Beranda / Semua / Jerat Skandal CEO / 3. Tinggal Serumah.

Share

3. Tinggal Serumah.

Penulis: Pena Naima
last update Tanggal publikasi: 2026-03-15 21:39:59

Dalam kungkungan Reno, Erika menatap pria itu tajam. Dalam posisi wajah yang begitu dekat, bibirnya bergetar menahan emosi yang meluap. “Bisa-bisanya kau membuat jawabanmu sendiri.” 

Dengan senyum menawan khasnya, Reno menjawab, “Aku hanya berniat membantumu keluar dari masalah ini. Bukankah kau ingin aku menghapus foto-foto itu?” 

“Tapi tawaranmu terlalu menjijikkan,” sambung Erika. 

Reno terkekeh. “Jawaban sudah kubuat,” kata Reno, menjauhkan posisi tubuhnya. “kau tidak akan bisa bebas lagi.” 

“Apa katamu?” tanya Erika. 

Reno bergerak menjauh. “Setelah ini bersiaplah, ikut aku.” 

Erika memandang Reno penuh tanya. Mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pria itu. “Apa maksudmu?” 

Reno meraih kunci mobilnya dari meja kerja, kemudian mendekati Erika. “Aku sudah bilang, kau akan menjadi istriku, jadi mulai sekarang … kau berada dalam genggamanku.” 

Erika ternganga saat Reno menarik tangannya dan membawanya keluar. Tanpa disuruh, gadis itu berontak. “Hey, lepaskan aku!” 

Reno tidak menggubris. Meskipun Erika berusaha melepaskan diri, tapi ia memilih tetap melangkah tanpa niat melepaskan tangan gadis itu. Wajahnya begitu dingin. Saat berpapasan dengan karyawan, tidak satupun yang berani menyapanya. 

Sampai di depan gedung, seorang pria yang tengah fokus pada ponsel, terlihat terkejut melihat kedatangan Reno yang membawa seorang wanita. Refleks ia membungkuk hormat. 

Reno menatap pria itu, lalu bertanya, “Kakek di mana, Nico?” 

Pria yang dipanggil Nico itu terlihat berpikir. “Sepertinya, baliau masih di villa, Pak,” jawabnya sambil menatap Erika penuh tanya. 

Erika masih berusaha melepaskan diri. “Lepaskan aku! Tanganku sakit.” 

Lagi, Reno tidak menggubris kata-kata Erika. Membiarkan wanita itu sibuk menahan sakitnya.  Dengan santai ia bicara dengan Nico, “Aku harus bertemu dengannya sekarang juga, karena cucu kebanggaannya ini sudah menemukan sesuatu yang ia cari.” 

Nico menahan mulutnya agar tidak menganga. “Ah, baik … kalau begitu saya akan segera mengaturnya,” ucapnya seraya membukakan pintu mobil untuk sang atasan. 

Reno mendorong Erika. Memaksanya masuk ke dalam mobil. “Masuk!” titah pria itu. 

“Hey, dasar pria idiot, beraninya main paksa orang,” kata Erika. 

Reno ikut masuk. Begitu sudah duduk di jok belakang, ia lalu menatap asisten pribadinya. “Nico!” panggil pria itu. 

Dengan wajah bingung, Nico memasuki mobil dan segera tancap gas.

Erika menggigit bibir menahan sakit di pergelangan tangannya. Sungguh, ia sudah tidak bisa berbuat apapun lagi. Entah monster seperti apa Reno itu hingga ia benar-benar tidak berdaya sedikitpun. 

**

Di Villa pribadi milik keluarga Salim. Reno berdiri dengan tangan yang masih menggenggam Erika. Bicara pada sang kakek yang duduk di sofa mewah sambil memegang tongkatnya. “Aku sudah membawa calon cucu menantu yang sangat kakek inginkan,” ucapnya menoleh pada Erika, “dia adalah gadis pilihanku, jadi kuharap tidak ada kata penolakan.” 

Erika berusaha bicara, tapi tatapan Reno mampu membungkam mulutnya. 

Pak Wiharja. Kakek kandung Reno menatap Erika dari atas sampai bawah. Melepas kacamatanya, pria tua dengan kepala setengah botak itu bicara, “Apa … gadis ini sudah hamil?” 

Erika tercengang. Berniat menjawab tapi Reno mendahuluinya. “Baru sekali, jadi kupikir dia tidak akan hamil. Tapi untuk berjaga, aku akan menikahinya.” 

Erika hanya bisa menganga. Tidak bisa berkata-kata gadis itu melihat tingkah Reno. 

