แชร์

Bab 222. Kehangatan Sore

ผู้เขียน: juskelapa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-27 22:52:29

Satria lalu menggeser busa mandi perlahan turun ke punggung bawah istrinya. Sangat lembut dan hati-hati.

Ia memperlakukan tubuh yang baru saja memberinya seorang anak laki-laki itu seperti kuil.

“Mas terlalu hati-hati,” gumam Sheza pelan seraya memegangi handuk di depan dadanya.

“Masih nyeri lukanya?” tanya Satria.

Sheza menggeleng masih dengan mata terpejam. “Hampir nggak ada rasa apa-apa lagi.”

“Berarti tinggal pegelnya,” sahut Satria.

“Iya. Ini juga nggak pegel banget. Apalagi kalau dipijat
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (9)
goodnovel comment avatar
Aminah Adjaa
owowoowowowoowwwwwwww
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
satria dan sheza ini couple goals banget,, sheza yang mengerti kapan harus bicara,,kapan harus diam,, sedangkan satria,,dia diam² memperhatikan dan memberi tanpa sheza meminta,,
goodnovel comment avatar
Dewi Soetanto
rileksssss pakkk...
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • KAMAR KEDUA   Bab 223. Tamu untuk Sagara 

    Sheza memijatnya perlahan, lalu mengusap puncak kejantanannya pelan dan pelan-pelan memasukkannya ke mulutnya.“Hmm ….”Sheza terlalu lembut. Dan itu malah lebih berbahaya baginya.Kepala Satria sedikit mendongak ke belakang saat jemari Sheza bergerak naik turun. Ritme kepalanya pelan. Kadang berhenti sebentar untuk memberikan sesapan kuat di bagian pangkalnya. Satria semakin gelisah.Air shower terus jatuh membasahi bahu mereka.Sesekali Satria menunduk memandang istrinya dengan tatapan yang semakin gelap. Jemarinya menyusup ke rambut basah Sheza lalu menggenggamnya pelan.“Zee ….” Suaranya serak sekarang.Namun Sheza justru semakin menikmati bagaimana tubuh suaminya kehilangan ketenangan sedikit demi sedikit di tangannya.Bahkan tubuhnya sendiri ikut bereaksi. Napasnya semakin menghangat. Dan payudaranya terasa penuh lagi. ASI-nya kembali merembes turun di kulitnya.Tatapan Satria langsung jatuh ke sana. Ekspresinya berubah dalam seketika. Ada sesuatu di wajah pria itu yang hampir t

  • KAMAR KEDUA   Bab 222. Kehangatan Sore

    Satria lalu menggeser busa mandi perlahan turun ke punggung bawah istrinya. Sangat lembut dan hati-hati.Ia memperlakukan tubuh yang baru saja memberinya seorang anak laki-laki itu seperti kuil. “Mas terlalu hati-hati,” gumam Sheza pelan seraya memegangi handuk di depan dadanya.“Masih nyeri lukanya?” tanya Satria.Sheza menggeleng masih dengan mata terpejam. “Hampir nggak ada rasa apa-apa lagi.”“Berarti tinggal pegelnya,” sahut Satria.“Iya. Ini juga nggak pegel banget. Apalagi kalau dipijat begini.”Satria terkekeh pelan. Tangannya tetap bergerak hati-hati saat membilas sabun dengan shower hangat.Beberapa hari terakhir ia memang selalu membantu Sheza mandi.Awalnya karena Sheza masih cepat lelah berdiri terlalu lama. Namun lama-lama itu berubah menjadi kebiasaan yang diam-diam membuat Sheza merasa sangat dirawat dan dijaga.Dan Satria tampaknya juga menikmati itu. Ia merasa diizinkan menyentuh tiap sudut tubuh Sheza tanpa perlu alasan khusus. Telapak tangannya naik lagi memijat

  • KAMAR KEDUA   Bab 221. Kecurigaan yang Bertambah 

    Pertanyaan Ratri itu datang terlalu tiba-tiba. Pak Hendra langsung menatap putrinya. “Kenapa tanya itu?” tanyanya.“Karena semua orang kayak saling kenal.” Ratri mengangkat bahu kecil. “Pelabuhan. Kontainer. Shipping. Nama-nama itu muter di orang yang sama. Papa aja lancar banget jawab soal suaminya Sheza. Dan dengan kata lain … Papa kenal dua suaminya Sheza.” Ia kemudian diam.Pak Hendra tersenyum lagi. Namun kali ini senyum itu terasa jauh lebih tipis. “Bisnis dunia atas memang kecil.”“Iya. Kecil. Jawaban Papa juga diplomatis.” Ratri mengangkat bahu. “Dan anehnya … Sheza dapat suami dua-duanya orang pelabuhan.”“Untuk itu … Satria lebih dulu turun ke dunia pelabuhan. Temannya itu, mungkin belajar dari Satria. Mereka dekat, tapi berbeda gaya. Jauh.” Pak Hendra mengemukakan pendapatnya dengan lebih wajah serius. Kali ini penilaiannya memang objektif.Ratri mendecak kecil sambil mengambil roti panggangnya. Namun beberapa detik kemudian ia kembali bicara.“Tapi serius…” tatapannya turu

