Home / Horor / KAIN PENGLARIS / Bab 2 — Suara dari Dapur Belakang

Share

Bab 2 — Suara dari Dapur Belakang

last update Last Updated: 2025-11-07 19:28:54

Sejak malam itu, tidur Diah tidak pernah lagi tenang. Setiap kali matanya terpejam, suara tawa lirih dan bisikan halus selalu menyelinap ke dalam mimpinya. Kadang ia melihat kain merah itu terbentang di lantai, kadang tergantung di langit-langit kamar, meneteskan darah yang seolah hidup.

Pagi menjelang dengan langit kelabu. Warung Bu Rini kembali ramai seperti biasa, seolah tidak ada kejadian apa pun yang aneh malam sebelumnya. Diah membantu menyiapkan lauk, meski matanya sembab dan tubuhnya lemas. Ia tidak berani menatap meja altar di pojok dapur—meja yang kemarin menjadi sumber ketakutannya.

Bu Rini tampak ceria pagi itu. Senyumnya ramah seperti biasa, suaranya lembut saat menyapa pelanggan. Tapi bagi Diah, senyum itu tak lagi sama. Ia tahu di balik keramahan itu, ada sesuatu yang disembunyikan.

“Diah,” panggil Bu Rini dari depan. “Ambilkan daging di dapur belakang, ya. Yang di ember hitam.”

Diah spontan menoleh. Dapur belakang—tempat suara aneh sering terdengar malam-malam.

“I-iya, Bu,” jawabnya pelan.

Langkahnya berat menuju ruangan itu. Pintu dapur belakang sedikit terbuka, menimbulkan suara berderit ketika didorong. Udara di dalam terasa lebih dingin daripada biasanya. Aroma anyir langsung menyambut hidungnya. Ia menahan napas, melangkah pelan menuju meja kayu tempat ember itu berada.

Begitu mendekat, matanya langsung menangkap sesuatu yang membuat tengkuknya meremang. Di sudut ruangan, ada kain merah tergeletak, tapi kali ini bentuknya berbeda. Kain itu tidak sekadar terlipat. Ujungnya melingkar seperti sedang memeluk sesuatu.

Diah berjongkok perlahan, berusaha memastikan. Dan saat ia memiringkan kepala, sesuatu dari dalam kain itu menetes ke lantai. Darah—masih segar.

Ia tersentak mundur. Ember hitam di depannya terbalik, isinya tumpah ke lantai. Potongan daging mentah berserakan. Tapi di antara tumpukan itu, ada sesuatu yang membuat napasnya tercekat: potongan jari manusia.

Diah menjerit pelan, tapi segera menutup mulutnya sendiri. Ia ingin lari, tapi langkahnya membeku. Tiba-tiba kain merah itu bergerak. Pelan, tapi nyata. Ujungnya merayap seperti ular, mendekatinya sedikit demi sedikit.

“Bu Rini!” panggil Diah dengan suara parau.

Tak lama, Bu Rini muncul dari pintu dapur, wajahnya tenang, seolah sudah tahu apa yang terjadi.

“Kamu lihat sesuatu lagi, ya?” suaranya lembut, tapi dingin.

“Bu… itu… di kain itu ada darah! Dan—dan potongan jari manusia, Bu!”

Bu Rini tidak menjawab. Ia justru melangkah ke arah kain merah itu dan menunduk, mengelus ujungnya dengan lembut.

“Dia tidak suka kalau kamu menjerit. Itu membuatnya marah.”

Nada suaranya hampir seperti seorang ibu menenangkan anak kecil.

Diah melangkah mundur, jantungnya berdetak kencang. “Bu… apa maksudnya ‘dia’?”

Bu Rini tersenyum samar, matanya menerawang. “Kain itu bukan sekadar kain, Diah. Ia penolong keluarga ini. Tanpa dia, warung ini takkan seramai sekarang. Tanpa dia, aku dan anakku mungkin sudah mati kelaparan.”

Diah tidak bisa berkata apa-apa. Otaknya menolak logika kalimat itu.

“Bu, itu… itu penglaris, ya?” bisiknya gemetar.

