebelum hidupnya berubah selamanya.

Elena berdiri perlahan. Dia tidak lagi menangis. Air matanya sudah kering, digantikan oleh tekad dingin yang baru pertama kali dia rasakan. Rasa takut itu masih ada, melilit perutnya seperti ular, tapi dia tidak membiarkannya melumpuhkannya.

Dia memungut jaket tebal yang tergeletak di lantai, mengenakannya untuk menutupi tubuhnya yang basah kuyup. Dia menatap cermin pecah di dinding, melihat pantulan matanya yang kini tampak lebih gelap, lebih keras.

Malam ini, pianis itu mati.

Elena memasukkan kartu hitam itu ke saku jeans-nya, lalu melangkah keluar dari apartemen yang hancur itu, menuju kegelapan malam yang menunggunya dengan mulut terbuka lebar.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Sang Iblis   Epilog: Warisan yang hidup

    ​Lima Tahun Kemudian.​Pagi di Kebayoran Baru tidak lagi sunyi.​Rumah townhouse tua yang dulu lembap dan suram itu telah direnovasi. Fasadnya tetap mempertahankan gaya kolonial klasik dengan cat putih bersih, namun interiornya telah berubah total. Dinding-dinding penyekat dirobohkan untuk menciptakan ruang terbuka yang hangat, lantai tegel kunci dipoles hingga mengkilap, dan jendela-jendelanya kini dilengkapi kaca anti-peluru yang tersamar sempurna.​Di ruang tengah, sebuah piano Yamaha U3 tua—piano yang sama yang dibeli Damian dari pasar loak lima tahun lalu—masih berdiri di sudut kehormatan. Kayunya semakin kusam, namun suaranya tetap hangat dan akrab.​Seorang anak laki-laki berusia lima tahun duduk di bangku piano, kakinya menggantung belum menyentuh lantai. Rambut hitamnya tebal, dan matanya... matanya adalah replika sempurna dari mata abu-abu ayahnya. Tajam, cerdas, dan sedikit terlalu serius untuk anak seusianya.​Alexander "Alex" Kael.​Jari-jari kecilnya menekan tuts dengan

  • Jerat Sang Iblis   Bab 43: Matahari Terbit di Timur

    ​Suara baling-baling helikopter yang membelah udara pagi terdengar seperti musik di telinga Elena.​Dia berdiri di balkon kamar medis Benteng Zero, menggendong Alexander yang terlelap dalam selimut tebal. Angin laut menerbangkan rambutnya yang berantakan, tapi dia tidak peduli. Matanya terpaku pada titik hitam di langit yang semakin membesar, mendekat ke landasan pacu pulau itu.​Helikopter itu mendarat. Debu berterbangan.​Pintu terbuka.​Seorang pria turun. Dia masih mengenakan seragam tempur hitamnya, kotor oleh debu dan sisa-sisa malam yang panjang. Jalannya sedikit pincang—mungkin kakinya terkilir saat pendaratan HALO atau pertarungan di kapal—tapi punggungnya tegak.​Damian Kael.​Dia melepas helm taktisnya, menjinjingnya di satu tangan. Rambutnya kacau, wajahnya ditumbuhi berewok kasar, dan ada luka gores baru di pipinya.​Tapi dia hidup.​Elena tidak berlari menyambutnya karena dia sedang menggendong bayi. Dia menunggu di pintu balkon, air mata mengalir diam-diam di pipinya.​

  • Jerat Sang Iblis   Bab 42: Aliansi Para Iblis

    ​Ruang kerja Jenderal Hadi di Benteng Zero adalah sebuah museum perang pribadi. Dindingnya dilapisi peta navigasi kuno, lemari pajangan berisi senjata antik dari berbagai konflik dunia, dan kepala binatang buas yang diawetkan—singa, macan, beruang—yang menatap kosong dari dinding dengan mata kaca.​Damian duduk di kursi kulit di hadapan meja kerja mahoni besar Hadi. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan setelan taktis pinjaman (karena pakaiannya penuh darah persalinan).​Di atas meja, terbentang peta digital Selat Malaka dan Semenanjung Malaysia yang diproyeksikan dari meja hologram.​"Ivanov bukan sekadar pedagang senjata, Damian," kata Hadi, menuangkan brandy ke dua gelas kristal. "Dia mantan KGB. Dia punya koneksi di Kremlin, di Triad, dan di kartel Amerika Selatan. Kau sedang mengajak perang separuh dunia hitam."​"Aku tidak peduli siapa teman minum kopinya," jawab Damian dingin, mengabaikan gelas brandy yang disodorkan. "Aku hanya peduli di mana dia tidur malam ini."​Hadi

