Home / Romansa / Jurang Cinta Tuan Muda / 3. Tidak Menginginkan

Share

3. Tidak Menginginkan

Author: Farasyaa
last update Last Updated: 2026-01-12 14:27:19

Pandangan Bella tak pernah mengarah pada Damian lagi, meski pria itu nampak menanggapi sesekali ucapan Erna. Fokusnya hanya tertuju ke arah makananan di hadapannya dan mencoba sesegera mungkin menghabiskannya dengan cepat.

Ini adalah bentuk dari keputusan yang sudah Bella ambil, dan ia menyukainya karena beban itu terasa menghilang begitu saja. Tidak ada apapun dalam dirinya untuk Damian, setelah bertarung dengan pikirannya selama seminggu penuh, mengurung diri di dalam kamar.

"Pelan-pelan, tidak ada yang berebut denganmu Bella," goda Archer sambil menyubit pipi sebelah kiri Bella. "Sangat lezat ya makanan milikmu?"

Wajah Bella langsung mendengus kesal. "Jangan mengganggu, Arch. Kita harus cepat, karena kakek sudah menunggu."

Bella sungguh tak peduli, dan menjadi dirinya sendiri hingga menghilangkan cara makan dengan penuh keeleganan. Baginya tak perlu menampilkan kesopanan itu lagi sejak ia memutuskan untuk tidak masuk kedalam keluarga Smith.

Kedekatan antara Bella dan Archer tentunya menjadi perhatian Damian, apalagi ia nampak meremas kuat gelas berkaki di genggamannya. Sorot mata yang dulu selalu meminta perhatiannya, kini tak bisa didapatkan lagi. Sungguh, seperti ada yang hilang dalam kendali Damian dan itu sangat tidak memuaskannya.

Bella telah berubah, sejak terakhir bertemu pada jamuan makan tempo hari. Sikapnya menimbulkan banyak tanda tanya pada semua orang yang sangatlah paham akan tingkahnya selama ini dalam mendapatkan Damian, termasuk Erna.

"Aku dengar, kamu yang akan mengurus pembangunan pabrik tekstil. Benarkah itu Bella?" tanya Erna menghentikan gerakan tangan Bella. "Jika iya, bisakah kita berdiskusi? Karena aku yang akan menjadi pemasok bahan baku di pabrikmu."

Bella nampak berpikir. "Hm. Aku belum menerima keputusan itu dan masih membicarakannya dengan kakek ku."

"Aku harap kamu menerimanya. Biarkan Tuan Besar Jonhson menikmati masa tuanya."

Senyum tipis Bella berikan karena ia tak ingin menjawab lagi ucapan Erna. Bagaimana pun, Bella memang perlu waktu lebih dalam belajar banyak hal karena selama ini hidupnya digunakan untuk sesuatu yang tidak penting. Mengejar seorang Damian tanpa mendapat sekecil saja rasa cintanya.

Makan malam pun selesai, Archer yang ingin mengantar Bella pulang tiba-tiba harus segera pergi ke tempat lain karena ada masalah mendesak. Tentu saja Bella tidak mempermasalahkannya, namun Erna dengan santainya menawarkan diri untuk mengantar padahal dia datang dengan Damian.

"Tidak, terimakasih. Aku bisa menyuruh sopir rumah untuk menjemput kemari," tolak Bella namun Erna terus memaksa. "Kalian pergi saja," imbuhnya kembali.

Tanpa di duga, Damian yang diam sejak tadi menyuruh keduanya masuk ke dalam mobil miliknya. Bella tentu saja tidak bergerak, hingga Damian kembali bersuara dan membuatnya mau tak mau ikut dengan keduanya. Duduk di kursi penumpang bagian belakang, Bella hanya menatap ke arah luar dalam diamnya. Yang hanya terus bicara adalah Erna meski Damian dengan acuh menanggapinya.

