Home / Romansa / Jurang Cinta Tuan Muda / 2. Keputusan Melepaskannya

Share

2. Keputusan Melepaskannya

Author: Farasyaa
last update Last Updated: 2026-01-12 14:26:46

Bella sudah bersiap dan tengah menunggu Archer untuk menjemputnya, karena mereka akan berkuda hari ini.

Selama seminggu penuh, Bella hanya berdiam diri di kediamannya, sejak pulang dari jamuan makan di keluarga Smith. Bahkan, kakeknya sangatlah heran atas perubahannya yang sungguh berbeda dari sebelumnya.

Bella yang aktif, biasanya akan berusaha mengikuti semua kegiatan Damian jika berada di luar. Tapi sejak senyuman itu telah diberikan pada orang lain, Bella yang merenung tentu saja berusaha menyadarkan diri berulang kali.

"Apa ini kakek? Kenapa selalu saja melakukan hal yang akan mempersingkat umurmu?" Bella berdecak sambil mengerucutkan bibirnya, melihat Frederic Johnson menikmati cerutunya di halaman samping dan juga mengecek senjata buatannya. "Kakek sungguh ingin meninggalkan ku sendirian? Apa kakek sudah tega membiarkanku hidup tanpa bergantung pada siapapun lagi?"

Frederic tentu merasa sakit mendengarkan setiap ucapan Bella, namun ia hanya bisa menghela napasnya. Bagaimana bisa dirinya berpikiran begitu menyangkut kehidupan cucunya, Bella terlalu asal dalam mengucapkan sesuatu.

"Mana bisa aku melakukannya," Frederic pun segera mematikan cerutunya padahal baru dinikmati tiga kali hisapan. "Rasa tembakau didalamnya tidak mungkin membuatku tertekan hingga mati dengan cepat."

Bella hanya bersidekap, bahkan raut wajahnya nampak berubah sendu bercampur marah. Lagi-lagi helaan napas Frederic pun terdengar samar, ia cukup tahu bagaimana perasaan cucu kesayangannya itu.

Bertahun-tahun Bella hanya memilikinya sebagai sandaran hidup, tapi beberapa bulan ini kesehatannya memang mulai menurun. Frederic tahu, Bella-nya trauma untuk di tinggalkan oleh orang yang disayanginya selama ini.

Mengamati penampilan Bella yang rapi, kening Frederic sempat mengerut halus. Dirinya seolah kembali melihat sikap riang cucunya, yang sebelumnya hanya mengurung diri tanpa mau membicarakan apapun.

"Ingin pergi kemana? Lalu dengan siapa?" tanya Frederic beruntun mengalihkan rasa marah Bella.

"Archer minggu lalu mengajakku berkuda. Dan hari ini adalah waktunya." Bella mengambil tempat duduk tepat dihadapan Frederic. "Kakek pasti bertanya-tanya bukan? Kenapa aku diam dirumah saja selama sepekan ini?"

Frederic pun seketika tersenyum, dia cukuplah paham perasaan cucu perempuannya. "Kamu ingin apa kali ini, Bellarose? Kakek akan mengabulkannya untukmu selagi itu menyangkut soal kebahagiaanmu."

"Aku tidak akan menikah dengan Damian. Jadi bisakah kakek mengatakan ini pada Tuan Besar Smith?"

"Bella..."

Frederic tentu terkejut, karena selama ini Bella sangatlah ingin bersanding dengan putra keluarga Smith—Damian yang tampan, cerdas serta memiliki pengaruh kuat. Melihat manik Bella yang mengatakan kebenaran, Frederic untuk sementara waktu tidak akan menanyakan alasannya. Ia tentu mengiyakan keinginan Bella yang langsung tersenyum cerah padanya, meski terlihat ada sesuatu yang membelenggu.

"Apa kakek kecewa karena tidak jadi berbesan dengan keluarga Smith?" tanya Bella dengan hati-hati. "Tapi, bukankah sebuah pernikahan harus dilandasi dengan cinta? Aku hanya ingin menikahi pria yang benar-benar menginginkan ku dalam hidupnya. Cinta yang abadi, aku menginginkannya kakek."

Tawa kecil Frederic keluar, ia menggenggam tangan Bella. "Hm, apa ini? Cucu ku sudah semakin dewasa?"

"Kakek..."

"Lakukan apapun yang menjadi kebahagiaanmu, Bella. Pria tua ini tidak akan memaksamu mengambil tindakan yang sulit untuk dilewati."

Keduanya pun tertawa bersama meski kegundahan didalam hati tak bisa diungkapkan. Kebersamaan ini berakhir, ketika panggilan Archer menyentak keduanya.

