Home / Romansa / Jurang Cinta Tuan Muda / 4. Direnggut Paksa

Share

4. Direnggut Paksa

Author: Farasyaa
last update Last Updated: 2026-01-12 14:27:55

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika apa yang Bella lakukan malah menyulut sebuah emosi. Dimana kemarahan Damian begitu menakutkan, membuat ia ingin memejamkan mata erat lalu menutup kedua telinganya agar tidak lagi mendengar kata-kata bernada dingin serta menusuk. Namun Bella bisa apa saat suara tegas itu memerintah seolah tidak ingin dibantah sama sekali.

Namun ketekatan sebelumnya terus menguasai pikiran Bella, menyuruh untuk tetap berpegang teguh pada keputusan. Dia tidak boleh menjadi yang kedua, dan juga tidak ingin mendapatkan sebuah tuduhan kasar sebagai perebut. Bella sungguh melepaskan Damian untuk wanita lain, karena ia sudah lelah berharap.

"Lepaskan tanganku, Damian." Untuk kali pertama Bella mampu menunjukkan taring pada pria yang ingin sekali ia berikan kepolosannya juga kepatuhannya sebagai wanita. "Aku tidak mau ada kabar miring yang membuat keluarga Johnson terlibat dalam skandal bahkan didesak oleh sesuatu."

"Bella, kamu sadar atas ucapanmu kali ini? Mengusikku selama bertahun-tahun lalu sekarang bersikap sebagai korban? Kelinci keluarga Johnson rupanya memang sangatlah licik," ucapannya mungkin terdengar sarkas, tapi Bella tidak mengambil hati. Karena apa yang diucapkannya memang benar dan nyata tanpa tuduhan palsu.

Mengumpulkan seluruh tenaganya, Bella berhasil mendorong tubuh Damian dari atasnya dan ia kini terbebas dari kungkungan yang mungkin saja tadi akan membawanya dalam kenangan manis juga buruk.

"Sudah aku bilang, bahwa aku tidak ingin ada kabar buruk yang menimpa keluarga Johnson. Benar, aku memang bersalah mengusik kehidupanmu selama ini. Dan aku meminta maaf akan hal itu. Aku berjanji, tidak akan melakukannya lagi, Tuan Smith."

"Maaf?" Damian tertawa dengan dingin dan meremas rahang Bella sampai meringis. "Itu tidak cukup, Bellarose! Sangat tidak cukup!"

Damian kembali bersikap kasar dengan meraup rakus bibir Bella, meski ada pemberontakan dengan memukul dadanya berulang kali. Direbahkan kembali ke ranjang, kali ini Damian sungguh tak seperti biasanya, ia benar-benar diselimuti sebuah kemarahan. Kabut gairah pun menguasai Damian, padahal ia hanyalah meminum beberapa teguk wine saja.

Yang menginginkannya, tadi dengan berani berucap tak pernah lagi memandangnya bahkan terang-terangan menunjukkan kedekatan bersama pria lain. Meski Damian tahu, jika Bella dan Archer sudah berteman sejak lama.

Srek!

Robekan paksa yang dilakukan Damian pada pakaian Bella kini menunjukkan bagian atas dari tubuh berkulit putih itu. Bukan hanya mendiamkannya, Damian menandainya hingga meninggalkan jejak merah. Suara rontaan Bella tetap tak didengarnya, dan ini seperti akan memuaskan nafsunya.

"Damian, hentikan!" teriak Bella. Namun ia bisa apa saat bagian kewanitaannya malah diusap kasar. "Hentikan. Ku mohon!"

"Bukankah ini yang kamu inginkan? Akan aku kabulkan semua bayangan yang pernah terlintas dalam pikiranmu, Bella. Kamu mendapatkanku!" bisik Damian dengan geraman rendah bersama gigitan yang ia lakukan pada telinga Bella. "Kamu menang."

"Aahhh...berhenti! Cukup Damian Smith!"

Bella sungguh tidak bisa melewatkan malam ini dengan baik, karena kehancuran hidupnya telah tercipta. Damian memberikan jejak yang akan dirinya ingat seumur hidup. Kulitnya kini terisi akan noda samar berwarna merah dari hasil perbuatan Damian.

Pecah berkeping-keping harga diri Bella, ketika yang dijaganya direnggut penuh pemaksaan. Bukan menyerahkan diri, melainkan ini keinginan Damian yang entah akan bagaimana selanjutnya, Bella sungguh tidak tahu lagi.

