LOGIN“Sekarang … puaskan aku,” bisik Reno tanpa rasa bersalah dan sarat akan paksaan.
Erika terpaku. Dadanya bergemuruh tak karuan. Luapan emosi, kekesalan dan ketidakberdayaan menyergap sekaligus. Ketika pria itu meraih pinggangnya, dengan cepat ia menarik tangan Reno dan menggigitnya sekuat tenaga. Gigitan yang mengoyak kulit tangan suaminya.
Reno terlonjak. Kedua bola matanya membulat sempurna. “Aaakkhh!” pekikan keras kesakitan pria itu memecah keheningan. Tindakan spontanitas Erika yang begitu tiba-tiba, membuatnya tak percaya. Mangsa yang ia anggap lemah tak berdaya, ternyata seperti ular berbisa.
Reno menarik tangannya. Bercak darah sedikit keluar dari luka bekas gigitan Erika. Dengan napas memburu, Reno menatap gadis itu bengis. “Kau … beraninya kau.”
Erika membalas tatapan Reno yang selalu mengintimidasinya. “Sudah cukup, apa kau tidak lelah menyakiti orang lain, hah? Setidaknya, jadilah sosok manusia malaikat yang selalu kau pamerkan di setiap deadline berita.” Tanpa menunggu balasan, Erika berlari ke kamar mandi dan mengunci pintu dengan tangan gemetar. Tubuhnya merosot ke lantai yang dingin. Memeluk lutut dalam keheningan yang menyesakkan. Gadis itu berpikir, mungkin hari esok akan lebih buruk dari hari ini.
Sedangkan Reno, pria itu menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca kamar mandi yang berembun, dengan tubuh yang masih basah kuyup. Menyentuh luka di pergelangan tangannya akibat terkena gigitan api kemarahan Erika. Kekehan singkat lolos dari bibirnya yang kemerahan. “Gadis muda yang berani,” gumamnya lirih, menyerupai sebuah pujian. “Sepertinya, permainan ini akan semakin menarik.”
Tawa Reno pecah membahana. Semakin tertarik dengan jalan kehidupan yang akan ia jalani bersama Erika.
**
Genap satu minggu sudah, Erika hidup dalam neraka yang nyata. Sulit dipercaya memang ia masih hidup dalam perangkap serigala buas bernama Reno. Hari-harinya berantakan, dipenuhi oleh emosi yang meledak, kelelahan fisik yang menghujam, dan keputusasaan yang semakin mengikis kewarasannya.
Namun berbeda di pagi ini, ia sedikit bisa bernapas lega karena Reno sudah berangkat pagi-pagi buta. Entah mau ke mana, ia tidak peduli. Yang terpenting saat ini, ia bisa makan sepuasnya. Setidaknya, ia bisa mengisi ful tenaga sebelum suaminya pulang nanti.
Ketika Erika tengah menikmati sarapan spaghetti bolognese kesukaannya, tiba-tiba suara kode pintu berbunyi. Gadis itu terlonjak. Garpu yang tengah ia pegang jatuh menimpa piring hingga menimbulkan suara gemerincing. “Ya Tuhan, cepat sekali dia kembali,” ucapnya dengan hati bergemuruh. Ketegangan yang dengan cepat menyergap akibat seringnya ia mendapat perlakuan buruk dari Reno.
Namun, dugaan Erika kali ini salah. Yang datang bukanlah suaminya, melainkan Laura. Wanita yang mengenakan tank top putih dan hot pants di atas paha itu datang dengan senyum liciknya. “Lama tidak bertemu, pelacur.”
Erika menganga. Kepalanya menggeleng lemah. Padahal baru saja ia menikmati kebebasa tanpa suami srigalanya. “Ya ampun, srigala jantan pergi, datang pula betinanya.”
Laura melangkah mendekati kursi Erika. Menatap menu santapan pagi gadis itu dengan senyum meremehkan yang menjijikkan. “Enak sekali ya ditinggal pergi, makan di kursi mewah dan makanan yang bukan levelmu,” Laura mencondongkan tubuhnya. Mendekatkan wajahnya pada Erika dengan tatapan yang tajam. “Sekarang, giliranku yang menjadi tuanmu!”
Erika berdecih sinis. “Atas dasar apa aku patuh padamu? Di sini aku istri pacarmu, kau bukan siapa-siapa,” jawabnya datar dan ringan, tapi mampu menyulut amarah Laura.
