Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 12. Pria yang Sebenarnya

Share

Bab 12. Pria yang Sebenarnya

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-05 15:31:52

Arga menepuk bahu Satria. “Ingat, ya. Kalian bisa buat kesepakatan apa pun. Nggak harus memaksakan apa pun dulu. Dan Sheza ….” Arga kini memandang Sheza. “Satria ini adalah … satria terbaik kami.”

Sheza hanya mengangguk bingung.

Satu per satu, empat pria itu keluar.

Roman paling terakhir. Ia berhenti sebentar di pintu, menatap punggung Sheza, lalu pergi tanpa suara.

Kini rumah itu tinggal memuat dua orang. Dua orang yang belum pernah benar-benar berbicara sejak hari kecelakaan Prabu.

Kehen
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (22)
goodnovel comment avatar
Indarini Rini
satria mungkin sudah lama ada rasa sama zee
goodnovel comment avatar
Indah Wirdianingsih
satria mungkin ada rasa sama sheza
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
prabu sebenarnya ada apa dengan semua masalah yg kamu tinggalkan ne?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 152. Tanpa Sepengetahuanmu

    Satria memarkirkan mobilnya di depan sebuah ruko tak berpenghuni. Lalu mereka turun dan mulai berjalan. Mengamati nomor bangunan yang tersembunyi atau yang mulai pudar. Mereka berjalan pelan. Dari satu blok ke blok lain.Kalau ada orang yang kebetulan melintas, mereka bertanya.Di bagian ujung salah satu blok, ada pintu ruko yang terbuka. Dua orang pria muda sedang menaikkan kantong semen ke mobil pickup.Arga berhenti untuk bertanya. “Perusahaan ini, Mas, tau?”Dua orang pria muda itu menggeleng. “Belum pernah dengar.”Jawaban yang sama berulang di beberapa tempat. Sampai akhirnya mereka berhenti di bagian belakang salah satu blok.Sebuah gudang yang pintu besinya tertutup rapat. Nomor bangunannya sesuai. Alamatnya cocok. Tapi tetap saja tidak ada tanda apa-apa.Satria berdiri di depan pintu itu beberapa detik. Tangannya menyentuh permukaan besi yang dingin. Seolah mencoba merasakan sesuatu yang tidak terlihat.Kosong.Arga melirik ke dalam melalui celah kecil.Gelap. “Ini harusnya

  • KAMAR KEDUA   Bab 151. Yang Mulai Terhubung

    Matahari sudah tinggi tapi Satria masih duduk di balik meja kerjanya, lengan kemejanya masih rapi belum tergulung. Pertanda ia belum banyak bergerak sejak tiba di kantor pagi tadi. Meski tampak tenang, dahinya yang mengernyit mengisyaratkan isi pikirannya bergumul di antara tumpukan berkas yang terbuka.Ada satu nama yang sejak tadi tidak bisa lepas dari kepalanya.Alina.Mau beberapa kali pun ia periksa, berkas perjanjian kerja Alina paling aneh di antara semuanya. Sangat berbeda dengan berkas perjanjian kerja Anton dan Prabu.Ia baru saja menutup satu file ketika ponselnya bergetar. Ia melihat layar ponselnya. “Z” Satria langsung mengangkat.“Zee?”“Mas lagi sibuk?” suara itu lembut, seperti biasa. Tapi selalu berhasil menariknya keluar dari apa pun yang sedang ia pikirkan.Satria menghela napas pelan. “Iya. Kenapa?”“Jadwal kontrol aku udah lewat dua minggu.”Kalimat itu sederhana.Tapi cukup untuk membuat Satria diam beberapa detik.Ia memijat pelipisnya pelan.“Maaf,” ucapnya r

  • KAMAR KEDUA   Bab 150. Yang Lebih Nyata 

    “Aku perlu pergi pagi-pagi banget.” Satria berbisik di telinga Sheza. Satu tangannya menyusup ke dalam selimut untuk membelai perut wanita itu dan memilin puting payudaranya.Sheza menggeliat. Matanya menyipit memandang jam di nakas. “Ini masih kepagian. Memangnya mau ke mana, sih? Pagi-pagi aku udah ditinggal. Mas udah rapi gini.” Ia mendekap tangan Satria erat-erat. Tak membiarkan pria itu bergeser menjauh.Satria tertawa pelan. Tangannya masih mengusap tubuh Sheza di balik selimut, lalu ia menunduk, memeluknya lebih erat.“Aku juga mau baring di sini sama kamu, Zee,” gumamnya rendah.“Tapi belum bisa.”Ia mengusap punggung Sheza pelan.“Aku pengen hidup kita tenang. Bangun pagi tanpa mikirin apa-apa … cuma nunggu bayi ini lahir.”Ia kembali mengecup kepala Sheza.“Sampai itu bisa terjadi … aku harus beresin dulu semuanya.”Sheza lalu membuka matanya yang tadi terpejam dan pelan-pelan duduk bersandar dibantu oleh Satria. Satu tangannya menahan selimut menutupi dada.“Aku mau melakuk

