بيت / Romansa / Jurang Cinta Tuan Muda / 1. Tetap Diacuhkan

مشاركة

Jurang Cinta Tuan Muda
Jurang Cinta Tuan Muda
مؤلف: Farasyaa

1. Tetap Diacuhkan

مؤلف: Farasyaa
last update آخر تحديث: 2026-01-12 14:24:53

"Damian," panggilnya dengan wajah ceria. Ditangannya ada sebuah barang yang harus diberikan pada pria itu. "Selamat datang kembali. Ini hadiah kecil untukmu."

Bellarose Johnson mengulurkan tangannya. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan acuh dari seorang pria bernama Damian Smith. Walau jarak umur tidak terlalu jauh-hanya sekitar 6 tahun saja, tapi Bella sudah cukup lama mengganggu hidup Damian, sejak keduanya bertemu 14 tahun lalu.

Rambut keemasan yang sedikit bergelombang bergerak ketika angin menerpa, wajahnya sungguh bersinar dibawah sinaran mentari. Tapi Damian tetap tak peduli padanya, dan malah melenggang pergi meninggalkannya.

"Damian," panggil Bella lagi kembali sambil mengikuti langkah pria itu. Bahkan dengan beraninya, ia mengalungkan tangannya pada lengan Damian agar langkah mereka sejajar. "Aku dengar kamu akan membuat pesta. Benarkah itu? Berapa banyak teman yang akan kamu undang?"

Hanyalah sebuah keheningan yang Bella dapatkan dari pria dingin seperti Damian. Namun tetap saja, Bella tidak menyerah pada pria yang sudah ia tetapkan untuk menjadi miliknya. Sedikit memaksa, tapi memang inilah perasaannya sejak dulu hingga sulit untuk dihapus. Bahkan Bella berharap Damian bisa menjadi suaminya.

Rumor mengatakan jika Bella adalah kekasih tak dianggap. Tapi tetap saja tidak ada wanita yang berani mendekat pada Damian, karena mereka sangatlah takut dengan Bella. Dia akan membuat wanita yang mencoba merayu Damian mendapatkan sesuatu-misalnya luka dan rasa trauma. Hal ini sudah menjadi pembicaraan umum dikalangan para keluarga kelas atas.

"Malam nanti, kamu akan datang pada pesta pertunangan Vero kan? Menurutmu aku harus mengenakan gaun yang bagaimana?" Bella tak hentinya bertanya pada Damian meski akan mendapat kebisuan saja.

Sayangnya pembicaraan keduanya terhenti, tatkala suara wanita memecah kebersamaan diantara mereka.

"Damian..."

Panggilan itu menghentikan langkah Damian dan Bella. Kerutan halus yang ada dikening mulai timbul saat Bella melihat wanita penuh kelembutan mendekat ke arahnya. Tidak, lebih tepatnya, hanya tertuju pada Damian.

"Damian..." dia berdiri dengan wajah malu-malu membuat Bella menatap tak suka. "Bisakah kita bicara sebentar? Ini soal permasalahan kemarin."

Permasalahan?

Bella tidak tahu apapun. Tapi Damian tanpa pikir panjang membiarkan wanita itu pergi dengannya. Decakan samar keluar dari mulut Bella, sudah begitu lama ia didekat Damian, tapi pria itu tidak pernah bersikap baik seperti yang baru saja ditunjukkannya. Berbagai pertanyaan mulai timbul mengisi pikiran Bella, sampai ke praduga yang paling buruk sekalipun.

Menarik napas dengan dalam dan membuangnya perlahan, Bella mengatakan pada dirinya sendiri agar lebih tenang. Ia mencoba menguping pembicaraan Damian dengan Erna, dan sikapnya ini sangatlah tak pantas sebenarnya menurut Bella.

"Sial, apa yang mereka bahas," kesal Bella karena tetap tak bisa mendengar apapun. "Apa itu?" geramnya ketika Damian memberikan usapan lembut pada puncak kepala Erna.

