Home / All / Jerat Skandal CEO / 1. Terjebak Skandal.

Share

Jerat Skandal CEO
Jerat Skandal CEO
Author: Pena Naima

1. Terjebak Skandal.

Author: Pena Naima
last update publish date: 2026-03-15 14:47:35

Bab 1.

Erika memasuki sebuah ruangan yang sepi. Tidak ada orang di sana, ia berpikir mungkin semua orang sedang jeda istirahat kerja. Entah kenapa begitu ia tiba di gedung perusahaan, seorang staf malah memintanya agar segera menemui CEO secara langsung. Padahal maksud kedatanganya hanya untuk mengantarkan bunga.

Sampai di depan pintu, Erika dikejutkan dengan suara khas pasangan di balik ruangan tertutup itu. Entah siapa yang sedang bercumbu di dalam sana, tapi rasa penasaran begitu menguasai Erika saat ini.

Diam sejenak, Erika menoleh ke sana ke mari memeriksa keadaan. Setelah dirasa aman, ia kemudian mengaktifkan mode video di ponsel, lalu bergerak membuka pintu. Begitu hati-hati ia melangkah masuk agar tidak menimbulkan suara. Hingga sebuah pemandangan membuatnya terkejut setengah mati. Di depan sana, terekam jelas oleh ponselnya. CEO A-D Salim Grup, Reno Adiyaksa Salim tengah bercinta dengan seorang wanita. Entah siapa, Erika tidak tahu karena posisi wanita itu membelaknginya.

Menyadari hal itu bukan urusannya, Erika panik. Karena terburu-buru, gadis itu sulit mengontrol gerakan tubuhnya. Alhasil, sebuah vas bunga besar tersenggol hingga jatuh dan pecah. Suaranya gaduh seisi ruangan.

PRANG!

Refleks Erika berjongkok sambil menutup mulutnya. Namun tidak bagi pemilik ruangan. Reno mengusap rambut yang dipenuhi keringat itu kebelakang, sambil menatap tajam ke arah suara gaduh tersebut. "Ada penguntit rupanya," gumamnya diiringi senyum menyeringai.

Masih diposisi yang sama, Erika menggigit bibir. Perlahan ia merangkak berniat meraih pintu agar bisa kabur secepatnya. Namun, saat tangannya mengambang di udara, suara bariton milik Reno menghentikan gerakannya.

"Siapa kau?"

Erika menutup mata rapat-rapat. "Gawat! Aku ketahuan."

Reno mendekat hanya mengenakan celana saja. Sedangkan tubuh sixpacknya terpajang sempurna. Erika semakin panik, tapi Reno sudah berdiri tangguh di belakang. "Tunjukkan dirimu!" titah pria itu.

Seorang wanita berambut blonde memungut ponsel Erika yang terjatuh tanpa disadari pemiliknya. "Wah, sepertinya ... dia berniat buruk padamu."

Reno menoleh. "Apa?"

Wanita yang mengenakan tank top hitam dan rok jeans super pendek itu tersenyum, seraya menunjukkan layar hp milik Erika ke depan wajah Reno. "Lihat ini, kegiatan kita direkam."

Bangkit amarah Reno. Rahangnya mengerat sempurna. Ia lantas menatap bengis Erika. "Ke mari kau, gadis tengik!"

Erika menunduk masih dalam posisi membelakangi Reno. Merasa buntu, ia pun pasrah, kemudian bangkit berdiri. Begitu berbalik badan, lagi-lagi ia dikejutkan dengan wanita yang baru saja bercinta dengan Reno. 'Laura?' gumam hati Erika. Tentu ia tahu sosok Laura. Wanita yang berprofesi sebagai model majalah pria dewasa, idola bosnya di toko. Bahkan poster wanita itu dipasang di dinding kantor pribadinya.

Reno berdecih melihat wajah asli Erika. "Masih muda rupanya."

Laura, wanita itu terkekeh, kemudian berbisik ke telinga Reno. Erika menajamkan mata, menebak-nebak apa yang sedang mereka rencanakan untuknya. Di luar dugaan, Erika benar-benar merasa tertipu. Citra baik yang terukir di balik nama Reno, rupanya hanya topeng semata. Pria yang memiliki attitude sangat baik pada semua kalangan, bahkan mendapat sebutan pria berhati malaikat. Bukan hanya itu, Reno juga aktif menyuarakan betapa berbahayanya sex bebas.