  • KAMAR KEDUA   Bab 149. Teror itu Mulai Datang

    “Kenapa foto Dio dan Sheza? Buat apa?” Pak Rudi bingung dan masih duduk di kursi belajar Prabu.Satria memegangi lengan Pak Rudi.“Ayo, Pak. Saya bantu turun.” Ia menuntunnya pelan menuju tangga. “Saya belum bisa memastikan kenapa foto Dio dan Sheza diambil,” lanjutnya tenang.“Foto itu tidak cukup bernilai untuk dijual … kecuali memang dimaksudkan sebagai alat.” Langkah mereka berhenti sejenak di mulut tangga.Satria menoleh.“Dan kalau itu yang terjadi…” suaranya merendah, “…itu bukan sekadar pencurian.” Ia menatap Pak Rudi lurus.“Foto itu pernyataan, Pak.”Jeda singkat.“Mereka udah tahu wajah Dio dan Sheza.”Tatapannya tidak berubah.“Dan mereka mau kita tau bahwa mereka bisa menemukan keduanya kapan saja.”Satria melepaskan lengan Pak Rudi yang sejak tadi dipeganginya. Pria tua itu menatapnya dengan sepasang mata khawatir.“Kalau sudah begitu, bagaimana? Satria … apa Dio bakal baik-baik aja? Atau untuk sementara Dio tinggal di sini agar lebih aman?” Pak Rudi sudah tiba di anak t

  • KAMAR KEDUA   Bab 148. Yang Dicari dan Yang Hilang

    Beberapa detik Puspa hanya memandang mereka berdua bergantian. Seolah masih mencoba memahami situasi yang tidak ia duga itu.Puspa terkejut tapi terlihat bisa menguasai dirinya. Ia menghela napas pendek, lalu membuka pintu lebih lebar.“Masuk, Kak, Mas ….”“Orang yang masuk ke kamar Prabu … lewat mana? Saya bisa langsung ke atas?” Suara Satria terdengar tidak sabar. Melihat Puspa yang agak bingung, ia memandang Sheza. “Zee, kamu di sini aja. Aku ke kamar Prabu,” katanya.“Iya. Aku di sini aja. Mas hati-hati,” kata Sheza. Setelah melihat ia mengangguk, Satria pergi meninggalkan ia dan Puspa di ruang tamu. Dan tak lama setelah kepergian Satria, Bu Ratna muncul dengan daster lengan panjang dan wajahnya yang sedikit sembab karena sempat terbangun di tengah malam.“Benar-benar sudah hamil lagi,” kata Bu Ratna, mendekati Sheza dan mengusap perutnya.“Iya, Bu. Kali ini rezekinya lebih cepat,” sahut Sheza. Tersenyum tipis sembari memperhatikan wajah Bu Ratna yang terlihat antara tegang dan pe

  • KAMAR KEDUA   Bab 147. Urusan Tengah Malam 

    Gerakan Satria yang tadi cepat tiba-tiba menjadi lebih berat. Kedua tangannya menahan pinggul Sheza erat, menekannya beberapa kali dengan dorongan pendek yang semakin dalam. Tubuhnya menegang sepenuhnya, seolah seluruh tenaga yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah dalam satu gelombang panjang diiringi erangan parau yang sangat maskulin.Satria menunduk.Bibirnya kembali menemukan payudara Sheza, menyesapnya kuat hingga putingnya memerah di bawah mulutnya. Napasnya terdengar berat di sela-sela sesapan yang tak lagi sabar.Sheza memejamkan mata.Satu tangannya mencengkeram bahu Satria dan satunya lagi menangkup payudaranya yang sedang disesap sampai tubuh pria itu akhirnya berhenti bergerak. Desahan panjang lolos dari bibirnya, seolah ketegangan yang sejak tadi menumpuk akhirnya ikut luruh bersama napas mereka.Beberapa detik mereka hanya diam.Napas Satria masih berat ketika ia perlahan mengangkat wajahnya dari dada Sheza. Ia menggeser tubuh istrinya, melepaskan bagian tubuhnya yang t

  • KAMAR KEDUA   Bab 52. Hari Sudah Terang

    Satria masih duduk di tepi ranjang dengan jarak yang sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang belum sepenuhnya saling menerima. Jarak mereka saat itu bahkan terasa lebih panjang daripada pelukan kemarin. Saat itu tangan Satria masih berada dalam genggaman Sheza. Wanita itu mengepaln

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 63. Posisi Tawar

    Keluar dari restoran Jepang meninggalkan Salim dan putrinya, Satria tahu ia tidak sempat lagi kembali ke kafe di mana Sheza berada. Ia langsung memutar setir ke kantor pusat.Ada jenis tekanan yang, jika ditunda, justru menggerogoti kepala. Dan ini salah satunya.Ia tidak naik ke ruangannya. Langka

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • KAMAR KEDUA   Bab 54. Meja yang Selalu Kosong

    Sheza tidak pernah berniat jatuh cinta hari itu. Ia hanya ingin makan siang dengan tenang. Cafe kecil itu bukan tempat istimewa. Letaknya di sudut jalan yang agak masuk dan selalu ramai di jam makan siang. Salah satu alasannya memilih cafe itu bukan karena masakannya enak. Toh, ia kadang membawa bek

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • KAMAR KEDUA   Bab 55. Alasan untuk Pergi

    Ada keputusan yang terlihat benar saat diambil. Tapi bertahun-tahun kemudian berubah menjadi penyesalan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Satria tidak pernah berniat masuk ke hidup Sheza. Ia hanya ingin satu jam dalam sehari di mana dunia tidak menuntut apa pun darinya. Dua meja kosong d

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status