Senyum Bu Rini menghilang perlahan. Ia menatap Diah lama, lalu berkata pelan, “Kamu pintar. Tapi pintar kadang berbahaya kalau tidak tahu tempatnya.”

Diah mundur dua langkah, tubuhnya gemetar. “Bu… saya tidak akan bilang ke siapa-siapa, tapi saya mau pulang. Saya tidak sanggup di sini.”

Wajah Bu Rini langsung berubah. Pandangannya tajam seperti pisau. “Kamu pikir bisa pergi semudah itu? Setelah kain itu mengenal wajahmu?”

Diah terdiam. Ia tak mengerti maksudnya. Tapi sebelum ia sempat bertanya, kain merah itu tiba-tiba bergetar kuat. Dari dalamnya terdengar suara lirih, seperti erangan seseorang yang tertahan. “Diah…”

Gadis itu memutar badan dan berlari keluar dapur, napasnya tersengal. Ia hampir menabrak Bayu yang baru saja masuk membawa karung beras.

“Kenapa kamu?” tanya Bayu datar.

“Ada… ada sesuatu di dalam, kain itu bergerak sendiri!”

Bayu tidak tampak terkejut. Ia hanya menatapnya lama, lalu berkata lirih, “Kalau kamu dengar suara dari dapur belakang malam nanti, jangan keluar kamar. Apa pun yang terjadi, jangan buka pintu.”

Nada suaranya dingin dan serius. Diah hanya bisa menatapnya tanpa suara.

Malamnya, Diah berbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi seluruh tubuh. Suara angin dan ranting di luar membuatnya sulit tidur. Tapi yang paling ia takuti adalah… suara dari dapur belakang.

Dan ketakutannya terbukti. Sekitar tengah malam, dari arah dapur terdengar bunyi sendok jatuh, disusul suara langkah kaki yang berat. Lalu, bisikan itu datang lagi, pelan dan lembut seperti membelai telinga.

“Diah…”

“Kamu belum tidur?”

Jantungnya berdegup kencang. Ia menahan napas di balik selimut. Tapi suara itu tidak berhenti.

“Aku di dapur… sendirian…”

“Temani aku, Diah…”

Air matanya menetes tanpa sadar. Ia ingin berteriak, tapi lidahnya kelu. Lalu dari bawah ranjang, terdengar suara gesekan kain. Perlahan, sesuatu merayap naik dari bawah kasurnya, mengelus ujung kakinya yang tak sengaja terjulur keluar. Dingin. Licin. Basah.

Diah menjerit histeris dan melompat dari kasur, menyalakan lampu. Tapi tak ada siapa-siapa di sana. Hanya lantai basah dan jejak merah kecil… menuju arah dapur belakang.

Ia memegangi dadanya, gemetar hebat. Dalam hati, ia tahu: kain itu tidak hanya disimpan di altar. Kini, ia sudah mulai mencarinya.

Malam itu, hujan turun lebih deras dari biasanya. Angin meniup dedaunan kering hingga menempel di jendela kamar Diah. Lampu di dalam ruangan berkedip beberapa kali sebelum akhirnya stabil, meski cahayanya tampak lebih redup dari biasanya.

Diah duduk di atas kasur tipisnya, memeluk lutut, menatap ke arah pintu yang masih tertutup rapat. Suara tawa lirih yang ia dengar sore tadi masih terngiang jelas di telinganya. Setiap kali ia mencoba menutup mata, bayangan kain merah itu muncul—basah, berdenyut, seolah memanggilnya untuk mendekat.

Ia menggigit bibir. “Itu cuma halusinasi… cuma bayangan,” bisiknya meyakinkan diri. Tapi di lubuk hatinya, ia tahu ada yang tidak beres.

Sekitar tengah malam, suara langkah kaki terdengar dari luar kamarnya. Pelan, berderak di lantai kayu, seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki. Cek… cek… cek…

Diah menajamkan pendengaran. Suara itu berhenti tepat di depan pintunya.

“Bu Rini?” panggilnya ragu.

Tidak ada jawaban.