Rasa sakit ditubuh kini dirasakan Bella, ketika Damian sungguh menyentuhnya, hingga yang bersamanya kini hanyalah tetesan air mata yang mengalir melalui sudut. Damian seolah tak peduli memperlakukannya begitu buruk, apalagi setelah ini Bella akan menghadapi kenyataan yang menyeret nama keluarga Johnson.

Perihnya bisa Bella rasakan, namun pria diatasnya tak berhenti kecuali menikmati rasa yang disuguhkan.

Bella hancur ditangan Damian. Dan kemungkinan akan meninggalkan sebuah kebencian yang sangat dalam.

Cukup lama Damian melakukannya, diiringi deru napas begitu memburu dan sesekali kembali memagut bibir Bella yang sudah ia buat begitu bengkak. Dalam puncaknya, Damian menggeram rendah di ceruk leher Bella lalu menghentak kuat juga dalam.

Bella memekik dan rasa nyeri diperutnya semakin menjadi saja sampai ia sedikit bergerak menghindari. Namun Damian yang erat mendekapnya, tak mampu Bella tolak dan kehangatan mulai dirasakan dalam tubuhnya. Kecupan berulang Damian berikan di pipi Bella, dengan dalih untuk mengalihkan perasaan tak nyaman di bawah sana.

"Bella..." bisik Damian rendah namun tak mendapat sahutan ketika mata wanita dibawahnya mulai memejam karena lelah. Entah menangis, atau hal lainnya.

Begitu banyak tanda yang Damian tinggalkan pada tubuh Bella, dan ini pasti akan berusaha untuk ditutupi saat terbangun besok pagi. Membawa Bella dalam dekapan hangatnya, Damian memberikan usapan ringan di punggung terbuka yang hanya dirinya tutupi dengan selimut pada sebagiannya.

**

Sinar matahari yang menyusup melewati celah gorden, kini mengusik tidur lelap Bella. Matanya begitu berat untuk membuka, namun ingatan semalam menegangkan tubuhnya. Bella semakin membeku ketika tangannya berada di atas tubuh seseorang. Ia berusaha mendongak, dan tidak menyangka akan mendapat tatapan tajam dari pria yang telah dirinya lepaskan.

Damian menangkup rahang Bella, dan tanpa diduga kembali memagut bibir yang telah membengkak karena kebuasannya semalam. Dorongan pada dada bisa Damian rasakan, hingga ia pun bergerak dan mengungkung Bella untuk berada dibawah kendalinya lagi. Kedua tangan Bella kembali dirinya tarik ke atas kepala agar tidak bisa menahan lagi.

"Berikan lagi. Aku menginginkannya, Bella," bisik Damian dengan rendah dan tanpa persetujuan melakukan hal panas dipagi hari.

Rasa perih kembali dirasakan Bella, namun ia cukup lemah untuk sekedar menolak Damian yang malah lebih gila menyentuhnya. Tubuh Bella terhentak, dan kali ini dibalik dengan posisi membelakangi Damian.

"C-cukup. Hentikan, Damian..." permohonan bercampur desahan merdu semakin mengisi kamar berdominasi warna gelap saat Damian kembali menggigit bahu Bella.

Bisa Bella dengar lagi geraman pria yang tidak pernah memandangnya bertahun-tahun. Bagaimana rahang Damian menempel pada pipi Bella dan sesekali memberikan ciuman singkat.

"Damn!" Damian mendongak merasakan pelepasan yang tak bisa ditahannya lagi.

Matanya memejam erat, kedua tangannya memegang pinggang ramping Bella untuk menikmati sensasi yang paling menggila baginya.

Bella ambruk, kakinya bergetar dan kemungkinan akan sulit baginya untuk mampu berjalan dengan baik. Damian tidak diam, dengan terus mengecupi punggung Bella yang terisi banyak jejak merah akibat ulahnya.

Setelah beberapa saat, Damian beranjak turun dari ranjang. Namun ia sempat melirik pada Bella yang kini menutup matanya kembali. Pintu kamar mandi pun Damian tutup, dan bersamaan dengan itu, Bella rupanya kembali membuka mata. Tidak ada yang bisa ditebak pada ekspresi wajah Bella saat ini, tapi ia berusaha menggerakkan tubuhnya mencoba untuk bangun.