Bella yang bertambah kesal langsung pergi menjauh, ia berusaha mengontrol diri agar tidak menghajar wanita itu. Jika melakukannya, maka Damian akan semakin tidak menyukainya. Bahkan menghardiknya dengan kata-kata kasar yang cukup menyakitkan. Namun dadanya terasa begitu sesak, bahkan sakitnya seperti tertusuk ribuan pisau.

Duduk di taman, Bella menenangkan pikirannya dengan melihat bunga yang bermekaran di halaman mansion Smith. Hari ini Kelly Smith-ibu Damian tengah mengundang beberapa keluarga kelas atas untuk mengikuti jamuan makan siang. Bella datang mewakili keluarga Johnson, karena kakeknya tak bisa hadir.

Bella tumbuh dibawah asuhan Frederic Johnson, karena kedua orang tuanya sudah meninggal ketika ia masihlah berumur 7 tahun. Sebuah kecelakaan tragis menimpa mereka ketika tengah melakukan perjalanan liburan ke Moskow.

"Bella..."

Kepala Bella menoleh, saat suara seorang pria yang dikenalnya memanggil. "Arc..."

Archer Smith—sepupu Damian mendekat, bahkan langsung mengambil tempat duduk di sebelah Bella. "Kenapa disini sendirian? Seharusnya kamu bergabung dengan para wanita."

"Aku lebih suka berada disini," suara Bella sedikit sendu membuat Archer menyubit pipinya tiba-tiba. "Arc, sakit tahu."

Bibir Bella yang mengerucut malah membuat Archer semakin ingin menjahilinya. Keduanya saling bercanda, membuat Bella sungguh melupakan kedekatan Damian bersama Erna. Seperti cukup mudah mengalihkan kekesalan Bella terhadap pria itu.

"Ayo kembali ke halaman samping. Kamu harus mengambil banyak makanan agar tubuhmu yang kurus ini sedikit berisi," terang Archer membuat Bella mendengus. "Ck, ayo. Baiklah aku tidak akan mengejekmu."

Keduanya pun menuju halaman samping, tapi Bella kembali menekuk wajahnya saat Damian terlihat semakin begitu akrab dengan Erna. Bahkan pria yang tak pernah ia lihat tersenyum, memberikan garis tipis itu dengan sukarela pada Erna hingga dia semakin tersipu.

Tahu yang dirasakan Bella, tangan Archer menariknya untuk memilih menghindari mereka. Archer sangat paham, karena ia menjadi tempat curahan hati Bella dalam mendapatkan perhatian Damian.

"Duduk disini. Aku akan mengambilkan makanan untukmu."

Bella tak menjawab, dia hanya bisa mengepalkan tangannya dan mengumpat dalam hati. "Dirimu sungguh sangat miris Bella. Damian-mu..." dan lagi, Bella hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. "Hah..."

Archer datang bersama pelayan yang membawakan banyak hidangan untuk Bella. Kedua iris kecokelatan milik Bella seketika membulat sempurna atas hal ini.

"Kamu sungguh menyuruhku makan sebanyak ini? Arc, apa kamu gila?" pekik Bella dengan wajah tercengangnya. "Dasar Archer, sialan."

"Ssttt...makanlah. Kamu harus memiliki tenaga lebih untuk menghadapi kehidupan yang rumit ini."

Meski menggerutu, Bella tetap memakannya karena apa yang diambilkan Archer adalah menu kesukaannya. Bella menyuapkan perlahan irisan daging yang sudah dipotong oleh Archer kedalam mulutnya.

"Enak bukan?" Archer terkekeh melihat lirikan tajam Bella. "Seharusnya kamu tidak perlu sungkan jika memang lapar."

"Arc..." bibir Bella bergerak seolah mengumpati Archer. "Rasanya tetap sama. Pasti paman Willy yang membuatnya."

"Tentu saja. Dia adalah koki terbaik yang hanya bisa dimiliki keluarga Smith.."

"Tingkahmu sungguh menyebalkan. Sangat berbeda jauh dengan Damian-ku."

Archer tak membalas tapi ia malah tertawa kecil. "Bella kecil selalu saja membuatku patah. Apa aku harus berubah seperti Damian?"

"Arc, bukan begitu. Ih, jangan diacak-acak. Astaga, nanti berantakan," keluh Bella saat rambutnya diusap tak beraturan oleh Archer.

