Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 92. Biar Aku Jelaskan

Share

Bab 92. Biar Aku Jelaskan

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-05 11:11:37

Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.”

Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tadi. Bukan hanya karena keringat, tapi juga karena tangis yang terlalu lama ditahan.

Selimut yang Sheza bawa dari ruang keluarga sudah basah. Di satu sisi karena tubuh yang berkeringat, di sisi lain ka
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (39)
goodnovel comment avatar
Usnani
deep talk banget ya mereka, semoga makin lega n mantap meniti rumah tangga kedepannya
goodnovel comment avatar
Yani Suryani
sehat " kak jus karena cuaca lagi gak baik" saja semua boebo yg ada di sini semoga sehat" selalu, tetap semangat
goodnovel comment avatar
Meli Cute
baca pelan pelan...tau tau abis...suka terasa pendek aja...sehat sehat K Njuss,semangat update nya...., bisa nambah lagi meureuuun......️🫰
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 192. Percakapan Tarik Ulur

    Satria menarik sedikit senyum di sudut bibirnya. Sengaja tidak menjawab langsung. Ia tahu kalau pelayan datang mendekati mereka. Dan dengan dandanan Ratri yang seakan menghadiri makan malam dengan seorang menteri, Satria tahu kalau pelayan pasti mengira mereka sedang berkencan malam itu.Pelayan berhenti di sisi meja.Satria membuka menu sekilas. Tidak lama. Hanya cukup untuk memastikan.Lalu ia menutupnya.“Untuk kami,” ucapnya tenang. “Pan-seared Chilean sea bass. Saus lemon butter.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dry-aged ribeye. Medium rare.”Matanya sempat beralih ke Ratri. Memastikan semua pesanannya sesuai dengan keinginan wanita itu.Dan Ratri terlihat mengulum senyum seakan Satria sedang menyampaikan pidato kenegaraan yang membuatnya bangga. “Satu truffle mashed potato. Sama grilled asparagus.” Ia menambahkan tanpa melihat menu lagi, “Sparkling water. Dan … Chardonnay.”Satria mengangguk mantap saat pelayan mengulangi pesanan mereka dan pergi berlalu dari sana.Pes

  • KAMAR KEDUA   Bab 191. Malam Panjang 

    Arga dan Julian masih menatap punggung Satria saat pria itu membuka pintu dan menghilang.Keduanya saling pandang dalam diam. Bahkan sampai pintu sudah tertutup sejak beberapa menit yang lalu.Satria pergi begitu saja membawa berkas, membawa pikirannya, dan meninggalkan sisa ketegangan yang belum benar-benar reda di ruangan itu.Julian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya sempat mengusap wajah, lalu berhenti di sana sebelum akhirnya ia menatap Arga. “Menurut lo … ini masih wajar?”Arga membalas pandangannya sambil merapikan beberapa kertas di meja, meski jelas pikirannya tidak benar-benar ada di situ. “Apanya?” tanyanya datar.“Ya, Satria.”Lalu hening sebentar sebelum Julian melanjutkan, “Gue tahu dia kehilangan Prabu. Kita semua juga,” kata Julian, suaranya lebih rendah. “Tapi ini udah bukan sekadar cari tau lagi, Ga. Dia kayak … ngejar sesuatu yang nggak mau dia lepas.”Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap langit-langit sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Gue juga udah

  • KAMAR KEDUA   Bab 190. Keputusan Setengah Jadi

    Satria memang belum melupakan suatu malam beberapa bulan yang lalu.Malam ketika ia dan Arga masih sibuk mencari ponsel kedua milik Prabu. Malam yang waktu itu terasa seperti jalan buntu … dan sekarang, setelah semua potongan puzzle tersusun, justru terlihat sebagai sesuatu yang lebih besar.Hendra Kusuma Wijaya.Sebuah nama yang memang tidak pernah terpikirkan oleh Satria sama sekali. Pria yang lebih ramah, hangat, terlihat penuh perhatian dan sayang keluarga itu ternyata menyimpan banyak misteri dalam identitasnya.Malam ketika ia memergoki seorang pria di kantor Prabu, ia berpikir bahwa pria itu juga mencari ponsel kedua Prabu. Seperti mereka. Ke sana kemari mengais informasi yang disisakan Prabu, serta berlomba dengan pihak yang belum kasat di mata mereka.Satria menerawang—menjatuhkan tatapannya ke sudut ruangan tempat di mana sebuah speaker besar diletakkan. “Malam itu gue mengira orang yang masuk kantor Prabu nyari handphone kedua Prabu. Sama seperti kita. Tapi setelah gue piki

