Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 12. Pria yang Sebenarnya

Share

Bab 12. Pria yang Sebenarnya

Author: juskelapa
last update Huling Na-update: 2026-01-05 15:31:52

Arga menepuk bahu Satria. “Ingat, ya. Kalian bisa buat kesepakatan apa pun. Nggak harus memaksakan apa pun dulu. Dan Sheza ….” Arga kini memandang Sheza. “Satria ini adalah … satria terbaik kami.”

Sheza hanya mengangguk bingung.

Satu per satu, empat pria itu keluar.

Roman paling terakhir. Ia berhenti sebentar di pintu, menatap punggung Sheza, lalu pergi tanpa suara.

Kini rumah itu tinggal memuat dua orang. Dua orang yang belum pernah benar-benar berbicara sejak hari kecelakaan Prabu.

Keheningan itu tebal. Tak nyaman. Seperti mengamati orang asing yang tiba-tiba harus tinggal sekamar.

Sheza mengusap kedua tangannya gugup. “Maaf, Mas … aku belum masak makan malam untuk tamu. Cuma buat aku dan Dio. Kalau Mas mau makan, aku bisa….”

“Zee?” Satria menatap Sheza. Wanita itu terperanjat saat Satria memanggilnya dengan nama sapaan khasnya.

“Ya?” Sheza mencoba berdeham untuk melegakan tenggorokannya yang terasa kering. Ia merasa kembali ke masa-masa awal diperkenalkan Prabu pada Satria.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (17)
goodnovel comment avatar
nana
sepertiny mmg dr awal mas satria udh suka ama zee . dr pembawaanny yg dingin dan diam. padahal dia sedng menutupi perasaanny.
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
narnia
kan kan pasti udh ada rasa sebelumnya
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 28. Boleh Menangis

    Bab 28. Boleh Menangis Perjalanan pulang ke rumah terasa amat panjang dengan keheningan yang menyesakkan. Sheza melangkah gontai dengan tas, map dan amplop cokelat yang mungkin sudah muak dibawanya ke sana kemari. Bahkan rumah yang biasanya memang sunyi, malam itu terasa terlalu sunyi. Televisi berbulan-bulan tak menyala. Dio yang biasanya tidur pukul sembilan malam, kini selalu tidur sebelum pukul delapan selama di sana. Sheza berdiri cukup lama di ruang keluarga. Satu-satunya cahaya di ruangan itu berasal dari standing lamp yang mengeluarkan pijar kekuningan. Sheza mengamati ruangan itu tanpa tujuan. Hanya berdiri dengan dress selutut berwarna krem yang dikenakannya dari pagi. Tasnya masih menggantung di bahu. Pandangannya kosong, tertancap pada dinding yang tidak benar-benar ia lihat. Putusan itu masih berputar di kepalanya. Angka-angka. Kalimat hukum. Nada suara hakim yang datar. Ia tidak menangis. Belum. Satria memperhatikannya dari jarak beberapa langkah. Pria itu sudah mel

  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Satria memperhatikannya sejak awal. Cara Sheza berdiri lebih lama di depan wastafel. Cara ia menahan napas sebentar sebelum melangkah. “Kamu kenapa?” tanya Satria akhirnya, nadanya datar tapi tajam. Sheza menoleh sekilas. Ragu. Lalu menghela napas pendek. “Aku lagi dapet. Kram dikit.” Satria mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. Saat Sheza lebih dulu masuk ke mobil dan duduk di sebelah pengemudi. Wajahnya terlihat lesu. “Hari ini kamu duduk di belakang aja,” pinta Satria. Sheza mengernyit. “Kenapa?” Satria belum menjawab tapi sudah turun dan kembali masuk ke rumah tanpa menjawab. Sheza kembali keluar dari kursi depan dan berpindah ke belakang tanpa banyak bertanya. Ia tak punya energi la

  • KAMAR KEDUA   Bab 26. Seiris Masa Lalu

    Usai pembicaraan di ruang makan, Satria terjaga lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengantuk meski tanpa kopi. Topik soal pekerjaan tadi memang masih menggantung di kepalanya. Bukan karena ia keberatan. Sheza atau wanita mana pun yang meminta pendapatnya, ia tak akan keberatan dengan ide bekerja. Ia hanya sedang memperhitungkan beberapa hal. Bukan soal angka atau besar-kecil yang akan dihasilkan Sheza. Yang dihitungnya tak lain soal waktu, ritme, dan seorang anak laki-laki yang sebentar lagi akan mengenal bangku sekolah dasar. Tadi Sheza memang tidak bicara panjang. Hanya mengatakan ingin bekerja. Tapi Satria tahu, di balik kalimat itu ada banyak hal yang sedang ia susun sendiri. Soal harga diri, kemandirian, dan ketakutan untuk terlalu bergantung. Satria menghela napas panjang di depan jendela kamar kedua sambil mengamati halaman belakang yang sunyi. Sel lembut di dalam kepalanya sedang mengumpulkan ingatan. “Pekerjaan …. Kamu mau bekerja,” gumam Satria seraya membayangkan

