Startseite / Alle / Jerat Skandal CEO / 4. Tinggal Serumah.

Teilen

4. Tinggal Serumah.

last update Veröffentlichungsdatum: 16.03.2026 00:41:55

Erika berdiri mematung di ambang pintu unit apartemen mewah milik Reno Adiyaksa Salim.  Pintu kokoh dilengkapi sistem keamanan canggih itu baru saja terbuka, menyemburkan aroma mewah tapi terasa mencekik lehernya. Di sampingnya, Reno berdiri dengan angkuh, sementara Laura bersandar manja di lengan pria itu, seolah menegaskan siapa ratu sebenarnya di sana.

Erika berdecak dalam hati, sebuah amarah yang tidak bisa ia ungkapkan.   Kesialannya terbesarnya adalah telah sah menjadi istri seorang CEO yang dunia anggap sebagai malaikat dermawan. 

Erika di bawa masuk. Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik, gadis itu  tahu bahwa ia baru saja masuk ke dalam kandang dua serigala lapar.

Reno melangkah maju, tangannya merentang seolah memamerkan sebuah kerajaan. “Lihatlah, Erika! Inilah surga yang tidak akan pernah bisa ditemui oleh wanita rendahan manapun selain dirimu. Luar biasa, bukan?” tanya Reno dengan nada angkuh sekaligus memperjelas kasta antara dirinya dan Reno. 

Erika membuang napas kasar. Menganggukkan kepalanya pelan penuh kepasrahan.  “Iya, sebuah anugerah yang bahkan di mimpi saja tidak pernah muncul,” jawabnya lirih. 

Reno tergelak, suara tawa mengejeknya sangat memuakkan. “Begitulah orang miskin. Selalu mudah dibeli dengan uang.”

“Anda benar, Tuan,” sahut Erika datar. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. 

“Jangan harap kau akan tinggal dengan nyaman di sini,” balas Reno dengan tatapannya yang tajam. 

Laura, yang sejak tadi hanya menyimak dengan senyum sinis, ikut menimpali. “Benar, Sayang. Kalau dia diberi fasilitas mewah, bisa-bisa dia lupa daratan.” Suaranya meninggi sarat akan sindiran pedas. 

Erika mencebik, muak sekali melihat tingkah Laura yang semakin percaya diri. 

Melihat ekspresi wajah Erika yang seolah datar saat ia memamerkan harta miliknya, Reno semakin penasara. Pria itu mencengkeram lengan Erika dan menghempaskannya ke sofa dengan kasar. 

Erika memekik, tubuhnya rampingnya terpental. Belum sempat bernapas, Reno sudah berdiri sambil menunjuk wajahnya dengan jari yang kaku.

“Dengar baik-baik!” bentak Reno, matanya berkilat penuh intimidasi.  “Di apartemen ini, aku adalah tuanmu. Tidak boleh ada satu pun bantahan! Kau bukan istri boleh duduk dan tidur cantik. Mulai detik ini, kau yang bertanggung jawab atas kebersihan setiap senti tempat ini. Mengerti?!”

Erika tercengang, matanya membelalak tak percaya. “Maksudmu … aku jadi pembantu?”

Tawa Laura pecah, melengking memenuhi ruangan. “Ya ampun, jadi kau berharap diperlakukan bak putri raja?” 

Reno berdecih, masih dengan senyum. “Jangan harap ada belas kasihan. Semua tentang dirimu berada dalam genggamanku.”

Suasana semakin memuakkan saat Laura mulai bergelayut manja di pundak Reno, mengabaikan kehadiran Erika seolah gadis itu hanyalah seonggok sampah di sudut ruangan. “Sayang, sudahlah… kenapa mengurus gadis gila ini terus? Aku sudah rindu setengah mati padamu. Lalu aku bagaimana?”

Erika membuang muka, mual sekali melihat kemunafikan Laura. Tanpa rasa malu sedikit pun, Reno tersenyum lembut, senyuman yang dulu selalu Erika kagumi karena terlihat tulus di layar kaca berita. Tapi nyatanya hanya topeng. 

“Aku tahu, Sayang,” bisik Reno mesra. Ia menarik Laura ke dalam pelukannya, tepat di depan mata Erika.

Laura memajukan wajahnya, menatap Reno dengan gaya rayuan khasnya. “Apakah hari ini aku cantik?”

Reno terkekeh, merengkuh pinggang Laura posesif. “Kau tidak perlu menanyakan sesuatu yang kau sendiri sudah tahu jawabannya.” 

Dan di sana, di hadapan istri sahnya yang baru saja ia rendahkan, Reno dan Laura bercumbu dengan penuh gairah. Erika mencengkeram celana jeans-nya hingga kuku-kukunya memutih. Merasa tak tahan, keberaniannya muncul. 

