Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

Share

Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-27 23:18:04

Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal.

“Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah.

Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun, bocah itu sudah memeluk pinggangnya erat.

Sheza tertawa kecil, refleks menunduk dan mengusap rambut Dio. “Kamu pulang siang-siang begini, bikin kaget Ibun.”

Athar menyusul di belakang. Masih mengen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (39)
goodnovel comment avatar
Yayu Hastiyani
sayangnya ino hanya dunia cerita
goodnovel comment avatar
Meli Cute
sehat slalu Njus..... trimakasih update nya...
goodnovel comment avatar
Yuni Permanasari
maapkan saking kejar maraton baca gak sempet mampir2 komen kak jus ...... yang pasti aku padamuuuuu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 327. Selang-seling Kehidupan 

    Beberapa bulan terakhir, rumah kediaman keluarga Hendra Kusuma Wijaya mulai kehilangan keteraturan yang selama puluhan tahun selalu dijaga.Majalah dan koran bertumpuk di meja ruang tengah. Beberapa cangkir teh dibiarkan begitu saja di sudut-sudut ruangan. Ada pakaian yang seharusnya sudah dimasukkan ke dalam lemari atau ke keranjang cucian tetapi justru tergeletak di kursi.Mainan Raka juga semakin sering terlihat di mana-mana.Mobil-mobilan kecil di bawah meja. Balok kayu di dekat tangga. Sebuah boneka tergeletak di sofa ruang keluarga.Darto sang asisten rumah tangga pria sudah membersihkan rumah itu berkali-kali dalam sehari.Pagi setelah Hendra sarapan, ia membersihkan ruang tengah. Setelah makan siang, ia kembali merapikannya. Sore hari, ia menyapu dan mengepel lagi.Tetapi rumah itu selalu kembali berantakan.Pertama kali hal itu terjadi, Darto mengira Raka sudah kembali ke rumah atau Pak Hendra menerima tamu yang membawa anak. Nyatanya tidak. Mainan itu keluar begitu saja dari

  • KAMAR KEDUA   Bab 326. Kenyataan yang Harus Disadari 

    Pak Salim masih terdiam setelah mengucapkan nama Calvin.Tatapannya tidak lagi benar-benar tertuju pada Satria. Ia seperti sedang mengulang percakapan mereka beberapa menit terakhir di dalam kepalanya.Bram menghilang.Calvin juga menghilang dengan cara yang tidak pernah benar-benar terjelaskan.Dan sebelum itu, Satria mengatakan bahwa mungkin selama ini Hendra melihat KSD Holding sebagai pesaing, sementara dirinya sendiri tidak pernah merasa sedang bersaing dengan siapa pun.Pak Salim mengusap dagunya. “Kalau dipikir-pikir …,” gumamnya.Satria menunggu.“Saya memang nggak pernah merasa Hendra bersaing dengan saya. Begitu pula sebaliknya.” “Karena Bapak menganggapnya keluarga?”“Iya.”Pak Salim tersenyum tipis. “Kami sudah kenal sejak kecil. Saya tahu bagaimana dia berpikir. Setidaknya, saya merasa tahu.”Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan,“Tapi mungkin ada beberapa hal yang dulu saya anggap biasa.”Satria tidak menyela.“Pernah ada satu tender pengangkutan yang cukup besar. Wak

  • KAMAR KEDUA   Bab 325. Yang Dilepaskan

    Satria tetap diam.Ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar permintaan maaf itu. Ada beberapa hal yang mungkin bisa dijawab dengan kata-kata, tetapi tidak dengan apa yang sedang ia rasakan sekarang.Pak Salim adalah salah satu orang yang paling banyak mengajarinya setelah kedua orang tuanya meninggal. Itu tidak bisa dipungkiri. Ia banyak belajar tentang bagaimana membaca sebuah perusahaan sebelum memutuskan untuk masuk ke dalamnya. Tentang bagaimana memperlakukan orang yang bekerja bersamanya. Tentang bagaimana sebuah hubungan bisa menjadi bagian penting dari sebuah bisnis tanpa harus selalu dibicarakan sebagai angka.Banyak relasi yang sekarang dimiliki Satria juga berawal dari orang-orang yang dikenalkan Pak Salim kepadanya bertahun-tahun lalu.Ia tidak pernah melupakan itu.Satria mengangkat cangkir di hadapannya, lalu meneguk sedikit.“Dulu Bapak sering ngajak saya ikut ketemu orang penting.”Salim menatapnya. “Masih ingat?”“Ingat.”“Padahal waktu itu kamu lebih suka

