ホーム / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 13. Tamu Tak Diundang

共有

Bab 13. Tamu Tak Diundang

作者: juskelapa
last update 公開日: 2026-01-05 15:32:11

Satria tahu jawabannya kenapa ia sampai mengucapkan kalimat tolol barusan. Ia takut terlalu dekat. Takut melampaui batas persahabatan dengan Prabu. Takut berniat terlalu jauh padahal ia sendiri belum paham apa yang ia rasakan. Tapi … begitu membayangkan Sheza menangis, wajah letihnya, suaranya yang pecah ….

Ada sesuatu yang mengusik dadanya.

Dan justru kalimat “melepas kapan saja” itu membuat dadanya sekarang terasa kosong aneh.

“Bangke banget gue ….”

Satria menyandarkan kepalanya pada head
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (36)
goodnovel comment avatar
Larose
masih byk hal yg belum terpecahkan dari sosok Prabu,Satria,Sheza dan Nadine ahh...akhirnya nemu lagi bacaan yg bikin penasaran dan antusias,tinggal siapin koin yg banyak ini hehehe
goodnovel comment avatar
Oppies Moch
Aku penasaran kak, kenapa Satria bisa jatuh cinta, menikahi dan punya anak dengan Nadine? kayaknya Nadine jauh dr tipe Satria
goodnovel comment avatar
Indarini Rini
satria klu sudah ngomong ngeri ngeri sedap.........
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • KAMAR KEDUA   Bab 221. Kecurigaan yang Bertambah 

    Pertanyaan Ratri itu datang terlalu tiba-tiba. Pak Hendra langsung menatap putrinya. “Kenapa tanya itu?” tanyanya.“Karena semua orang kayak saling kenal.” Ratri mengangkat bahu kecil. “Pelabuhan. Kontainer. Shipping. Nama-nama itu muter di orang yang sama. Papa aja lancar banget jawab soal suaminya Sheza. Dan dengan kata lain … Papa kenal dua suaminya Sheza.” Ia kemudian diam.Pak Hendra tersenyum lagi. Namun kali ini senyum itu terasa jauh lebih tipis. “Bisnis dunia atas memang kecil.”“Iya. Kecil. Jawaban Papa juga diplomatis.” Ratri mengangkat bahu. “Dan anehnya … Sheza dapat suami dua-duanya orang pelabuhan.”“Untuk itu … Satria lebih dulu turun ke dunia pelabuhan. Temannya itu, mungkin belajar dari Satria. Mereka dekat, tapi berbeda gaya. Jauh.” Pak Hendra mengemukakan pendapatnya dengan lebih wajah serius. Kali ini penilaiannya memang objektif.Ratri mendecak kecil sambil mengambil roti panggangnya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bicara.“Tapi serius…” tatapannya turu

  • KAMAR KEDUA   Bab 220. Jangan Terlalu Dekat

    Ratri baru turun dari lantai dua setelah memastikan anaknya benar-benar sudah bangun dan bersiap berangkat sekolah. Rambutnya masih setengah basah. Kemeja putih longgar yang dipakainya membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.Begitu memasuki ruang makan, ia langsung melihat Pak Hendra sudah duduk di sana.Padahal biasanya papanya jarang sarapan di rumah saat hari kerja.“Tumben,” gumam Ratri sambil menarik kursi.Pak Hendra hanya mengangkat mata sebentar dari koran bisnis di tangannya. “Papa juga masih punya rumah.”Ratri terkekeh kecil lalu mulai menuang teh hangat ke cangkirnya sendiri. Namun baru beberapa detik duduk, ia mulai sadar sesuatu. Papanya memperhatikannya terlalu sering.Bukan tatapan biasa.Tatapan seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu masih berada di tempatnya.“Kamu kemarin ke mana aja?” tanya Pak Hendra akhirnya terdengar santai.Ratri mengangkat alis kecil. “Ke kantor.”“Terus?”“Jemput Raka.”“Terus?”Ratri mulai tertawa kecil sekarang. “Interog

  • KAMAR KEDUA   Bab 219. Hasil Diskusi

    Di ruang kerja Satria, Arga dan Julian menempati sofa berukuran untuk dua orang berdampingan. Di depan mereka ada coffee table yang di atasnya sudah tersedia nampan dengan teko dan beberapa cangkir keramik. Julian lebih dulu menyesap teh yang asapnya masih mengepul.“Kebetulan hari ini belum ada kena caffeine,” kata Julian.“Kenapa nggak ngopi sekalian?” Arga ikut mengambil teh dan memasukkan gula sesendok teh.“Kalau kopi nggak tahan lambungnya,” sahut Julian.“Kalau orang tua biasa emang gitu,” sahut Roman dari belakang Satria. Ia tengah membersihkan luka itu dengan kasa steril. Ia lalu mengamati luka itu dengan raut serius. “Ternyata bagus juga hasil jaitan gue,” ucapnya.“Kalau bagus … lebaran nanti bisa terima jaitan,” sambung Julian, gantian meledek.“Mau jait tunik, atau jait gamis, Say?” Roman kemudian terkekeh-kekeh. Beberapa saat tertawa, ia kemudian diam. “Dah, ah. Diem,” ucapnya sendiri.“Sinting,” kata Arga.Satria tersenyum seraya meringis karena gerakan tangan Roman menj

