ホーム / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 15. Layaknya Seorang Pria

共有

Bab 15. Layaknya Seorang Pria

作者: juskelapa
last update 公開日: 2026-01-07 21:18:00

Begitu mereka masuk mobil, Satria menutup pintu dengan cepat dan menghubungi seseorang. Suaranya yang datar memberi instruksi singkat.

Satria kembali ke dalam rumah sebentar untuk mengecek jendela yang berlubang.

Sheza melihat dari mobil. Siluet pria itu dalam hujan tipis, sendirian menilai kerusakan rumah yang sedang tidak layak untuk ditinggali.

Tak lama kemudian empat pria datang; dua polisi, dua keamanan komplek.

Mereka memotret, berdiskusi, mengambil bungkusan itu dengan alat khusus. S
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (18)
goodnovel comment avatar
Esti Eritia
Laki2 idaman ga siih... ga bxk ha hi hu he ho... to jiwa pelindung x kuat banget....sesuai namax... satria
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
penuh misteri
goodnovel comment avatar
~kho~
benar² aura pemimpinnya kuat banget
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • KAMAR KEDUA   Bab 226. Angka dan Ombak

    Ruang meeting utama di lantai atas gedung Rylee Logistics sudah penuh sejak sebelum pukul sembilan.Layar besar di ujung ruangan menampilkan jalur distribusi batubara, angka tonase, dan jadwal keberangkatan tongkang yang bergerak padat hampir tanpa jeda.Beberapa pria berseragam lapangan berdiri di sisi ruangan sambil membawa map tebal. Sedangkan tim operasional dan keuangan duduk lebih dulu dengan laptop terbuka.Udara ruangan dipenuhi aroma kopi hitam dan ketegangan yang ditahan profesional.“Pihak buyer minta renegosiasi rate pengangkutan untuk kuartal berikutnya, Pak.”Direktur Operasional menggeser beberapa dokumen ke depan meja.“Mereka keberatan dengan kenaikan biaya solar dan maintenance armada.”Tatapan Satria turun pada angka-angka di layar. Wajahnya tampak tenang. Namun cukup membuat seluruh ruangan ikut diam menunggu reaksinya.“Selisihnya?” tanyanya singkat.“Kalau kita turunkan sesuai permintaan mereka…” Direktur Keuangan berhenti sebentar sambil menghitung cepat, “…marg

  • KAMAR KEDUA   Bab 225. Sedikit Nostalgia.

    “Kalau gitu … abis nifas kamu harus pakai pengaman. Bahaya itu, Za …. Bisa–bisa kamu langsung hamil lagi. Apalagi itu masa subur-suburnya.”Sheza tergelak karena perkataan itu. “Tapi aku percaya kalau Sheza bakal segera hamil lagi. Dengan penampilan begini … suaminya pasti sulit bertahan.” Dira menggaruk dagu.Jenar ikut mengangguk. “Sheza kayaknya juga nggak keberatan karena … liat deh auranya. Sheza emang lagi di fase cinta-cintanya sama Pak Elang.”“Aku memang nggak keberatan. Meski masa awal hamil kemarin emang berat banget maboknya, tapi aku nggak kapok.” Sheza nyengir.Posisi duduk mereka memang menghadap televisi dan membelakangi ruang tengah utama yang membatasi ruang makan dan ruang tamu.Posisi itu membuat Sheza lebih leluasa saat menyusui Saga. Apalagi tadi Satria mengatakan kalau Roman dan Vian akan datang juga sore itu.Baru saja memikirkan soal Satria, Jenar tiba-tiba menatapnya sambil tersenyum. “Jadi … Pak Elangnya mana? Sekarang aku makin penasaran. Apalagi Dira bila

  • KAMAR KEDUA   Bab 224. Cerita Domestik 

    Sheza langsung menoleh ke arah pintu. “Nah, kayaknya mereka udah dateng,” kata Sheza. Dengan tangan memegang hanger ia mendekati pintu. Ia menyambar ponsel dekat meja dan membaca pesan terbaru. Dari Dira :‘Za, aku dan Jenar udah nyampe ya.’Sheza lalu membuka pintu kamar dan melongok Mbak Tuti. “Disuruh masuk aja langsung ke ruang keluarga ya, Mbak. Minta buatin teh juga sama keluarin cake yang di kulkas. Sebentar lagi saya keluar. Makasih sebelumnya, Mbak Tuti.” Sheza mengulas senyum. “Baik, Bu,” kata Mbak Tuti. “Sepertinya Dede Saga-nya juga baru bangun, Bu,” tambahnya.“Sebentar lagi saya keluar,” kata Sheza.Setelah mengatakan itu, Mbak Tuti menjauhi kamar kedua.Satria baru selesai berpakaian dan rambutnya yang masih basah sudah tersisir rapi.“Wah, kalau keluar rambut kita sama-sama basah, bisa panjang nanti yang dibahas mereka,” ujar Sheza seraya terkekeh. Ia kembali ke ruang ganti dan mengenakan dress-nya. ““Sepertinya bakal rame ya sore ini. Roman dan Vian mau datang. Buk

