Share

Bab 46

Penulis: Mita Yoo
last update Tanggal publikasi: 2026-08-10 22:00:02

“Dan kamu ke balai desa tadi?” tanya Elang, berbalik sebentar.

Arumi menunduk. “Saya ambil materi ujian ke Pak Damar, Mas.”

Elang tidak mengatakan apapun dan segera melangkah masuk ke kamarnya.

‘Apa Mas Elang cemburu, ya?’ batin Arumi.

Ia merasakan jantungnya berdebar-debar karena bahagia. Hangat pelukan Elang tadi masih terasa di pinggangnya, dan kata-kata Elang di depan Dokter Galih yang menyebutnya sebagai istri, masih terngiang di te
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 47

    Damar terus menatap ke arah rumah Elang sebelum berbalik arah dan pergi. Langkahnya pelan, seolah enggan meninggalkan tempat itu. Mobil hitamnya melaju perlahan, menghilang di balik tikungan jalan yang gelap. Elang masih berdiri di depan pintu, menatap kepergian Damar dengan mata waspada. Setelah suara mobil benar-benar hilang, ia menutup pintu dan menguncinya. Arumi berdiri di ruang tamu, memperhatikan setiap gerakan Elang. Ada ketegangan di bahu pria iitu. Elang berjalan ke meja, meletakkan buku dan kue bandros yang dibawa Damar di atasnya. Ia menatap benda-benda itu sejenak, seperti menilai apakah ada yang mencurigakan. “Mas Elang kok nggak nyuruh Pak Damar masuk?” tanya Arumi pelan, mencoba mencairkan suasana. Elang menoleh, wajahnya masih serius. “Sudah malam. Nggak baik bertamu ke rumah orang malam-malam.” Arumi hanya mengangguk. Tak membantah. Ia menduga Ela

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 46

    “Dan kamu ke balai desa tadi?” tanya Elang, berbalik sebentar.Arumi menunduk. “Saya ambil materi ujian ke Pak Damar, Mas.”Elang tidak mengatakan apapun dan segera melangkah masuk ke kamarnya.‘Apa Mas Elang cemburu, ya?’ batin Arumi.Ia merasakan jantungnya berdebar-debar karena bahagia. Hangat pelukan Elang tadi masih terasa di pinggangnya, dan kata-kata Elang di depan Dokter Galih yang menyebutnya sebagai istri, masih terngiang di telinganya.Namun kemudian ia menggeleng dan menepuk wajahnya pelan“Jangan lupa posisi kamu di rumah ini, Arumi. Kamu cuma pembantu di sini. Nggak pantes berharap lebih.”Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan itu. “Mas Elang hanya melindungiku. Dia ingin seseorang yang bisa membantunya di rumah. Dia butuh pembantu, makanya bayarin hutang Bapak. Bukan karena dia sayang kamu, Arumi.”Arumi menguatkan hatinya. Ia meraih sapu d

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 45

    Sebuah motor sport hitam melesat masuk ke halaman rumah, melewati gerbang yang setengah terbuka, dan berhenti tepat di samping mobil Galih. Mesinnya dimatikan dengan cepat.Saat pengendara motor itu membuka helm, Arumi menghela napas lega. Rambutnya sedikit berantakan, keringat membasahi pelipisnya, jaketnya terkibas angin.Matanya yang tajam dan waspada langsung tertuju pada Galih. Lalu beralih ke Arumi.“Arumi,” panggilnya dengan suara tenang. “Kamu kenapa di sini? Dan ini siapa?”Arumi membuka mulut, tapi lagi-lagi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ia menatap Elang, lalu menatap Galih yang tersenyum tipis dengan sikap santai.Galih melangkah maju, mengulurkan tangannya pada Elang. “Anda pasti Pak Elang.”Elang menatap tangan Galih sebentar, lalu menjabatnya singkat. “Ya. Ada keperluan apa?”“Sebelumnya perkenalkan, Pak Elang. Saya Dokter Galih. Saya membawa surat keputusan dari puskesmas kabupaten untuk program kesehatan desa Lingga.”“Program kesehatan? Saya tidak tahu ada p

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 44

    Arumi berjalan cepat meninggalkan balai desa. Langkahnya terburu-buru, hampir berlari. Kertas-kertas materi ujian masih tergenggam erat di tangannya, tapi pikirannya kacau. Kata-kata Damar masih terngiang di telinganya.“Aku tertarik padamu.”Arumi menggigit bibir. “Aku tidak boleh memikirkan pria itu,” gumamnya pada diri sendiri. “Mas Elang sudah baik sama aku, mengizinkan aku sekolah. Aku tidak boleh mengkhianati kepercayaan Mas Elang.”Ia menggeleng, mencoba membuang pikiran itu.Namun saat ia hampir mencapai ujung jalan, sebuah mobil hitam melintas perlahan di sampingnya. Mesinnya menderu pelan, mengikuti langkah Arumi dengan kecepatan yang sama. Arumi menoleh sekilas, penasaran, tapi ia terus berjalan.Mobil itu tidak mempercepat. Tidak memperlambat. Hanya mengiringi langkah Arumi dengan jarak yang sama.Arumi merasakan bulu kuduknya meremang. “Kenapa mobil ini mengikuti aku?” bisiknya.Ia mencoba berjalan lebih cepat. Tapi mobil itu tetap mengikuti, seperti bayangan yang tidak m

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 43

    Pagi itu, Arumi bangun lebih awal. Ia keluar dari kamar dan melihat Salju sudah tidur dengan tenang di kandangnya.Ia menghela napas lega, lalu berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Arumi baru saja menaruh sayuran di atas talenan ketika ponsel lamanya bergetar. Ia mengusap tangan di apron, lalu meraih ponsel itu. Dua pesan masuk, dari Damar.[Mbak Arumi, ada materi yang harus saya sampaikan untuk ujian. Mbak bisa datang ke balai desa, ya.][Saya tunggu jam sepuluh. Tolong datang.]Arumi menggigit bibir. Ia menatap layar ponsel, membaca ulang pesan itu. Materi ujian.Tapi mengapa Damar memintanya datang ke balai desa? Mengapa tidak menunggu jadwal kelas berikutnya?Ia menaruh ponsel lamanya itu di atas meja dapur, lalu kembali memasak. Tangannya memotong sayuran, tapi pikirannya tidak tenang. Damar selalu muncul dengan alasan yang masuk akal, dan sulit ditolaknya.“Ar

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 42

    Pick-up hitam berhenti pelan di halaman rumah. Arumi turun dengan hati-hati, Salju masih nyaman di gendongannya. Anjing putih kecil itu mendengkur pelan, menikmati hangatnya pelukan Arumi.“Kita sudah sampai, Salju,” bisik Arumi sambil mengelus kepalanya. “Ini rumah barumu.”Namun, begitu kaki Arumi menginjak tanah, Oren melesat keluar dari pintu rumah. Mata kucing itu membulat melihat makhluk berbulu putih di tangan tuannya. Dalam sekejap, Salju melompat turun dari gendongan Arumi dan berdiri dengan kaki-kaki mungilnya.Guk! Guk! Guk!Salju menggonggong dengan suara kecil tapi nyaring ke arah Oren. Oren mendesis, bulunya berdiri, punggungnya melengkung seperti busur.“Salju, diam!” Arumi mencoba menenangkan. Tapi Salju terus menggonggong, ekornya tegak, matanya menatap Oren dengan waspada. Oren tidak mau kalah, ia mendesis lebih keras, kukunya terulur siap mencakar.“Sudah, sudah!” Arumi memegang ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status