  • Jerat Sang Iblis   Bab 41: Tangisan di benteng besi

    ​Selat Malaka tidak pernah ramah pada malam hari.​Speedboat curian itu menghantam ombak setinggi dua meter dengan bunyi BAM yang keras, melemparkan tubuh Elena yang sedang berbaring di kursi belakang ke udara, lalu menghempaskannya kembali ke bantalan kulit yang keras.​"Argh!" Elena menjerit, tangannya mencengkeram perutnya seolah berusaha menahan bayinya agar tidak jatuh.​"Bertahanlah!" teriak Damian dari balik kemudi. Wajahnya basah oleh cipratan air laut, matanya menyipit menembus kegelapan, mencari tanda kehidupan di kejauhan. "Lima menit lagi! Aku sudah melihat lampunya!"​Elena tidak menjawab. Dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Rasa sakit itu datang lagi—bukan lagi kram biasa, melainkan gelombang kontraksi yang meremas rahimnya dengan kekuatan yang melumpuhkan.​Air ketubannya sudah pecah sepuluh menit yang lalu, membasahi gaun dan jok kapal. Tidak ada jalan kembali. Bayi ini akan lahir. Sekarang.​"Damian..." rintih Elena, suaranya hilang ditelan deru mesin 400 te

  • Jerat Sang Iblis   Bab 40: Surga di tepi Jurang

    ​Tiga Bulan Kemudian.​Pulau Sipora, Kepulauan Mentawai, adalah tempat di mana waktu seolah melambat dan berhenti untuk bernapas.​Di sini, tidak ada gedung pencakar langit yang menusuk langit, tidak ada suara sirine polisi, dan tidak ada sinyal seluler yang konsisten. Yang ada hanyalah deru ombak Samudera Hindia yang legendaris—ombak setinggi empat meter yang menjadi kiblat bagi para peselancar dunia—dan hutan hujan lebat yang menyembunyikan segala rahasia.​Di ujung sebuah teluk terpencil yang jarang dijamah turis, berdiri sebuah bungalow kayu sederhana di atas panggung (stilt house). Atapnya terbuat dari rumbia, dindingnya dari papan kayu kelapa yang kokoh. Di bawah kolong rumah, tergantung sebuah hammock jaring dan beberapa papan selancar tua.​Seorang wanita hamil besar sedang duduk di beranda kayu, kakinya menjuntai ke bawah, menikmati angin sore yang sejuk.​Elena—kini dikenal oleh penduduk lokal sebagai "Maya"—terlihat sangat berbeda dari Nyonya Kael yang elegan di Jakarta. Ku

  • Jerat Sang Iblis   Bab 39: Samudera Hantu

    ​Samudera Hindia bukanlah tempat untuk orang yang lemah hati.​Berbeda dengan Laut Jawa yang relatif tenang atau perairan kepulauan yang biru jernih, Samudera Hindia adalah monster raksasa yang bernapas lambat namun mematikan. Ombaknya bukan riak, melainkan bukit-bukit air berwarna biru-hitam yang bergulung setinggi tiga meter, menghantam lambung kapal MV Black Pearl tanpa henti.​Sudah dua hari mereka berlayar menjauh dari Padang.​Di dalam kabin penumpang yang sempit—bekas kamar mualim yang dikosongkan untuk mereka—Elena berbaring di tempat tidur tingkat (bunk bed) yang keras. Wajahnya pucat kehijauan. Setiap kali kapal terangkat oleh ombak lalu jatuh kembali (heaving), perutnya serasa dikocok.​Mabuk laut biasa sudah buruk. Mabuk laut saat hamil lima bulan adalah siksaan neraka.​Damian duduk di lantai di samping tempat tidur, memegang baskom plastik. Satu tangannya yang lain memegang tangan Elena erat-erat, mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari.​"Minumlah," bujuk Dami

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status