  • KAMAR KEDUA   Bab 220. Jangan Terlalu Dekat

    Ratri baru turun dari lantai dua setelah memastikan anaknya benar-benar sudah bangun dan bersiap berangkat sekolah. Rambutnya masih setengah basah. Kemeja putih longgar yang dipakainya membuatnya terlihat jauh lebih muda dari usianya.Begitu memasuki ruang makan, ia langsung melihat Pak Hendra sudah duduk di sana.Padahal biasanya papanya jarang sarapan di rumah saat hari kerja.“Tumben,” gumam Ratri sambil menarik kursi.Pak Hendra hanya mengangkat mata sebentar dari koran bisnis di tangannya. “Papa juga masih punya rumah.”Ratri terkekeh kecil lalu mulai menuang teh hangat ke cangkirnya sendiri. Namun baru beberapa detik duduk, ia mulai sadar sesuatu. Papanya memperhatikannya terlalu sering.Bukan tatapan biasa.Tatapan seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu masih berada di tempatnya.“Kamu kemarin ke mana aja?” tanya Pak Hendra akhirnya terdengar santai.Ratri mengangkat alis kecil. “Ke kantor.”“Terus?”“Jemput Raka.”“Terus?”Ratri mulai tertawa kecil sekarang. “Interog

  • KAMAR KEDUA   Bab 219. Hasil Diskusi

    Di ruang kerja Satria, Arga dan Julian menempati sofa berukuran untuk dua orang berdampingan. Di depan mereka ada coffee table yang di atasnya sudah tersedia nampan dengan teko dan beberapa cangkir keramik. Julian lebih dulu menyesap teh yang asapnya masih mengepul.“Kebetulan hari ini belum ada kena caffeine,” kata Julian.“Kenapa nggak ngopi sekalian?” Arga ikut mengambil teh dan memasukkan gula sesendok teh.“Kalau kopi nggak tahan lambungnya,” sahut Julian.“Kalau orang tua biasa emang gitu,” sahut Roman dari belakang Satria. Ia tengah membersihkan luka itu dengan kasa steril. Ia lalu mengamati luka itu dengan raut serius. “Ternyata bagus juga hasil jaitan gue,” ucapnya.“Kalau bagus … lebaran nanti bisa terima jaitan,” sambung Julian, gantian meledek.“Mau jait tunik, atau jait gamis, Say?” Roman kemudian terkekeh-kekeh. Beberapa saat tertawa, ia kemudian diam. “Dah, ah. Diem,” ucapnya sendiri.“Sinting,” kata Arga.Satria tersenyum seraya meringis karena gerakan tangan Roman menj

  • KAMAR KEDUA   Bab 218. Rumah yang Hangat

    Semalam akhirnya Satria berhasil membujuk Nayla pulang.Butuh waktu hampir satu jam sampai gadis kecil itu benar-benar mau memakai sandal dan turun dari sofa ruang keluarga sambil memeluk tas kecilnya dengan wajah berat.“Aku minggu depan ke sini lagi?” tanyanya untuk ketiga kali.Satria yang sedang berjongkok di depannya langsung mengangguk. “Iya.” Tangannya membelai pipi sang putri. “Padahal bukan jadwal Papa, tapi Papa akan usahakan izin biar kamu bisa nginep di sini.”Dan Nayla akhirnya diam.Perjalanan mengantar Nayla pulang berlangsung jauh lebih tenang daripada yang dibayangkan Satria. Rumah Nadine terlihat sepi saat mobil masuk ke halaman. Beberapa asisten rumah tangga membantu membawakan barang Nayla sementara Nadine sendiri sedang tidak ada di rumah.Sebelum turun dari mobil, Nayla sempat memeluk leher papanya sebentar.“Papa jangan lupa.”Satria mengusap puncak kepala putrinya pelan. “Papa nggak pernah lupa.”Pagi hari berikutnya rumah itu kembali hidup oleh rutinitas kecil

  • KAMAR KEDUA   Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

    “Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Sat

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 21. Hal-hal yang Tidak Diucapkan

    Satria sudah bangun sebelum alarm berbunyi dan berdiri di ruang makan dengan kemeja kerja yang belum dikancing penuh.Kopi di tangannya belum disentuh. Matanya justru tertuju ke meja makan tempat di mana blister obat sakit kepala yang ia letakkan semalam.Bertahun yang lalu, Prabu pernah tertawa sa

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 23. Waktu yang Merangkak

    Satria sempat melupakan urusan dapur yang sengaja dibiarkan berantakan semalam. Minggu pagi itu ia bangun sepagi biasanya. Ia mengangkat beban, lalu berenang selama setengah jam, mandi dan kemudian duduk bersantai di tepi kolam renang. Ia mengecek laporan dari staf kantor saat ia tidak berada di sa

    last updateปรับปรุงล่าสุด : 2026-03-18
บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status