Sepupu Damian itu datang untuk membawa Bella ke area pacuan—tempat dimana mereka akan berkuda bersama. Archer menyapa Frederic, dan meminta ijin membawa Bella pergi lalu memulangkannya sebelum malam.

"Bermainlah. Nikmati waktu yang ada sebelum menjalani kesibukan," ucap Frederic sambil terkekeh. "Jaga dia dengan baik, Arc. Aku mempercayakannya padamu kali ini. Jika Bella ku terluka, aku akan menghajarmu."

"Tenang saja, kakek. Aku pastikan cucu perempuanmu ini kembali dengan keadaan sama, tanpa luka selain rasa lelah."

"Ck, selalu bicara sembarangan," Bella pun berdecak dan memukul bahu Archer meski tak terasa sakit. "Sudahlah, ayo pergi."

Meninggalkan mansion Johnson, keduanya langsung menuju ke arena pacuan. Archer mengendarai mobil dikecepatan yang wajar, sambil sesekali menggoda pada Bella.

Dia merasa jika Bella memang sedikit mengalami perubahan besar, karena sejak tadi tidak membahas sepupunya—Damian Smith. Padahal ia sangat tahu jika Bella akan membicarakan Damian dimanapun keberadaannya. Semua informasi selalu saja Bella dapat, namun hari ini hal itu tak dirinya dengar lagi.

"Bella," panggilannya membuat Bella menoleh. "Hari ini aku dengar..."

Kedua alis Bella hampir saling menaut menunggu kalimat Archer yang selanjutnya. Fokusnya tetap satu arah, ia mengenyahkan pemandangan jalanan yang terisi akan keramaian.

"Apa? Bicara yang benar Arc. Katakan saja, aku akan mendengarkan."

"Hari ini Damian akan berkunjung kesana juga. Tapi aku belum tahu pasti jam berapa dia tiba."

Bella sempat terdiam, sebelum ia bergumam dan kembali mengarahkan tatapannya keluar. Archer tidak melihat wajah antusias yang tergambar dalam diri Bella lagi, dan itu semakin menumbuhkan rasa penasarannya. Bahkan sampai mereka tiba di arena, Bella tidak membahas persoalan tentang Damian lebih lanjut lagi.

Tapi waktu sudah berada di dalam, panggilan dari seseorang menghentikan langkah Bella dan Archer. Wanita yang Bella ketahui sebagai putri keluarga berpengaruh—Erna Rivera. Dan disamping wanita itu juga ada pria yang mulai Bella hindari—Damian Smith.

"Hai, Arc. Kamu juga ingin berkuda ya? Kami baru sampai."

Erna mencoba menyapa hangat, dan disahuti Archer dengan seadanya. Bella diam, dia sama sekali tak terfokus pada Damian seperti biasanya, dan malah mengajak Archer untuk pergi berganti pakaian.

"Kami duluan," ucap Archer merangkul bahu Bella dan melenggang pergi.

Damian nampak biasa, namun sorot matanya menunjukkan hal berbeda atas kedekatan Bella dan Archer. Ia pun turut menyusul untuk berganti pakaian, sebelum turun ke area pacuan dengan kuda kesayangannya.

Erna pun mengekor dibelakang Damian, meski langkahnya mencoba mengimbangi. Tapi jarak lebar kaki Damian, membuat ia malah merasa kelelahan. Sebenarnya ia tiba-tiba kepikiran soal tingkah Bella terhadap Damian.

Gosip itu, tentu saja Erna sangatlah tahu. Tapi hari ini, seolah Bella membantah kabar miring itu.

Hanya berempat, mereka pun menunggangi kuda masing-masing. Bella dibantu Archer ketika ingin naik, sebelum ia bertanding. Tantangan minggu lalu masihlah di ingat dengan jelas oleh Bella, jika ia bisa mengalahkan Archer.

"Arc, kamu sudah menyiapkan hadiahnya kan?" tanya Bella sambil memberikan sebuah ejekan pada pria itu. "Aku akan memenangkan pertandingan ini, Arc."

"Kamu terlalu percaya diri, Nona Johnson. Aku pasti akan membuatmu merasakan kekalahan."

"Baiklah, berapa putaran Arc? Ku harap kamu tak menyuruh berputar satu kali."

"Bella," decakan Archer malah semakin membuat Bella tertawa. "Lima putaran. Dan lihat bagaimana kamu akan menangis atas kekalahan ini."

"Arc, itu tidak mungkin. Ayo tunjukkan siapa pemenangnya."

