Mag-log inBeberapa saat sebelumnya.Kafe kecil dekat rumah sakit itu masih buka meski jam sudah lewat sore. Lampunya temaram kekuningan. Tidak ramai. Hanya beberapa meja terisi orang-orang yang terlihat sama lelahnya dengan mereka.Roman dan Vian duduk di dekat kaca depan.Dua gelas kopi hitam sudah datang sejak beberapa menit lalu, tapi baru disentuh sedikit.Vian bersandar sambil memutar sendok pelan di cangkirnya. “Gue mau nanya sesuatu.”Roman melirik malas. “Kalau soal utang jangan sekarang.”“Lu serius masih jadi fanboy-nya Sheza?”Roman langsung tertawa pendek. “Fanboy apaan?”“Ya ….” Vian mengangkat bahu. “Lo tuh keliatan suka banget sama dia.”Roman mendecak kecil lalu ikut bersandar. “Lo sadar nggak sih kalau Sheza emang semenarik itu buat laki-laki? Aura feminin-nya bikin laki-laki ngerasa pengen ngelindungi gitu.”Vian mengangkat alis. “Ya gue nggak tau. Gue udah punya bini.”Roman langsung tertawa. “Nah itu. Otak lo ketutup.”“Maksud gue…” Vian mengangkat bahu santai. “Kalau udah n
Menjelang makan siang, kamar rawat Sheza mulai kembali tenang.Satu per satu teman-teman Satria pamit.Julian lebih dulu berdiri sambil merapikan jam tangannya. Marina ikut membereskan tas kecil miliknya sebelum menghampiri Sheza sebentar.“Selamat ya,” ucap Marina lembut sambil menyentuh tangan Sheza. “Istirahat yang banyak.”Sheza tersenyum kecil meski matanya masih terlihat lelah. “Makasih, Mbak.”Julian mendekat ke box bayi lalu memandang Saga beberapa detik. “Mukanya udah mahal dari lahir,” gumamnya.Roman langsung menyahut, “Karena bapaknya nyusahin negara sejak semalam.”“Lo juga ikut nyusahin,” balas Julian datar.Roman terkekeh kecil sambil mengambil jaketnya.“Weekend ini kita main ke rumah lo,” kata Vian pada Satria sebelum berdiri. “Kalau dokter udah ngebolehin pulang.”Satria mengangguk kecil. “Iya.”“Sekarang kalau gue ke rumah lo, artinya gue mau liat bayi ya. Atau minimal ngecek jaitan lo.” Roman berbisik santai di dekat bahu Satria.“Percaya …,” sahut Satria.Semua te
Roman masih memegang buket bunga itu sambil memperhatikan kartu kecil di tangannya beberapa detik lebih lama.“Teguh,” ulangnya lagi.Lalu matanya bergerak perlahan ke arah Satria yang sedang menggendong Saga.“Siapa Teguh?”Satria bahkan tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju pada bayi kecil di pelukannya yang mulai mengantuk setelah kenyang menyusu.Roman menyipitkan mata.“Wah.” Ia menunjuk buket itu. “Kayaknya ujian rumah tangga lo belum selesai, Sat.”Julian langsung terkekeh kecil. “Roman hidup dari gosip orang,” katanya.“Gue hidup dari insting.” Roman mendekat ke sisi Satria sambil menurunkan suara. “Dan insting gue bilang bunga beginian nggak dikirim bos biasa.”Satria akhirnya mendengus kecil. “Tapi memang bos biasa.”“Nah, tau ternyata.” Roman langsung menunjuk Satria penuh kemenangan.Namun sebelum obrolan makin panjang, Saga mulai bergerak kecil di pelukan Satria. Pria itu refleks langsung diam.Gerakannya berubah super hati-hati saat menurunkan bayi laki-laki