Erika tidak mengerti apa yang menimpanya saat ini. Petaka, atau cobaan hidup. Tapi yang jelas, ia merasa firasatnya tidak baik melihat gelagat dua orang di depannya.

Reno melangkah mendekati Erika. Gadis itu kaget tapi ambigu. Hingga Reno meraih tangannya lalu menempelkan telapak tangannya pada ke dada bidang pria itu. "Sentuh aku," katanya.

Ceklek!

Erika menoleh ke arah Laura yang memotret dirinya. "Apa-apaan ini—" belum selesai Erika bicara, Reno malah menarik tubuhnya dengan cepat. Jipratan demi jipratan kamera mengarah kepadanya.

Laura tertawa sambil memotret aksi liar Reno. "Bagus, Reno, lagi, ayo lagi!"

Erika meronta saat Reno menggenggam tangannya seolah memintanya menyentuh area pribadi milik pria itu. "Lepaskan aku, apa yang kalian lakukan?"

Reno menahan tangan Erika dengan tatapan yang membuatnya merasa terkunci. "Aku tidak suka penolakan, Baby," ucapnya mendekatkan wajahnya ke telinga Erika, "jangan coba-coba melawanku!"

Entah apa yang terjadi. Erika tidak bisa mengendalikan semua yang tengah terjadi. Bukan pasrah, sudah berkali-kali ia mencoba melawan tapi tenaga Reno jauh lebih unggul.

Laura terbahak melihat hasil jipratan kamera. Reno bangkit sambil menaikkan sleting celananya. "Aku harus berendam dengan air aroma terapi, bau kemiskinan terlalu memuakkan di tubuhku ini."

Erika yang terpaku di atas sofa itu mendongak. "Apa kau bilang?"

Reno beranjak pergi, Erika bangkit berniat mengejar. Tapi Laura menarik tangannya. "Eits, mau ke mana gadis hina?"

Erika menoleh. "Apa yang kalian rencanakan?"

Laura berdecih, lalu melipat kedua tangan di dada. "Ulahmu sendri, berani-beraninya kau masuk tanpa izin ke ruangan ini. Lebih kurang ajar lagi, kau merekam apa yang sedang kamu lakukan, satu kata untukmu gadis miskin," ucap Laura, "bodoh."

Erika mengerutkan kening. Amarahnya memuncak, emosinya naik ke ubun-ubun. "Kau pikir aku akan diam saja melihat semua ini?"

Lagi, Laura terbahak-bahak hingga suara tawanya menggema di ruangan itu. "Lucu sekali kau ini. Memangnya kau mau melakukan apa, hah?" Laura mendorong kening Erika dengan telunjuknya sambil bicara, "memangnya bisa apa kamu, tapi ... tidak apa-apa, karena sebentar lagi kamu akan mendapat banyak hadiah."

Senyum di bibir Laura pudar berganti dengan tatapan tajam dan jijik ke arah Erika. "Dasar gadis miskin yang hina." Usai mengatakan itu, Laura menyeret Erika ke arah pintu, kemudian mendorongnya. "pergi dari sini, jangan pernah muncul lagi."

Laura melempar ponsel Erika hingga memantul di lantai, kemudian menutup pintu dengan keras.

Kedua tangan Erika mengepal erat. Sekuat tenaga ia menenangkan emosinya. Tapi, apa mau di kata, melawan penguasa sudah pasti ia akan kalah. Gadis itu menyentuh dada sambil menarik napas dalam-dalam. "Sabar, tenang Erika ... lebih baik kau pergi sekarang."

Memungut ponselnya, Erika melihat layar itu retak, tapi masih menyala dan bisa disentuh. "Sial sekali aku hari ini." Erika membuang napas kasarnya, kemudian beranjak pergi.

Begitu sampai dan keluar dari lift di lobi, Erika mematung penuh tanya. Ia merasa tatapan semua orang tertuju padanya. Hingga sebuah notifikasi pesan dari bosnya masuk. Gadis itu lekas membacanya. Detik berselang, matanya membola melihat foto yang dikirim bos padanya dibubuhi caption.

"Erika, kau kupecat!"

Erika mengabaikan pesan bos, lalu mengalihkannya ke aplikasi sosial media. Di sana, fotonya sudah terpampang dengan tulisan yang menohok.