Lalu, sesuatu bergetar di udara. Suara napas berat terdengar dari balik pintu, disusul suara kain yang diseret di lantai. Perlahan, gagang pintu bergoyang sendiri. Seketika tubuh Diah menegang. Ia mundur ke pojok ruangan, menatap pintu dengan mata membulat.

Gagang pintu berputar perlahan, klik… terbuka sedikit, dan udara dingin langsung menyelinap masuk. Dalam kegelapan, Diah melihat bayangan seseorang berdiri diam di depan pintu—tinggi, berambut panjang, dan tubuhnya terbungkus kain merah yang menjuntai ke lantai.

“Siapa di situ?!” teriak Diah, suaranya serak karena takut.

Bayangan itu tidak bergerak, hanya menunduk sedikit. Dari celah kain yang menutupi wajahnya, sesuatu menetes ke lantai. Tetes… tetes… darah.

Diah menutup mulut, berusaha tidak berteriak. Saat ia melangkah mundur, tiba-tiba lampu di kamarnya mati. Kegelapan menelan segalanya.

Lalu suara itu datang—pelan, dekat sekali di telinganya.

“Diah…”

“Aku lapar…”

Jerit kecil lolos dari mulutnya. Ia menubruk pintu, membukanya lebar, lalu berlari keluar tanpa berpikir. Lantai kayu yang basah membuatnya hampir tergelincir. Warung di depan tampak gelap gulita, hanya cahaya dari dapur belakang yang redup berkelip-kelip.

Dengan langkah gemetar, Diah menoleh ke arah sumber cahaya itu. Dari celah pintu dapur, terlihat sosok Bu Rini duduk di lantai, menghadap meja altar kecil. Mulutnya bergerak, melantunkan sesuatu dengan nada pelan. Di hadapannya, kain merah itu terbentang, dan di atasnya tergeletak seekor ayam hitam yang sudah disembelih, darahnya menetes ke kain.

“Bu…” suara Diah nyaris tak terdengar.

Namun Bu Rini tak berhenti berdoa. Ia justru mengambil segenggam bunga melati dan menaburkannya di atas kain, lalu menundukkan kepala dalam-dalam.

Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Api di lampu dapur bergetar, lalu padam. Dalam kegelapan, Diah mendengar sesuatu bergerak dari arah kain itu—seperti seseorang menarik napas panjang.

Bu Rini berdiri perlahan, menoleh ke arah Diah.

“Kenapa kamu keluar?” suaranya berat, hampir seperti bukan miliknya sendiri.

“B-Bu… saya takut. Ada… ada yang di kamar saya.”

Bu Rini melangkah mendekat. Matanya tampak kosong, dan di ujung bibirnya ada noda merah. “Kamu sudah lihat sesuatu yang tidak seharusnya, ya?”

Diah mundur satu langkah. “Saya tidak sengaja, Bu. Saya cuma…”

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, kain merah di atas meja bergerak sendiri. Ujungnya menjulur seperti tangan, melilit kaki ayam yang tadi disembelih, lalu menariknya ke tengah kain hingga lenyap.

Diah terpekik ngeri. “Ya Tuhan…”

Bu Rini langsung menatap tajam. “Jangan sebut nama Tuhan di sini!” bentaknya keras. Suaranya menggema di seluruh ruangan.

Hening beberapa detik. Diah hanya bisa mematung, tidak berani bergerak. Lalu, sesuatu dari dalam kain itu bergumam lirih, seperti bisikan seratus suara yang tumpang-tindih.

“Lapar… lapar… lapar…”

Bu Rini segera mengambil toples kaca dari bawah altar dan menutup kain itu rapat-rapat. Setelah itu, ia berbalik, wajahnya kembali normal—seolah tak terjadi apa-apa.

“Sudah, Diah. Pergi tidur. Jangan tanya apa pun. Jangan lihat apa pun. Kalau kamu sayang nyawa kamu, anggap malam ini tidak pernah terjadi.”

Diah menelan ludah, menatap perempuan itu dengan tubuh gemetar. Tapi sebelum ia sempat berkata apa pun, dari dalam toples terdengar suara kecil, seperti erangan bayi yang lapar.