Pak Wiharja menarik napas berat. “Baiklah, aku akan menyiapkan gedung dan segalanya—” 

“Tidak perlu. Karena aku dan dia akan menikah secara diam-diam.” Reno memotong bicara sang kakek.

Pak Wiharja berdiri. Menopang tubuhnya dengan tongkat kesayangan. “Terserah kau saja. Tapi pikirkan dampaknya untukmu ke depan.” 

Reno berdecih. “Aku yang menentukan hidupku, bukan kakek. Aku menikahi siapapun itu juga bukan urusan kakek. Aku ke mari hanya untuk memberitahumu.” 

Erika menahan gejolak api di dadanya. Menatap sinis pria yang telah menghancurkan hidupnya itu. 

Pak Wiharja mengangguk. “Lakukanlah sesuai keinginanmu.” 

Reno menoleh. Di balik senyum itu menyiratkan sesuatu yang tidak bisa Erika terka. Gadis itu sadar, ia memang sudah terperangkap dalam jebakan yang Reno buat. 

**

Reno mencengkram tangan Erika memasuki gereja. Menyeret gadis tak berdosa itu ke dalam garis hitam kehidupannya. Meski berulang kali ia berusaha melepaskan diri, namun tangan kokoh pria itu terlalu kuat untuk dilawan. 

Langkah kaki keduanya menggema di ruangan hampa tak berpenghuni saat itu. Reno berhenti di depan altar dengan tatapan dingin dan tajam. Namun, berbeda dengan hati Erika. Gadis itu lelah dalam keputusasaan. 

Beberapa menit berlalu, pemberkatan pernikahan Reno dan Erika sudah selesai, dan status mereka telah resmi menjadi suami istri. Saat ini keduanya sudah ada di depan pintu gereja, dan bersiap pulang. Melihat tangannya masih digenggam, Erika bersuara, “Kapan kau akan melepaskan tanganku?” 

Reno menoleh. “Saat aku ingin,” jawabnya dengan wajah dingin. 

Erika memutar bola mata. “Tanganku sakit, jahat sekali kau ini.” 

Getaran ponsel terasa begitu kuat. Reno merogoh benda itu dari dalam jas hitamnya. Melihat nama yang tertera di layar, ia diam sejenak. Hanya menatapnya seolah sedang mempertimbangkan sebuah rencana. 

Erika memerhatikan dari dekat. Tapi ketika siluet nama Laura yang ada di layar penuh itu, ia mencebikkan bibirnya. 

Reno mengangkat panggilan. “Ya.” 

“Reno, kau di mana?” tanya Laura dari seberang sana. Suara pembicaraan itu terdengar keras hingga Erika mampu mendengarnya. 

“Aku di gereja,” jawab Reno. 

“Apa? Untuk apa kamu di sana? Aku datang ke kantor tapi kau malah tidak ada,” ujar Laura. 

“Aku menikah,” jawab Reno datar. Erika tampak mengepalkan tangannya erat. 

“Apa katamu? Menikah? Dengan siapa?” Suara Laura meninggi. 

“Aku menikah dengan gadis muda,” jawab Reno sambil menoleh dengan senyum penuh arti pada Erika. “Kau pasti akan sangat terkejut siapa gadis yang kunikahi.” 

“Siapa dia? Jawab aku, Reno!” 

“Kau akan tahu setelah aku pulang dari sini.” 

“Aku akan ke sana sekarang juga!” 

Telepon diakhiri. Reno menoleh ke arah Erika. “Memang agak mengerikan, kau dengar kan?” Pria itu mendekatkan wajahnya pada sang istri. “Dia bisa tahu di manapun keberadaanku.” 

“Bukan urusanku,” jawab Erika. 

Reno tergelak. Semakin merapatkan tubuhnya, mengikis jarak diantara mereka. Tangannya terulur mengusap pipi Erika. “Kau sangat menggemaskan.” 

Erika berdecih. “Kau sangat menjijikkan.” 

Lagi, Reno tergelak keras. “Waaahh, aku suka ini,” ucap Reno. “Coba katakan siapa namamu, tadi?” 

Erika membuang wajah. Tapi Reno segera menarik dagunya agar kembali berhadapan. “Kau seharusnya merasa bangga, karena aku … Reno Adiyaksa Salim adalah suamimu. Kau sudah mendapat penghargaan yang jauh lebih baik dari ribuan wanita di luaran sana.” 

Bibir Erika menyeringai. “Tapi aku tidak berminat.” 

Reno mengusap rambut super rapi itu ke belakang. Mengurangi rasa kesalnya pada Erika. “Bagaimana kalau aku melakukan tugas pertamaku sebagai suamimu.” 