“Hei!” teriak Erika lantang. “Kalau kalian tidak mau disamakan dengan hewan liar, setidaknya jagalah martabat di depan orang lain!”

Pagutan itu terputus seketika. Reno menoleh dengan wajah yang merah padam. Tanpa peringatan, ia menerjang maju, meraih rahang Erika dan mencengkeramnya begitu kuat hingga Erika terangkat berdiri.

“Siapa dirimu berani bicara tentang martabat di depanku?!” desis Reno tepat di depan wajah istrinya. Hembusan napasnya menyapu wajah Erika yang meringis kesakitan.

Erika tidak bisa menjawab, tenggorokannya terasa tercekik oleh cengkeraman tangan Reno. Setelah merasa cukup memberi pelajaran, Reno menghempaskan Erika kembali hingga kepalanya terbentur sandaran sofa.

“Bersihkan rumah ini sekarang! Jika aku menemukan setitik debu, kau tidak akan makan hari ini!” Reno berteriak sebelum berbalik pergi. Laura mencoba menyusul, namun Reno mengibaskannya dengan kasar. “Jangan ikuti aku! Mood-ku hancur gara-gara wanita sialan ini! Pulanglah!”

Laura tertegun, amarahnya kini beralih sepenuhnya pada Erika. Begitu Reno memasuki kamar, Laura mendekat dengan langkah yang bergetar karena emosi.

“Semua ini gara-gara kau!” bentak Laura bersungut-sungut.

Erika berdiri, mengusap rahangnya yang memar. “Gara-gara aku? Hey, kau pikir aku—” 

PLAK!

Belum sempat bicara, tamparan keras sudah mendarat di pipi Erika, meninggalkan bekas merah yang kontras dengan kulit pucatnya.

“Dasar tidak tahu diri! Seharusnya kau diam di gubukmu dan jangan pernah kembali!” teriak Laura dengan mata berapi-api. Wajahnya memerah, tangannya melayang hendak menampar lagi, namun suara lantang Reno menghentikannya. 

“LAURA, KELUAR!”

Sambil menahan api amarah, Laura hanya menatap Erika dengan tangan terkepal. Lagi, ia terpaksa mengalah. Meninggalkan apartemen, menyisakan Erika yang langsung terduduk lemas di lantai.

Baru sedetik Erika tenang, Reno kembali muncul, berdiri dengan tangan di saku celana, menatapnya dengan pandangan dingin yang mengerikan. “Bersihkan rumah ini, dan bersihkan dirimu. Aromamu memuakkan!” Setelah mengatakan itu, Reno kembali ke kamarnya. 

Erika menarik napas panjang. Dengan tubuh yang terasa seperti remuk, ia mencari alat kebersihan dan mulai mengelap meja makan, kursi, dan lemari kristal yang tak terhitung jumlahnya. Apartemen itu sangat luas, dan tenaganya sudah terkuras habis karena ia belum makan sejak pagi.

Tiba-tiba, Reno datang membawa gelas berisi anggur merah. Dengan sengaja, ia menyiramkan isinya ke meja kaca yang tengah Erika lap dengan sisa tenaganya. 

“Bersihkan!” titahnya dingin. 

Erika mendongak, matanya memancarkan kelelahan yang luar biasa. “Tapi aku baru saja menyelesaikannya, Tuan.”

“Sekarang kotor lagi. Bersihkan!” Reno beranjak ke dapur, membiarkan Erika menggigit bibir bawahnya menahan siksaan. 

“Gadis gila, ke mari! Meja makan ini masih kotor!” sahut Reno dari ruang makan. 

Erika menunduk lelah sejenak. Lagi-lagi ia terpaksa patuh dan pergi ke dapur. 

“Tapi ini sudah bersih!” jawab Erika, suaranya mulai bergetar.

Reno mendekat, menatapnya dengan tatapan mengancam. “Aku yang punya rumah ini. Kau hanya pelayan yang kebetulan memiliki status istri di atas kertas. Patuh, atau kau akan kelaparan hari ini!”

Erika terpaksa mengelap meja makan berkali-kali hingga tangannya mati rasa. Belum selesai dengan urusan debu, Reno kembali memanggilnya dari depan televisi.

“Buatkan aku kopi!”

Sambil menahan sesak di dada, Erika menyempatkan diri membuat kopi. Menit kemudian, ia membawa secangkir kopi hitam. Reno menyeruputnya sedikit, lalu meletakkan cangkir itu di meja. 

“Terlalu manis. Buat lagi!”

Erika menarik napas, mengambil cangkir itu dan kembali ke dapur. Ia membuat yang baru dengan gula yang lebih sedikit.

“Terlalu pahit,” komentar Reno dingin setelah menyesap cangkir kedua. Ia menatap Erika yang kini berdiri dengan tubuh gemetar, siap untuk jatuh kapan saja. 