"Siapa wanita ini? Bahaya sekali dia. Tiba-tiba menyusup dan menggoda Reno."

Membaca cuitan tersebut, Erika berteriak. "TIDAAAAAKKK!"

Tangan Erika gemetar melihat situasi saat ini. Segera saja ia berlari keluar. Mobil pick up berisi bunga yang dipesan perusahaan sudah layu terpapar matahari. Tapi kebisingan semua orang menyebutnya murahan membuat pikirannya kacau.

Memasuki mobil, ia pun tancap gas. Sampai di kost pribadinya, Erika lemas hingga terlentang di lantai. Dengan tangan bergetar, ia kembali melihat layar ponsel dan membaca berbagai komentar netizen.

"Wanita murahan, siapa dia?"

"Terlalu jelek untuk menjadi p3lacur."

Erika melempar ponselnya ke sembarang arah. Lalu bangkit terduduk sambil mengacak-acak rambutnya. "Hwaaaa, akan kubalas kauuu!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Skandal CEO    44. bahagia

    "Aaahhh!"Laura mendesah. Mulutnya menganga. Kedua tangannya berpegangan pada kedua lengan Darwin yang begitu bringas menggerayangi tubuhnya. Bagian intinya bahkan sudah terasa sakit karena sudah terlalu lama bermain."Aahh, Darwin ... aaaahh!"Desahan Laura tak lagi mampu dibendung. Hentakan demi hentakan yang Darwin lancarkan semakin membuatnya terlena.Begitupun Darwin. Pria itu menatap wajah Laura yang semakin membuatnya kecanduan. Mata wanita itu terbuka sekejap lalu memejam lagi. "Aah, aku suka, Laura, aaaahhh ...."Dengan tenaga penuh, Darwin menghentakkan miliknya semakin dalam pada inti milik Laura. Membuat wanita itu menganga, mendesah penuh kenikmatan.Entah berapa kali mereka melakukannya semalaman. Hingga malam berganti siang, Laura membuka matanya. Mengerjap beberapa kali, kemudian menelaah tempat ia berbaring saat ini. Wanita itu menyentuh kepala sendiri, kemudian bangun perlahan. "Astaga ... aku di mana?"Perlahan, Laura mengangkat wajah. Mengedarkan pandangan ke selur

  • Jerat Skandal CEO    43. Terpisah

    Rebo berjalan cepat menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Bersama Nico, keduanya tampak begitu serius, seolah tengah menghadapi masalah berat.Ketika memasuki ruangan, Reno langsung menuju kursi kebesaran, sambil berkata, "Nico, aku minta sebaiknya bergerak lebih cepat. Laura sudah sulit dikendalikan."Nico mengangguk. "Baik, Pak," jawabnya patuh. "Tapi ... apa rencana anda selanjutnya?"Reno memijit dagu. Seolah berpikir terlalu lama. "Aku akan segera menikahi Laura."Nico tercengang. "Pak, tapi dia ...."Reno mendongak. Memotong kalimat yang hendak Nico ucapkan. "Karena itu, kau harus bergerak lebih cepat. Sepertinya, ada yang dia tutupi dariku."Nico mengerutkan keningnya. Mencoba menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Pak, kalau boleh izinkan aku menyelidiki semuanya tentang Laura.""Tentu aku izinkan, asalkan kau harus hati-hati sepertinya dia punya orang kuat di belakangnya," kata Reno.Nico membungkuk patuh. "Baik," ucapnya. "Aku sudah mengirimkan hadiah untuk anda, buk

  • Jerat Skandal CEO    42. Rencana baru.

    Laura muncul bagaikan hantu. Sampai-sampai kedatangannya cukup mengagetkan Reno dan Nico."Ada apa?" tanya Reno datar.Laura tersenyum, sempat melirik Nico sejenak, kemudian meraih tangan Reno. "Aku datang ke mari untuk membicarakan pernikahan kita."Reno dan Nico saling menatap satu sama lain.Nico merasa bukan saat baginya untuk ikut campur. Ia pun berpamitan. "Aku harus segera pergi, permisi," ucapnya sopan.Reno mengangguk samar. "Baiklah, terimakasih untuk hari ini, Nico, aku sangat mengandalkan mu," ucap Reno."Sama-sama, Pak. Aku permisi dulu."Nico pergi, Laura semakin leluasa menjalankan rencananya.Reno menatap wanita di sampingnya. "Tadi kau bilang, pernikahan? tanya Reno dengan kening mengerut.Sambil cengengesan, Laura menjawab, "Iya, pernikahan."Reno terdiam. Masih menerka apa yang tengah direncanakan Laura. "Kita bicara di dalam saja," ucapnya seraya berbalik memasuki lift dasar.Laura bergegas mengikuti pria itu dan masuk bersama ke dalam lift.Tring!Pintu lift terbu