Erika tertegun. “Apa?” 

Tanpa aba-aba, Reno meraih dagu Erika. Memiringkan wajah hendak meraih bibir gadis muda itu. Akan tetapi, sebuah tangan menariknya ke belakang. 

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Skandal CEO    44. bahagia

    "Aaahhh!"Laura mendesah. Mulutnya menganga. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lengan Darwin yang begitu bringas menggerayangi tubuhnya. Bagian intinya bahkan sudah terasa sakit karena sudah terlalu lama bermain."Aahh, Darwin ... aaaahh!"Desahan Laura tak lagi mampu dibendung. Hentakan demi hentakan yang Darwin lancarkan semakin membuatnya terlena.Begitupun Darwin. Pria itu menatap wajah Laura yang semakin membuatnya kecanduan. Mata wanita itu terbuka sekejap lalu memejam lagi. "Aah, aku suka, Laura, aaaahhh ...."Dengan tenaga penuh, Darwin menghentakkan miliknya semakin dalam pada inti milik Laura. Membuat wanita itu menganga, mendesah penuh kenikmatan.Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman. Hingga malam berganti siang, Laura membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, kemudian menelaah tempat ia berbaring saat ini. Wanita itu menyentuh kepala sendiri, kemudian bangun perlahan. "Astaga ... aku di mana?"Perlahan, Laura mengangkat wajah. Mengedarkan pandangan ke selur

  • Jerat Skandal CEO    43. Terpisah

    Rebo berjalan cepat menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Bersama Nico, keduanya tampak begitu serius, seolah tengah menghadapi masalah berat.Ketika memasuki ruangan, Reno langsung menuju kursi kebesaran, sambil berkata, "Nico, aku minta sebaiknya bergerak lebih cepat. Laura sudah sulit dikendalikan."Nico mengangguk. "Baik, Pak," jawabnya patuh. "Tapi ... apa rencana anda selanjutnya?"Reno memijit dagu. Seolah berpikir terlalu lama. "Aku akan segera menikahi Laura."Nico tercengang. "Pak, tapi dia ...."Reno mendongak. Memotong kalimat yang hendak Nico ucapkan. "Karena itu, kau harus bergerak lebih cepat. Sepertinya, ada yang dia tutupi dariku."Nico mengerutkan keningnya. Mencoba menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Pak, kalau boleh izinkan aku menyelidiki semuanya tentang Laura.""Tentu aku izinkan, asalkan kau harus hati-hati sepertinya dia punya orang kuat di belakangnya," kata Reno.Nico membungkuk patuh. "Baik," ucapnya. "Aku sudah mengirimkan hadiah untuk anda, buk

  • Jerat Skandal CEO    42. Rencana baru.

    Laura muncul bagaikan hantu. Sampai-sampai kedatangannya cukup mengagetkan Reno dan Nico."Ada apa?" tanya Reno datar.Laura tersenyum, sempat melirik Nico sejenak, kemudian meraih tangan Reno. "Aku datang ke mari untuk membicarakan pernikahan kita."Reno dan Nico saling menatap satu sama lain.Nico merasa bukan saat baginya untuk ikut campur. Ia pun berpamitan. "Aku harus segera pergi, permisi," ucapnya sopan.Reno mengangguk samar. "Baiklah, terimakasih untuk hari ini, Nico, aku sangat mengandalkan mu," ucap Reno."Sama-sama, Pak. Aku permisi dulu."Nico pergi, Laura semakin leluasa menjalankan rencananya.Reno menatap wanita di sampingnya. "Tadi kau bilang, pernikahan? tanya Reno dengan kening mengerut.Sambil cengengesan, Laura menjawab, "Iya, pernikahan."Reno terdiam. Masih menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Kita bicara di dalam saja," ucapnya seraya berbalik memasuki lift dasar.Laura bergegas mengikuti pria itu dan masuk bersama ke dalam lift.Tring!Pintu lift terbu

  • Jerat Skandal CEO    41. Terkejut.

    Dilema.Erika tertegun penuh tanya. Hanya bisa menatap ibu panti dengan wajah bingung. "Siapa dia, Bu?" Dengan senyum yang menenangkan, wanita itu menjawab, "Kenapa kamu tidak menemuinya?" tanyanya dengan mata yang mulai basah. "Apa kamu tidak rindu pada ibumu?"Erika kembali menatap sosok wanita yang sudah berdiri. Erika kembali menatap sosok wanita yang sudah berdiri. Waktu seolah melambat.Langkah wanita itu ragu, seakan ingin maju, namun takut ditolak. Matanya tidak lepas dari wajah Erika, penuh harap sekaligus cemas. Tangan yang terulur setengah jalan itu bergetar pelan, lalu menggantung di udara.Erika mengernyit. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan kuat."Ibu?" suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Ibu panti mengangguk. Ia tidak bisa melepas rasa haru yang begitu tumpah ruah dalam hatinya. Bagaimana tidak, hanya Erika yang beruntung dijemput kembali oleh ibu kandungnya. Sedangkan anak yang lain, entah akan seperti apa nasib dan

  • Jerat Skandal CEO    40. Konflik Batin Erika.