  • KAMAR KEDUA   Bab 223. Tamu untuk Sagara 

    Sheza memijatnya perlahan, lalu mengusap puncak kejantanannya pelan dan pelan-pelan memasukkannya ke mulutnya.“Hmm ….”Sheza terlalu lembut. Dan itu malah lebih berbahaya baginya.Kepala Satria sedikit mendongak ke belakang saat jemari Sheza bergerak naik turun. Ritme kepalanya pelan. Kadang berhenti sebentar untuk memberikan sesapan kuat di bagian pangkalnya. Satria semakin gelisah.Air shower terus jatuh membasahi bahu mereka.Sesekali Satria menunduk memandang istrinya dengan tatapan yang semakin gelap. Jemarinya menyusup ke rambut basah Sheza lalu menggenggamnya pelan.“Zee ….” Suaranya serak sekarang.Namun Sheza justru semakin menikmati bagaimana tubuh suaminya kehilangan ketenangan sedikit demi sedikit di tangannya.Bahkan tubuhnya sendiri ikut bereaksi. Napasnya semakin menghangat. Dan payudaranya terasa penuh lagi. ASI-nya kembali merembes turun di kulitnya.Tatapan Satria langsung jatuh ke sana. Ekspresinya berubah dalam seketika. Ada sesuatu di wajah pria itu yang hampir t

  • KAMAR KEDUA   Bab 222. Kehangatan Sore

    Satria lalu menggeser busa mandi perlahan turun ke punggung bawah istrinya. Sangat lembut dan hati-hati.Ia memperlakukan tubuh yang baru saja memberinya seorang anak laki-laki itu seperti kuil. “Mas terlalu hati-hati,” gumam Sheza pelan seraya memegangi handuk di depan dadanya.“Masih nyeri lukanya?” tanya Satria.Sheza menggeleng masih dengan mata terpejam. “Hampir nggak ada rasa apa-apa lagi.”“Berarti tinggal pegelnya,” sahut Satria.“Iya. Ini juga nggak pegel banget. Apalagi kalau dipijat begini.”Satria terkekeh pelan. Tangannya tetap bergerak hati-hati saat membilas sabun dengan shower hangat.Beberapa hari terakhir ia memang selalu membantu Sheza mandi.Awalnya karena Sheza masih cepat lelah berdiri terlalu lama. Namun lama-lama itu berubah menjadi kebiasaan yang diam-diam membuat Sheza merasa sangat dirawat dan dijaga.Dan Satria tampaknya juga menikmati itu. Ia merasa diizinkan menyentuh tiap sudut tubuh Sheza tanpa perlu alasan khusus. Telapak tangannya naik lagi memijat

  • KAMAR KEDUA   Bab 221. Kecurigaan yang Bertambah 

    Pertanyaan Ratri itu datang terlalu tiba-tiba. Pak Hendra langsung menatap putrinya. “Kenapa tanya itu?” tanyanya.“Karena semua orang kayak saling kenal.” Ratri mengangkat bahu kecil. “Pelabuhan. Kontainer. Shipping. Nama-nama itu muter di orang yang sama. Papa aja lancar banget jawab soal suaminya Sheza. Dan dengan kata lain … Papa kenal dua suaminya Sheza.” Ia kemudian diam.Pak Hendra tersenyum lagi. Namun kali ini senyum itu terasa jauh lebih tipis. “Bisnis dunia atas memang kecil.”“Iya. Kecil. Jawaban Papa juga diplomatis.” Ratri mengangkat bahu. “Dan anehnya … Sheza dapat suami dua-duanya orang pelabuhan.”“Untuk itu … Satria lebih dulu turun ke dunia pelabuhan. Temannya itu, mungkin belajar dari Satria. Mereka dekat, tapi berbeda gaya. Jauh.” Pak Hendra mengemukakan pendapatnya dengan lebih wajah serius. Kali ini penilaiannya memang objektif.Ratri mendecak kecil sambil mengambil roti panggangnya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bicara.“Tapi serius…” tatapannya turun

  • KAMAR KEDUA   Bab 75. Udara yang Tidak Cukup

    Hari terasa berlalu tanpa jeda. Satria kembali tenggelam ke ritme yang dikenalnya sejak lama. Deru pelabuhan, suara derek, bau solar, dan dokumen yang berpindah tangan lebih cepat daripada percakapan. Pagi ke malam, malam ke pagi. Seolah hidupnya kembali ke mode lama. Tapi kali ini, bukan hanya u

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 77. Pria Dingin Itu

    Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin. Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. D

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 78. Sedikit Refleksi

    Di malam-malam lain, Satria semakin sering duduk di tepi ranjang Sheza. Saat ia pulang larut dan mendapati wanita itu tertidur di ruang televisi dengan wajah lelah. Ia selalu mengangkat Sheza ke kamar dan duduk di tepi ranjang sejenak hanya untuk memandang wajah Sheza dan tangan wanita itu selalu m

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

    Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal. “Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah. Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun,

    last update最終更新日 : 2026-03-25
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status