Tanpa sadar, air mata Diah menetes. Ia berlari kembali ke kamarnya, mengunci pintu rapat-rapat, lalu duduk di sudut sambil memeluk diri. Di luar, suara hujan menelan segalanya, tapi di telinganya, ia masih bisa mendengar suara itu—lembut, tapi menyeramkan:

“Kamu sudah aku pilih, Diah…”

“Sekarang kau bagian dari kami…”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAIN PENGLARIS    BAB 50 — Kembali pada Pemiliknya

    Rumah bergetar semakin hebat, seperti hendak runtuh dari dalam. Aku dan Gibran berusaha bangkit, namun sosok hitam itu sudah mengisi hampir seluruh ruang tamu. Udara dingin dan berat, seperti menekan dada dari segala arah.Gibran meraih tanganku. “Alya! Tetap sadar! Jangan biarkan dia menguasamu!”Tapi suaranya terdengar jauh—sangat jauh.Karena sosok itu sekarang tepat di hadapanku.Ia mengangkat wajah gelapnya, dan dari balik kabut hitam yang berputar, wajah perempuan itu muncul semakin jelas. Bekas luka bakar, kulit mengelupas, mata yang tak lagi berbentuk. Meski rusak, aku mengenalinya.Itu adalah wajah perempuan yang dulu—bertahun-tahun lalu—aku lihat di sebuah warung kecil di pasar tua. Wajah yang dulu terlihat murung… dan hilang beberapa minggu setelahnya."Alya…" suara sosok itu menggema dalam kepalaku, bukan di telinga.Kata-katanya menusuk seperti jarum es.“KAU MENGAMBIL TEMPATKU…”Aku mencoba mundur, tapi tidak bisa. Kakiku seperti terpaku oleh bayangan gelapnya.“Aku… aku

  • KAIN PENGLARIS    BAB 49 — Rumah yang Tidak Lagi Berpihak

    Gelap menelan seluruh ruang, begitu pekat sampai aku tidak bisa melihat telapak tanganku sendiri. Hanya suara napas cepatku yang terdengar—dan napas Gibran yang berusaha tetap tenang meski aku bisa merasakan tubuhnya menegang.“Alya, tetap di belakangku,” bisik Gibran. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.Aku mengangguk meski ia tidak bisa melihat.Di tengah kegelapan itu, langkah kaki berat yang tadi terdengar kini menjadi lebih jelas. Tidak cepat. Tidak terburu-buru. Justru lambat… dan seolah menikmati setiap detik ketika mendekati kami.DUG…DUG…DUG…Setiap hentakan membuat lantai bergetar halus, seperti ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada manusia yang melangkah di atasnya.Gibran meraih senter ponselnya. Baru saja ia menyalakannya—lampu itu langsung mati seperti dicabut paksa oleh sesuatu.Aku menahan napas. “Gibran…”“Ssh…” Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. “Dia ingin kita takut. Jangan beri dia yang dia mau.”Tapi itu mustahil. Karena rasa dingin mulai merayap da

  • KAIN PENGLARIS    BAB 48 — Bayangan yang Tidak Ingin Pergi

    Malam sudah hampir bergeser menuju dini hari, tapi rumahku tidak terasa seperti rumah. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa aman. Hanya ada keheningan tebal yang terasa seperti menempel di kulit, seolah udara pun takut bergerak.Aku duduk di sofa dengan tubuh yang masih bergetar. Tangisku sudah berhenti, tapi setiap kali mengingat tatapan suamiku barusan, jantungku kembali mencelos.Di sampingku, Gibran masih duduk dalam diam. Tidak memaksa bertanya, tidak menuntut penjelasan. Ia hanya berada di sana—dan entah mengapa, kehadirannya lebih menenangkan daripada kata-kata apa pun.Setelah cukup lama, ia akhirnya berbicara.“Alya… kalau kamu takut dia akan melakukan sesuatu, kamu boleh ikut aku pergi. Setidaknya untuk malam ini.”Aku menatapnya. Ada kekhawatiran tulus di matanya. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang lain—ketidakpercayaan terhadap apa yang bisa dilakukan suamiku.“Aku nggak tahu,” jawabku pelan. “Aku belum siap meninggalkan rumah ini. Belum sekarang.”Gibran mengangguk