Mengantar Erna lebih dulu tak pernah di sangka oleh Bella, karena dirinya berarti akan semobil berdua saja dengan Damian dalam perjalanan pulang. Bertahan di belakang, suara tegas Damian menyuruh Bella berpindah ke kursi depan.

"Aku bukan sopir. Duduklah di depan!"

"Aku akan turun disini. Terimakasih atas tumpangannya."

"Kamu tidak mau?" tanya Damian karena ucapan Bella sangatlah berbeda dari perkiraannya. "Atau kamu ingin aku seret hanya untuk berpindah kesini?"

Bella dengan kesal pun menurut karena sangat malas untuk berdebat, dan dia pun kembali duduk tenang. Sikapnya masih sama, memilih diam dan tidak membicarakan apapun dengan Damian. Tapi melihat jalanan yang di laluinya berbeda, Bella pun kembali bersuara.

"Ini bukan jalan arah ke rumahku. Jika Tuan Smith memiliki urusan, lebih baik menurunkan ku disini. Aku akan menghubungi sopir."

Damian tak menjawab, dia malah menginjak pedal gasnya untuk semakin melajukan kecepatannya. Bella sampai harus meremas pakaiannya untuk menutupi rasa takut yang menerpanya. Sebenarnya ada rasa trauma yang menimpa Bella sampai saat ini, tapi untungnya Frederic segera membawanya ke psikolog setelah kejadian paling buruk dalam hidupnya.

Gerbang tinggi menjulang terbuka, mobil itu masuk ke halaman. Sebuah mansion mewah ada di depan Bella, dan entah untuk apa Damian membawanya kesini.

Ditarik turun, langkah kaki Bella terseok-seok mengikuti Damian. Masuk ke dalam hunian bernuansa gelap, Bella tak tahu apa yang akan dilakukan Damian hingga ia pun menyentak tangan tersebut.

"Maaf, tapi aku harus pulang. Terimakasih atas tumpangannya," terang Bella sambil menunduk singkat dan langsung melangkah pergi.

Tapi Damian yang tak suka, tiba-tiba memanggulnya begitu saja. Bahkan Bella diajak menapaki setiap anak tangga yang entah akan membawa keduanya kemana. Pintu terbuka, jantung Bella berpacu apalagi saat ia dijatuhkan ke ranjang.

Damian langsung mengunci pergerakan Bella yang kini berada di bawah kendalinya. Sorot mata tajam yang selalu dikagumi, kini menatapnya dengan keanehan ketika ada sesuatu di dalamnya. Napas segar bercampur wine yang sempat di minum oleh Damian, kini menusuk penciuman Bella. Kedua tangannya tertarik ke atas, dan dikunci dengan satu tangan saja oleh Damian.

Kedua mata Bella membulat, saat Damian yang menangkup wajahnya dengan sedikit tekanan kini memagut bibirnya tak sabaran. Sebuah tindakan yang pernah Bella bayangkan sebelumnya, namun tak bisa didapatkannya meski menggoda berulang kali. Namun sekarang, Damian tanpa diminta memberikan kemauan Bella dengan sukarela.

Pagutannya tergesa, dan sesekali memberi gigitan kecil, bahkan lidahnya kini mendesak masuk menyuruh Bella untuk menyambutnya. Karena pertama kali ia merasakan yang namanya ciuman, tentu Bella bergerak kaku tapi Damian tidak peduli selain menyeringai tipis.

Damian bergantian dalam menyesap bibir Bella, dari atas ke bawah menciptakan suasana mengikat juga panas. Apalagi tangannya yang bebas, kini bergerak menyusup ke bawah punggung Bella agar semakin tak menimbulkan jarak. Damian menggila, ia yang puas bermain dengan bibir Bella kini turun kearea ceruk leher untuk bisa meninggalkan jejak merah disana.

"Aakhh-stop," pekik Bella.