Dibakar api cemburu, Laura menjambak rambut Erika. “Mau main-main denganku, ya,” katanya. “Jangan membuat kesabaranku habis wanita sialan!” Laura mengencangkan cengkramannya pada rambut Erika.
Erika meringis. Menahan tangan Laura yang masih menancap di rambutnya, lalu mendongak. “Kau mau aku melakukan apa?”
Diiringi tawa menjijikkan, Laura menjawab, “Sekarang juga ikuti aku, cepat!” titahnya sambil menarik kaos oblong putih polos yang dipakai Erika.
Langkah itu menuju ruang kerja Reno. Tanda tanya dan curiga semakin menguasai pikiran Erika. Begitu sampai di depan pintu, Laura berhenti. Menoleh sambil melipat kedua tangan di dada. “Cepat masuk!” titahnya, mengarahkan perintah dengan gerakan kepalanya.
Erika memutar bola matanya. “Mana bisa, Reno melarang siapapun masuk ke dalam kamarnya,” sanggah Erika dengan nada malas, muak sekali melihat tingkah Laura yang sok berkuasa.
Laura berdecih. “Ya ampun, ini juga perintah Reno. Aku disuruh ke mari dan menyuruhmu masuk untuk mengambil uangnya,” ujarnya lalu mendorong Erika. Mendesak gadis itu agar segera masuk.
Sambil berjalan pelan, Erika menoleh ke belakang. Menatap Laura yang hanya berdiri di ambang pintu sambil menggerakkan wajah memberinya kode, agar segera mengambil uang Reno yang disimpan di dalam brankas. Benda kokoh yang terbuat dari besi itu terletak dalam lemari berkas kerja suaminya. “Ambil, cepat!”
“Aku tidak tahu kodenya,” jawab Erika sambil menahan kesal.
“031188, itu kodenya, cepat! Dasar bodoh!” sahut Laura sambil berjalan mendekat ke belakang gadis itu.
Erika membuang napas kasarnya. Menatap benda berkode itu lalu mulai memencet tombol sesuai yang diberitahu Laura, tapi ternyata tidak bisa. Lantas ia berbalik. Sedikit kaget melihat Laura yang sudah berdiri di samping meja kerja Reno. “Hey, kodenya salah. Yang benar saja kau ini.”
Laura mencebik sambil menarik napas panjang, memasukkan benda ke dalam tasnya. “Ya sudah kalau tidak bisa, aku pergi dulu,” ucap wanita itu, lalu beranjak pergi.
Erika mengerutkan kening. Geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita yang ia anggap aneh itu. Bangkit berdiri, dan kembali tempat semula, untuk membersihkan bekas makannya. Gara-gara kedatangan Laura, selera makannya hilang seketika.
Sambil mengelap meja makan kaca itu, Erika berpikir setelah apa yang dilakukan Laura terhadapnya. “Apa yang sedang dia rencanakan?”
Selesai membersihkan meja makan dan peralatan makan, Erika memutuskan beristirahat di depan tv. Begitu layar lebar besar itu menyala, seorang wartawan berita tengah mewawancara Reno. “Jadi, ini sudah menjadi kegiatan yang wajib anda lakukan setiap harinya, Pak Reno?”
Reno terlihat mengangguk. Sambil merangkul bahu anak perempuan yang tinggal di panti asuhan ia menjawab santai, “Tentu, saya rasa … kita harus lebih intens memberi banyak hal. Termasuk dukungan pada mereka. Hati saya selalu menghangat ketika dekat dengan anak malaikat kecil seperti ini. Mereka sangat membutuhkan rangkulan kasih sayang kita,” ujar Reno pajang lebar.
Erika yang menonton tayangan tersebut, menahan tawa hingga kedua belah pipinya menggembung. “Apa katanya? Muak sekali dengan topengnya itu. Apa-apaan dia?”
Detik berselang, Erika membaca judul berita tersebut, “Kegiatan rutin bakti sosial Reno Adiyaksa Salim di panti asuhan dan panti jompo.” Setelah membaca judul berita tersebut, Erika tertawa masam disusul gelengan kepala singkat.
**
Siang berganti malam, Reno sudah tiba di kediamannya. Duduk bersilang kaki di sofa, lalu melonggarkan dasi di lehernya. Terkejut saat Erika tiba-tiba datang membawa nampan berisi secangkir teh hangat dan meletakkannya di meja. “Teh hangatnya, Tuan,” ucap Erika sambil menunduk hormat.
Reno mengeluarkan ponselnya, mengotak-atik benda itu, lalu menyodorkannya pada Erika tanpa kata apalagi menatapnya secara langsung.
