Home / Horor / KAIN PENGLARIS / Bab 3 — Darah di Ujung Jari

Share

Bab 3 — Darah di Ujung Jari

last update Last Updated: 2025-11-08 08:49:13

Pagi itu, udara terasa aneh. Langit berwarna pucat, seperti kehilangan sinarnya. Warung Bu Rini tetap ramai, tapi Diah merasakan sesuatu yang tak wajar di balik hiruk-pikuk pelanggan yang datang silih berganti. Mereka makan dengan lahap, tapi tak satu pun yang menatap mata pelayan saat mengambil pesanan. Seolah-olah semua orang hanya datang untuk mengisi perut, lalu pergi seperti robot tanpa jiwa.

Diah berdiri di dekat tungku, membantu memasak sambal. Matanya sesekali menatap dapur belakang, tempat ia mendengar suara-suara menyeramkan semalam. Bayangan kain merah itu masih jelas di kepalanya—basah, bergerak sendiri, dan memanggil namanya.

“Diah, tolong ambilkan daging di ember hitam ya,” suara Bu Rini terdengar dari meja kasir.

Sekujur tubuhnya langsung menegang. Ember hitam. Dapur belakang. Kata-kata itu membuat perutnya mual.

“Bu… masih banyak daging di sini,” elaknya dengan suara kecil.

Bu Rini menatapnya tanpa senyum. “Yang itu sudah tidak segar. Ambil yang di belakang.”

Diah menunduk dan menelan ludah. Ia tahu menolak hanya akan membuat Bu Rini curiga. Dengan langkah pelan dan tubuh gemetar, ia kembali menuju dapur belakang.

Begitu membuka pintu, udara di dalam ruangan langsung berubah. Dingin. Lembap. Aroma darah kembali menusuk hidung. Cahaya dari lampu bohlam redup membuat bayangan di dinding bergoyang seperti makhluk hidup.

Ember hitam itu ada di tempat yang sama. Kali ini, di atasnya ada lipatan kain merah. Seolah sengaja diletakkan di sana. Diah berdiri diam beberapa detik, menatapnya tanpa berani mendekat. Tapi rasa penasaran, bercampur ketakutan, perlahan membuatnya maju satu langkah.

Saat ia hendak mengangkat ember itu, kain merah itu tiba-tiba bergerak. Sangat pelan, tapi cukup untuk membuat jantungnya meloncat ke tenggorokan. Ujung kain itu menelusuri tepian ember, lalu berhenti di udara, menggantung seperti tangan yang menanti sentuhan.

Diah mundur cepat, napasnya memburu. Lalu tiba-tiba—plak!—pintu dapur tertutup sendiri dengan keras. Lampu berkelap-kelip, lalu padam.

“Siapa di sana?” suaranya bergetar.

Tak ada jawaban. Hanya suara napas berat, pelan, seperti seseorang berdiri di belakangnya.

Diah menelan ludah, matanya mencari sumber suara di tengah gelap. Tapi tiba-tiba sesuatu menyentuh pundaknya—dingin, licin, dan terasa seperti kain basah.

Ia menjerit dan berlari menuju pintu, tapi pintunya terkunci dari luar. Ketika menoleh, sosok samar berdiri di dekat meja. Perempuan. Rambut panjang menutupi wajahnya, tubuhnya dibalut kain merah yang meneteskan darah di lantai.

Diah terpaku. Tenggorokannya kering, suaranya tertahan di dada.

Perempuan itu menatapnya dari balik helai rambut, suaranya lirih namun jelas.

“Kenapa kamu takut? Kamu sudah melihatku…”

Langkah Diah mundur, tapi kakinya tergelincir oleh darah di lantai. Ia jatuh terduduk. Perempuan itu melangkah pelan ke arahnya, kain merahnya terseret di lantai, menyisakan jejak merah ke mana pun ia berjalan.

“Siapa… siapa kamu?” Diah berusaha bicara di sela isak tangisnya.

Perempuan itu menunduk, wajahnya mulai terlihat. Separuh pipinya rusak, seperti terbakar. Matanya kosong, tapi basah oleh air mata darah.