Di mata Reno, ada kepuasan yang mengerikan melihat Erika hancur perlahan di tangannya. Lantas, pria itu bangkit berdiri. Mencengkram bahu Erika, lalu menariknya mendekat hingga wajah itu hampir beradu. “Sekarang … puaskan aku!” 

Deg! 

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Jerat Skandal CEO    bab 47. The Last Chapter.

    Sebuah ballroom sudah ditata sedemikian rupa. Menyambut pemberkatan pernikahan Reno dan Laura. Bunga-bunga indah sudah menghiasi setiap sudut ruangan besar dan luas. Aroma semerbak dari berbagai jenis bunga menguar memenuhi penciuman.Alunan musik pernikahan memenuhi ballroom hotel megah itu.Ratusan tamu memenuhi kursi yang telah dihias dengan bunga-bunga putih. Lampu kristal menggantung indah dari langit-langit, sementara di depan ruangan berdiri sebuah panggung megah yang telah dipersiapkan untuk satu momen sakral.Reno berdiri di depan altar dengan wajah tenang. Jas hitam yang dikenakannya tampak sempurna. Tidak ada raut kebahagiaan sama sekali. Tentu, pusat kebahagiaan itu ada pada Erika.Di sisi lain, Laura duduk dengan gaun pengantin mewah. Senyumnya mengembang.Ia benar-benar yakin bahwa sebentar lagi seluruh dunia akan mengakui dirinya sebagai istri Reno.Sebagai menantu keluarga Salim. Sebagai wanita yang berhasil memenangkan segalanya.Namun, sebelum prosesi pemberkatan dim

  • Jerat Skandal CEO    bab 46.

    Laura melipat kedua tangan di dada. Wajahnya sudah sangat kesal karena semua barangnya hilang. Bahkan dari pagi, amarah wanita itu belum reda. "Aku tidak mau tahu, pokoknya semua barangku harus kembali!" maki wanita itu pada manager hotel.Dengan wajah menunduk, pria yang menjabat manager hotel itu membungkuk. "Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan, Bu Laura. Kami akan berusaha mencari barang-barang yang sudah hilang."Laura memukul kepala pria itu dengan keras hingga hampir terhuyung ke belakang. "Dasar tolol, manager macam apa kau ini? Bekerja saja tidak becus.""Saya mohon maaf," ucap pria itu.Laura mendekatkan wajahnya pada manager hotel dengan mata menyala-nyala. "Kau tahu siapa aku?" tanyanya dengan nada angkuh. "Aku tunangan Reno Adiyaksa Salim."Manager hotel diam. Wajahnya masih menunduk hormat.Laura menegakkan tubuhnya kembali. "Pokoknya aku tunggu sampai sore nanti. Kalau barangku tidak ketemu, akan aku tuntut hotel ini ke jalur hukum."Manager itu mendongak, kemudian me

  • Jerat Skandal CEO    bab 45

    "Aaahhh!"Laura mendesah. Mulutnya menganga. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lengan Darwin yang begitu bringas menggerayangi tubuhnya. Bagian intinya bahkan sudah terasa sakit karena sudah terlalu lama bermain."Aahh, Darwin ... aaaahh!"Desahan Laura tak lagi mampu dibendung. Hentakan demi hentakan yang Darwin lancarkan semakin membuatnya terlena.Begitupun Darwin. Pria itu menatap wajah Laura yang semakin membuatnya kecanduan. Mata wanita itu terbuka sekejap lalu memejam lagi. "Aah, aku suka, Laura, aaaahhh ...."Dengan tenaga penuh, Darwin menghentakkan miliknya semakin dalam pada inti milik Laura. Membuat wanita itu menganga, mendesah penuh kenikmatan.Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman. Hingga malam berganti siang, Laura membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, kemudian menelaah tempat ia berbaring saat ini. Wanita itu menyentuh kepala sendiri, kemudian bangun perlahan. "Astaga ... aku di mana?"Perlahan, Laura mengangkat wajah. Mengedarkan pandangan ke selur

  • Jerat Skandal CEO    44. bahagia

    "Aaahhh!"Laura mendesah. Mulutnya menganga. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lengan Darwin yang begitu bringas menggerayangi tubuhnya. Bagian intinya bahkan sudah terasa sakit karena sudah terlalu lama bermain."Aahh, Darwin ... aaaahh!"Desahan Laura tak lagi mampu dibendung. Hentakan demi hentakan yang Darwin lancarkan semakin membuatnya terlena.Begitupun Darwin. Pria itu menatap wajah Laura yang semakin membuatnya kecanduan. Mata wanita itu terbuka sekejap lalu memejam lagi. "Aah, aku suka, Laura, aaaahhh ...."Dengan tenaga penuh, Darwin menghentakkan miliknya semakin dalam pada inti milik Laura. Membuat wanita itu menganga, mendesah penuh kenikmatan.Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman. Hingga malam berganti siang, Laura membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, kemudian menelaah tempat ia berbaring saat ini. Wanita itu menyentuh kepala sendiri, kemudian bangun perlahan. "Astaga ... aku di mana?"Perlahan, Laura mengangkat wajah. Mengedarkan pandangan ke selur

