Mag-log inSheza masih memejamkan mata, menikmati kecupan Satria yang lembut di bibirnya.Ia sadar hari di luar masih terang. Tirai vitrase hanya menghalangi sebagian cahaya matahari yang masuk ke ruang kerja itu.Di dalam hati, ia membenarkan ucapan Satria tentang me time beberapa saat yang lalu.Beberapa minggu terakhir, mereka memang jarang benar-benar memiliki waktu berdua.Rumah mereka lebih sering dipenuhi suasana keluarga besar. Obrolan yang diselingi aneka camilan, celoteh anak-anak, serta tawa yang tak pernah benar-benar berhenti. Terlebih sejak Sagara tumbuh menjadi bayi berusia enam bulan yang, menurut Om Franky, adalah bayi paling anteng yang pernah ditemuinya.Mereka tetap menghabiskan banyak waktu bersama.Hanya saja, momen seperti siang itu, ketika hanya ada mereka berdua tanpa gangguan apa pun, menjadi sesuatu yang semakin jarang terjadi.Deru halus pendingin udara terdengar samar memenuhi ruangan. Satria memang tidak pernah menyukai suhu yang terlalu dingin. Baginya, udara sejuk
Mobil yang membawa Om Franky dan Tante Vonny perlahan menghilang di tikungan.Satria masih berdiri di depan pintu sambil merangkul bahu Sheza. Keduanya memandangi halaman rumah yang kembali lengang.Sheza mendongak menatap suaminya, lalu terkekeh pelan. Satria baru saja mengatakan soal ‘me time’ di sofa padanya. "Mas ….” Tangannya merangkul pinggang Satria."Hm?""Sekarang udah bisa lucu juga, ya."Satria menoleh lalu ikut tertawa pelan. Sheza menyenggol pelan lengan suaminya. "Perubahan besar."“Tapi mau, kan?” tanya Satria lagi. Kali ini sambil mengerling penuh arti.“Aku ngikut aja,” sahut Sheza.Mereka tertawa kecil bersamaan, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.Begitu pintu tertutup, Sheza langsung menoleh."Eh, minggu ini Nayla bisa datang?"Satria mengangguk. "Bisa. Kenapa? Ada perlu sama Nayla?”"Aku mau masak yang spesial buat anak-anak." Senyum Sheza melebar. "Udah lama Nayla nggak makan ayam mentega buatanku.""Bisa.""Mas yang jemput?""Iya."Sheza mengernyit. “Minggu la
Satria membuka halaman pertama map tua itu dengan hati-hati. Tangannya berhenti sejenak di sampul depannya.Ia sebenarnya sudah pernah membaca laporan itu belasan tahun yang lalu. Bahkan tidak hanya sekali.Setelah kedua orang tuanya meninggal, laporan kronologis ledakan kapal itu menjadi satu-satunya cara yang ia miliki untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi pada hari itu. Setiap kalimat pernah ia baca. Setiap halaman pernah ia bolak-balik. Bahkan beberapa istilah pelayaran yang saat itu belum ia mengerti pernah ia hafalkan begitu saja.Namun … saat itu ia hanyalah seorang anak yang baru kehilangan kedua orang tuanya.Ia membaca untuk mencari jawaban. Bukan untuk memahami.Satria menarik napas pelan.Manusia memang aneh.Bukan hanya wajah yang berubah seiring bertambahnya usia, tetapi juga cara memandang sesuatu.Sebuah foto yang sama, misalnya.Saat berusia sepuluh tahun, yang pertama kali kita cari biasanya adalah wajah kita sendiri. Apakah kita sedang tersenyum. Apakah kita te