Fokus Bella kembali pada Damian yang duduk bergabung dengan keluarga Erna. Bahkan Nyonya Smith juga nampak berbincang hangat dengan mereka, dan membuat iri semua orang yang ingin menjalin hubungan baik dengan keluarga Smith.

Meski kabar miring mengatakan kedekatan Damian dengan Bella, tapi kenyataan yang ada saat ini mematahkan segalanya. Bellarose Johnson telah kalah telak oleh Erna Rivera, karena berhasil membuat Damian bergabung dengannya.

"Kamu tidak akan mendapatkannya."

"Arc, kamu sedang mengejekku ya?" hati Bella semakin terasa tertusuk saat diingatkan oleh Archer.

"Lupakan dia, Bella. Apa kamu sungguh tak mau berhenti? Damian tidak..."

"Arc, aku pulang dulu. Kakek pasti sudah menunggu."

"Baiklah. Aku akan mengantarmu."

Bella tidak menolak, dan membiarkan Archer mengekorinya. Kepergian Bella mendapatkan bisik-bisik dari para wanita muda yang hadir. Mereka sangatlah tahu betapa gilanya Bella mengejar seorang Damian, tapi hari ini dia menghindar setelah pria itu bergabung dengan keluarga Rivera.

Namun, tanpa Bella tahu bahwa kepergiannya diiringi dengan sorot mata tajam yang ingin sekali mengulitinya. Bahkan rahangnya sedikit mengeras ketika Archer merengkuh bahu Bella dengan begitu santai.

Erna tak menyangka jika keluarganya malah mempererat tali hubungan. Keluarga Rivera mencoba menawarkan sebuah pertunangan, namun Damian tidak menjawabnya langsung.

"Kami akan membahas ini nanti. Aku menerima permintaan baikmu, Tuan Rivera."

"Terimakasih Nyonya Smith. Karena bagaimanapun, Erna kami hanya pantas bersanding dengan putra anda."

Kelly Smith hanya tersenyum tipis, dia meneguk minumannya dengan anggun sambil melirik pada wajah putranya. Damian tidak merespon apapun, membuat Kelly harus mengambil keputusan dengan hati-hati. Dirinya tak ingin jika Damian menolak saat ia menerima keluarga Rivera, hingga memberikan rasa malu pada keluarga Smith.

Menatap jalanan kota Palermo, pikiran kacau Bella yang terus terbayang kedekatan Damian dan Erna sedikit memudar. Apalagi suara Archer yang terus terdengar karena menceritakan banyak hal.

"Minggu depan kamu akan berkuda kan?"

Bella menoleh dengan segera. "Hm. Kenapa? Kamu ingin bertaruh lagi denganku?" kekehnya sambil memperlihatkan sebuah kelicikan. "Jangan harap kamu bisa menang."

"Kamu menantangku, Nona Johnson?" mata Archer langsung menyipit tapi Bella malah tertawa. "Awas kamu ya."

"Apa? Tuan Muda Smith, lebih kamu menyiapkan banyak uang untukku," kekeh Bella. "Kudamu itu tak akan mau di ajak memenangkan pertandingan."

"Bellarose Johson," Archer menggeram rendah karena diejek Bella.

***

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Jurang Cinta Tuan Muda   4. Direnggut Paksa

    Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, jika apa yang Bella lakukan malah menyulut sebuah emosi. Dimana kemarahan Damian begitu menakutkan, membuat ia ingin memejamkan mata erat lalu menutup kedua telinganya agar tidak lagi mendengar kata-kata bernada dingin serta menusuk. Namun Bella bisa apa saat suara tegas itu memerintah seolah tidak ingin dibantah sama sekali. Namun ketekatan sebelumnya terus menguasai pikiran Bella, menyuruh untuk tetap berpegang teguh pada keputusan. Dia tidak boleh menjadi yang kedua, dan juga tidak ingin mendapatkan sebuah tuduhan kasar sebagai perebut. Bella sungguh melepaskan Damian untuk wanita lain, karena ia sudah lelah berharap. "Lepaskan tanganku, Damian." Untuk kali pertama Bella mampu menunjukkan taring pada pria yang ingin sekali ia berikan kepolosannya juga kepatuhannya sebagai wanita. "Aku tidak mau ada kabar miring yang membuat keluarga Johnson terlibat dalam skandal bahkan didesak oleh sesuatu." "Bella, kamu sadar atas ucapanmu kali ini? Mengus