Namun ia tidak dibiarkan, bahkan Damian dengan berani malah mengulum telinganya setelah memberikan sapuan basah. Darah Bella berdesir, tubuhnya semakin menegang dengan perasaan bercampur. Bibirnya kembali di pagut, namun Damian semakin berani menyentuhnya dengan memberikan remasan pada dadanya yang padat.

Bella menggeliat, berusaha menolak sentuhan Damian yang bisa saja menghilangkan akal sehat. Tapi ia bisa apa, saat Damian semakin kuat mengikatnya bahkan jari besar itu berganti masuk ke dalam pakaiannya.

"Eumb..."

Rasanya gila, Damian tak bisa menahan dirinya sendiri ketika ia sebelum ini menolak keras kehadiran Bella yang mengganggu hidupnya selama bertahun-tahun. Bayangan tangan pria lain menyentuh Bella, sangatlah membakar hati Damian hingga ia sedikit kasar menyentuhnya.

Jarinya semakin masuk, bahkan dengan lancang menelusup lebih dalam menyentuh area pribadi milik Bella yang sepertinya terawat dengan bersih. Dia memberikan usapan menggoda dengan cara naik turun, dan sesekali menusuk serta menyubitnya.

"Hah... berhenti. L-lepaskan aku, Damian," berontak Bella saat bibirnya terbebas dari sentuhan. "J-jangan..."

"Bukankah ini yang kamu inginkan dariku? Aku akan mengabulkan keinginanmu malam ini."

Bella menggeleng, bahkan air matanya mulai jatuh tapi Damian tetap tak peduli. Ia malah mengusap jejak air mata yang jatuh dengan ciuman basahnya.

Bella, dia akan hancur jika Damian tidak membebaskannya malam ini. Ketakutan menimpanya, tapi sebuah bisikan terus menyuruhnya menerima kehangatan yang diberikan Damian.

Pikirannya berperang, ini yang di inginkannya sejak dulu. Damian melihatnya dan membuatnya tenggelam dalam lautan panas yang menyesatkan jiwa.

"Aku tidak menginginkannya, Damian Smith," tegas Bella akhirnya bisa menghentikan gerakan pria yang berada di atasnya. "Menyingkir! Aku bukan jalang yang harus melayani nafsumu!"

Damian nampak langsung terkekeh setelah mengamati ekspresi Bella, yang dimana napasnya begitu terengah. "Tidak menginginkan? Kamu berkata seperti itu setelah mengusik hidupku? Bella, bukankah aku harus menghukum mu sekarang ini?"

Rahang yang mengetat, dan suara gigi bergemelatuk terdengar samar. Damian seakan ingin memakannya dengan tak sabaran. Memisahkan semua bagian yang Bella miliki saat ini, agar tak mampu hidup kembali.

Bella, dia tak mau jatuh lagi dengan menggilai Damian—pria yang sekarang dikabarkan tengah menjalin hubungan dengan Erna Rivera atas persetujuan keluarganya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jurang Cinta Tuan Muda   4. Direnggut Paksa

    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika apa yang Bella lakukan malah menyulut sebuah emosi. Dimana kemarahan Damian begitu menakutkan, membuat ia ingin memejamkan mata erat lalu menutup kedua telinganya agar tidak lagi mendengar kata-kata bernada dingin serta menusuk. Namun Bella bisa apa saat suara tegas itu memerintah seolah tidak ingin dibantah sama sekali. Namun ketekatan sebelumnya terus menguasai pikiran Bella, menyuruh untuk tetap berpegang teguh pada keputusan. Dia tidak boleh menjadi yang kedua, dan juga tidak ingin mendapatkan sebuah tuduhan kasar sebagai perebut. Bella sungguh melepaskan Damian untuk wanita lain, karena ia sudah lelah berharap. "Lepaskan tanganku, Damian." Untuk kali pertama Bella mampu menunjukkan taring pada pria yang ingin sekali ia berikan kepolosannya juga kepatuhannya sebagai wanita. "Aku tidak mau ada kabar miring yang membuat keluarga Johnson terlibat dalam skandal bahkan didesak oleh sesuatu." "Bella, kamu sadar atas ucapanmu kali ini? Mengus