  • KAIN PENGLARIS    BAB 47 — Saat Dua Dunia Bertabrakan

    Langkah kaki itu mendekat—cepat, berat, dan penuh amarah yang sudah lama kukenal. Nafasku tersengal, seolah dada terlalu sempit untuk menampung semua kecemasan yang tiba-tiba meledak.Suamiku muncul dari balik pagar. Matanya langsung menyapu halaman, lalu tertancap ke arahku—dan seseorang di sampingku.Gibran.Aku melihat bagaimana ekspresi suamiku berubah dalam hitungan detik—dari bingung, menjadi curiga, lalu membara. Rahangnya mengeras. Tangan kanannya mengepal. Aku bisa menebak isi kepalanya bahkan sebelum ia membuka mulut.“Apa ini?” suaranya rendah, tapi jelas sedang menahan ledakan.Gibran hanya berdiri tegak, tidak mundur. Tidak mencari alasan. Tidak kabur. Ia memandang suamiku dengan tatapan netral, tapi tegas. Sementara aku—aku berdiri di tengah, seperti seseorang yang diikat di antara dua jurang yang sama-sama menganga.“Apa yang kamu lakukan di sini?” suamiku mendekat, suaranya mengeras. “Siapa kamu?”Gibran menelan ludah, kemudian menjawab dengan suara tenang yang justru

  • KAIN PENGLARIS    BAB 46 — Yang Tidak Pernah Kukira Akan Datang

    Rumah itu terasa terlalu hening malam ini. Bukan hening yang menenangkan, melainkan hening yang membuat dada terasa sesak, seperti seseorang menaruh batu besar di atas napasku. Lampu ruang tamu menyala redup, menorehkan bayangan panjang di lantai keramik yang dingin. Aku berdiri di ambang pintu kamar, memandangi isi rumah yang dulu begitu kukenali, dan kini terasa seperti tempat asing yang entah bagaimana masih harus kutinggali.Hari ini seharusnya biasa saja. Tapi hidup tidak pernah benar-benar memberi jeda pada orang-orang yang sudah terlalu lama bertahan dalam luka.Ponselku bergetar pelan di atas meja kecil. Nama yang muncul membuat jantungku berdetak sedikit lebih cepat—bukan karena cinta, bukan karena rindu, tapi karena campuran takut dan sesuatu yang tak bisa kuterjemahkan.Gibran.Pesan pendek muncul:“Alya… kamu baik-baik saja hari ini?”Pertanyaan sederhana, tapi entah mengapa menamparku lebih keras dari teriakan siapa pun. Karena suamiku sendiri tidak pernah menanyakan itu.

  • KAIN PENGLARIS    Bab 45 — Rumah Penenun Kematian

    Pintu rumah itu menganga seperti mulut raksasa yang siap menelan siapa pun yang masuk. Udara yang keluar dari dalamnya terasa dingin, lembap, dan berbau seperti tanah basah bercampur darah lama. Arini menutup hidungnya, berusaha tidak muntah.Aminah melangkah paling depan. “Jangan tertinggal. Jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu. Dan apa pun yang terjadi… jangan menatap bayangan kalian sendiri.”Pak Jaya menelan ludah. “Bayangan?”Aminah tidak menjawab. Ia hanya masuk ke kegelapan rumah itu, membawa lampu minyak kecil yang baru dinyalakannya.Cahaya lampu itu tidak memantul.Seolah rumah itu menelan cahaya.Di Dalam Rumah GelapBegitu mereka masuk, pintu rumah tertutup dengan gedebuk keras, membuat Arini menjerit.Pak Jaya mencoba membuka pintu, namun pintu itu tidak bergerak sama sekali. Bahkan tidak bergoyang.“A-apa ini…? Bu Aminah… pintunya terkunci!”Aminah berdiri tegak, tanpa menoleh. “Memang begitu. Begitu kita masuk, rumah ini akan menentukan siapa yang boleh keluar.”Ar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status