Erika mengambil benda itu, namun seketika netranya terbelalak melihat video rekaman dirinya tengah berusaha membuka brankas milik sang suami.
Erika tergagap. Kakinya refleks mundur perlahan saat Reno bangkit dan melangkah mendekatinya. Kilatan mata bak predator yang siap memangsa korbannya. Pria itu Menyentak tubuh ringkih Erika tanpa belas kasihan. “Apa, yang kau lakukan di kamarku?”
Sebuah ballroom sudah ditata sedemikian rupa. Menyambut pemberkatan pernikahan Reno dan Laura. Bunga-bunga indah sudah menghiasi setiap sudut ruangan besar dan luas. Aroma semerbak dari berbagai jenis bunga menguar memenuhi penciuman.Alunan musik pernikahan memenuhi ballroom hotel megah itu.Ratusan tamu memenuhi kursi yang telah dihias dengan bunga-bunga putih. Lampu kristal menggantung indah dari langit-langit, sementara di depan ruangan berdiri sebuah panggung megah yang telah dipersiapkan untuk satu momen sakral.Reno berdiri di depan altar dengan wajah tenang. Jas hitam yang dikenakannya tampak sempurna. Tidak ada raut kebahagiaan sama sekali. Tentu, pusat kebahagiaan itu ada pada Erika.Di sisi lain, Laura duduk dengan gaun pengantin mewah. Senyumnya mengembang.Ia benar-benar yakin bahwa sebentar lagi seluruh dunia akan mengakui dirinya sebagai istri Reno.Sebagai menantu keluarga Salim. Sebagai wanita yang berhasil memenangkan segalanya.Namun, sebelum prosesi pemberkatan dim
Laura melipat kedua tangan di dada. Wajahnya sudah sangat kesal karena semua barangnya hilang. Bahkan dari pagi, amarah wanita itu belum reda. "Aku tidak mau tahu, pokoknya semua barangku harus kembali!" maki wanita itu pada manager hotel.Dengan wajah menunduk, pria yang menjabat manager hotel itu membungkuk. "Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan, Bu Laura. Kami akan berusaha mencari barang-barang yang sudah hilang."Laura memukul kepala pria itu dengan keras hingga hampir terhuyung ke belakang. "Dasar tolol, manager macam apa kau ini? Bekerja saja tidak becus.""Saya mohon maaf," ucap pria itu.Laura mendekatkan wajahnya pada manager hotel dengan mata menyala-nyala. "Kau tahu siapa aku?" tanyanya dengan nada angkuh. "Aku tunangan Reno Adiyaksa Salim."Manager hotel diam. Wajahnya masih menunduk hormat.Laura menegakkan tubuhnya kembali. "Pokoknya aku tunggu sampai sore nanti. Kalau barangku tidak ketemu, akan aku tuntut hotel ini ke jalur hukum."Manager itu mendongak, kemudian me
"Aaahhh!"Laura mendesah. Mulutnya menganga. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lengan Darwin yang begitu bringas menggerayangi tubuhnya. Bagian intinya bahkan sudah terasa sakit karena sudah terlalu lama bermain."Aahh, Darwin ... aaaahh!"Desahan Laura tak lagi mampu dibendung. Hentakan demi hentakan yang Darwin lancarkan semakin membuatnya terlena.Begitupun Darwin. Pria itu menatap wajah Laura yang semakin membuatnya kecanduan. Mata wanita itu terbuka sekejap lalu memejam lagi. "Aah, aku suka, Laura, aaaahhh ...."Dengan tenaga penuh, Darwin menghentakkan miliknya semakin dalam pada inti milik Laura. Membuat wanita itu menganga, mendesah penuh kenikmatan.Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman. Hingga malam berganti siang, Laura membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, kemudian menelaah tempat ia berbaring saat ini. Wanita itu menyentuh kepala sendiri, kemudian bangun perlahan. "Astaga ... aku di mana?"Perlahan, Laura mengangkat wajah. Mengedarkan pandangan ke selur