  • Jurang Cinta Tuan Muda   3. Tidak Menginginkan

    Pandangan Bella tak pernah mengarah pada Damian lagi, meski pria itu nampak menanggapi sesekali ucapan Erna. Fokusnya hanya tertuju ke arah makananan di hadapannya dan mencoba sesegera mungkin menghabiskannya dengan cepat. Ini adalah bentuk dari keputusan yang sudah Bella ambil, dan ia menyukainya karena beban itu terasa menghilang begitu saja. Tidak ada apapun dalam dirinya untuk Damian, setelah bertarung dengan pikirannya selama seminggu penuh, mengurung diri di dalam kamar. "Pelan-pelan, tidak ada yang berebut denganmu Bella," goda Archer sambil menyubit pipi sebelah kiri Bella. "Sangat lezat ya makanan milikmu?" Wajah Bella langsung mendengus kesal. "Jangan mengganggu, Arch. Kita harus cepat, karena kakek sudah menunggu." Bella sungguh tak peduli, dan menjadi dirinya sendiri hingga menghilangkan cara makan dengan penuh keeleganan. Baginya tak perlu menampilkan kesopanan itu lagi sejak ia memutuskan untuk tidak masuk kedalam keluarga Smith. Kedekatan antara Bella dan Ar

  • Jurang Cinta Tuan Muda   2. Keputusan Melepaskannya

    Bella sudah bersiap dan tengah menunggu Archer untuk menjemputnya, karena mereka akan berkuda hari ini. Selama seminggu penuh, Bella hanya berdiam diri di kediamannya, sejak pulang dari jamuan makan di keluarga Smith. Bahkan, kakeknya sangatlah heran atas perubahannya yang sungguh berbeda dari sebelumnya. Bella yang aktif, biasanya akan berusaha mengikuti semua kegiatan Damian jika berada di luar. Tapi sejak senyuman itu telah diberikan pada orang lain, Bella yang merenung tentu saja berusaha menyadarkan diri berulang kali. "Apa ini kakek? Kenapa selalu saja melakukan hal yang akan mempersingkat umurmu?" Bella berdecak sambil mengerucutkan bibirnya, melihat Frederic Johnson menikmati cerutunya di halaman samping dan juga mengecek senjata buatannya. "Kakek sungguh ingin meninggalkan ku sendirian? Apa kakek sudah tega membiarkanku hidup tanpa bergantung pada siapapun lagi?" Frederic tentu merasa sakit mendengarkan setiap ucapan Bella, namun ia hanya bisa menghela napasnya. Baga

  • Jurang Cinta Tuan Muda   1. Tetap Diacuhkan

    "Damian," panggilnya dengan wajah ceria. Ditangannya ada sebuah barang yang harus diberikan pada pria itu. "Selamat datang kembali. Ini hadiah kecil untukmu." Bellarose Johnson mengulurkan tangannya. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan acuh dari seorang pria bernama Damian Smith. Walau jarak umur tidak terlalu jauh-hanya sekitar 6 tahun saja, tapi Bella sudah cukup lama mengganggu hidup Damian, sejak keduanya bertemu 14 tahun lalu. Rambut keemasan yang sedikit bergelombang bergerak ketika angin menerpa, wajahnya sungguh bersinar dibawah sinaran mentari. Tapi Damian tetap tak peduli padanya, dan malah melenggang pergi meninggalkannya. "Damian," panggil Bella lagi kembali sambil mengikuti langkah pria itu. Bahkan dengan beraninya, ia mengalungkan tangannya pada lengan Damian agar langkah mereka sejajar. "Aku dengar kamu akan membuat pesta. Benarkah itu? Berapa banyak teman yang akan kamu undang?" Hanyalah sebuah keheningan yang Bella dapatkan dari pria dingin seperti Damian. Namun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status