  • KAMAR KEDUA   Bab 25. Perdebatan Pertama

    Rasanya Sheza sekarang lebih hafal lorong pengadilan dibanding suasana hatinya sendiri. Ia tahu di mana lantai sedikit lebih licin, di mana bangku yang kakinya goyah, di mana suara pendingin ruangan terdengar paling keras. Bahkan langkah para panitera tak lagi asing di telinganya. Di rumah, Dio mulai sering bertanya setiap kali ia mengenakan pakaian rapi dan membawa map tipis. “Ke pengadilan lagi, Bun?” Kalau beruntung, Sheza bisa bertemu Dio sepulang dari pengadilan. Kadang ia hanya kebagian menepuk-nepuk paha atau membetulkan selimut Dio yang sudah terlelap di malam hari. Kini bahkan Satria sudah berhenti bertanya apakah ia capek atau tidak. Pria itu tidak lagi menawarkan kata-kata yang terasa terlalu besar untuk hari-hari yang berulang. Ia menggantinya dengan hal lain. Suatu sore, sepulang dari pengadilan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tak sadar Sheza sedikit menggigil. Satria yang berjalan di sampingnya berhenti sesaat, lalu menyampirkan jaket tipis miliknya ke bahu

  • KAMAR KEDUA   Bab 24. Menjadi Rutinitas

    Mau tak mau sidang ketiga harus dihadapi juga. Rasanya Sheza ingin kembali bergulung ke dalam selimut dan melupakan segala sesuatu soal pengadilan. Athar yang baru tiba dengan motornya sedang meletakkan helm di kemudi. Ia sudah memarkirkan sepeda motornya di garasi Satria. “Aku sebenarnya nggak apa-apa naik motor nganter Dio, Kak. Kan udah biasa. Kenapa sekarang harus pakai taksi? Dio juga suka naik motor.” Sheza meletakkan telunjuknya di bibir Athar. “Jangan kenceng banget suaranya. Mas Satria bilang jarak TK Dio lumayan jauh dari sini. Nggak aman naik motor. Kamu harusnya paham urusan begini.” Sheza mengerling pintu penghubung garasi dan ruang keluarga dengan gelisah. Cemas kalau tiba-tiba Satria muncul. Sejurus kemudian Satria benar-benar muncul dengan pakaian rapi. “Aku panggil taksinya sekarang, ya,” kata Satria. “Harusnya aku aja, Mas,” sahut Sheza, lagi-lagi dengan gesture serba salah. Tangan Satria sempat terangkat ke belakang punggung Sheza, namun kemudian tangan itu kem

  • KAMAR KEDUA   Bab 23. Waktu yang Merangkak

    Satria sempat melupakan urusan dapur yang sengaja dibiarkan berantakan semalam. Minggu pagi itu ia bangun sepagi biasanya. Ia mengangkat beban, lalu berenang selama setengah jam, mandi dan kemudian duduk bersantai di tepi kolam renang. Ia mengecek laporan dari staf kantor saat ia tidak berada di sana kemarin. Rumahnya memang biasa sepi dan minim bunyi-bunyian, tapi hari itu sepi rumahnya lain dari kemarin. Sepinya hidup. Cahaya matahari jatuh miring ke permukaan kolam renang, memantulkan kilau lembut yang biasanya hanya dinikmati Satria seorang diri. Sudah setengah jam ia di sana dengan secangkir kopi hitam di tangan kiri, ponsel tergeletak di sisi bangku, dan pikiran yang masih hinggap ke sana kemari. Minggu cerah itu ia mengenakan kaus katun warna abu tua dengan potongan pas di badan. Tidak ketat, tapi cukup menegaskan bahu lebar dan dada bidangnya. Lengan kausnya berhenti tepat di atas bisep, memperlihatkan lengan yang berisi dan terlatih. Celana santai hitam jatuh lurus sampai

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status