Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 183. Dengan Sengaja

Share

Bab 183. Dengan Sengaja

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-04-27 00:14:40

Satria menarik napas pendek.

Ia tidak terbiasa bergerak tanpa perhitungan. Tapi kali ini ia memilih bertindak sebelum pikirannya sempat terlalu jauh menahan.

“Sebentar, Ratri,” katanya pelan, masih dengan nada sopan yang tidak berubah. Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu mobil Ratri.

Ia membukakan pintu penumpang depan.

Gerakannya tenang seperti orang lama yang sudah terbiasa sedekat itu dengan Ratri.

“Anak kamu dulu,” katanya.

Ratri mengangguk, masih tersenyum, masih belum membaca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (28)
goodnovel comment avatar
Aminah Adjaa
aku sukaaaaaaaaaaaaaa aku sukaaaaaaaaaaaaaa semangaaaaaaaaaaaaat ya kaliaaaaaaaaaaaan semuanyaaaaaaaaaa ...
goodnovel comment avatar
Siti Kotijah
apa salim minta bantuan Hendra,, entah pkoknya semua tetua dsni bajingan ...picik licik
goodnovel comment avatar
henny.orlee
tau z tu anak papa y dh di rumah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 183. Dengan Sengaja

    Satria menarik napas pendek.Ia tidak terbiasa bergerak tanpa perhitungan. Tapi kali ini ia memilih bertindak sebelum pikirannya sempat terlalu jauh menahan.“Sebentar, Ratri,” katanya pelan, masih dengan nada sopan yang tidak berubah. Tangannya sudah lebih dulu meraih gagang pintu mobil Ratri.Ia membukakan pintu penumpang depan.Gerakannya tenang seperti orang lama yang sudah terbiasa sedekat itu dengan Ratri. “Anak kamu dulu,” katanya.Ratri mengangguk, masih tersenyum, masih belum membaca apa pun yang sedang bergerak di kepala Satria.Anak kecil itu naik lebih dulu. Satria menutup pintu dengan pelan dan tenang. Sengaja menahan diri agar maksudnya tersamar.Lalu Satria melangkah.Satu langkah ke depan.Dua langkah memutar.Tidak langsung kembali ke sisi semula. Justru ia memilih memutari bagian depan mobil. Menyusuri kap yang memantulkan cahaya siang, melewati garis bayangannya sendiri.Langkahnya tetap stabil. Tapi arah langkahnya jelas. Satria menuju sisi kiri mobil.Menuju pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 182. Jejak yang Kembali

    Zaman baru masuk ke dunia shipping di pelabuhan, Satria sering menghadiri makan malam yang tidak pernah benar-benar disebut sebagai pertemuan bisnis.Biasanya makan malam itu tidak ada label apa-apa. Bahkan bisa dibilang tanpa undangan resmi karena biasanya ia diajak oleh satu dua rekan yang lebih senior.Meski tuan rumah makan malam itu seakan tidak terlihat, semua orang yang duduk di meja itu tahu persis siapa yang memegang kendali.Termasuk siapa yang menentukan harga, dan siapa yang bisa membuat satu kapal berhenti berlayar hanya dengan satu keputusan.Mereka orang-orang lama. Orang-orang tua. Nama-nama yang sudah hidup jauh sebelum Satria masuk ke lingkaran itu.Keluarga yang tidak hanya mewariskan uang tapi juga pengaruh, jalur, dan orang-orang.Di meja seperti itu, Satria dulu hanya dipandang sebagai pendatang.Ia datang hanya dengan nama ayahnya yang dikenal bersih dan ibu yang terlalu cerdas untuk diabaikan. Kemungkinan besar, cara kerjanyalah yang membuat orang-orang lama it

  • KAMAR KEDUA   Bab 181. Petunjuk yang Mendebarkan

    Selesai mengikuti Satria berjalan ke sana kemari, Arga tidak langsung masuk ke mobil. Ia berdiri di samping pintu, menahan Satria dengan satu kalimat pendek yang jarang ia ulang dua kali.“Makan dulu.”Satria sudah membuka pintu mobilnya. Tangannya berhenti di gagang. Ia tidak menoleh. “Gue nggak lapar.”Arga mendengus pelan. “Lo bukan nggak laper. Lo lagi kebanyakan mikir.”Satria diam saja. Tatapannya beralih ke kapal-kapal yang terparkir di bawah terik matahari.Angin pelabuhan masih membawa sisa debu batubara yang menempel di lengan dan kerah baju mereka. Siang mulai naik. Terik, tapi tidak cukup untuk mengusir tegang yang masih menggantung di tubuh Satria.“Sat,” Arga menurunkan suaranya, lebih serius sekarang. “Lo dari pagi belum makan. Gue tau.”Kalimat itu menggantung beberapa detik.Dan entah kenapa … yang terlintas di kepala Satria bukan kata-kata Arga.Tapi suara Sheza barusan.Nada pelan yang berusaha tidak mengganggu. “Mas udah sarapan?”Tadi ia langsung mengiyakan. “Udah