    Laura tidak menunda waktu. Bahkan pada saat rangkaian spa belum selesai, ia memutuskan segera pulang. Hari sudah berganti, di dalam toilet kamarnya, ia sedang menunggu hasil tes pack dengan jantung tak beraturan. Jika dugaannya benar, matilah ia. Dan rencananya akan kacau balau. Bagaimana tidak, selama ia melakukan hubungan intim dengan Reno, pria itu tidak pernah mengeluarkan cairannya di dalam. Jadi jika dia sampai tahu dirinya hamil, sudah pasti akan tamat. Tidak membutuhkan waktu lama, Laura membanting alat kecil itu. "Euukhhh, sial!" rutuknya saat hasil tes menunjukkan tanda positif. Wanita itu mondar-mandir di dalam kamar mandi sambil memegangi kepalanya. "Tidak, aku harus segera menggugurkannya, harus." Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi Dengan wajah kacau. Mendekati ranjang saat ia melihat ponselnya menyala. Nama Darwin tertera di layar, wanita itu mendengus. "Apa aku hamil anak dia?" Laura berusaha mengingat-ingat dengan siapa saja ia melakukan hu

  • Jerat Skandal CEO    39. Rindu.

    Satu bulan berlalu. Setelah kepergian Erika, Keadaan kembali seperti semula. Pagi ini, Reno bangun kesiangan. Malas sekali walau hanya untuk berangkat ke kantor. Tapi ia selalu dituntut harus sempurna dalam segala hal. Dengan tubuh yang masih terbalut piyama garis salur hitam, ia membuka lemari es. Mengambil air putih dan segera menuangkannya ke dalam gelas. Rambutnya berantakan. Wajahnya pun belum sempat ia bersihkan. Reno meneguk air hingga habis satu gelas penuh. Sejenak, pria itu terdiam sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sudah satu bulan tapi rindu itu begitu menyesakkan dada. Entah di mana Erika sekarang. Sejak kepergiannya hari itu, ia kehilangan segalanya. Semua akses kontak telah diblokir. Bel pintu berbunyi. Reno berjalan malas ke depan. Begitu melihat kakeknya dari layar interkom, langkah Reno terhenti sejenak. Raut wajahnya berubah kesal. Pagi yang sudah terasa berat itu mendadak semakin sesak. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menekan tomb

  • Jerat Skandal CEO    5. Tipu Daya Laura.

    “Sekarang … puaskan aku,” bisik Reno tanpa rasa bersalah dan sarat akan paksaan. Erika terpaku. Dadanya bergemuruh tak karuan. Luapan emosi, kekesalan dan ketidakberdayaan menyergap sekaligus. Ketika pria itu meraih pinggangnya, dengan cepat ia menarik tangan Reno dan menggigitnya sekuat tenaga.

  • Jerat Skandal CEO    4. Tinggal Serumah.

    Erika berdiri mematung di ambang pintu unit apartemen mewah milik Reno Adiyaksa Salim. Pintu kokoh dilengkapi sistem keamanan canggih itu baru saja terbuka, menyemburkan aroma mewah tapi terasa mencekik lehernya. Di sampingnya, Reno berdiri dengan angkuh, sementara Laura bersandar manja di lengan

  • Jerat Skandal CEO    2. Jebakan Reno.

    Hari berikutnya, Erika kembali mendatangi gedung perusahaan A-D Salim Grup. Tujuannya, menuntut Reno agar pria itu segera menghapus foto dirinya yang masih menjadi bahan olok-olok seantero negeri. Bahkan saat ini saja ia datang ke gedung itu dengan wajah ditutupi masker, Kacamata, dan topi. Kemeja

  • Jerat Skandal CEO    1. Terjebak Skandal.

    Bab 1.Erika memasuki sebuah ruangan yang sepi. Tidak ada orang di sana, ia berpikir mungkin semua orang sedang jeda istirahat kerja. Entah kenapa begitu ia tiba di gedung perusahaan, seorang staf malah memintanya agar segera menemui CEO secara langsung. Padahal maksud kedatanganya hanya untuk meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status