"Aaahhh!"Laura mendesah. Mulutnya menganga. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lengan Darwin yang begitu bringas menggerayangi tubuhnya. Bagian intinya bahkan sudah terasa sakit karena sudah terlalu lama bermain."Aahh, Darwin ... aaaahh!"Desahan Laura tak lagi mampu dibendung. Hentakan demi hentakan yang Darwin lancarkan semakin membuatnya terlena.Begitupun Darwin. Pria itu menatap wajah Laura yang semakin membuatnya kecanduan. Mata wanita itu terbuka sekejap lalu memejam lagi. "Aah, aku suka, Laura, aaaahhh ...."Dengan tenaga penuh, Darwin menghentakkan miliknya semakin dalam pada inti milik Laura. Membuat wanita itu menganga, mendesah penuh kenikmatan.Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman. Hingga malam berganti siang, Laura membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, kemudian menelaah tempat ia berbaring saat ini. Wanita itu menyentuh kepala sendiri, kemudian bangun perlahan. "Astaga ... aku di mana?"Perlahan, Laura mengangkat wajah. Mengedarkan pandangan ke selur
Rebo berjalan cepat menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Bersama Nico, keduanya tampak begitu serius, seolah tengah menghadapi masalah berat.Ketika memasuki ruangan, Reno langsung menuju kursi kebesaran, sambil berkata, "Nico, aku minta sebaiknya bergerak lebih cepat. Laura sudah sulit dikendalikan."Nico mengangguk. "Baik, Pak," jawabnya patuh. "Tapi ... apa rencana anda selanjutnya?"Reno memijit dagu. Seolah berpikir terlalu lama. "Aku akan segera menikahi Laura."Nico tercengang. "Pak, tapi dia ...."Reno mendongak. Memotong kalimat yang hendak Nico ucapkan. "Karena itu, kau harus bergerak lebih cepat. Sepertinya, ada yang dia tutupi dariku."Nico mengerutkan keningnya. Mencoba menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Pak, kalau boleh izinkan aku menyelidiki semuanya tentang Laura.""Tentu aku izinkan, asalkan kau harus hati-hati sepertinya dia punya orang kuat di belakangnya," kata Reno.Nico membungkuk patuh. "Baik," ucapnya. "Aku sudah mengirimkan hadiah untuk anda, buk
Laura muncul bagaikan hantu. Sampai-sampai kedatangannya cukup mengagetkan Reno dan Nico."Ada apa?" tanya Reno datar.Laura tersenyum, sempat melirik Nico sejenak, kemudian meraih tangan Reno. "Aku datang ke mari untuk membicarakan pernikahan kita."Reno dan Nico saling menatap satu sama lain.Nico merasa bukan saat baginya untuk ikut campur. Ia pun berpamitan. "Aku harus segera pergi, permisi," ucapnya sopan.Reno mengangguk samar. "Baiklah, terimakasih untuk hari ini, Nico, aku sangat mengandalkan mu," ucap Reno."Sama-sama, Pak. Aku permisi dulu."Nico pergi, Laura semakin leluasa menjalankan rencananya.Reno menatap wanita di sampingnya. "Tadi kau bilang, pernikahan? tanya Reno dengan kening mengerut.Sambil cengengesan, Laura menjawab, "Iya, pernikahan."Reno terdiam. Masih menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Kita bicara di dalam saja," ucapnya seraya berbalik memasuki lift dasar.Laura bergegas mengikuti pria itu dan masuk bersama ke dalam lift.Tring!Pintu lift terbu
Erika berdiri mematung di ambang pintu unit apartemen mewah milik Reno Adiyaksa Salim. Pintu kokoh dilengkapi sistem keamanan canggih itu baru saja terbuka, menyemburkan aroma mewah tapi terasa mencekik lehernya. Di sampingnya, Reno berdiri dengan angkuh, sementara Laura bersandar manja di lengan
Dalam kungkungan Reno, Erika menatap pria itu tajam. Dalam posisi wajah yang begitu dekat, bibirnya bergetar menahan emosi yang meluap. “Bisa-bisanya kau membuat jawabanmu sendiri.” Dengan senyum menawan khasnya, Reno menjawab, “Aku hanya berniat membantumu keluar dari masalah ini. Bukankah kau in
Hari berikutnya, Erika kembali mendatangi gedung perusahaan A-D Salim Grup. Tujuannya, menuntut Reno agar pria itu segera menghapus foto dirinya yang masih menjadi bahan olok-olok seantero negeri. Bahkan saat ini saja ia datang ke gedung itu dengan wajah ditutupi masker, Kacamata, dan topi. Kemeja
Bab 1.Erika memasuki sebuah ruangan yang sepi. Tidak ada orang di sana, ia berpikir mungkin semua orang sedang jeda istirahat kerja. Entah kenapa begitu ia tiba di gedung perusahaan, seorang staf malah memintanya agar segera menemui CEO secara langsung. Padahal maksud kedatanganya hanya untuk meng