Menggigit bibir bagian dalam, tubuh Bella terasa begitu remuk setelah semalaman mendapat kebuasan dari seorang Damian Smith. Tanpa banyak mengeluh, Bella perlahan turun dan memunguti pakaiannya yang tergeletak di lantai. Dengan cepat Bella memakainya, dan ia berusaha sekuat tenaga untuk bisa keluar dari kamar Damian.

Kepalanya sama sekali tidak menoleh ke belakang, karena kamar itu begitu berantakan bahkan aroma percintaan keduanya menguar begitu pekat. Berhasil keluar dari mansion Damian, dengan langkah ertatih Bella terus berjalan keluar dari kawasan. Sampai ditepi jalan, baru ia bisa menghentikan salah satu mobil.

Pandangan Bella lurus menatap pada jalanan, namun tidak ada kesedihan dalam dirinya saat ini. Mata sembab karena menangis akibat dipaksa, sudah menggambarkan betapa hancurnya Bella ditangan Damian.

"Nona, anda ingin kemana?"

"Bandara."

Bella menekan nomor kepala pelayan untuk mengantar semua barang yang telah ia kemas sebelumnya. Bahkan kakeknya pun telah Bella hubungi, meski pria tua itu sempat bertanya soal keadaannya yang pergi mendadak. Alasan ingin berlibur keluar dari mulut Bella, dan tentu saja kakeknya percaya meski tak sepenuhnya.

Tiba dibandara, Bella segera turun dan rupanya telah ditunggu kepala pelayan yang membawa keperluannya. Ada tatapan sedih pada sorot mata wanita yang merawatnya sedari kecil, namun Bella memudarkan kekhawatiran itu dengan senyuman tipis.

"Jaga kakek dengan baik, bibi. Aku akan kembali di waktu yang tepat," terang Bella menggenggam tangan kepala pelayan.

"Nona, jaga diri anda. Kami menunggu anda hingga waktu itu tiba. Dan sepertinya, Tuan Besar telah menutup seluruh akses kepergian anda dari siapapun."

"Kakek paling mengerti diriku. Katakan padanya, dia harus tetap sehat dan tidak boleh melewatkan perawatan."

"Baik. Akan saya sampaikan, Nona."

Bella melambaikan tangan, ini keputusannya dan memastikan tidak akan lagi menyinggung kejadian semalam.

Tapi tanpa Bella ketahui, wajah gelap Damian setelah tahu ditinggalkan begitu saja kemungkinan menjadi masalah bagi keluarga Johnson. Rahang berjambang tipis itu mengetat, matanya semakin tajam hingga terasa membunuh seseorang.

Melihat ranjangnya yang semalam hangat lalu sekarang kosong, Damian memberi perintah pada orangnya untuk memburu Bella.

"Pergi dariku tanpa meninggalkan pesan apapun. Benar-benar memiliki nyali begitu tinggi. Aku meremehkanmu rupanya, Bellarose Johnson," geram Damian tertahan dengan gigi bergemelatuk.

Tidak ada yang pernah mau membuat Damian merasa kesal, tapi kali ini berbeda dengan wanita bernama Bella. Sejak dulu, hanya Bella yang bisa melakukan itu meski Damian bersikap acuh bahkan sampai berkata kasar.

Ponsel Damian kembali bergetar, dimana asistennya mengatakan jika Bella tidak pulang ke mansion Johnson, bahkan melewatkan pemeriksaan kesehatan Tuan Besar. Ada perasaan tak terima menerpa Damian, dan menyuruh orangnya terus melacak jejak Bella sampai ketemu.

Sprei yang sedikit terdapat bercak merah, menandakan bahwa Bella memang pertama kali bermalam dengan pria dan itu dengan dirinya—Damian Smith.

"Bellarose Johnson. Larilah sejauh mungkin dan jangan sampai aku menemukanmu. Kalau tidak, jangan harap bisa melihat dunia luar lagi," Damian rasanya ingin membuat wanita itu kembali menangis dibawah kendalinya seperti yang baru saja dilakukan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jurang Cinta Tuan Muda   4. Direnggut Paksa

