로그인“Kalau suatu hari Bram ditemukan,” kata Satria perlahan, “dan dia bisa menjelaskan apa yang terjadi sebelum kapal Satria Elang berangkat ... nama Pak Salim mungkin bisa dibersihkan.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria menunggu.Pria tua itu justru mengambil cangkir dan meminumnya sedikit.“Kalau dia ditemukan,” ulang Satria.Pak Hendra meletakkan cangkir seraya menghela napas. “Bram tidak akan ditemukan.”Satria menatapnya. Rahangnya mengeras. “Bapak yakin?”“Sudah terlalu lama,” ucap Pak Hendra. “Orang bisa tetap hidup puluhan tahun,” sahut Satria. Pak Hendra mengangguk. “Tapi ada orang-orang yang lebih baik tetap menjadi bagian dari masa lalu.”Satria tidak mengatakan apa-apa lagi.Ia menatap pria di hadapannya beberapa detik. “Kalau dia ditemukan,” ulang Satria, “Bapak kira apa yang akan dia katakan?”Pak Hendra menatapnya. “Saya nggak tahu.”“Mungkin tentang apa yang terjadi sebelum Satria Elang berangkat?”“Mungkin.”Satria mengangguk pelan. “Kalau gitu, seharusnya Bapak berhara
Satria mengangguk samar. Langsung mengerti ke mana arah pembicaraan itu.“Saya nggak mau pura-pura nggak tahu, Pak.”Pak Hendra menatapnya.“Saya tau Ratri dan Raka udah pergi ke Swiss. Sebelum berangkat, Ratri memang cerita ke saya.”Pak Hendra tetap diam.Satria menarik napas pendek. “Dan saya rasa kita juga nggak perlu pura-pura nggak tau apa yang terjadi belakangan ini.”Tatapan Pak Hendra tidak berubah.Satria menatapnya beberapa saat. “Kita sama-sama tau kenapa Ratri pergi, kan, Pak?” Ucapannya seakan memaksa Pak Hendra untuk kembali mengingat pembicaraan panjang mereka di ruangan private restoran.Pak Hendra lagi-lagi tidak menjawab. Hanya tatapan matanya saja yang bergerak gelisah. Satria lalu mengangguk kecil. Ia tidak membutuhkan jawaban lebih jauh.Beberapa detik kemudian, pandangannya beralih ke arah ruang makan. Teringat pada boarding pass yang tadi terhampar di meja.“Bapak nggak menyusul mereka?” tanya Satria dengan suara pelan.Pak Hendra yang tadi sempat mengalihkan
Satria berada di pelabuhan sejak sebelum matahari terlalu tinggi.Ia berdiri di dekat meja kerja sementara beberapa lembar manifest terbuka di hadapannya. Di luar ruangan, suara mesin kapal bercampur dengan bunyi rantai dan aktivitas pekerja mulai memenuhi area dermaga.“Yang ini belum lengkap.” Satria menunjuk bagian bawah salah satu lembar manifest.Pria di hadapannya segera mendekat. “Bagian pengirim sudah ada, Pak. Tinggal nomor dokumen pengangkut.”“Jangan diberangkatkan sebelum lengkap,” ujar Satria lagi. “Baik, Pak.”Satria menggeser lembar berikutnya. “Jumlah muatan di manifest ini beda dengan loading report.”Pria itu kembali melihat dokumen.“Selisih dua puluh tujuh ton, Pak.”“Kenapa?” Mata Satria masih mengawasi angka demi angka. “Masih saya cek ke tim lapangan,” sahut pria di depannya. “Saya tunggu sekarang. Kapal tinggal menunggu clearance.”“Baik, Pak.”Satria mengangguk lalu kembali memeriksa dokumen lain.Seharian itu ia sudah mengecek angka, nama barang, pemilik m
Beberapa saat sebelumnya, setelah Satria pergi Sheza masih berdiri di dekat pintu. Ia masih berdiri di sana sampai mobil suaminya menghilang dari pandangan.Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya sejak percakapan mereka tadi malam. Ia sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa Satria akan baik-baik saja, bahwa Nadine tidak akan melakukan sesuatu yang buruk terhadap Nayla.Tetapi semakin ia mencoba tidak memikirkannya, semakin pikirannya kembali ke sana.Sheza melihat jam.Sudah lewat pukul sembilan.Ia berjalan menuju kamar Saga. Bayi itu masih terjaga ketika Sheza masuk. Beberapa menit kemudian ia menggendongnya dan mencoba menyusui seperti biasanya.Namun Saga hanya mengisap sebentar sebelum melepaskan mulutnya.Sheza mengernyit.Ia mencoba lagi.Tidak banyak yang keluar.Sejak kehamilannya memasuki bulan keempat, ASI-nya memang semakin sedikit. Kadang masih keluar, tetapi tidak lagi cukup untuk membuat Saga kenyang seperti sebelumnya. Akhirnya Nila menyiapkan susu formula untuknya.Mal
Nadine baru menyalakan mesin ketika pintu restoran Jepang itu mulai tampak jauh di belakangnya.Ia tidak langsung menjalankan mobil.Kedua tangannya masih berada di atas kemudi. Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam, menatap kosong ke depan.Pertemuan yang sebenarnya tidak berlangsung lama itu terasa seperti seharian penuh baginya. Menguras tenaga, juga menghabiskan seluruh kekuatan yang sejak tadi ia gunakan untuk menahan dirinya tetap tenang.Kemudian ia menarik napas panjang.Sekali. Dua kali. Tidak berhasil.Nadine menundukkan kepala sampai dahinya hampir menyentuh kemudi. Matanya terpejam rapat.Tangisnya kembali pecah.Sendirian di mobil saat itu hingga ia rasa tak ada lagi yang perlu ditahan.Setelah berpisah dari Satria beberapa tahun yang lalu, baru malam itu ia merasa mereka benar-benar mengakhiri perjalanan rumah tangga mereka.Bukan ketika Satria meninggalkan rumahnya, atau ketika surat-surat perceraian mereka selesai dibereskan. Malam ini.Entah karena permintaan maaf
“Lalu ... saat Nayla hadir di antara kita, setiap hari aku selalu berusaha menjadi papa yang baik buat Nayla.”Satria membuang pandangan sejenak sebelum kembali menatap Nadine.“Aku harus tetap berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun melihat kamu—orang yang sejak awal paling ingin punya anak, tapi kemudian kulihat nggak benar-benar menginginkan anak itu.”Nadine terdiam.Satria masih menatapnya. “Apa waktu itu kamu berpikir bahwa mencintai suami lebih penting daripada mencintai anak yang kamu usahakan siang dan malam?”Nadine mencondongkan tubuh hingga kedua tangannya nyaris menyentuh meja. “Tapi aku mau dicintai seperti wanita lain, Sat!” Suaranya bergetar. “Aku mau diusahakan.”“Aku mencoba, Nad. Setiap hari aku mencoba.”Satria menarik napas.“Bahkan aku pernah berpikir, mungkin aku bisa mencintai kamu mati-matian setelah kamu melahirkan anakku. Tapi ternyata, ketidakpedulian kamu terhadap Nayla justru membuatku semakin sulit percaya bahwa perempuan yang melahirkan putriku benar-







