LOGINArumi mengepalkan tangannya, menahan emosi. “Maaf, Pak Damar. Saya …”
“Saya tidak meminta Mbak Arumi untuk meninggalkan Mas Elang sekarang.” Damar mengulurkan kotak itu, memaksa Arumi menerimanya. “Tapi saya ingin Mbak tahu, ada pilihan lain di luar sana. Saya bisa memberikan Mbak Arumi kehidupan yang lebih baik. Lebih aman dari apa yang Mas Elang berikan selama ini.”Arumi menatap kalung itu, lalu menatap Damar. Pria di hadapannya tampak tulus.MatanArumi mengepalkan tangannya, menahan emosi. “Maaf, Pak Damar. Saya …”“Saya tidak meminta Mbak Arumi untuk meninggalkan Mas Elang sekarang.” Damar mengulurkan kotak itu, memaksa Arumi menerimanya. “Tapi saya ingin Mbak tahu, ada pilihan lain di luar sana. Saya bisa memberikan Mbak Arumi kehidupan yang lebih baik. Lebih aman dari apa yang Mas Elang berikan selama ini.”Arumi menatap kalung itu, lalu menatap Damar. Pria di hadapannya tampak tulus.Matanya lembut, senyumnya hangat. Tapi ada sesuatu di balik semua itu yang membuat Arumi tidak nyaman.“Maaf, Pak Damar,” kata Arumi pelan, lalu mendorong kotak itu dengan perlahan ke arah Damar.“Saya tidak bisa menerima ini. Saya sudah menikah dengan Mas Elang. Dan saya …” Arumi menjeda sesaat sebelum melanjutkan, “saya mencintainya.”Damar terdiam. Senyumnya sedikit memudar, tapi ia tetap menatap Arumi. “Mbak yakin?”Arumi mengangguk. “Saya y
Arumi melangkah cepat menyusuri jalan desa menuju balai desa. Udara pagi masih sejuk, burung-burung berkicau di pepohonan. Oren ia tinggal di rumah bersama Salju, dan ia berharap semoga mereka tidak bertengkar lagi.Tiba-tiba, sebuah mobil hitam melambat di sampingnya. Kaca jendela menurun, memperlihatkan wajah Damar yang tersenyum ramah.“Mbak Arumi, mari, bareng sama saya. Saya juga ke balai desa,” pria itu menawarkan.Arumi menggeleng cepat. “Tidak usah, Pak Damar. Saya jalan kaki saja. Sambil menikmati udara pagi yang masih segar.”Ia mempercepat langkah, berusaha meninggalkan mobil itu. Tapi Damar tidak menyerah. Mobilnya terus berjalan pelan di samping Arumi.Bahkan tanpa diduga, Damar memarkir mobilnya di pinggir jalan dan turun. Ia menghalangi jalan Arumi dengan tubuhnya.“Jangan, Mbak. Biar sama saya saja. Nanti Mbak Arumi capek.” Suaranya lembut, tapi ada nada memaksa yang membuat Arumi tid
Damar terus menatap ke arah rumah Elang sebelum berbalik arah dan pergi. Langkahnya pelan, seolah enggan meninggalkan tempat itu. Mobil hitamnya melaju perlahan, menghilang di balik tikungan jalan yang gelap. Elang masih berdiri di depan pintu, menatap kepergian Damar dengan mata waspada. Setelah suara mobil benar-benar hilang, ia menutup pintu dan menguncinya. Arumi berdiri di ruang tamu, memperhatikan setiap gerakan Elang. Ada ketegangan di bahu pria iitu. Elang berjalan ke meja, meletakkan buku dan kue bandros yang dibawa Damar di atasnya. Ia menatap benda-benda itu sejenak, seperti menilai apakah ada yang mencurigakan. “Mas Elang kok nggak nyuruh Pak Damar masuk?” tanya Arumi pelan, mencoba mencairkan suasana. Elang menoleh, wajahnya masih serius. “Sudah malam. Nggak baik bertamu ke rumah orang malam-malam.” Arumi hanya mengangguk. Tak membantah. Ia menduga Ela
“Dan kamu ke balai desa tadi?” tanya Elang, berbalik sebentar.Arumi menunduk. “Saya ambil materi ujian ke Pak Damar, Mas.”Elang tidak mengatakan apapun dan segera melangkah masuk ke kamarnya.‘Apa Mas Elang cemburu, ya?’ batin Arumi.Ia merasakan jantungnya berdebar-debar karena bahagia. Hangat pelukan Elang tadi masih terasa di pinggangnya, dan kata-kata Elang di depan Dokter Galih yang menyebutnya sebagai istri, masih terngiang di telinganya.Namun kemudian ia menggeleng dan menepuk wajahnya pelan“Jangan lupa posisi kamu di rumah ini, Arumi. Kamu cuma pembantu di sini. Nggak pantes berharap lebih.”Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengusir perasaan itu. “Mas Elang hanya melindungiku. Dia ingin seseorang yang bisa membantunya di rumah. Dia butuh pembantu, makanya bayarin hutang Bapak. Bukan karena dia sayang kamu, Arumi.”Arumi menguatkan hatinya. Ia meraih sapu d
Sebuah motor sport hitam melesat masuk ke halaman rumah, melewati gerbang yang setengah terbuka, dan berhenti tepat di samping mobil Galih. Mesinnya dimatikan dengan cepat.Saat pengendara motor itu membuka helm, Arumi menghela napas lega. Rambutnya sedikit berantakan, keringat membasahi pelipisnya, jaketnya terkibas angin.Matanya yang tajam dan waspada langsung tertuju pada Galih. Lalu beralih ke Arumi.“Arumi,” panggilnya dengan suara tenang. “Kamu kenapa di sini? Dan ini siapa?”Arumi membuka mulut, tapi lagi-lagi kata-katanya tersangkut di tenggorokan. Ia menatap Elang, lalu menatap Galih yang tersenyum tipis dengan sikap santai.Galih melangkah maju, mengulurkan tangannya pada Elang. “Anda pasti Pak Elang.”Elang menatap tangan Galih sebentar, lalu menjabatnya singkat. “Ya. Ada keperluan apa?”“Sebelumnya perkenalkan, Pak Elang. Saya Dokter Galih. Saya membawa surat keputusan dari puskesmas kabupaten untuk program kesehatan desa Lingga.”“Program kesehatan? Saya tidak tahu ada p
Arumi berjalan cepat meninggalkan balai desa. Langkahnya terburu-buru, hampir berlari. Kertas-kertas materi ujian masih tergenggam erat di tangannya, tapi pikirannya kacau. Kata-kata Damar masih terngiang di telinganya.“Aku tertarik padamu.”Arumi menggigit bibir. “Aku tidak boleh memikirkan pria itu,” gumamnya pada diri sendiri. “Mas Elang sudah baik sama aku, mengizinkan aku sekolah. Aku tidak boleh mengkhianati kepercayaan Mas Elang.”Ia menggeleng, mencoba membuang pikiran itu.Namun saat ia hampir mencapai ujung jalan, sebuah mobil hitam melintas perlahan di sampingnya. Mesinnya menderu pelan, mengikuti langkah Arumi dengan kecepatan yang sama. Arumi menoleh sekilas, penasaran, tapi ia terus berjalan.Mobil itu tidak mempercepat. Tidak memperlambat. Hanya mengiringi langkah Arumi dengan jarak yang sama.Arumi merasakan bulu kuduknya meremang. “Kenapa mobil ini mengikuti aku?” bisiknya.Ia mencoba berjalan lebih cepat. Tapi mobil itu tetap mengikuti, seperti bayangan yang tidak m