  • Jurang Cinta Tuan Muda   3. Tidak Menginginkan

    Pandangan Bella tak pernah mengarah pada Damian lagi, meski pria itu nampak menanggapi sesekali ucapan Erna. Fokusnya hanya tertuju ke arah makananan di hadapannya dan mencoba sesegera mungkin menghabiskannya dengan cepat. Ini adalah bentuk dari keputusan yang sudah Bella ambil, dan ia menyukainya karena beban itu terasa menghilang begitu saja. Tidak ada apapun dalam dirinya untuk Damian, setelah bertarung dengan pikirannya selama seminggu penuh, mengurung diri di dalam kamar. "Pelan-pelan, tidak ada yang berebut denganmu Bella," goda Archer sambil menyubit pipi sebelah kiri Bella. "Sangat lezat ya makanan milikmu?" Wajah Bella langsung mendengus kesal. "Jangan mengganggu, Arch. Kita harus cepat, karena kakek sudah menunggu." Bella sungguh tak peduli, dan menjadi dirinya sendiri hingga menghilangkan cara makan dengan penuh keeleganan. Baginya tak perlu menampilkan kesopanan itu lagi sejak ia memutuskan untuk tidak masuk kedalam keluarga Smith. Kedekatan antara Bella dan Ar

  • Jurang Cinta Tuan Muda   2. Keputusan Melepaskannya

    Bella sudah bersiap dan tengah menunggu Archer untuk menjemputnya, karena mereka akan berkuda hari ini. Selama seminggu penuh, Bella hanya berdiam diri di kediamannya, sejak pulang dari jamuan makan di keluarga Smith. Bahkan, kakeknya sangatlah heran atas perubahannya yang sungguh berbeda dari sebelumnya. Bella yang aktif, biasanya akan berusaha mengikuti semua kegiatan Damian jika berada di luar. Tapi sejak senyuman itu telah diberikan pada orang lain, Bella yang merenung tentu saja berusaha menyadarkan diri berulang kali. "Apa ini kakek? Kenapa selalu saja melakukan hal yang akan mempersingkat umurmu?" Bella berdecak sambil mengerucutkan bibirnya, melihat Frederic Johnson menikmati cerutunya di halaman samping dan juga mengecek senjata buatannya. "Kakek sungguh ingin meninggalkan ku sendirian? Apa kakek sudah tega membiarkanku hidup tanpa bergantung pada siapapun lagi?" Frederic tentu merasa sakit mendengarkan setiap ucapan Bella, namun ia hanya bisa menghela napasnya. Baga

  • Jurang Cinta Tuan Muda   1. Tetap Diacuhkan

    "Damian," panggilnya dengan wajah ceria. Ditangannya ada sebuah barang yang harus diberikan pada pria itu. "Selamat datang kembali. Ini hadiah kecil untukmu." Bellarose Johnson mengulurkan tangannya. Namun yang ia dapat hanyalah tatapan acuh dari seorang pria bernama Damian Smith. Walau jarak umur tidak terlalu jauh-hanya sekitar 6 tahun saja, tapi Bella sudah cukup lama mengganggu hidup Damian, sejak keduanya bertemu 14 tahun lalu. Rambut keemasan yang sedikit bergelombang bergerak ketika angin menerpa, wajahnya sungguh bersinar dibawah sinaran mentari. Tapi Damian tetap tak peduli padanya, dan malah melenggang pergi meninggalkannya. "Damian," panggil Bella lagi kembali sambil mengikuti langkah pria itu. Bahkan dengan beraninya, ia mengalungkan tangannya pada lengan Damian agar langkah mereka sejajar. "Aku dengar kamu akan membuat pesta. Benarkah itu? Berapa banyak teman yang akan kamu undang?" Hanyalah sebuah keheningan yang Bella dapatkan dari pria dingin seperti Damian. Namun

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status