  • KAMAR KEDUA   Bab 324. Yang Tidak Pernah Selesai

    Mobil Satria berhenti di depan rumah keluarga Kertasoedibyo menjelang siang.Seorang keamanan yang sudah mengenal mobilnya membuka pagar sebelum ia membuka kaca dan melambai seperti biasa.Ia memarkirkan mobil di depan teras. Lalu asisten rumah tangga yang sudah lama bekerja di rumah itu keluar menyambutnya."Pak Satria … mau ketemu Bapak, kan?” Wanita paruh baya itu sedikit membungkuk saat Satria tiba di teras.Satria tersenyum. “Iya, benar.” Sepertinya Pak Salim sudah mengetahui kehadirannya lebih dulu melalui CCTV."Bapak di ruang kerjanya. Bisa langsung ke sana. Atau mau saya antar?” Wajah wanita itu sumringah menatap Satria.Satria menelengkan kepalanya sejenak, lalu meneruskan, “Kali ini saya mau diantar.”Wanita itu terkekeh senang. “Baik, Pak. Mari saya antar.”Salim sedang duduk di ruang kerjanya dengan sebuah koran di tangan ketika pintu ruangannya terbuka dan Satria muncul. Lelaki tua itu mengangkat wajah. "Kamu datang,” ucap Pak Salim.Satria mengangguk. "Iya, Pak."Pak Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 323. Satu Langkah Berikutnya

    Sheza sudah berada di dapur keesokan harinya saat hari masih benar-benar gelap.Rumah masih sunyi. Anak-anak belum terdengar bangun dari kamar masing-masing.Dari jendela dapur, langit di luar masih berwarna kelabu kebiruan, sementara lampu-lampu di dalam rumah menjadi satu-satunya penerang.Dengan nightdress pendek bertali tipis, Sheza berdiri di depan kompor, mengaduk sup labu yang sedang dipanaskan perlahan. Aroma lembutnya memenuhi dapur.Semalam perutnya terasa kurang nyaman. Bukan sakit, hanya sedikit begah sehingga membuatnya sulit tidur setelah mereka bercinta. Setelah bangun menjelang subuh, ia merasa lebih baik dan tiba-tiba ingin makan sesuatu yang hangat.Ia baru saja mengecilkan api ketika dua lengan melingkar di perutnya dari belakang.Sheza sedikit terkejut. Ia menunduk memandang tangan tegap yang mengusap perutnya. “Pasti nyariin aku.”Satria menempelkan dagu di bahu istrinya. “Aku masih mau peluk kamu. Harusnya masih bisa sekali lagi sebelum anak-anak bangun.”Sheza t

  • KAMAR KEDUA   Bab 322. Menyudahi yang Tertinggal

    Satria melangkah keluar dengan handuk yang hanya terlilit longgar di pinggang, air masih menetes dari ujung rambutnya, menyusuri leher, turun ke bahu yang lebar. Di usia empat puluh satu tahun, tubuhnya masih menyimpan bentuk yang terjaga—bukan karena obsesi, tapi karena kebiasaan bertahun-tahun yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan. Bahu bidang, dada yang kokoh, lengan yang terbentuk dari disiplin yang diam-diam konsisten.Ia menyeberang ke walk-in closet yang terhubung langsung dengan kamar mereka, membuka satu pintu lemari, mengambil sepotong pakaian dalam, menutupnya kembali tanpa suara berlebih.Ketika ia muncul lagi beberapa menit kemudian, hanya mengenakan boxer gelap, rambutnya masih setengah basah, cahaya lampu kamar memantul lembut di kulitnya yang masih sedikit lembap.Sheza sudah menunggu di tempat tidur. Mendengar langkahnya, ia menoleh.Satria tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat perlahan, seakan waktu sengaja melambat untuknya.Ia naik ke ranjang, merebahkan dir

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status