Partager

Bab 60

Auteur: Mita Yoo
last update Date de publication: 2026-08-15 20:00:27

Arumi masih berdiri di halaman balai desa, menatap pemandangan di depannya. Elang yang tersenyum dengan perempuan cantik itu, perempuan yang entah siapa, membuat hatinya berdegup tak menentu.

Tapi begitu melihat Arumi, Elang segera menghampiri dengan langkah cepat. Wajahnya berubah cerah, matanya berbinar. Tanpa ragu, ia merangkul bahu Arumi dengan penuh kasih sayang.

“Oh iya, ini istriku Mel, namanya Arumi,” kata Elang dengan bangga.

Perempuan itu te
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 61

    Suasana di warung mie ayam terasa hangat dan akrab. Arumi baru saja menyelesaikan suapan terakhirnya ketika sebuah suara perempuan memecah keheningan di antara dentingan sendok dan suara pengunjung lain.“Mas Elang!”Suara perempuan itu terdengar ceria, bernada tinggi, dan sangat jelas. Elang dan Arumi sontak menoleh ke sumber suara.Seorang perempuan berdiri di ambang warung. Rambutnya panjang sebahu, sedikit bergelombang, dan diwarnai cokelat keemasan. Wajahnya bulat dengan senyum lebar yang menunjukkan deretan gigi putih.Ia mengenakan blus merah muda dan rok panjang motif bunga. Busana yang terlalu modis untuk sekadar mampir di warung pinggir jalan.“Ya ampun…” perempuan itu melangkah mendekat, matanya berbinar. “Ternyata beneran kamu, Mas. Aku hampir nggak percaya.”Elang mengerutkan dahi. Matanya berkedip cepat, seperti sedang berusaha mengingat seseorang yang samar di ingatannya. “Siapa ya?”

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 60

    Arumi masih berdiri di halaman balai desa, menatap pemandangan di depannya. Elang yang tersenyum dengan perempuan cantik itu, perempuan yang entah siapa, membuat hatinya berdegup tak menentu.Tapi begitu melihat Arumi, Elang segera menghampiri dengan langkah cepat. Wajahnya berubah cerah, matanya berbinar. Tanpa ragu, ia merangkul bahu Arumi dengan penuh kasih sayang.“Oh iya, ini istriku Mel, namanya Arumi,” kata Elang dengan bangga.Perempuan itu tersenyum ramah, matanya mengamati Arumi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Senyumnya mengembang, terlihat tulus.“Oh... Ini istrinya Mas Elang. Cantik banget, cocok sama Mas Elang.” Perempuan itu mengulurkan tangannya. “Kenalin, Mbak. Saya Melati. Teman lama, teman Mas Elang dari SMA dulu.”Arumi menerima jabat tangan itu dengan hangat, menyembunyikan kegugupannya. “Saya Arumi, Mbak Melati. Salam kenal.”Melati tertawa kecil, “Mbak Arumi pasti bingung l

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 59

    Pagi itu Arumi bangun lebih awal. Hari itu adalah hari ujian, hari yang ia nantikan sejak pertama kali bergabung dengan bimbingan belajar.Ia mengenakan kemeja sederhana berwarna krem, rambutnya ia ikat rapi dengan karet hitam. Di cermin, ia tampak berbeda dari Arumi yang dulu. Ia lebih percaya diri dan lebih tenang.Elang sudah menunggu di teras dengan motor sport hitamnya. Ia mengenakan kemeja lengan panjang yang sedikit digulung di bagian siku, jaket kulit di bahunya.“Sudah siap?” tanyanya.Arumi mengangguk. “Siap, Mas.”“Yuk aku anter.”Mereka melaju menuju balai desa. Angin pagi berhembus segar, membawa aroma rumput dan tanah basah. Arumi memegang jaket Elang erat, menikmati momen bersama pria itu sebelum ujian.Sesampai di depan balai desa, Elang mematikan mesin motornya. “Kalau sudah selesai ujian, langsung telepon aku. Aku jemput.”Arumi mengangguk. “Baik, Mas.”“Semoga berhasil.” Elang tersenyum tipis, lalu menatap Arumi sebentar. “Aku bangga sama kamu.”Arumi tersenyum leba

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 58

    Esok paginya, Arumi bangun dengan perasaan asing. Perasaan nyaman, hangat, dan sedikit malu. Ia masih berada di kamar Elang, terbungkus selimut yang berbau harum pria itu. Cahaya pagi mulai masuk melalui celah tirai, menerangi sudut-sudut kamar yang sederhana namun rapi.Ia segera bangkit, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu melangkah ke kamar mandi di dalam kamar Elang. Air hangat mengalir membasahi tubuhnya, menghilangkan rasa kantuk dan menggantinya dengan kesegaran. Ia mandi lebih lama dari biasanya, menikmati momen kecil ini.Setelah selesai, Arumi membuka pintu kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya, rambutnya masih basah meneteskan air. Ia baru saja melangkah keluar ketika kemudian pintu kamar terbuka.Elang masuk dengan langkah cepat. Mereka bertemu tepat di depan pintu kamar mandi.Elang terbelalak. Matanya membulat melihat Arumi yang hanya mengenakan handuk, rambut basah tergerai di bahu. Udara di antara mer

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 57

    Elang buru-buru melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya. Wajahnya berusaha tenang, meski ada ketegangan di rahangnya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. “Bukan apa-apa,” katanya dengan nada santai. “Tidak perlu khawatir.” Arumi menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Mas, saya sekilas lihat isinya. Apa itu tentang …” “Arumi.” Elang memotong pelan, matanya menatap Arumi dengan serius. “Aku bilang, tidak perlu khawatir. Aku yang akan urus ini.” Arumi menggigit bibir, ingin membantah, tapi melihat tatapan Elang, ia mengurungkan niatnya. “Baik, Mas.” Untuk mengalihkan perhatian, Arumi bertanya, “Mas sudah ketemu Mbak Sumirah? Tadi saya lihat Mas keluar sebentar untuk menemuinya.” Elang mengangguk. “Sudah. Nggak usah khawatir. Sumirah baik-baik saja.” Arumi menghela napas lega. “Syukurlah.” Namun sebel

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 56

    Usai suasana sedikit tenang, Elang menatap Darsono yang masih duduk di ruang tamu dengan kepala menunduk. Arumi sudah menyiapkan teh hangat, tapi Darsono tidak menyentuhnya. Tangannya masih gemetar.Darsono mengangkat wajah, terkejut. “Mas Elang ...?”“Pak Darsono,” kata Elang pelan, “saya ingin bicara empat mata dengan Bapak. Di halaman belakang.”Darsono mengangkat wajah, sedikit terkejut. Tapi ia hanya mengangguk, lalu berdiri perlahan mengikuti Elang ke luar rumah. Arumi ingin mengikuti, tapi Elang menggeleng halus. “Kamu di sini saja. Jaga Ibu.”Arumi menurut, meskipun hatinya gelisah. Ia berdiri di dekat jendela, mengamati dari kejauhan.Di halaman belakang, di bawah rembulan yang samar, Elang dan Darsono berdiri berhadapan. Elang menyilangkan tangannya, matanya tajam. Darsono menunduk, tidak berani menatap langsung.“Pak Darsono …” Elang memulai dengan suara pelan. “Apa yang membuat Bapak sepe

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status