FAZER LOGINHari berikutnya, Erika kembali mendatangi gedung perusahaan A-D Salim Grup. Tujuannya, menuntut Reno agar pria itu segera menghapus foto dirinya yang masih menjadi bahan olok-olok seantero negeri. Bahkan saat ini saja ia datang ke gedung itu dengan wajah ditutupi masker, Kacamata, dan topi. Kemeja flanel kotak-kotak hitam putih, dan celana jeans hitam serta sepatu Kets putih.
Wanita itu mengeluarkan stiker berlogo perusahaan dan foto Reno yang sedang tersenyum. Tentu sudah ia lukis gambar taring di mulut pria itu hingga terlihat mirip drakula. Benda tipis itu kemudian ia tempelkan di kaca gedung. Setelah itu, ia pun berjalan masuk. Sambil mengawasi keadaan, gadis itu bergumam pelan, “Hah, hati malaikat konon, malaikat pencabut nyawa, iya.” Erika menurunkan topi paruh bebek hitam yang ia pakai hingga wajahnya nyaris tidak terlihat. Memasuki lift, dan naik ke lantai delapan.
Rencananya berjalan lancar karena ia datang ke tempat itu persis seperti kemarin. Jadi ia tidak menemui kendala berarti. Di depan pintu ruang CEO, Erika berkata pelan, “Aku tidak bisa berdiam diri, akan kujebloskan kau ke penjara, Reno sialan.”
Tok tok tok!
Erika mengetuk pintu dengan teratur. Meskipun perasaannya tidak menentu, tapi ia sudah bertekad akan menyelesaikan masalah itu sesegera mungkin. Jika tidak, maka ia tidak tahu sampai kapan akan terus menjadi bulan-bulanan netizen. Detik berselang, suara sahutan dari dalam terdengar.
“Masuk!”
Erika menarik napas panjang, lalu membuka pintu. Terlihat di depan sana, Reno sendirian sedang berdiri menghadap jendela kaca besar di depannya. Tidak seperti kemarin, sepertinya si wanita tidak datang hari ini. Kebetulan, dengan begitu ia bisa menemui Reno dan bicara langsung. Gadis itu berjalan mendekat. Sampai di belakang Reno, bibirnya berdecak di balik maskernya. “Kita bertemu lagi, Tuan.”
Mendengar suara di belakang, Reno lantas berbalik. Memicingkan mata, karena penampilan orang itu sangat tertutup. “Siapa, kau?” tanyanya, menelisik wajah wanita di depannya.
Erika maju selangkah lebih dekat lagi. Lalu membuka topi, kaca mata, disusul dengan maskernya. “Ini aku, kau masih ingat?”
Reno terkekeh. Memasukkan kedua tangan pada saku celana. “Apakah kau menyukaiku?," tanya Reno dengan senyum mengejek yang menjengkelkan. "Aku tahu, ketampananku memang sulit dilupakan. Semua wanita sama saja, gila pada harta dan rupa yang menawan."
Kilatan emosi menyala di mata Erika. Tanpa aba-aba ia menginjak punggung kaki Reno dengan sekuat tenaga. Bunyi dek yang cukup keras membuat pria itu menganga dengan wajah memerah menahan sakit.
“Salam kenal Tuan Psikopat. Sekarang juga kau hapus semua fotoku di media sosial! Atau aku akan mengadukanmu pada polisi!” ancam Erika. Begitu yakin dirinya akan berhasil.
Reno menegakkan tubuhnya kembali. Lalu menatap Erika dengan kening mengerut. “Apa? Kau mau … menuntut apa? melaporkan aku pada polisi?” tanyanya, kemudian tertawa lepas.
Erika memejamkan mata rapat-rapat. Berusaha meredam gemuruh emosi di dadanya hingga kedua tangannya mengepal erat. “Kau pikir ini lelucon? Lihat saja, kau akan masuk penjara karena telah mencemarkan nama baikku!”
Senyum di bibir Reno pudar, berganti ekspresi dingin dan tatapan mata yang begitu tajam. Membuat mental Erika merosot seketika. Pria itu mendekatkan wajahnya. Mengikis jarak, kemudian berkata, “Aku suka gadis sepertimu. Berani sekali.”
Erika menjauhkan wajah karena merasa terlalu dekat. Namun, Reno meraih pinggangnya dan mendekap tubuhnya. Sontak, gadis itu terbelalak. Mendapat serangan begitu mendadak, ia tidak bisa menghindar apalagi melawan. Saat ini, posisi wajah keduanya begitu dekat.
Untuk sesaat, Erika tak mampu berkedip. Tatapan Reno terlalu tajam menusuknya. Segera saja ia berontak. “Lepaskan! Kejadian kemarin tidak akan pernah terulang lagi,” desis Erika menolehkan wajah untuk menghindari tatapan mata dengan Reno.
Reno melepaskan Erika dengan senyum yang kembali terbit. “Baiklah, kau bilang mau melaporkan aku pada polisi, silahkan, laporkan aku. Kebetulan aku sedang bosan, mungkin di penjara bisa sedikit mengisi rasa bosanku.”