  • KAMAR KEDUA   Bab 180. Kelam Pelabuhan

    Langkah Satria tidak melambat sejak keluar dari ruang kontrol.Ia berjalan lurus ke arah stockpile tanpa menoleh, tanpa memberi aba-aba. Arga hanya mengikuti di belakang, cukup dekat untuk melihat, tapi tidak mengajak temannya bicara.Angin pelabuhan menyapu debu hitam tipis ke udara. Bau batubara pekat, terhirup dan menempel di tenggorokan.Hamparan stockpile berdiri seperti bukit-bukit gelap yang diam tapi menyimpan sesuatu.Satria langsung turun ke area bawah.Tanpa sarung tangan ia menggenggam batubara dari lapisan atas. Menggosoknya di telapak tangan. Menghancurkannya sedikit dengan ibu jari.Serbuknya halus dan terlihat normal. Ia menjatuhkannya kembali. Lalu melangkah lebih dalam. Kali ini ia menunduk lebih lama. Tangannya masuk sedikit lebih dalam ke lapisan tengah.Mengambil segenggam batubara dan menekannya dengan jemari. Wajahnya mengeras dan ia belum mengeluarkan sepatah kata pun.Arga memperhatikan dari samping. “Gimana?”Satria belum langsung jawab. Ia mengangkat tangan

  • KAMAR KEDUA   Bab 179. Retakan Pertama

    Sarapan adalah salah satu hal penting yang tidak pernah dilewatkan Satria. Perutnya tak pernah kosong saat meninggalkan rumah. Namun pagi itu, ia bahkan tidak ingat soal sarapan.Ia melangkah keluar dari restoran Jepang tanpa meneguk air setetes pun. Tidak pernah ada keinginan untuk makan dan minum saat bicara dengan Pak Salim—juga Nadine. Seakan tiap topik yang diluncurkan setajam pisau yang harus ia siapkan perisainya.Walah raut wajah Nadine masih menyiratkan kepuasan, ia tahu wanita itu tidak mudah dibuat percaya. Nadine pasti akan selalu mencari tahu soal dia dan keluarganya.Sekali lagi, ini bukan soal cinta.Satria tahu betul mana wanita yang bertindak karena cinta dan kepedulian. Juga tahu mana wanita yang marah karena disebut-sebut kalah dari mantan suami yang lebih dulu memiliki keluarga baru.Udara di halaman kantor polisi terasa lebih panas dari biasanya meski matahari belum benar-benar naik di atas kepala.Satria turun dari mobil tanpa banyak pikir. Pintu ia tutup lebih k

  • KAMAR KEDUA   Bab 178. Hanya Perkara Waktu

    Satria menggeleng pelan. “Saya nggak bilang siapa pun,” katanya. “Tapi saya cukup tau jalur ini terlalu bersih untuk tiba-tiba kacau tanpa ada yang pegang kendali.” Nadine bergeser sedikit. Ia melepaskan sendok teh yang sejak tadi ia pegang. Kini pembicaraan itu semakin membuatnya tertarik. Salim tertawa pendek. Tidak ada kehangatan dalam tawa itu. “Kamu terlalu percaya diri,” kata Pak Salim. “Baru pegang sedikit, sudah merasa bisa baca semua.” Satria menyandarkan punggungnya. “Sedikit?” Ia ikut tertawa mengejek. “Kalau sedikit harusnya nggak sampai bikin seorang Pak Salim duduk di sini,” balasnya tenang. Ucapannya tepat sasaran. Nadine menoleh cepat. Memandang Satria dengan tatapan sengit. Lebih tajam. “Jangan lupa diri, Satria,” ucap Nadine akhirnya. “Kamu ada di posisi sekarang karena siapa.” Satria tidak berkedip—ia menoleh Nadine. “Dan kamu juga tau aku bertahan di posisi ini karena apa,” jawabnya. Suasana tiba-tiba hening. Seakan setiap orang sedang mempersiapkan kat

  • KAMAR KEDUA   Bab 104. Batas Yang Tidak Boleh Dilewati

    Roman tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Serius banget sih, Sat. Dari dulu juga hidup lo nggak pernah santai.”Satria menatapnya sebentar.Tatapan itu mampu membuat Roman berhenti tertawa.“Gue memang nggak pernah hidup buat santai,” kata Satria. Ia tidak menaikkan suara.“Dan orang yang b

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 100. Kenyataan Yang Mengejar

    “Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 97. Masih Terlalu Pagi

    Sheza terbangun saat rumah masih gelap. Rasa mual di perutnya datang tiba-tiba. Membuat ia harus duduk beberapa detik di tepi ranjang sambil menahan napas. Ia menoleh sekilas ke arah Satria. Pria itu masih tidur, napasnya dalam dan teratur, satu lengannya terulur ke sisi ranjang seperti semalam mas

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 92. Biar Aku Jelaskan

    Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status