/ Lainnya / Jeruji Tanah Anarki / 71. Gosip baru

공유

71. Gosip baru

작가: Maula Faza
last update 게시일: 2022-03-12 22:57:39
Para pekerja digiring keluar gua dengan tangan terikat di belakang oleh prajurit pasukan elite, begitu pula para petugas. Hanya saja, para petugas dipisahkan dari para pekerja.

Sebagian prajurit pasukan elite lain bergerak menyita seluruh peralatan dan benda-benda lain yang dianggap perlu untuk diperiksa tanpa terkecuali. Sisanya membawa para petugas yang sudah tidak bernyawa.

Eduardo melirik ke atas, tepat ke arah Shaw dan yang lain. Ia menundukkan kepala sekilas ketika menatap Ascal dan menyun
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Jeruji Tanah Anarki   110. Atmosfer menjadi lebih serius

    “Ini yang terakhir, loh. Yang Kakek ambil itu potongan besar. Singkongnya juga besar. Setelah ini, jangan ambil lagi.”Avidius duduk di sebelah Barid.Sosok satunya sudah lebih dahulu duduk, bahkan tangannya sudah menyambar sajian di meja. Ia Leonere, mengambil tempat duduk di sebelah Edvard. Sofa yang diduduki Eduardo adalah sofa tunggal dan tubuh Eduardo lebih dari cukup untuk membuat sofa kecil itu nyaris tanpa celah.Leonere mengambil roti bulat, diameternya kira-kira 12―15 sentimeter. Satu telur dadar bulat utuh diambil kemudian, ia letakkan di atas roti. Ia ambil botol saus tomat, menuangnya di atas telur. Botol saus ditaruh, roti ia lipat jadi setengah lingkaran.Avidius hendak mengambil roti juga. Namun, tangannya dipukul pelan.“Apa, sih, Kakek?”Avidius mengusap punggung tangannya.“Di mana etikamu? Lihat itu ada tamu. Katakan sesuatu pada Dokter Ed.”“Kami sudah tegur sapa, kok. Iya, kan, Dokter?”

  • Jeruji Tanah Anarki   109. Sarapan di kediaman Eduardo

    “Ehem!”Dehaman itu nyaring, menggoyahkan mata Bexter dalam sekejap. Kepalanya bergerak, matanya mendelik. Dexter si pelaku langsung pura-pura memandangi atap.Tawa halus yang tertahan Bexter dengari. Suara khas si asik bungsu. Bexter tidak melempar tatapan yang sama seperti yang ia lakukan pada Dexter. Hanya teguran halus yang ia lakukan.“Cerys ….”Jejak kemerahan masih tertinggal di pipi Bexter.“Iya, aku berhenti.” Cerys mengangkat satu tangan, tetapi wajahnya tidak bisa menipu. Garis senyum yang terpatri itu teramat jelas untuk tidak terlihat. “Sebaiknya aku tidur sekarang.”Tepat sesudah berucap begitu, Cerys berpura-pura menguap. Sebelah matanya melirik Dexter, mengirim sinyal tak bersuara yang segera bersambut.“Ah!” Dexter mengangkat sebelah tangan. “Aku juga perlu tidur. Esok aku harus bangun pagi sekali.”Sambil lalu, Dexter menatap Bexter, melempar senyum penuh arti. Ia hampiri Cerys, merangkul si bungsu.“Selamat malam, Kak Bexter dan Elwanda!” Riang Cerys berkata. Satu t

  • Jeruji Tanah Anarki   108. Beginikah rasanya punya anak?

    “Tuan Bexter!”Seruan mengudara dari paviliun. Mival yang semula duduk di teras jadi berdiri, menyambut Bexter dengan wajah berseri-seri.“Mival.” Lirih Bexter bergumam, mengarahkan langkah menuju Mival. Ia berhenti tiga langkah di depan Mival, kemudian bertanya, “Sudah malam. Kenapa di sini?”Semestinya itu tidak jadi pertanyaan. Bexter sudah punya jawabannya meski tidak tahu benar atau tidak.“Aku menunggu Tuan Bexter.”“Menungguku? Ada sesuatu?”“Hum!” Mival mengangguk cepat. “Aku ingin tanya soal Bailey dan Shaw.”Jawaban dalam pikiran Bexter memang benar. Hal itulah yang bakal jadi pertanyaan Mival.Bexter mengulas senyum. “Pertanyaan yang bagaimana itu?”“Kudengar Shaw diserang di hutan ketiga. Aku juga dengar Bailey pergi, belum kembali sampai sekarang. Katanya, Bailey pergi menyusul Shaw. Aku juga tidak melihat Bailey hari ini. Apa itu benar?”Muka cerah Mival sirna. Siapa pun yang memperhatikan pasti dapat melihat kecemasan dan rasa ingin tahu yang besar pada Mival saat ini.

  • Jeruji Tanah Anarki   107. Teka-teki Amory

    “Tuan seorang penerka andal!” Shaw cengar-cengir.“Oh, tentu! Aku hafal bocah-bocah sepertikau.” Amory menunjuk Shaw dengan sendok seraya terkekeh.Cengiran Shaw makin lebar. Suasana hatinya memang membaik, kian jernih pula pikirannya hingga ia teringat akan tujuan kedatangannya. Bertepatan dengan itu, hanya sesaat sebelum Shaw mengeluarkan kata, Amory melempar tanya.“Jadi, apa yang membawamu kemari? Takkan kau datang untuk panasea atau sekadar berkunjung.”Baru saja Shaw hendak membawa topik itu ke udara. Amory ini seperti pemanah berpengalaman, penembak jitu yang mampu segera meraih inti pembicaraan. Kalau ia ada di meja bundar petinggi Zanwan, pastilah banyak permasalahan segera teratasi.Secara alami, karakteristik Amory mulai terukir pada pusat pemahaman Shaw. Ia makin mengenal Amory, makin tahu orang seperti apa paman Bailey ini.“Tugas. Aku ke sini karena tugas.”Shaw mengatur makanannya, mengambil sedikit-sedikit dari tiap makanan yang ada kecuali lauk berkuah cokelat pekat,

  • Jeruji Tanah Anarki   106. Kemampuan warisan Hunt

    Amory kembali dengan sebuah keranjang bambu kecil. Ia letakkan keranjang itu di nakas, kemudian menyalakan penerangan―lentera. Kala ia berbalik, dilihatnya Shaw yang murung menatap Bailey.“Bailey hanya sedang menyesuaikan diri. Tubuhnya sedang beradaptasi. Dia akan segera pulih,” kata Amory sambil mendekati tempat tidur.Shaw beranjak, memberi tempat duduk kepada Amory.“Beradaptasi dengan apa?”“Kemampuan warisan Hunt.”Sesaat, Shaw tidak bertanya lagi. Ia menatap wajah Bailey, melihat mata Bailey terus meneteskan air. Ia baru mengajukan pertanyaan saat Amory mengolesi obat herbal di kening Bailey.“Berapa lama dia akan seperti itu? Berapa lama waktu adaptasinya?”“Setidaknya dua hari. Bisa lebih lama, tapi tidak sampai sepekan.”“Dua hari itu lama. Apa Bailey sungguh akan baik-baik saja? Apa dia akan makan minum atau kita membantunya makan minum?”Amory tersenyum menanggapi pertanyaan tersebut. Ia menarik tangan dari kening Bailey, sejenak menatap Shaw.“Kau ini sangat khawatir, ya

  • Jeruji Tanah Anarki   105. Tumbang

    “Aku cukup ingat jalannya kalau dari barat,” kata Shaw dengan suara rendah. Ia berpaling tatap ke sungai, lalu meneruskan, “Petunjuk yang aku punya cuma sungai dan tebing dengan air terjun.”“Ya sudah, kita teruskan. Ikuti sungai itu saja.” Tangan basah Bailey menepuk pelan pundak Shaw. “Tak ada waktu berpikir. Pemburu kita sangat banyak.”Shaw tidak enak hati. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Bailey, tetapi ia pun tidak punya ide lain kecuali sesuatu yang barusan hadir di kepalanya.“Sebentar, Bailey.”Shaw mencekal lengan Bailey, menahannya yang hendak berlari. Shaw menarik tangannya setelah Bailey menghadap dirinya dengan sorot tanya. Sesudah itu, kedua tangan Shaw bertemu, tetapi tidak benar-benar menempel telapak tangannya.Semilir angin berembus. Sekejap berselang, Shaw mengarahkan telapak tangannya ke dada Bailey.Bailey keberatan, tetapi matanya spontan memperhatikan penampilan Shaw, lalu ia bergeming―tidak menahan maupun menolak apa yang Shaw lakukan.“Kudengar kau

  • Jeruji Tanah Anarki   30. Dua mata-mata dan botol kecil

    “Aku punya tugas untukmu. Kakek dan nenekmu akan dibawa ke sebuah sel. Aku akan mempertimbangkan lagi jika kau bisa menyelesaikan semua tugas yang kuberikan dan kau, Dorn, ….” Ascal memutuskan, mengalihkan atensi pada sang ketua keamanan dungeon tanpa menunggu jawaban Shaw. “Tugasmu perihal perkara

  • Jeruji Tanah Anarki   20. Pedang berlumur darah

    “Perapian sudah siap!”“Woaaahhhh, Bold hebat! Cepat sekali!”Mata berbinar Mival terarah lurus pada Bold dan perapian di depan prajurit jagur itu. Mival belum pernah membuat api secepat itu, apalagi di malam hari yang udaranya dingin. Meski memakai pemantik pun, Mival belum bisa secepat Bold menyal

  • Jeruji Tanah Anarki   19. Pesan dalam anak panah (3)

    Lampu-lampu ruangan telah menyala, kontras dengan gelap yang terpampang di luar jendela. Baru Bailey sadari kalau hari sudah malam. Ia pergi ke dapur. Pelayan dan koki di sana menengok dengan desir kejut menjalar.“Tu … Tuan Muda, apa yang Anda lakukan di sini? Anda membutuhkan sesuatu?” Itu Dexter

  • Jeruji Tanah Anarki   18. Pesan dalam anak panah (2)

    Laci dibuka, Bailey mengambil pena dan buku catatan berukuran kecil, lantas menuliskan rentetan kejadian yang ia ingat sejak beberapa hari sebelum penyerangan, saat perang, nama-nama yang ia curigai beserta alasannya, orang yang mengusulkan dan mendesak penundaan hukuman mati di rapat, dan laporan-l

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status