Keberanian Erika kembali bangkit. Meski kalimat Reno seolah berupa tantangan yang terlihat sepele, tapi ia memilih untuk tetap melakukannya. “Tentu, kau pikir itu ancaman kosong? Aku bahkan sudah menyiapkan segalanya,” ucap Erika sambil melirik jam dinding, “Aku yakin, sebentar lagi polisi akan datang ke mari.”
Memang benar, sebelum Erika tiba di gedung, terlebih dahulu ia memang melaporkan Reno pada polisi. Yakin sekali jika pria itu tidak mungkin melawan hukum yang berlaku.
Reno mengangguk santai. “Aku tunggu,” jawabnya.
Kriiing!
Reno menoleh ke arah meja kerja saat telepon berbunyi. Segera saja ia beranjak dan mengangkat benda itu. “Ya,” ucapnya.
“.......”
Reno melirik ke arah Erika yang tersenyum percaya diri. “Jangan dicegah, suruh mereka datang ke ruanganku.” Pria itu meletakkan telepon di tempat semula, kemudian bicara pada Erika, “Ada polisi yang datang.”
Erika tergelak. “Kali ini kau tidak akan bisa lolos.”
Benar saja, tidak butuh waktu lama, pintu diketuk. Masih dengan mode kalemnya, Reno menyahut. “Masuk!”
Dua orang polisi masuk. Erika menyerbu mereka. “Itu dia, Pak. Orang yang telah mencemarkan nama baik saya, tangkap sekarang juga, Pak!”
Polisi itu menatap Reno yang tersenyum ramah. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Reno?”
Erika terpaku. Reno mendekat sambil menyodorkan ponsel pada kedua polisi itu. “Maaf, Pak. Dengan sangat menyesal, kemarin gadis ini tiba-tiba datang ke mari dan mengganggu saya. Ini buktinya.” Pria itu memperlihatkan foto yang disebar di sosial media.
Erika menganga. “Bohong! Itu bohong, Pak. Justru saya yang dipaksa—”
“Anda kami tangkap atas pelanggaran pencemaran nama baik Pak Reno,” gertak salah satu polisi.
Erika tertegun. “Apa?”
Polisi itu mengeluarkan sebuah benda dan siap memborgol tangan Erika. Gadis itu menatap Reno. “Dasar pria gila!” bentak gadis itu.
Polisi menyeret Erika. “Sebaiknya jelaskan di kantor polisi.”
“Aku tidak bersalah, Pak, aku dijebak!” teriak Erika.
Ketika polisi itu sampai di dekat pintu membawa Erika, Reno menyahut. “Tunggu!”
Erika menoleh. Reno mendekat. “Maaf, aku harus bicara empat mata dengannya, Pak. Kasian dia, sepertinya … dia tidak punya apa-apa, saya akan menyelesaikan ini secara baik-baik.”
Kedua polisi mengangguk. “Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa jangan ragu untuk menghubungi kami, permisi.”
Reno tersenyum ketika borgol dilepas dari tangan Erika. Kedua polisi itu pergi.
Erika memijit pergelangan tangannya sendiri. Reno bersuara, “Sudah paham kan? Bagaimana pengaruhku? Aku bisa kapan saja memasukkan mu ke penjara selama aku ingin melakukannya.”
Erika mencebik. Tidak sudi melihat Reno yang ia anggap seorang pecundang.
Reno terkekeh. “Begini saja, aku punya tawaran menarik. Kalau kau setuju, aku akan menghapus foto itu.”
Erika tercengang. Reno mendekatkan wajahnya lagi. Menatapnya penuh penekanan. “Menikahlah denganku.”
Jreng!
Erika menganga. Tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Apa?”
Reno semakin merapat. Erika mundur hingga punggungnya mengenai dinding.
Reno berkata, “Aku bisa mengubah hidupmu, asal kau mau menikah denganku.”
“Aku tak Sudi,” jawab Erika.
“Deal, hari ini juga kau akan sah menjadi istriku,” tekan Reno.
Jawaban yang ditentukan sendiri oleh CEO AD Salim Grup. Membuat Erika ternganga.