  • Jerat Skandal CEO    43. Terpisah

    Rebo berjalan cepat menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Bersama Nico, keduanya tampak begitu serius, seolah tengah menghadapi masalah berat.Ketika memasuki ruangan, Reno langsung menuju kursi kebesaran, sambil berkata, "Nico, aku minta sebaiknya bergerak lebih cepat. Laura sudah sulit dikendalikan."Nico mengangguk. "Baik, Pak," jawabnya patuh. "Tapi ... apa rencana anda selanjutnya?"Reno memijit dagu. Seolah berpikir terlalu lama. "Aku akan segera menikahi Laura."Nico tercengang. "Pak, tapi dia ...."Reno mendongak. Memotong kalimat yang hendak Nico ucapkan. "Karena itu, kau harus bergerak lebih cepat. Sepertinya, ada yang dia tutupi dariku."Nico mengerutkan keningnya. Mencoba menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Pak, kalau boleh izinkan aku menyelidiki semuanya tentang Laura.""Tentu aku izinkan, asalkan kau harus hati-hati sepertinya dia punya orang kuat di belakangnya," kata Reno.Nico membungkuk patuh. "Baik," ucapnya. "Aku sudah mengirimkan hadiah untuk anda, buk

  • Jerat Skandal CEO    42. Rencana baru.

    Laura muncul bagaikan hantu. Sampai-sampai kedatangannya cukup mengagetkan Reno dan Nico."Ada apa?" tanya Reno datar.Laura tersenyum, sempat melirik Nico sejenak, kemudian meraih tangan Reno. "Aku datang ke mari untuk membicarakan pernikahan kita."Reno dan Nico saling menatap satu sama lain.Nico merasa bukan saat baginya untuk ikut campur. Ia pun berpamitan. "Aku harus segera pergi, permisi," ucapnya sopan.Reno mengangguk samar. "Baiklah, terimakasih untuk hari ini, Nico, aku sangat mengandalkan mu," ucap Reno."Sama-sama, Pak. Aku permisi dulu."Nico pergi, Laura semakin leluasa menjalankan rencananya.Reno menatap wanita di sampingnya. "Tadi kau bilang, pernikahan? tanya Reno dengan kening mengerut.Sambil cengengesan, Laura menjawab, "Iya, pernikahan."Reno terdiam. Masih menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Kita bicara di dalam saja," ucapnya seraya berbalik memasuki lift dasar.Laura bergegas mengikuti pria itu dan masuk bersama ke dalam lift.Tring!Pintu lift terbu

  • Jerat Skandal CEO    5. Tipu Daya Laura.

    “Sekarang … puaskan aku,” bisik Reno tanpa rasa bersalah dan sarat akan paksaan. Erika terpaku. Dadanya bergemuruh tak karuan. Luapan emosi, kekesalan dan ketidakberdayaan menyergap sekaligus. Ketika pria itu meraih pinggangnya, dengan cepat ia menarik tangan Reno dan menggigitnya sekuat tenaga.

  • Jerat Skandal CEO    3. Tinggal Serumah.

    Dalam kungkungan Reno, Erika menatap pria itu tajam. Dalam posisi wajah yang begitu dekat, bibirnya bergetar menahan emosi yang meluap. “Bisa-bisanya kau membuat jawabanmu sendiri.” Dengan senyum menawan khasnya, Reno menjawab, “Aku hanya berniat membantumu keluar dari masalah ini. Bukankah kau in

  • Jerat Skandal CEO    2. Jebakan Reno.

    Hari berikutnya, Erika kembali mendatangi gedung perusahaan A-D Salim Grup. Tujuannya, menuntut Reno agar pria itu segera menghapus foto dirinya yang masih menjadi bahan olok-olok seantero negeri. Bahkan saat ini saja ia datang ke gedung itu dengan wajah ditutupi masker, Kacamata, dan topi. Kemeja

  • Jerat Skandal CEO    1. Terjebak Skandal.

    Bab 1.Erika memasuki sebuah ruangan yang sepi. Tidak ada orang di sana, ia berpikir mungkin semua orang sedang jeda istirahat kerja. Entah kenapa begitu ia tiba di gedung perusahaan, seorang staf malah memintanya agar segera menemui CEO secara langsung. Padahal maksud kedatanganya hanya untuk meng

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status