  • KAMAR KEDUA   Bab 218. Rumah yang Hangat

    Semalam akhirnya Satria berhasil membujuk Nayla pulang.Butuh waktu hampir satu jam sampai gadis kecil itu benar-benar mau memakai sandal dan turun dari sofa ruang keluarga sambil memeluk tas kecilnya dengan wajah berat.“Aku minggu depan ke sini lagi?” tanyanya untuk ketiga kali.Satria yang sedang berjongkok di depannya langsung mengangguk. “Iya.” Tangannya membelai pipi sang putri. “Padahal bukan jadwal Papa, tapi Papa akan usahakan izin biar kamu bisa nginep di sini.”Dan Nayla akhirnya diam.Perjalanan mengantar Nayla pulang berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Satria. Rumah Nadine terlihat sepi saat mobil masuk ke halaman. Beberapa asisten rumah tangga membantu membawakan barang Nayla sementara Nadine sendiri sedang tidak ada di rumah.Sebelum turun dari mobil, Nayla sempat memeluk leher papanya sebentar.“Papa jangan lupa.”Satria mengusap puncak kepala putrinya pelan. “Papa nggak pernah lupa.”Pagi hari berikutnya rumah itu kembali hidup oleh rutinitas kecil

  • KAMAR KEDUA   Bab 217. Dunia Pak Hendra

    Malam sudah jauh lewat.Rumah besar itu memang terlihat selalu tenang. Terlalu tenang bahkan untuk ukuran rumah yang memang jarang berisik sejak bertahun-tahun lalu.Ratri turun dari lantai dua sambil membawa botol minum anaknya yang tadi masih berada di kamar. Lampu-lampu rumah sudah diredupkan sebagian. Hanya menyisakan cahaya hangat di area pantry dan ruang baca.Anaknya sudah tidur sejak satu jam lalu. Anak laki-laki kecil yang meski sudah berusia delapan tahun tapi selalu tidur sambil memeluk dinosaurus kain lusuh kesayangannya.Ratri berhenti sebentar saat melihat papanya masih duduk sendirian di ruang baca.Pak Hendra mengenakan kemeja rumah warna gelap dengan kacamata baca bertengger rendah di hidungnya. Namun lembar koran bisnis di tangannya sudah lama tidak dibalik.Tatapannya kosong ke arah taman belakang.Ratri berjalan mendekat perlahan.“Papa belum tidur?”Pak Hendra menoleh sebentar lalu tersenyum tipis. “Belum ngantuk.”Ratri mendengus kecil. “Padahal obat darah tingg

  • KAMAR KEDUA   Bab 216. Luka yang Disembunyikan

    Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Satria mengembuskan napas pendek. Ia menyerah pada sorot mata cantik yang menatapnya.“Ada luka kecil,” katanya akhirnya.Sheza masih diam.Tangannya tetap menggenggam tangan Satria seolah meminta pria itu tetap di sana.“Luka di punggung. Kecil. Dan aku nggak apa-apa,” lanjut Satria pelan.Namun kali ini Sheza menggeleng kecil.“Kita udah tidur bareng cukup lama, Mas,” katanya lirih.Tatapan Satria turun padanya.“Aku hafal tubuh Mas Satria.”Kalimat itu membuat r

  • KAMAR KEDUA   Bab 67. Mungkin Hanya Sebuah Kewajiban

    “Zee … kalau aku lanjut, aku nggak akan setengah-setengah.” Kalimat itu jatuh keluar tanpa tekanan dan paksaan. Justru itulah yang membuat Sheza terdiam. Ia berdiri di hadapan Satria, berusaha mencerna bagaimana ia bisa sampai di kamar ini—kamar yang tak pernah ia masuki, kamar seorang pria yang k

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 72. Sepertinya Belum Yakin

    Sebenarnya … ia tidak berniat mengatakan apa pun dengan nada seperti itu pada mertuanya. Setelah ponsel berpindah tangan ke Satria, Sheza merapikan meja makan pelan-pelan. Dio kembali ke kamar dan Tuti mencuci piring dengan gerakan yang menenangkan. Suara air dan denting piring seharusnya cukup un

    last update最終更新日 : 2026-03-25
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status