“Sekarang … puaskan aku,” bisik Reno tanpa rasa bersalah dan sarat akan paksaan. Erika terpaku. Dadanya bergemuruh tak karuan. Luapan emosi, kekesalan dan ketidakberdayaan menyergap sekaligus. Ketika pria itu meraih pinggangnya, dengan cepat ia menarik tangan Reno dan menggigitnya sekuat tenaga. Gigitan yang mengoyak kulit tangan suaminya.Reno terlonjak. Kedua bola matanya membulat sempurna. “Aaakkhh!” pekikan keras kesakitan pria itu memecah keheningan. Tindakan spontanitas Erika yang begitu tiba-tiba, membuatnya tak percaya. Mangsa yang ia anggap lemah tak berdaya, ternyata seperti ular berbisa. Reno menarik tangannya. Bercak darah sedikit keluar dari luka bekas gigitan Erika. Dengan napas memburu, Reno menatap gadis itu bengis. “Kau … beraninya kau.” Erika membalas tatapan Reno yang selalu mengintimidasinya. “Sudah cukup, apa kau tidak lelah menyakiti orang lain, hah? Setidaknya, jadilah sosok manusia malaikat yang selalu kau pamerkan di setiap deadline berita.” Tanpa menung
Erika berdiri mematung di ambang pintu unit apartemen mewah milik Reno Adiyaksa Salim. Pintu kokoh dilengkapi sistem keamanan canggih itu baru saja terbuka, menyemburkan aroma mewah tapi terasa mencekik lehernya. Di sampingnya, Reno berdiri dengan angkuh, sementara Laura bersandar manja di lengan pria itu, seolah menegaskan siapa ratu sebenarnya di sana.Erika berdecak dalam hati, sebuah amarah yang tidak bisa ia ungkapkan. Kesialannya terbesarnya adalah telah sah menjadi istri seorang CEO yang dunia anggap sebagai malaikat dermawan. Erika di bawa masuk. Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik, gadis itu tahu bahwa ia baru saja masuk ke dalam kandang dua serigala lapar.Reno melangkah maju, tangannya merentang seolah memamerkan sebuah kerajaan. “Lihatlah, Erika! Inilah surga yang tidak akan pernah bisa ditemui oleh wanita rendahan manapun selain dirimu. Luar biasa, bukan?” tanya Reno dengan nada angkuh sekaligus memperjelas kasta antara dirinya dan Reno. Erika membuang napas kas
Dalam kungkungan Reno, Erika menatap pria itu tajam. Dalam posisi wajah yang begitu dekat, bibirnya bergetar menahan emosi yang meluap. “Bisa-bisanya kau membuat jawabanmu sendiri.” Dengan senyum menawan khasnya, Reno menjawab, “Aku hanya berniat membantumu keluar dari masalah ini. Bukankah kau ingin aku menghapus foto-foto itu?” “Tapi tawaranmu terlalu menjijikkan,” sambung Erika. Reno terkekeh. “Jawaban sudah kubuat,” kata Reno, menjauhkan posisi tubuhnya. “kau tidak akan bisa bebas lagi.” “Apa katamu?” tanya Erika. Reno bergerak menjauh. “Setelah ini bersiaplah, ikut aku.” Erika memandang Reno penuh tanya. Mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pria itu. “Apa maksudmu?” Reno meraih kunci mobilnya dari meja kerja, kemudian mendekati Erika. “Aku sudah bilang, kau akan menjadi istriku, jadi mulai sekarang … kau berada dalam genggamanku.” Erika ternganga saat Reno menarik tangannya dan membawanya keluar. Tanpa disuruh, gadis itu berontak. “Hey, lepaskan aku!” Reno
Hari berikutnya, Erika kembali mendatangi gedung perusahaan A-D Salim Grup. Tujuannya, menuntut Reno agar pria itu segera menghapus foto dirinya yang masih menjadi bahan olok-olok seantero negeri. Bahkan saat ini saja ia datang ke gedung itu dengan wajah ditutupi masker, Kacamata, dan topi. Kemeja flanel kotak-kotak hitam putih, dan celana jeans hitam serta sepatu Kets putih. Wanita itu mengeluarkan stiker berlogo perusahaan dan foto Reno yang sedang tersenyum. Tentu sudah ia lukis gambar taring di mulut pria itu hingga terlihat mirip drakula. Benda tipis itu kemudian ia tempelkan di kaca gedung. Setelah itu, ia pun berjalan masuk. Sambil mengawasi keadaan, gadis itu bergumam pelan, “Hah, hati malaikat konon, malaikat pencabut nyawa, iya.” Erika menurunkan topi paruh bebek hitam yang ia pakai hingga wajahnya nyaris tidak terlihat. Memasuki lift, dan naik ke lantai delapan. Rencananya berjalan lancar karena ia datang ke tempat itu persis seperti kemarin. Jadi ia tidak menemui kendal
Bab 1.Erika memasuki sebuah ruangan yang sepi. Tidak ada orang di sana, ia berpikir mungkin semua orang sedang jeda istirahat kerja. Entah kenapa begitu ia tiba di gedung perusahaan, seorang staf malah memintanya agar segera menemui CEO secara langsung. Padahal maksud kedatanganya hanya untuk mengantarkan bunga.Sampai di depan pintu, Erika dikejutkan dengan suara khas pasangan di balik ruangan tertutup itu. Entah siapa yang sedang bercumbu di dalam sana, tapi rasa penasaran begitu menguasai Erika saat ini.Diam sejenak, Erika menoleh ke sana ke mari memeriksa keadaan. Setelah dirasa aman, ia kemudian mengaktifkan mode video di ponsel, lalu bergerak membuka pintu. Begitu hati-hati ia melangkah masuk agar tidak menimbulkan suara. Hingga sebuah pemandangan membuatnya terkejut setengah mati. Di depan sana, terekam jelas oleh ponselnya. CEO A-D Salim Grup, Reno Adiyaksa Salim tengah bercinta dengan seorang wanita. Entah siapa, Erika tidak tahu karena posisi wanita itu membelaknginya.Men