Bella dan Archer mulai menarik tali pengikat, kuda keduanya sudah berjalan ke arena pacuan. Satu orang yang bertugas di kandang, kini menjadi wasit untuk keduanya. Baik Bella maupun Archer sudah siap, dan kini bergerak setelah wasit meniupkan peluit.

Walau perempuan, keahlian Bella dalam menunggangi kuda kesayangannya sangatlah lihai. Ini sudah dilakukannya sejak ia masih berusia remaja, karena terus mengikuti kakeknya.

Apa yang dilakukan mereka, tentu menjadi pengamatan Damian dan Erna karena tengah menunggu sesi berikutnya. Bella terlihat memimpin di depan, dan Archer ada dibelakang untuk terus berusaha mendekat.

"Kita harus menang, karena menguras uangnya sangatlah menyenangkan," kata Bella pada kudanya dan semakin memacu kecepatan.

"Hei, Bella. Tunggu," teriak Archer karena Bella semakin jauh melaju. "Ck, dia wanita yang gila uang."

Sesuai perkataan di awal, Bella berhasil menang dalam pertaruhan ini. Ia semakin mengejek Archer, tanpa tahu sepasang mata tajam bisa saja menembusnya hingga merasakan sakit. Archer menghela berulang kali, tak menyangka bila Bella semakin ahli dan sulit dikalahkan.

Keduanya pun kembali bersantai saat memutari area pacuan, dan terlihat Damian juga Erna turut melakukan hal sama. Dua orang itu kini telah bersisihan di antara Bella dan Archer yang menikmati sisa rasa lelah.

"Wah... Archer, tadi adalah pertunjukan yang bagus. Tapi sayangnya kamu kalah."

"Dia sulit, entah apa yang diucapkannya pada kuda hitamnya itu," terang Archer pada Erna.

"Tentu aku menawarkan perawatan terbaik untuknya," sahut Bella semakin membuat raut wajah Archer malas mendengarnya. "Aroma uang yang... sangat harum."

"Dasar wanita gila," kesal Archer tapi Bella hanya mengangkat bahunya dan menjulurkan lidah untuk mengejeknya lagi. "Awas saja kamu, Bellarose."

Damian dan Erna tak saling bicara, padahal keduanya datang atas permintaan para orang tua agar lebih dekat. Damian adalah sosok yang cukup sulit untuk dikendalikan selama ini, jadi Erna harus berusaha keras.

Merasa sudah cukup, Bella pun berhenti disusul tiga orang dibelakangnya. Letak kandang kuda miliknya dan Damian memang bersisihan, berbeda dengan milik Archer dan Erna yang ada di sisi kiri, berjarak beberapa meter.

Bella yang memang diam sejak tadi tanpa menyapa Damian seperti biasanya, entah kenapa terasa aneh. Bella pun bergegas setelah mengikatkan tali pada tiang yang seharusnya, lalu menyusul Archer. Sikapnya, perlakuannya, tak luput dari tatapan Damian yang juga mengarah pada Archer.

"Ayo kita kembali. Aku harus mengerjakan sesuatu hari ini," terang Bella diangguki Archer.

Archer berbalik badan untuk berhadapan dengan Damian dan Erna, menutupi posisi Bella yang ada dibelakangnya. "Kami kembali dulu."

Dia bersikap acuh. Tanpa bermanja ataupun berbicara panjang lebar. Bahkan melingkarkan tangannya untuk membelit lengan itu.

Bella sama sekali tidak memperhatikan Damian yang kini mengeraskan rahangnya. Dia malah menggoyangkan lengan Archer agar cepat-cepat pergi tanpa bicara banyak.

"Ingin makan?" tawar Archer langsung diangguki Bella.

"Bagaimana kalau kita makan bersama?" sahut Erna dengan mengamati ketiganya. "Kita jarang sekali melakukannya bukan?"

Archer tampak melirik pada Bella yang berusaha menunjukkan penolakan. Tapi kata Damian yang ingin membahas sesuatu, membuat Archer menyetujui.