“Aku dulu seperti kamu,” katanya pelan. “Membantu di warung ini. Tapi aku tak pernah keluar lagi.”

Diah menahan napas.

“Kamu… kamu yang hilang dulu?” tanyanya dengan suara bergetar.

Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menunjuk ke arah kain merah di lantai.

“Dia menyuruhku tetap di sini. Katanya, selama darahku mengalir di kain itu, warung ini tidak akan pernah sepi.”

Suara tawa kecil terdengar dari pojok ruangan. Bu Rini berdiri di sana, wajahnya tampak setengah dalam bayangan, setengah diterangi cahaya dari celah pintu.

“Sudah kubilang, Diah,” ujarnya dengan tenang. “Jangan macam-macam dengan kain itu. Dia mudah cemburu.”

Diah memandangnya dengan mata membesar. “Bu… jadi benar… kain itu—”

“Adalah penjaga rezeki,” potong Bu Rini. “Asal tahu cara memperlakukannya.”

Diah berusaha bangkit, tapi Bu Rini melangkah cepat dan menahan bahunya. Sentuhannya kuat, seperti cengkeraman besi.

“Kamu sudah tahu terlalu banyak. Tapi aku masih bisa menolongmu. Asal kamu mau belajar menghormati dia.”

“Apa maksud Ibu?!” Diah hampir menjerit.

“Mulai malam ini, kamu harus ikut dalam ritualnya.” Suara Bu Rini lembut, tapi nadanya mengancam. “Kain itu harus diberi darah baru setiap bulan. Dan kali ini, dia memilihmu.”

Diah menatap wajah Bu Rini dengan ngeri. “Tidak! Saya tidak mau ikut hal seperti itu!”

Bu Rini mendesah pelan. “Kamu tidak punya pilihan, Diah. Kalau kamu menolak, dia akan datang sendiri ke kamarmu.”

Tiba-tiba lampu kembali menyala. Sosok perempuan berbalut kain merah itu lenyap begitu saja, hanya menyisakan noda darah di lantai. Diah menatapnya tak percaya, lalu berlari keluar dapur tanpa menoleh lagi.

Di luar, napasnya memburu. Dunia terasa berputar. Ia hampir pingsan saat sampai di kamarnya. Tangannya bergetar ketika menutup pintu dan bersandar di belakangnya.

Namun saat ia hendak duduk, sesuatu membuatnya membeku. Di atas bantal, tergeletak sehelai kain kecil—potongan dari kain merah itu. Basah oleh darah yang masih segar.

Dan di tengah kain itu, tertulis dengan darah:

“Kamu sudah menjadi milikku.”

Diah tidak bisa tidur semalaman. Kain merah kecil di atas bantal sudah ia buang ke tempat sampah di belakang warung, tapi bau amisnya seolah masih menempel di hidungnya. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan wajah perempuan berbalut kain merah itu muncul—menatapnya dengan mata kosong dan darah yang menetes dari ujung bibirnya.

Menjelang subuh, Diah terbangun karena mendengar suara berisik dari luar kamar. Suara itu seperti seseorang sedang menyeret sesuatu berat di lantai. Gesrek... gesrek... perlahan, tapi konstan. Ia menajamkan pendengaran, lalu menyadari bahwa suara itu datang dari arah dapur belakang.

“Bu Rini?” panggilnya ragu. Tidak ada jawaban.

Rasa penasaran dan takut beradu di dadanya. Akhirnya ia memutuskan keluar, berjalan pelan menembus lorong sempit yang menghubungkan kamar dengan dapur. Cahaya redup dari lampu minyak membuat bayangan tubuhnya menari di dinding. Setiap langkah terasa panjang, setiap detik seperti menunggu sesuatu muncul dari balik kegelapan.

Begitu sampai di depan dapur, Diah berhenti. Ia melihat sosok Bu Rini sedang jongkok di depan meja altar kecil. Di hadapannya, kain merah besar itu terbentang lagi. Tapi kali ini, di tengah kain, ada sebuah toples kaca besar berisi cairan merah tua—darah.

Diah menahan napas. Darah itu bergerak pelan, seperti mendidih dari dalam. Kadang terdengar suara lirih, seperti bisikan samar.

