Accueil / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 29. Malam Bercerita

Partager

Bab 29. Malam Bercerita

Auteur: juskelapa
last update Date de publication: 2026-01-12 23:09:25

Percakapan malam itu berlangsung dengan banyak jeda. Sepotong-sepotong lalu hening lagi. Tidak ada yang terburu-buru.

Sheza menyandarkan punggungnya ke sofa. Kepalanya tidak condong ke bahu Satria, tapi jaraknya cukup dekat untuk merasakan kehangatan tubuh pria itu. Ia memejamkan mata sebentar, bukan untuk tidur. Hanya untuk bernapas tanpa waspada.

Satria berdiri lebih dulu. “Aku ambilin selimut,” katanya, nada datar tapi penuh pertimbangan. “Di sini dingin.”

Sheza membuka mata. “Nggak ap
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (17)
goodnovel comment avatar
HiCii
bang sat... kamu sekali lagi kamu kerennn... tidak meninggikan ego sampai perasaanmu benar2 jelas..
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
sedekat itu mereka
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • KAMAR KEDUA   Bab 331. Layaknya Family Gathering 

    Selepas Maghrib, halaman belakang rumah Satria sudah berubah menjadi tempat berkumpul yang ramai.Lampu-lampu taman menyala mengelilingi halaman, sebagian cahayanya jatuh ke permukaan kolam renang yang tenang. Pantulan lampu bergerak pelan mengikuti riak air yang sesekali tercipta kerena hembusan angin.Di dekat kolam, gas grill sudah mulai digunakan.Pak Heri berdiri di depan panggangan sambil membolak-balik daging yang mulai kecokelatan. Sesekali ia mengangkat tutup grill untuk memeriksa tingkat kematangannya. Aroma daging yang dipanggang bersama jagung dan ikan memenuhi halaman belakang.Meja panjang di bawah area terbuka sudah dipenuhi makanan. Piring-piring berisi daging panggang, jagung, kentang, salad, buah, dan berbagai macam saus memenuhi hampir seluruh permukaannya.Anak-anak berkumpul di sekitar meja, sesekali mengambil makanan yang mereka sukai sebelum kembali bermain.Para perempuan berkumpul di meja makan. Sheza duduk bersama Marina, Wenny; istri Arga dan Tania; istri Vi

  • KAMAR KEDUA   Bab 330. Malam Ramai

    Halaman belakang rumah sudah jauh lebih ramai dibanding satu jam sebelumnya. Di dekat kolam renang, sebuah gas grill premium sudah siap digunakan. Grill itu menyatu dengan meja dapur luar ruangan berbahan baja tahan karat, dilengkapi empat tungku gas, jeruji besi tebal, serta tutup besar untuk menjaga panas. Di bagian bawahnya terdapat beberapa laci penyimpanan dan ruang tertutup untuk tabung gas..Pak Heri berjongkok di depannya, memeriksa sambungan selang dan memastikan setiap tungku bekerja dengan baik. Sesekali ia memutar kenop untuk menguji nyala api sebelum mematikannya kembali.“Sudah beres, Pak,” katanya ketika Satria mendekat.“Oke. Nanti nyalakan setelah yang lain datang.”Sementara dua orang pegawai rumah yang biasanya membantu Tuti mengurus ruang tamu dan taman ikut turun tangan untuk menata meja.Beberapa lampu taman sudah menyala meskipun langit masih menyisakan cahaya sore.Di atas meja panjang, bahan makanan sudah tersusun dalam beberapa wadah.Daging yang telah dimari