"Tidak apa-apa kan? Ku pastikan tidak akan memulangkanmu larut malam," bisik Archer membuat posisi keduanya sangatlah dekat hampir tak berjarak. "Bella..."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jurang Cinta Tuan Muda   4. Direnggut Paksa

    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika apa yang Bella lakukan malah menyulut sebuah emosi. Dimana kemarahan Damian begitu menakutkan, membuat ia ingin memejamkan mata erat lalu menutup kedua telinganya agar tidak lagi mendengar kata-kata bernada dingin serta menusuk. Namun Bella bisa apa saat suara tegas itu memerintah seolah tidak ingin dibantah sama sekali. Namun ketekatan sebelumnya terus menguasai pikiran Bella, menyuruh untuk tetap berpegang teguh pada keputusan. Dia tidak boleh menjadi yang kedua, dan juga tidak ingin mendapatkan sebuah tuduhan kasar sebagai perebut. Bella sungguh melepaskan Damian untuk wanita lain, karena ia sudah lelah berharap. "Lepaskan tanganku, Damian." Untuk kali pertama Bella mampu menunjukkan taring pada pria yang ingin sekali ia berikan kepolosannya juga kepatuhannya sebagai wanita. "Aku tidak mau ada kabar miring yang membuat keluarga Johnson terlibat dalam skandal bahkan didesak oleh sesuatu." "Bella, kamu sadar atas ucapanmu kali ini? Mengus

  • Jurang Cinta Tuan Muda   3. Tidak Menginginkan

    Pandangan Bella tak pernah mengarah pada Damian lagi, meski pria itu nampak menanggapi sesekali ucapan Erna. Fokusnya hanya tertuju ke arah makananan di hadapannya dan mencoba sesegera mungkin menghabiskannya dengan cepat. Ini adalah bentuk dari keputusan yang sudah Bella ambil, dan ia menyukainya karena beban itu terasa menghilang begitu saja. Tidak ada apapun dalam dirinya untuk Damian, setelah bertarung dengan pikirannya selama seminggu penuh, mengurung diri di dalam kamar. "Pelan-pelan, tidak ada yang berebut denganmu Bella," goda Archer sambil menyubit pipi sebelah kiri Bella. "Sangat lezat ya makanan milikmu?" Wajah Bella langsung mendengus kesal. "Jangan mengganggu, Arch. Kita harus cepat, karena kakek sudah menunggu." Bella sungguh tak peduli, dan menjadi dirinya sendiri hingga menghilangkan cara makan dengan penuh keeleganan. Baginya tak perlu menampilkan kesopanan itu lagi sejak ia memutuskan untuk tidak masuk kedalam keluarga Smith. Kedekatan antara Bella dan Ar

  • Jurang Cinta Tuan Muda   2. Keputusan Melepaskannya

    Bella sudah bersiap dan tengah menunggu Archer untuk menjemputnya, karena mereka akan berkuda hari ini. Selama seminggu penuh, Bella hanya berdiam diri di kediamannya, sejak pulang dari jamuan makan di keluarga Smith. Bahkan, kakeknya sangatlah heran atas perubahannya yang sungguh berbeda dari sebelumnya. Bella yang aktif, biasanya akan berusaha mengikuti semua kegiatan Damian jika berada di luar. Tapi sejak senyuman itu telah diberikan pada orang lain, Bella yang merenung tentu saja berusaha menyadarkan diri berulang kali. "Apa ini kakek? Kenapa selalu saja melakukan hal yang akan mempersingkat umurmu?" Bella berdecak sambil mengerucutkan bibirnya, melihat Frederic Johnson menikmati cerutunya di halaman samping dan juga mengecek senjata buatannya. "Kakek sungguh ingin meninggalkan ku sendirian? Apa kakek sudah tega membiarkanku hidup tanpa bergantung pada siapapun lagi?" Frederic tentu merasa sakit mendengarkan setiap ucapan Bella, namun ia hanya bisa menghela napasnya. Baga

  • Jurang Cinta Tuan Muda   1. Tetap Diacuhkan

    "Damian," panggilnya dengan wajah ceria. Ditangannya ada sebuah barang yang harus diberikan pada pria itu. "Selamat datang kembali. Ini hadiah kecil untukmu." Bellarose Johnson mengulurkan tangannya. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan acuh dari seorang pria bernama Damian Smith. Walau jarak umur tidak terlalu jauh-hanya sekitar 6 tahun saja, tapi Bella sudah cukup lama mengganggu hidup Damian, sejak keduanya bertemu 14 tahun lalu. Rambut keemasan yang sedikit bergelombang bergerak ketika angin menerpa, wajahnya sungguh bersinar dibawah sinaran mentari. Tapi Damian tetap tak peduli padanya, dan malah melenggang pergi meninggalkannya. "Damian," panggil Bella lagi kembali sambil mengikuti langkah pria itu. Bahkan dengan beraninya, ia mengalungkan tangannya pada lengan Damian agar langkah mereka sejajar. "Aku dengar kamu akan membuat pesta. Benarkah itu? Berapa banyak teman yang akan kamu undang?" Hanyalah sebuah keheningan yang Bella dapatkan dari pria dingin seperti Damian. Namun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status