    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika apa yang Bella lakukan malah menyulut sebuah emosi. Dimana kemarahan Damian begitu menakutkan, membuat ia ingin memejamkan mata erat lalu menutup kedua telinganya agar tidak lagi mendengar kata-kata bernada dingin serta menusuk. Namun Bella bisa apa saat suara tegas itu memerintah seolah tidak ingin dibantah sama sekali. Namun ketekatan sebelumnya terus menguasai pikiran Bella, menyuruh untuk tetap berpegang teguh pada keputusan. Dia tidak boleh menjadi yang kedua, dan juga tidak ingin mendapatkan sebuah tuduhan kasar sebagai perebut. Bella sungguh melepaskan Damian untuk wanita lain, karena ia sudah lelah berharap. "Lepaskan tanganku, Damian." Untuk kali pertama Bella mampu menunjukkan taring pada pria yang ingin sekali ia berikan kepolosannya juga kepatuhannya sebagai wanita. "Aku tidak mau ada kabar miring yang membuat keluarga Johnson terlibat dalam skandal bahkan didesak oleh sesuatu." "Bella, kamu sadar atas ucapanmu kali ini? Mengus

  • Jurang Cinta Tuan Muda   3. Tidak Menginginkan

    Pandangan Bella tak pernah mengarah pada Damian lagi, meski pria itu nampak menanggapi sesekali ucapan Erna. Fokusnya hanya tertuju ke arah makananan di hadapannya dan mencoba sesegera mungkin menghabiskannya dengan cepat. Ini adalah bentuk dari keputusan yang sudah Bella ambil, dan ia menyukainya karena beban itu terasa menghilang begitu saja. Tidak ada apapun dalam dirinya untuk Damian, setelah bertarung dengan pikirannya selama seminggu penuh, mengurung diri di dalam kamar. "Pelan-pelan, tidak ada yang berebut denganmu Bella," goda Archer sambil menyubit pipi sebelah kiri Bella. "Sangat lezat ya makanan milikmu?" Wajah Bella langsung mendengus kesal. "Jangan mengganggu, Arch. Kita harus cepat, karena kakek sudah menunggu." Bella sungguh tak peduli, dan menjadi dirinya sendiri hingga menghilangkan cara makan dengan penuh keeleganan. Baginya tak perlu menampilkan kesopanan itu lagi sejak ia memutuskan untuk tidak masuk kedalam keluarga Smith. Kedekatan antara Bella dan Ar

  • Jurang Cinta Tuan Muda   2. Keputusan Melepaskannya

    Bella sudah bersiap dan tengah menunggu Archer untuk menjemputnya, karena mereka akan berkuda hari ini. Selama seminggu penuh, Bella hanya berdiam diri di kediamannya, sejak pulang dari jamuan makan di keluarga Smith. Bahkan, kakeknya sangatlah heran atas perubahannya yang sungguh berbeda dari sebelumnya. Bella yang aktif, biasanya akan berusaha mengikuti semua kegiatan Damian jika berada di luar. Tapi sejak senyuman itu telah diberikan pada orang lain, Bella yang merenung tentu saja berusaha menyadarkan diri berulang kali. "Apa ini kakek? Kenapa selalu saja melakukan hal yang akan mempersingkat umurmu?" Bella berdecak sambil mengerucutkan bibirnya, melihat Frederic Johnson menikmati cerutunya di halaman samping dan juga mengecek senjata buatannya. "Kakek sungguh ingin meninggalkan ku sendirian? Apa kakek sudah tega membiarkanku hidup tanpa bergantung pada siapapun lagi?" Frederic tentu merasa sakit mendengarkan setiap ucapan Bella, namun ia hanya bisa menghela napasnya. Baga

  • Jurang Cinta Tuan Muda   1. Tetap Diacuhkan

    "Damian," panggilnya dengan wajah ceria. Ditangannya ada sebuah barang yang harus diberikan pada pria itu. "Selamat datang kembali. Ini hadiah kecil untukmu." Bellarose Johnson mengulurkan tangannya. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan acuh dari seorang pria bernama Damian Smith. Walau jarak umur tidak terlalu jauh-hanya sekitar 6 tahun saja, tapi Bella sudah cukup lama mengganggu hidup Damian, sejak keduanya bertemu 14 tahun lalu. Rambut keemasan yang sedikit bergelombang bergerak ketika angin menerpa, wajahnya sungguh bersinar dibawah sinaran mentari. Tapi Damian tetap tak peduli padanya, dan malah melenggang pergi meninggalkannya. "Damian," panggil Bella lagi kembali sambil mengikuti langkah pria itu. Bahkan dengan beraninya, ia mengalungkan tangannya pada lengan Damian agar langkah mereka sejajar. "Aku dengar kamu akan membuat pesta. Benarkah itu? Berapa banyak teman yang akan kamu undang?" Hanyalah sebuah keheningan yang Bella dapatkan dari pria dingin seperti Damian. Namun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status