Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 15. Layaknya Seorang Pria

Share

Bab 15. Layaknya Seorang Pria

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-07 21:18:00

Begitu mereka masuk mobil, Satria menutup pintu dengan cepat dan menghubungi seseorang. Suaranya yang datar memberi instruksi singkat.

Satria kembali ke dalam rumah sebentar untuk mengecek jendela yang berlubang.

Sheza melihat dari mobil. Siluet pria itu dalam hujan tipis, sendirian menilai kerusakan rumah yang sedang tidak layak untuk ditinggali.

Tak lama kemudian empat pria datang; dua polisi, dua keamanan komplek.

Mereka memotret, berdiskusi, mengambil bungkusan itu dengan alat khusus. S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (18)
goodnovel comment avatar
Esti Eritia
Laki2 idaman ga siih... ga bxk ha hi hu he ho... to jiwa pelindung x kuat banget....sesuai namax... satria
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
penuh misteri
goodnovel comment avatar
~kho~
benar² aura pemimpinnya kuat banget
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 216. Luka yang Disembunyikan

    Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Satria mengembuskan napas pendek. Ia menyerah pada sorot mata cantik yang menatapnya.“Ada luka kecil,” katanya akhirnya.Sheza masih diam.Tangannya tetap menggenggam tangan Satria seolah meminta pria itu tetap di sana.“Luka di punggung. Kecil. Dan aku nggak apa-apa,” lanjut Satria pelan.Namun kali ini Sheza menggeleng kecil.“Kita udah tidur bareng cukup lama, Mas,” katanya lirih.Tatapan Satria turun padanya.“Aku hafal tubuh Mas Satria.”Kalimat itu membuat r

  • KAMAR KEDUA   Bab 215. Rumah Bagi Satria

    “Ini Bu Rena,” ujar Satria sambil berdiri dekat pintu kamar mereka. “Terapis postnatal.”Sheza langsung mengangkat alis.Wanita itu tersenyum profesional. “Saya bantu recovery pasca melahirkan ya, Bu.”Dan malam itu Sheza baru sadar ternyata Satria benar-benar sudah menyiapkan semuanya.Minyak khusus pijat ibu menyusui.Kompres hangat.Sabuk penyangga perut.Sampai jadwal terapi laktasi dan stretching ringan.“Mas serius banget,” gumam Sheza setengah geli saat Bu Rena mulai menempelkan handuk hangat di dadanya beberapa menit sebelum pijatan dimulai.“Kalau hangat dulu biasanya alirannya lebih gampang keluar, Bu,” jelas Bu Rena lembut.Setelah itu gerakan tangannya mulai memijat perlahan dari sisi luar payudara menuju depan. Tidak sakit, tapi cukup membuat bagian yang sejak tadi keras perlahan terasa lebih ringan.Sementara Satria duduk memperhatikan dengan wajah serius seperti sedang menghafal semua instruksi.“Tubuh kamu habis kerja berat,” kata Satria dari sofa dekat ranjang sambil

  • KAMAR KEDUA   Bab 214. Arti Sebuah Rumah

    Subuh baru saja lewat ketika Sheza terbangun perlahan.Ruangan rawat itu masih temaram. Lampu utama dimatikan. Hanya menyisakan cahaya kekuningan dari lampu kecil dekat meja di sebelahnya dan garis pucat matahari yang mulai masuk dari sela tirai jendela.Saga sedang tidur di boks bayi di sisi ranjang. Napas kecilnya terdengar teratur.Sementara di ranjang pendamping … Satria tertidur.Sheza diam beberapa saat memperhatikannya.Tubuh pria itu tampak terlalu besar untuk ranjang pendamping rumah sakit yang sempit. Kakinya sedikit menekuk. Satu tangan terlipat di atas perut. Dan bahkan saat tidur pun … tubuhnya terlihat kaku.Tidak benar-benar rileks.Sheza memperhatikan lebih lama.Cara bahu Satria miring seperti sengaja tidak menempel penuh ke ranjang—seolah sedang menjaga bagian tertentu.Tatapannya perlahan turun ke punggung pria itu. Lalu kembali ke wajah Satria yang terlihat jauh lebih lelah dibanding dua hari lalu.Ada lingkar samar di bawah matanya. Luka kecil di pelipis mulai men

  • KAMAR KEDUA   Bab 213. Pertolongan Papa Baru

    Sheza mengangguk tanda paham. Tapi malam itu sepertinya Sagara belum bisa mengisap dengan kuat. Dagunya sudah bisa menempel tapi bayi itu tidak sabar untuk terus mencoba.Setengah jam menempel di puting Sheza, Sagara kembali merengek. Bidan dan perawat sudah meninggalkan mereka. Tersisa Satria yang berdiri dengan alat pemompa ASI elektrik keluaran terbaru.“Ini diletakkan di tiap sisi?” tanya Satria dengan wajah canggung.“Tadi udah aku pake, tapi keluarnya dikit banget, Mas.” Dahi Sheza mengernyit karena gelisah.“Konsepnya seperti selang, kan? Alirannya bakal lancar kalau sedotan Saga kenceng?” Satria bertanya dengan suara pelan. Seakan tak mau mengimbangi rengekan bayinya yang sedang berjuang mengisap ASI.“Iya, gitu.”“Kita ke ruang laktasi aja?” tanya Satria hati-hati. Ia benar-benar takut salah dan membuat Sheza tak nyaman. Kurang tidur dan lelah membuat wanita itu terlihat sedikit sensitif. Ia tak berani menyarankan untuk membawa bayi mereka ke ruangan bayi karena Sheza bertekad