  • KAMAR KEDUA   Bab 189. Yang Semakin Nyata

    Julian mengangguk ragu.“Prabu punya klien yang sama berulang-ulang,” kata Satria. “Perusahaan kecil. Nggak terlalu dikenal. Tapi frekuensinya tinggi. Yang sedang kita lihat ini.” Ia mengetukkan jari di atas kertas-kertas.Julian langsung menyela, “Itu biasa. Repeat client—”“Enggak,” potong Satria. Pendek dan tegas. “Bukan repeat biasa.”Ia menarik satu lembar kertas lagi. Lalu satu lagi. Menyusunnya berdampingan. “Perusahaannya beda nama. Direksinya beda orang,” lanjutnya, “tapi jalur dan caranya sama semua. Persis.”Julian menyipitkan mata. “Jalur itu sama dengan alur persetujuan semua dokumen di pelabuhan, sampai kapan bisa diberangkatkan?”Satria mengangguk, lalu terlihat ia menelan ludah pelan. “Awalnya gue kira normal, tapi … nama direksi dua perusahaan yang berusaha kita cek sama-sama tadi, ternyata orang dari lingkungan Pak De Hendra sendiri.”“Jadi … semua yang di pelabuhan itu keliatannya aja perusahaannya banyak. Tapi sebenarnya orang yang main itu-itu juga, kan?” Arga men

  • KAMAR KEDUA   Bab 188. Menyatukan Puzzle

    Tidak ada yang benar-benar bergerak beberapa detik setelah Satria tertawa.Tawa itu pendek, tapi cukup untuk menegaskan satu hal. Nama itu bukan kebetulan.Arga mengembuskan napas panjang, lalu menarik lagi satu map dari sisi kanan meja. “Kalau satu orang masih bisa dibilang lompat jauh…” gumamnya, membuka lembar demi lembar, “…gue mau lihat berapa banyak yang lompatnya bareng.”Julian mencondongkan tubuh. “Lo nemu lagi?”Tatapan Arga menyisir cepat. Jarinya berhenti di satu nama. Lalu ia membuka lembar lain. Mencari pembanding seperti yang dilakukan Satria tadi.Lalu Arga menaikkan alisnya. “Ini…,” katanya pelan.Satria menoleh. “Siapa?”Arga memutar kertas itu, menghadap teman-temannya. “Dimas Prasetyo. Direktur Keuangan PT. Gold Shipping.”“Direktur Keuangan. Oke … lalu?” Suara Satria rendah.Arga belum selesai. Ia menggeser kertas kedua. Kertas yang lebih tua dan kusam. “Dimas Prasetyo,” ulangnya, lalu mengetuk baris di bawahnya. “…mantan staf administrasi di PT. Wijaya Berlayar L

  • KAMAR KEDUA   Bab 187. Malam Sebelum Kejadian

    Sheza telentang di ranjang.Selimut yang ia tarik dengan setengah hati, hanya mampu menutup sebagian dadanya saja. Selebihnya ia berusaha mengendalikan gugup yang herannya masih saja hadir meski mereka sering bercinta.Ia tak tahu bagaimana penampilannya di bawah sana. Perutnya yang besar membuat pemandangan ke sana terhalang. Napasnya pun ikut sesak karena ia menopang berat bayi yang sudah maksimal di perutnya.Sheza hanya mengikuti apa yang dipinta Satria. Kini ia berbaring dengan sepasang kaki ditekuk dan paha terbuka. Satria sudah melepaskan pakaiannya sejak tadi. Pria itu sudah menunduk untuk merasakan bagian tubuhnya langsung. Membuat ia meringis karena gelenyar kenikmatan yang mengalir hingga ke ujung-ujung jarinya. Terutama … saat ia melihat otot lengan Satria yang terbentuk jelas. Padat dan hidup. Terlihat bergerak ketika pria itu menahan pahanya yang sesekali bergerak menutup. Satria di sana. Ia bisa melihatnya dengan jelas.Tatapan Satria tenang dan tidak terburu-buru. I

  • KAMAR KEDUA   Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

    “Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 27. Hal Kecil Lainnya

    Di hari sidang putusan, Sheza terbangun dengan perut yang terasa ditarik pelan dari dalam. Bukan nyeri hebat, tapi cukup membuat punggungnya kaku dan langkahnya melambat. Ia tetap bersiap seperti biasa. Meski tidak mengeluh, tapi rasa sakit itu menambah satu beban lagi di hari yang sudah berat. Sat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 21. Hal-hal yang Tidak Diucapkan

    Satria sudah bangun sebelum alarm berbunyi dan berdiri di ruang makan dengan kemeja kerja yang belum dikancing penuh.Kopi di tangannya belum disentuh. Matanya justru tertuju ke meja makan tempat di mana blister obat sakit kepala yang ia letakkan semalam.Bertahun yang lalu, Prabu pernah tertawa sa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 23. Waktu yang Merangkak

    Satria sempat melupakan urusan dapur yang sengaja dibiarkan berantakan semalam. Minggu pagi itu ia bangun sepagi biasanya. Ia mengangkat beban, lalu berenang selama setengah jam, mandi dan kemudian duduk bersantai di tepi kolam renang. Ia mengecek laporan dari staf kantor saat ia tidak berada di sa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-18
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status