LOGINTangisan Ratri tidak bisa berlangsung lama. Cepat atau lambat, Raka pasti akan bertanya.Dan kantor polisi bukanlah tempat yang tepat untuk menjelaskan kepada bocah delapan tahun itu bahwa ayah yang selama ini mereka kira hidup damai sambil melupakan mereka ternyata telah meninggal bertahun-tahun lalu.Dengan mata yang masih sembap, Ratri mengusap sisa air matanya.Seorang opsir polisi menghampirinya sambil membawa secarik kertas kecil."Kami menemukan lokasi pemakamannya," ucap opsir polisi itu dengan bahasa aslinya.Ratri menerima kertas itu dengan tangan yang masih gemetar.Di sana tertulis sebuah alamat.Cimetière de Saint-GeorgesChemin François-Dussaud 121205 GenevaDi bawahnya terdapat nomor petak dan nomor makam yang ditulis tangan.Ratri menatap kertas itu lama.Hari itu … Raka tidak jadi ke museum. Hanya sebuah pemakaman yang menunggunya.___________Mobil yang ditumpangi Ratri berhenti perlahan di depan sebuah kompleks pemakaman.Mesinnya masih menyala.Namun sang sopir ti
“May I have your name?” tanya petugas itu. “Ratriana,” sahutnya singkat."His name?" tanya petugas itu. Ratri menelan ludah. "Calvin Tjandra."Petugas kepolisian itu segera mengetikkan nama tersebut ke dalam sistem.Beberapa detik berlalu belum ada hasil. Dahinya berkerut tipis. Ia menggeleng. "Any other name?"Ratri terdiam. Polisi itu menanyakan apakah Calvin memiliki nama lain. Ingatannya melayang pada kartu nama yang didapatnya di ruang kerja Calvin dan masih tersimpan di dalam tasnya. Calvin Andersen.Jadi ... Calvin memang mengganti namanya?Perlahan ia kembali menatap petugas itu. "He may have changed his name ... Calvin Andersen."Jemari petugas itu kembali menari di atas papan ketik.Kali ini … ekspresinya berubah. Ia berhenti mengetik. Tatapannya terpaku pada layar komputer beberapa saat lebih lama.Raut wajahnya yang semula datar berubah serius. Perlahan ia mengangkat pandangan. "Please ... give me a moment."Petugas itu berdiri, meminta izin, lalu berjalan menuju ruang
Raka mengangguk patuh sambil memeluk buku gambarnya. Ratri menggandeng putranya memasuki kantor tersebut."Kamu duduk di sini dulu, ya," pintanya lembut seraya menuntun Raka ke sebuah sofa empuk di ruang tunggu.Raka mengangguk tanpa protes. Ia duduk rapi sambil memeluk buku gambarnya di pangkuan. Kedua kakinya yang belum menyentuh lantai terayun pelan, sementara matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu khas anak-anak.Ruangan itu terang dan tenang. Beberapa pelanggan tampak sedang berbicara dengan petugas di balik meja layanan.Setelah menunggu beberapa menit, tibalah gilirannya."Good afternoon. May I help you?" sapa seorang perempuan berambut pirang dengan senyum profesional.Ratri mengangguk pelan. "Excuse me ... I'd like to ask something." Ia mengeluarkan struk yang sedari tadi disimpannya dengan hati-hati. "Is this receipt from your company?"Ia mengatupkan bibir. Menunggu kepastian apakah tanda terima rental mobil berasal dari perusahaan itu. Perempuan i
"Tanggal kita jadian?” Suara itu pecah bersama sebutir air mata yang jatuh ke punggung tangannya. "Kamu masih ingat ….”Cepat-cepat ia mengusap matanya. Tersadar kalau waktunya tak banyak di tempat itu. Ia tidak bisa larut dalam kenangan. Folder-folder di desktop segera dibukanya. Namun dahinya langsung berkerut."Dokumen lama?"Semua berkas berhenti sekitar tiga tahun lalu. Tak ada satu pun file yang lebih baru.“Aneh.”Dengan gerakan yang mulai terburu-buru, ia masuk ke akun driver-nya sendiri.Satu per satu folder di laptop Calvin disalin ke akun miliknya. Baru setelah proses penyalinan berjalan, ia membuka aplikasi email. Kotak masuknya tampak biasa.Tagihan kartu kredit.Laporan rekening.Buletin.Notifikasi langganan aplikasi.Tidak ada yang mencurigakan. "Hampir semuanya normal...." Ia hendak menutup aplikasi itu. Namun pandangannya berhenti pada satu folder.Draft.Ratri mengekliknya.Ada delapan email yang tak pernah dikirim.Email pertama membuat napasnya tertahan.Pengirim:
Suara yang baru didengar Ratri, membuat darah wanita itu seperti berhenti mengalir.Baru saja ia mendengar ada suara langkah kaki. Pelan dan samar berasal dari arah ruang televisi. Setidaknya begitulah yang didengarnya.Jantungnya berdegup semakin keras. "Mas ...?" panggilnya lirih.Tak ada jawaban."Mas Calvin?"Sunyi.Dengan napas yang mulai memburu, Ratri memberanikan diri melangkah keluar dari ruang kerja. Setiap langkah terasa begitu berat, sementara matanya menyapu setiap sudut apartemen kecil itu.Lalu … saat keberaniannya semakin menipis dan ia hendak berbalik meninggalkan apartemen itu, seekor kucing putih melompat turun dari atas sofa.Kucing itu mengeong pelan.Ratri refleks menepuk dadanya sendiri. "Astaga ...." Tanpa sadar ia bersandar ke dinding sejenak. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecil di tengah rasa lega yang perlahan datang."Jadi kamu yang bikin aku kaget,” kata Ratri.Kucing itu berjalan santai mendekatinya, sama sekali tak terlihat takut pada ora
Sebenarnya, jika hanya memikirkan dirinya sendiri, Ratri tak yakin sanggup menempuh perjalanan sejauh ini.Ia tak akan berdiri di depan sebuah unit apartemen di Swiss, menggenggam kartu akses dengan telapak tangan yang terus berkeringat, sementara masa depannya dipenuhi jawaban yang belum tentu sanggup ia terima.Namun, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri.Ada Raka yang berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya.Bip.Suara panel akses berbunyi pelan.Ratri mengembuskan napas panjang sebelum mendorong pintu apartemen itu.Apa pun yang menunggunya di dalam … ia sudah siap.Begitu melangkah masuk, hanya suara sepatunya sendiri yang terdengar memenuhi ruangan.Apartemen itu sederhana.Rapi.Nyaris terlalu rapi.Persis seperti selera Calvin yang tak pernah menyukai terlalu banyak barang. Sejak dulu pria itu gemar menyembunyikan apa pun di balik kompartemen-kompartemen tersembunyi. Bahkan rak sepatu di rumah mereka dulu dibuat rata dengan dinding agar ruangan te
Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare
Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i
Satria Elang Rylee masuk ke ruang makan itu dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, rapi dengan setelah jas casual yang dipadukan dengan jeans berwarna gelap. Gesturenya tenang dan percaya diri. Saat masuk ia langsung menyalami Pak Salim lebih dahulu.“Terima kasih sudah mengundang saya, Pak.”Pak
Sheza menoleh mengikuti arah jari Nayla.Kafe yang ditunjuk anak perempuan itu tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Dari tempat mereka berdiri bahkan terlihat beberapa meja di dalamnya.Sheza menghela napas kecil. “Nayla, lain kali jangan ke toilet sendirian, ya,” katanya lembut sambil me