“Lapar... lapar...”

Bu Rini menunduk, lalu mencelupkan jarinya ke dalam toples. Dengan hati-hati, ia menorehkan darah itu ke ujung kain merah, sambil bergumam sesuatu dalam bahasa yang tidak Diah mengerti. Wajahnya terlihat sangat tenang, tapi matanya kosong.

“Bu…” Diah akhirnya bersuara. “Ibu ngapain?”

Bu Rini menoleh pelan. Cahaya lampu mengenai separuh wajahnya, membuat rautnya tampak menakutkan. “Kamu belum tidur?”

“Saya dengar suara, Bu.”

“Harusnya kamu tidak ke sini.”

Nada suaranya datar, tapi dingin. Ia berdiri, lalu menutup toples itu dengan rapat.

“Setiap kali warung ini sepi, aku harus memberi makan dia,” ujarnya tenang. “Kalau tidak, dia akan menagih dengan caranya sendiri.”

Diah memandang ke lantai. Ada bercak darah yang menetes dari ujung meja.

“Bu… itu darah siapa?”

Bu Rini diam. Hanya senyum tipis yang muncul di bibirnya. “Jangan tanya hal yang kamu tak sanggup dengar jawabannya.”

Tubuh Diah bergetar. Ia mundur satu langkah, lalu berbalik ingin pergi. Tapi sebelum sempat melangkah jauh, kain merah di meja bergerak. Ujungnya melilit kaki Diah, cepat dan kuat seperti ular. Ia berteriak, mencoba melepaskan diri, tapi kain itu semakin erat menahan pergelangan kakinya.

“Bu! Tolong, Bu!” jeritnya.

Namun bukannya menolong, Bu Rini justru menatap dengan mata sayu. “Dia hanya ingin mengenalmu, Diah. Tenanglah.”

“Lepaskan saya! Lepaskan!”

Kain itu semakin kencang, hingga kulit kakinya terasa panas. Saat ia menariknya dengan sekuat tenaga, kain itu menembus kulitnya—meninggalkan luka kecil yang langsung mengeluarkan darah. Seketika kain itu mengendur, seolah puas mendapatkan sesuatu.

Diah jatuh tersungkur di lantai. Nafasnya tersengal, dan saat menatap kakinya, ia melihat sesuatu aneh: luka itu bukan luka biasa. Di sekelilingnya, darah membentuk pola aneh seperti simbol—lingkaran kecil dengan garis di tengah, mirip tanda yang pernah ia lihat di altar Bu Rini.

Bu Rini berjongkok di depannya, lalu berkata dengan lembut, “Sekarang kamu sudah diberi tanda. Kamu tak akan bisa pergi jauh dari warung ini.”

Diah menatapnya dengan mata lebar. “Apa maksud Ibu?”

“Kamu sudah terikat. Dia sudah mencium darahmu. Kau miliknya sekarang.”

Tubuh Diah gemetar. “Tidak… tidak mungkin!”

Bu Rini menghela napas panjang. “Aku dulu juga menolak, Diah. Tapi setelah suamiku mati kelaparan dan usahaku hampir bangkrut, aku tak punya pilihan. Dia menawarkan keberkahan dengan harga yang harus dibayar—darah manusia yang pernah melihatnya.”

“Jadi selama ini… semua pelayan yang hilang…” suara Diah hampir tak terdengar.

Bu Rini menunduk. “Mereka dipilih olehnya. Aku hanya menjaga keseimbangan.”

Diah berlari keluar dari dapur, menangis ketakutan. Tapi begitu sampai di kamar, napasnya tersengal. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya—dan sesuatu di belakangnya: bayangan perempuan berambut panjang, berbalut kain merah, berdiri tepat di sudut ruangan.

Diah berbalik cepat, tapi tidak ada siapa-siapa. Cermin itu tetap memperlihatkan bayangan yang sama. Perlahan, bayangan itu mengangkat tangannya, memperlihatkan jari-jarinya yang basah darah. Lalu satu demi satu jari itu menekan permukaan cermin dari dalam, meninggalkan bekas merah seperti tapak tangan.