Jam empat pagi membuat ruang bersalin terasa berbeda.Lebih sunyi. Lebih lambat. Seolah dunia di luar sana masih tertidur saat kehidupan kecil yang baru justru sedang dimulai di dalam ruangan itu.Lampu putih di atas ranjang persalinan masih menyala terang. Bunyi monitor kini jauh lebih tenang dibanding satu jam sebelumnya.Dan di atas dada Sheza … ada bayi laki-laki mereka sedang bergerak kecil mencari sumber hangat pertamanya.Tangisan keras tadi sudah berubah menjadi suara rengekan pelan.Satria berdiri sangat dekat di sisi ranjang. Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari bayi itu.Raut wajah dingin dan tegang tadi benar-benar berubah. Tak ada kemarahan lagi di sana. Tapi sesuatu yang jauh lebih lembut.Bahkan saat jemari kecil Sagara bergerak menyentuh kulit Sheza, Satria seakan lupa cara bernapas beberapa detik.“Pelan-pelan ya, Dek,” gumam bidan sambil membantu mengarahkan kepala bayi itu sedikit.Lalu … Sagara berhasil menemukan puting Sheza. Mulut kecilnya langsung menyusu ref
Ruangan persalinan kembali tenang setelah dokter keluar.Hanya tersisa bunyi monitor dan napas Sheza yang mulai tidak beraturan.Kontraksi datang semakin rapat sekarang.Marina duduk di sisi ranjang sambil mengusap punggung Sheza perlahan. Sesekali membantu membetulkan rambut yang mulai menempel di pelipis wanita itu karena keringat.“Sheza …,” ucap Marina pelan, mencoba mengalihkan fokusnya. “Tau nggak sih … saking misteriusnya Satria ….”Sheza yang sedang mengatur napas menoleh sedikit.“…dia nikah dulu nggak ada yang tau.” Sudut bibir Marina terangkat kecil. “Tiba-tiba udah nikah.”Sheza mencoba tersenyum tipis di sela rasa sakitnya.“Pisah juga sama.” Marina terkekeh kecil. “Tau-tau udah cerai aja.”Kontraksi kembali datang.Sheza langsung memejam sambil menggenggam sisi ranjang lebih erat.Marina mengusap punggungnya pelan.“Tapi…” lanjut Marina lebih lembut, “…kayanya kalau tentang kamu dia lebih banyak ngobrol.”Sheza membuka mata perlahan.“Biasanya dia kalau ada apa-apa ya di
Satria masih terbatuk saat motornya memasuki halaman rumah sakit. Asap kebakaran gudang yang dipenuhi kertas dan debu membuat tenggorokannya terasa terbakar sejak tadi. Napasnya kasar. Pendek. Setiap tarikan udara terasa menyakitkan di dadanya.Peluh membasahi tubuhnya bersama debu, pasir, dan jelaga hitam yang menempel di jaket kulitnya. Jaket itu bahkan nyaris tak berbentuk lagi. Sobek di beberapa bagian. Gelap oleh darah yang mulai mengering.Motor besar itu melambat mendekati sisi gedung IGD.Dari kejauhan Vian langsung berjalan cepat menghampirinya.“Sini—sini!” seru Vian, melambai.Satria mematikan mesin motornya tak jauh dari Vian.Brak.Kakinya turun menahan tubuhnya sendiri beberapa detik sebelum akhirnya ia melepas helm perlahan.Pelipisnya bengkak. Sudut bibirnya pecah. Dan darah di lehernya sudah mengering sampai ke kerah baju.Roman langsung mendekat lalu berputar sedikit mengamati tubuh Satria dari samping.Ia berdiri sambil menenteng tas gym hanya bisa menatap beberapa
Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, y
Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas
Sheza terbangun karena rasa mual yang datang seperti gelombang pelan tapi pasti.Selimut hanya menutup setengah tubuhnya. Semalam ia tertidur tanpa mengenakan apa pun selain celana dalam tipis yang kini sedikit bergeser di pinggulnya. Perutnya mulai terlihat membulat dengan payudara yang semakin te
Di sisi lain ruangan, seorang pria berdiri berbicara dengan dua lelaki pelaku di dunia tambang yang usianya jauh lebih tua. Jas hitamnya pas di badan. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak tertawa.Tapi semua orang mendengarkan saat ia bicara. Wajahnya tegas. Garis rahangnya jelas. Tatapannya tenang