  • Jerat Skandal CEO    41. Terkejut.

    Dilema.Erika tertegun penuh tanya. Hanya bisa menatap ibu panti dengan wajah bingung. "Siapa dia, Bu?" Dengan senyum yang menenangkan, wanita itu menjawab, "Kenapa kamu tidak menemuinya?" tanyanya dengan mata yang mulai basah. "Apa kamu tidak rindu pada ibumu?"Erika kembali menatap sosok wanita yang sudah berdiri. Erika kembali menatap sosok wanita yang sudah berdiri. Waktu seolah melambat.Langkah wanita itu ragu, seakan ingin maju, namun takut ditolak. Matanya tidak lepas dari wajah Erika, penuh harap sekaligus cemas. Tangan yang terulur setengah jalan itu bergetar pelan, lalu menggantung di udara.Erika mengernyit. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tertahan kuat."Ibu?" suaranya lirih, nyaris tak terdengar.Ibu panti mengangguk. Ia tidak bisa melepas rasa haru yang begitu tumpah ruah dalam hatinya. Bagaimana tidak, hanya Erika yang beruntung dijemput kembali oleh ibu kandungnya. Sedangkan anak yang lain, entah akan seperti apa nasib dan

  • Jerat Skandal CEO    40. Konflik Batin Erika.

    Laura tidak menunda waktu. Bahkan pada saat rangkaian spa belum selesai, ia memutuskan segera pulang. Hari sudah berganti, di dalam toilet kamarnya, ia sedang menunggu hasil tes pack dengan jantung tak beraturan. Jika dugaannya benar, matilah ia. Dan rencananya akan kacau balau. Bagaimana tidak, selama ia melakukan hubungan intim dengan Reno, pria itu tidak pernah mengeluarkan cairannya di dalam. Jadi jika dia sampai tahu dirinya hamil, sudah pasti akan tamat. Tidak membutuhkan waktu lama, Laura membanting alat kecil itu. "Euukhhh, sial!" rutuknya saat hasil tes menunjukkan tanda positif. Wanita itu mondar-mandir di dalam kamar mandi sambil memegangi kepalanya. "Tidak, aku harus segera menggugurkannya, harus." Beberapa saat kemudian, ia keluar dari kamar mandi Dengan wajah kacau. Mendekati ranjang saat ia melihat ponselnya menyala. Nama Darwin tertera di layar, wanita itu mendengus. "Apa aku hamil anak dia?" Laura berusaha mengingat-ingat dengan siapa saja ia melakukan hu

  • Jerat Skandal CEO    39. Rindu.

    Satu bulan berlalu. Setelah kepergian Erika, Keadaan kembali seperti semula. Pagi ini, Reno bangun kesiangan. Malas sekali walau hanya untuk berangkat ke kantor. Tapi ia selalu dituntut harus sempurna dalam segala hal. Dengan tubuh yang masih terbalut piyama garis salur hitam, ia membuka lemari es. Mengambil air putih dan segera menuangkannya ke dalam gelas. Rambutnya berantakan. Wajahnya pun belum sempat ia bersihkan. Reno meneguk air hingga habis satu gelas penuh. Sejenak, pria itu terdiam sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sudah satu bulan tapi rindu itu begitu menyesakkan dada. Entah di mana Erika sekarang. Sejak kepergiannya hari itu, ia kehilangan segalanya. Semua akses kontak telah diblokir. Bel pintu berbunyi. Reno berjalan malas ke depan. Begitu melihat kakeknya dari layar interkom, langkah Reno terhenti sejenak. Raut wajahnya berubah kesal. Pagi yang sudah terasa berat itu mendadak semakin sesak. Ia menghela napas panjang sebelum akhirnya menekan tomb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status