Diah menjerit dan memukul cermin itu hingga retak. Tapi serpihan kaca itu malah memantulkan wajahnya sendiri—dengan darah mengalir di ujung jarinya. Ia menatap tangannya dengan ngeri; dari ujung jarinya benar-benar menetes darah, meski ia tak merasa terluka.

Dan di dalam kepalanya, suara lembut itu kembali terdengar.

“Jangan takut… Aku cuma ingin bersamamu…”

“Darahmu manis… aku tak akan menyakitimu… kalau kamu mau tinggal…”

Diah terisak, tubuhnya gemetar. Ia memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi. Tapi saat membukanya lagi, di lantai tempat cermin jatuh, ada kain merah kecil—berbentuk hati, dan basah oleh darahnya sendiri.

Di permukaannya tertulis satu kalimat pendek:

“Kamu adalah darah baruku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAIN PENGLARIS    BAB 50 — Kembali pada Pemiliknya

    Rumah bergetar semakin hebat, seperti hendak runtuh dari dalam. Aku dan Gibran berusaha bangkit, namun sosok hitam itu sudah mengisi hampir seluruh ruang tamu. Udara dingin dan berat, seperti menekan dada dari segala arah.Gibran meraih tanganku. “Alya! Tetap sadar! Jangan biarkan dia menguasamu!”Tapi suaranya terdengar jauh—sangat jauh.Karena sosok itu sekarang tepat di hadapanku.Ia mengangkat wajah gelapnya, dan dari balik kabut hitam yang berputar, wajah perempuan itu muncul semakin jelas. Bekas luka bakar, kulit mengelupas, mata yang tak lagi berbentuk. Meski rusak, aku mengenalinya.Itu adalah wajah perempuan yang dulu—bertahun-tahun lalu—aku lihat di sebuah warung kecil di pasar tua. Wajah yang dulu terlihat murung… dan hilang beberapa minggu setelahnya."Alya…" suara sosok itu menggema dalam kepalaku, bukan di telinga.Kata-katanya menusuk seperti jarum es.“KAU MENGAMBIL TEMPATKU…”Aku mencoba mundur, tapi tidak bisa. Kakiku seperti terpaku oleh bayangan gelapnya.“Aku… aku

  • KAIN PENGLARIS    BAB 49 — Rumah yang Tidak Lagi Berpihak

    Gelap menelan seluruh ruang, begitu pekat sampai aku tidak bisa melihat telapak tanganku sendiri. Hanya suara napas cepatku yang terdengar—dan napas Gibran yang berusaha tetap tenang meski aku bisa merasakan tubuhnya menegang.“Alya, tetap di belakangku,” bisik Gibran. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihat.Di tengah kegelapan itu, langkah kaki berat yang tadi terdengar kini menjadi lebih jelas. Tidak cepat. Tidak terburu-buru. Justru lambat… dan seolah menikmati setiap detik ketika mendekati kami.DUG…DUG…DUG…Setiap hentakan membuat lantai bergetar halus, seperti ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada manusia yang melangkah di atasnya.Gibran meraih senter ponselnya. Baru saja ia menyalakannya—lampu itu langsung mati seperti dicabut paksa oleh sesuatu.Aku menahan napas. “Gibran…”“Ssh…” Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Dia ingin kita takut. Jangan beri dia yang dia mau.”Tapi itu mustahil. Karena rasa dingin mulai merayap da

  • KAIN PENGLARIS    BAB 48 — Bayangan yang Tidak Ingin Pergi

    Malam sudah hampir bergeser menuju dini hari, tapi rumahku tidak terasa seperti rumah. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa aman. Hanya ada keheningan tebal yang terasa seperti menempel di kulit, seolah udara pun takut bergerak.Aku duduk di sofa dengan tubuh yang masih bergetar. Tangisku sudah berhenti, tapi setiap kali mengingat tatapan suamiku barusan, jantungku kembali mencelos.Di sampingku, Gibran masih duduk dalam diam. Tidak memaksa bertanya, tidak menuntut penjelasan. Ia hanya berada di sana—dan entah mengapa, kehadirannya lebih menenangkan daripada kata-kata apa pun.Setelah cukup lama, ia akhirnya berbicara.“Alya… kalau kamu takut dia akan melakukan sesuatu, kamu boleh ikut aku pergi. Setidaknya untuk malam ini.”Aku menatapnya. Ada kekhawatiran tulus di matanya. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lain—ketidakpercayaan terhadap apa yang bisa dilakukan suamiku.“Aku nggak tahu,” jawabku pelan. “Aku belum siap meninggalkan rumah ini. Belum sekarang.”Gibran mengangguk