Sementara itu, di Jalan Pine II No. 8, Satria baru saja menghabiskan secangkir kopinya.Di tangannya kini tinggal satu map terakhir.“Ini map apa …?” gumam Satria sendirian.Map itu terletak di tumpukan paling bawah. Tidak terlalu tebal. Warnanya paling usang dibandingkan map lain yang sejak tadi ia buka satu persatu. Sudut-sudutnya mulai menguning, sementara bagian sampulnya dipenuhi bekas lipatan yang menandakan map itu telah berpindah tangan berkali-kali.“Oh … map ini,” gumamnya.Entah kenapa, hanya dengan memegang map itu, ingatannya langsung melompat jauh ke masa lalu.Ke hari ketika ia akhirnya memenuhi permintaan Nadine. Hari ketika ia memutuskan bercerai.Kata cerai yang selama bertahun-tahun begitu mudah keluar dari mulut istrinya setiap kali mereka bertengkar. Di antara begitu banyak peristiwa besar dalam hidupnya, hari itu memang tetap menjadi salah satu yang tak pernah benar-benar berhasil ia lupakan.Pagi itu, salah satu kapal pertama yang dibelinya sebagai aset Rylee L
Keesokan paginya, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Ada rapat pagi yang berlangsung cukup lama. Nadine mengikutinya dan mengeksekusi jalannya rapat dengan profesional seperti biasanya.Menjelang jam makan siang, seorang klien lama datang untuk bertemu. Nadine menerimanya di lounge khusus. Ia tampil cerdas dan tenang, seperti tidak ada apa pun yang terjadi.Kembali ke ruangannya, ia menyelesaikan tumpukan dokumen yang harus dibaca dan ditandatangani. Tak sampai satu jam kemudian, semuanya telah rampung.Hari itu berjalan seperti biasa.Hanya saja, Nadine lebih banyak diam daripada biasanya.Tanpa terasa, waktu makan siang telah lewat. Jarum jam bahkan sudah menunjukkan pukul dua siang ketika sekretarisnya masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat.“Bu ... ini baru saja diantar kurir.” Sekretaris itu meletakkan amplop tersebut di atas meja.Nadine menerimanya tanpa banyak berpikir. “Terima kasih.”Baru saja matanya menangkap logo di sudut kiri atas amplop itu, jantungnya seolah b
“Kamu benar-benar nggak melihat apa yang sedang aku usahakan?” Suara Satria terdengar sangat lirih. Ia terdiam beberapa saat. “Aku pulang supaya bisa makan malam sama kalian. Aku bekerja supaya Nayla tumbuh tanpa merasa kekurangan.” Suasana mendadak sunyi. Nadine menggeleng pelan. “Itu bukan cinta yang aku mau.” Satria memejamkan mata sesaat, lalu kembali menatap istrinya. “Aku nggak sedang membela diri.” Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini terdengar jauh lebih lelah. “Tapi jangan pura-pura nggak tau gimana semuanya berawal, Nadine. Sejak awal aku memang nggak pernah menjanjikan kisah cinta yang sempurna. Dan kamu juga tau itu.” Ia menarik napas pelan. “Aku tau jatuh cinta nggak bisa dipaksa. Perasaan itu tumbuh seiring waktu. Karena itu, selama ini aku berusaha menuju ke sana.” Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. “Harusnya ... kamu membantuku. Bukan terus-terusan mengujiku.” Ia berhenti sejenak. “Kita nggak akan pernah bisa melihat perjuangan seseo
Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i
Satria Elang Rylee masuk ke ruang makan itu dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, rapi dengan setelah jas casual yang dipadukan dengan jeans berwarna gelap. Gesturenya tenang dan percaya diri. Saat masuk ia langsung menyalami Pak Salim lebih dahulu.“Terima kasih sudah mengundang saya, Pak.”Pak
Sewaktu mereka tiba di rumah, malam sudah turun sepenuhnya. Lampu-lampu taman menyala temaram dan dari dapur tercium aroma masakan hangat yang langsung membuat rumah terasa hidup. Tuti sedang menyusun lauk di meja makan. Semuanya lauk pauk yang baru dimasak dengan asap masih mengepul. Sebelum mere
Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare







