تسجيل الدخولArumi menggeser duduknya menjauh dari Damar. Ada rasa tidak nyaman yang menjalari punggungnya, bukan karena Damar jahat, tapi karena kedekatan ini terasa terlalu cepat. Terlalu intens.
“Maaf, Pak Damar. Saya harus ke dalam, lihat Mbak Sumirah.” Damar tersenyum. Senyum yang sama, ramah, hangat, tapi membuat Arumi waspada. “Iya, Mbak. Silakan. Saya tunggu di sini saja.” Arumi menggeleng cepat. “Pak Damar bisa pulang duluan saja. TerimaUsai mengisi air hangat di termos, Arumi berjalan perlahan kembali ke ruang perawatan Elang. Langkahnya masih terasa berat, pikirannya masih tertuju pada Sumirah yang tiba-tiba muncul dan memeluk Elang.Tapi ia berusaha mengesampingkan perasaan itu. Elang butuh istirahat.Di dalam ruangan, Elang masih terbaring dengan mata setengah terpejam. Begitu melihat Arumi masuk, ia tersenyum tipis.“Kalau kamu mau nengok Ibu, nggak apa-apa,” katanya pelan. “Aku tidur dulu.”Arumi akhirnya mengangguk. “Iya, Mas. Saya ke tempat Ibu dulu ya? Kasihan Ibu nunggu saya. Nanti saya ke sini lagi.”Elang mengangguk. “Iya. Cepat ke sini lagi ya.”“Baik, Mas.”Arumi meletakkan termos di meja samping brankar perawatan Elang, lalu melangkah keluar ruangan. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang mulai sepi, menuju ruang perawatan ibunya di ujung lorong. Pikirannya masih kacau, tapi ia berusaha fokus pad
“Arumi, aku demam.” Elang menuntun tangan Arumi untuk menyentuh keningnya yang masih terasa panas. Matanya sayu, suaranya lemah, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya.Arumi merasakan panas dari kulit Elang, dan hatinya langsung cemas. “Obatnya belum bekerja sepertinya, Mas. Saya panggil perawat dulu, ya.” Ia mulai melepaskan tangannya untuk menekan tombol panggil untuk perawat yang terhubung dengan tempat tidur Elang.Namun, Elang dengan cepat menggenggam tangannya lagi, menahannya. “Nggak perlu panggil perawat. Aku cuma mau minta ditemenin sama kamu.”Arumi menatap Elang dengan tatapan campuran antara khawatir dan heran. Elang yang biasanya tegas dan mandiri, kini terlihat seperti anak kecil yang manja.Tapi Arumi tidak kuasa menolak. Ia duduk kembali di samping tempat tidur, menggenggam balik tangan Elang.“Baik, Mas. Saya di sini. Nggak ke mana-mana.”Elang tersenyum puas, lalu memejamkan mata.
Arumi menatap Raka dan Ririn bergantian. Ada rasa penasaran yang menggelitik di hatinya. Ririn, perempuan cantik, ramah, dan tampak dekat dengan Elang.‘Apa dia mantan kekasih Mas Elang, ya? Dan kalau dipikir-pikir, aku memang nggak tahu masa lalu Mas Elang karena dia nggak pernah cerita,’ kataArumi dalam hati.Ia mengamati cara Ririn berbicara, cara ia tersenyum, cara ia menatap Elang. Tapi ia segera menggeleng. ‘Ah, jangan berprasangka buruk. Mas Elang pasti tidak begitu. Kalau Mas Elang mau, Mbak Sumirah ‘kan sudah lama naksir dia.’Arumi tersenyum, mencoba membuang pikiran itu.Di hadapannya, Ririn belum juga beranjak. Ia mendekat ke arah Arumi dengan senyum hangat. “Kenalin, Mbak Arumi. Saya Ririn, temannya Mas Raka. Saya ke sini menemani Mas Raka untuk menjenguk Mas Elang.”Arumi menjabat tangan Ririn dengan hangat. “Salam kenal, Mbak Ririn.”Raka yang berdiri di sisinya menambahkan, “Mbak Arum
“Aku nggak sengaja. Ada truk dari arah berlawanan. Aku banting setir, tapi refleksku nggak cukup cepat,” Elang menerangkan dengan suara lirih.“Sudah, Mas. Jangan banyak bicara dulu. Mas Elang masih harus banyak istirahat.” Arumi menyeka air matanya.Elang tersenyum, lalu memejamkan mata. Kelelahan dan efek obat membuatnya perlahan terlelap. Arumi tetap menggenggam tangannya, tidak mau melepaskan genggaman itu.Perawat mendorong brankar ke ruang rawat inap. Arumi berjaga di sampingnya. Ia menaruh kepalanya di sisi tempat tidur, masih menggenggam tangan Elang, dan perlahan mulai tertidur.Arumi tanpa sadar terlelap sampai fajar mulai menyingsing. Meski ia tidur dengan posisi yang tidak nyaman, tapi tangannya tetap memegang erat jari-jari Elang. Dan di atas tempat tidur, Elang terbangun sejenak, menatap Arumi yang tertidur di sampingnya.“Terima kasih,” bisik Elang. “Kamu selalu ada di sampingku.”Tak
Seorang perawat menahan bahunya. “Mbak, mohon tunggu di sini! Pasien ini baru saja masuk. Kami harus tangani dulu!”“Tapi itu suami saya!” Arumi hampir menangis. “Itu Mas Elang!”Perawat itu menatapnya dengan simpati. “Mbak, kami akan tangani sebaik mungkin. Silakan tunggu di ruang tunggu. Kami akan memberi kabar.”Tandu itu terus didorong ke dalam ruang IGD. Pintu tertutup. Lampu merah di atas pintu mulai menyala.Arumi jatuh terduduk di kursi terdekat. Tangannya gemetar, air mata mengalir deras di pipinya.“Mas Elang …” bisiknya. “Apa yang terjadi sama kamu?”Arumi memegang erat ponselnya. Jari-jarinya sudah lemas, tapi ia tidak bisa melepaskannya. Di hadapannya, lampu merah di atas pintu IGD masih menyala. Ruang tunggu terasa sunyi, hanya terdengar suara mesin pendingin dan langkah perawat yang hilir-mudik.Ia duduk di kursi tunggu, tubuhnya gemetar. Di dalam hatinya, ia terus berdoa
Arumi masih berdiri di koridor dekat apotek, ponsel di tangannya, jari-jarinya terus menekan nomor Elang berulang kali. Layar ponsel menunjukkan panggilan yang tidak terhubung.“Mas Elang kenapa ya? Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi?” bisik Arumi, suaranya mulai bergetar. Matanya menatap layar ponsel, berharap ada panggilan masuk dari Elang.Namun tidak ada.Ia mencoba sekali lagi. “Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Silakan coba beberapa saat lagi …”Arumi menutup matanya, berusaha menenangkan diri. “Tenang, Arumi. Mungkin hanya sinyal. Mas Elang pasti baik-baik saja.”Tapi firasat buruk itu terus menghantuinya.Ia berjalan kembali ke ruang rawat inap dengan langkah berat. Kantong obat masih tergenggam erat di tangannya. Di dalam kamar, Indah masih tertidur pulas. Dewi sedang mengecek infus, dan tersenyum begitu melihat Arumi masuk.“Kamu kenapa?” tanya Dewi, melihat wajah Aru