  • KAIN PENGLARIS    BAB 47 — Saat Dua Dunia Bertabrakan

    Langkah kaki itu mendekat—cepat, berat, dan penuh amarah yang sudah lama kukenal. Nafasku tersengal, seolah dada terlalu sempit untuk menampung semua kecemasan yang tiba-tiba meledak.Suamiku muncul dari balik pagar. Matanya langsung menyapu halaman, lalu tertancap ke arahku—dan seseorang di sampingku.Gibran.Aku melihat bagaimana ekspresi suamiku berubah dalam hitungan detik—dari bingung, menjadi curiga, lalu membara. Rahangnya mengeras. Tangan kanannya mengepal. Aku bisa menebak isi kepalanya bahkan sebelum ia membuka mulut.“Apa ini?” suaranya rendah, tapi jelas sedang menahan ledakan.Gibran hanya berdiri tegak, tidak mundur. Tidak mencari alasan. Tidak kabur. Ia memandang suamiku dengan tatapan netral, tapi tegas. Sementara aku—aku berdiri di tengah, seperti seseorang yang diikat di antara dua jurang yang sama-sama menganga.“Apa yang kamu lakukan di sini?” suamiku mendekat, suaranya mengeras. “Siapa kamu?”Gibran menelan ludah, kemudian menjawab dengan suara tenang yang justru

  • KAIN PENGLARIS    BAB 46 — Yang Tidak Pernah Kukira Akan Datang

    Rumah itu terasa terlalu hening malam ini. Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang membuat dada terasa sesak, seperti seseorang menaruh batu besar di atas napasku. Lampu ruang tamu menyala redup, menorehkan bayangan panjang di lantai keramik yang dingin. Aku berdiri di ambang pintu kamar, memandangi isi rumah yang dulu begitu kukenali, dan kini terasa seperti tempat asing yang entah bagaimana masih harus kutinggali.Hari ini seharusnya biasa saja. Tapi hidup tidak pernah benar-benar memberi jeda pada orang-orang yang sudah terlalu lama bertahan dalam luka.Ponselku bergetar pelan di atas meja kecil. Nama yang muncul membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena cinta, bukan karena rindu, tapi karena campuran takut dan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.Gibran.Pesan pendek muncul:“Alya… kamu baik-baik saja hari ini?”Pertanyaan sederhana, tapi entah mengapa menamparku lebih keras dari teriakan siapa pun. Karena suamiku sendiri tidak pernah menanyakan itu.

  • KAIN PENGLARIS    Bab 45 — Rumah Penenun Kematian

    Pintu rumah itu menganga seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang masuk. Udara yang keluar dari dalamnya terasa dingin, lembap, dan berbau seperti tanah basah bercampur darah lama. Arini menutup hidungnya, berusaha tidak muntah.Aminah melangkah paling depan. “Jangan tertinggal. Jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu. Dan apa pun yang terjadi… jangan menatap bayangan kalian sendiri.”Pak Jaya menelan ludah. “Bayangan?”Aminah tidak menjawab. Ia hanya masuk ke kegelapan rumah itu, membawa lampu minyak kecil yang baru dinyalakannya.Cahaya lampu itu tidak memantul.Seolah rumah itu menelan cahaya.Di Dalam Rumah GelapBegitu mereka masuk, pintu rumah tertutup dengan gedebuk keras, membuat Arini menjerit.Pak Jaya mencoba membuka pintu, namun pintu itu tidak bergerak sama sekali. Bahkan tidak bergoyang.“A-apa ini…? Bu Aminah… pintunya terkunci!”Aminah berdiri tegak, tanpa menoleh. “Memang begitu. Begitu kita masuk, rumah ini akan menentukan siapa yang boleh keluar.”Ar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status