  • KAMAR KEDUA   Bab 212. Besok Main Lagi 

    Menjelang malam, kamar rawat itu kembali ramai oleh suara anak-anak.Dio sudah duduk selonjoran di sofa sambil memeluk bantal kecil rumah sakit. Sementara Nayla berdiri dekat boks bayi sejak tadi, memperhatikan Saga yang sedang tidur seperti penjaga kecil yang terlalu serius dengan tugas barunya.Athar yang dari tadi beberapa kali melihat jam akhirnya berdiri sambil menepuk paha pelan.“Ayo,” katanya. “Kita pulang dulu.”“Nggak mau. Ini belum malem, Om.” Nayla menjawab duluan.Dio ikut menggeleng keras. “Aku juga nggak mau. Baru aja sore ke sini.”Athar langsung mengembuskan napas panjang sambil mendongak sebentar ke langit-langit kamar. “Supir udah nunggu dari tadi.”“Tunggu bentar lagi,” kata Dio cepat.“Dari tadi juga bilang bentar lagi,” balas Athar.Nayla akhirnya menoleh sedikit. Wajahnya terlihat benar-benar keberatan. “Aku mau jagain adik.”“Adiknya tidur,” jawab Athar sabar.“Aku tau,” balas Nayla. “Kalau dia bangun, dia juga belum bisa ngajak ngobrol,” sahut Athar. Dio ter

  • KAMAR KEDUA   Bab 211. Sheza Memperhatikan 

    Dari sejak pagi, Sheza mulai sadar ada yang aneh dengan tubuh Satria.Bukan wajahnya.Karena luka kecil di pelipis dan sudut bibir itu masih bisa dianggap lecet biasa. Bisa saja Satria terlibat perselisihan antar sesama pria. Baginya sendiri … itu tidak terasa aneh bagi seorang Satria yang ia kenal.Namun … ada yang aneh dengan cara pria itu bergerak. Terasa tidak biasa.Kadang bahu terlihat kaku saat mengangkat Saga. Kadang napasnya berhenti sepersekian detik saat berdiri dari sofa. Dan beberapa kali Sheza menangkap Satria seperti menahan nyeri saat lengannya bergerak terlalu jauh.Satria tidak mengaduh atau meringis. Tidak mengatakan apa-apa seperti biasa. Tapi jelas ada sesuatu yang ditahannya.Selebihnya … Satria tetap berjalan ke sana kemari membantu mengambil air minum, membetulkan selimut, atau mengangkat Saga seolah tubuhnya baik-baik saja.Namun justru hal itu yang membuat Sheza semakin gelisah. Karena Satria biasanya memang lebih diam saat sesuatu benar-benar serius terjadi.

  • KAMAR KEDUA   Bab 49. Atas Nama Istri

    Pagi sebelum Sheza pergi ke rumah Dio. Ponsel di nakasnya bergetar ketika subuh belum sepenuhnya pergi. Langit masih pucat, dan rumah berada dalam sunyi yang belum disentuh aktivitas. Satria terjaga lebih dulu. Ia duduk bertelanjang dada; mengusap wajah dan menyingkirkan selimut yang menutup bagi

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • KAMAR KEDUA   Bab 44. Sah

    “Sah!” Suara Julian dan Arga hampir bertabrakan. Keduanya saling menoleh sebentar, lalu mengangguk kecil dengan senyum di bibir masing-masing. “Ya. Sah,” ulang petugas KUA sambil tersenyum. Kemudian doa dilantunkan dan selama itu Sheza menunduk. Ia perlu jeda agar jemarinya tidak bergetar. Napa

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • KAMAR KEDUA   Bab 41. Tak Mau Kalah

    Beberapa jam sebelumnya; hari kamis malam di kediaman keluarga Kertasoedibyo. Nadine duduk di depan meja riasnya dengan wajah serius. Ia sedang bicara melalui ponsel dengan siku tangan bertumpu di meja rias. Ia memandang pantulannya melalui cermin mewah yang selalu menampilkan rupanya yang cantik.

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • KAMAR KEDUA   Bab 38. Di Antara Keraguan

    Satria berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja yang sama, lengannya digulung. Di belakangnya meja kerja berantakan oleh berkas dan map cokelat yang belum ditutup. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada seperti seseorang yang sedang bersiap menerima amukannya. “Ada apa?” tanyanya. Sheza tidak

    last updateLast Updated : 2026-03-21
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status