  • KAMAR KEDUA   Bab 329. Waktu Keluarga

    Sagara masih menyusu tenang dalam dekapan Sheza. Tubuh kecilnya terlentang nyaman dengan satu tangan mengusap dada ibunya yang lain. Sementara Sheza sesekali mengusap rambut Sagara dengan satu tangan dan tangan lainnya menyangga kepala.Kamar terasa tenang setelah sejak sore rumah mereka dipenuhi suara orang-orang yang sedang mempersiapkan acara malam nanti.Satria belum bicara. Ia berbaring di depan Sheza sambil satu tangannya terulur mengusap pelan pipi Sagara. Dari tempatnya, ia bisa melihat wajah Sagara yang mulai mengantuk.“Padahal dia udah ngantuk dari tadi. Tapi dia tahanin,” ucap Satria pelan.“Dia memang nunggu dibawa ke sini buat nyusu.” Sheza tersenyum masih sambil menatap putranya. “Kalau aku di kantor, Saga gini juga? Bukan karena hari ini banyak main sama Nayla dan Dio?” Sheza melihat putranya. “Entahlah. Belakangan kalau udah nyusunya model begini biasanya jadi lama. Kalau udah tidur terus langsung dilepas, dia nangis. Tau aja.”Satria mengangkat alis. “Mungkin dia

  • KAMAR KEDUA   Bab 328. Mungkin Perpisahan

    Tanpa menunggu malam Darto mengemasi barang-barangnya. Kesabaran yang ia pupuk selama bekerja di sana seakan menguap hanya dalam beberapa menit.Melihat Pak Hendra berganti-ganti asisten rumah tangga adalah hal biasa untuknya. Ia sudah lama bekerja di sana dan malahan biasanya ia jarang sekali ikut turun tangan membersihkan rumah. Biasa selalu ada pegawai lain. Belakangan, ia mengerjakan semuanya karena Pak Hendra tak pernah cocok dengan orang-orang baru yang bekerja hanya dalam hitungan hari. Untuk itu ia tidak apa-apa.Namun berbeda dengan kali ini. Sejak pagi ia sudah dibentak-bentak terus. Diteriaki pemalas, bodoh dan menghina soal pekerjaannya. Bahkan ia dituduh melakukan kecerobohan yang bahkan tidak ia mengerti.Ia juga manusia yang bisa dilanda letih.Di depan pagar, Darto berhenti menatap rumah itu untuk beberapa detik.Ada banyak hal yang terasa berbeda beberapa bulan terakhir. Terutama saat anak dan cucu majikannya pindah ke luar negeri. Pria tua itu semakin mudah marah.S

  • KAMAR KEDUA   Bab 327. Selang-seling Kehidupan 

    Beberapa bulan terakhir, rumah kediaman keluarga Hendra Kusuma Wijaya mulai kehilangan keteraturan yang selama puluhan tahun selalu dijaga.Majalah dan koran bertumpuk di meja ruang tengah. Beberapa cangkir teh dibiarkan begitu saja di sudut-sudut ruangan. Ada pakaian yang seharusnya sudah dimasukkan ke dalam lemari atau ke keranjang cucian tetapi justru tergeletak di kursi.Mainan Raka juga semakin sering terlihat di mana-mana.Mobil-mobilan kecil di bawah meja. Balok kayu di dekat tangga. Sebuah boneka tergeletak di sofa ruang keluarga.Darto sang asisten rumah tangga pria sudah membersihkan rumah itu berkali-kali dalam sehari.Pagi setelah Hendra sarapan, ia membersihkan ruang tengah. Setelah makan siang, ia kembali merapikannya. Sore hari, ia menyapu dan mengepel lagi.Tetapi rumah itu selalu kembali berantakan.Pertama kali hal itu terjadi, Darto mengira Raka sudah kembali ke rumah atau Pak Hendra menerima tamu yang membawa anak. Nyatanya tidak. Mainan itu keluar begitu saja dari

  • KAMAR KEDUA   Bab 326. Kenyataan yang Harus Disadari 

    Pak Salim masih terdiam setelah mengucapkan nama Calvin.Tatapannya tidak lagi benar-benar tertuju pada Satria. Ia seperti sedang mengulang percakapan mereka beberapa menit terakhir di dalam kepalanya.Bram menghilang.Calvin juga menghilang dengan cara yang tidak pernah benar-benar terjelaskan.Dan sebelum itu, Satria mengatakan bahwa mungkin selama ini Hendra melihat KSD Holding sebagai pesaing, sementara dirinya sendiri tidak pernah merasa sedang bersaing dengan siapa pun.Pak Salim mengusap dagunya. “Kalau dipikir-pikir …,” gumamnya.Satria menunggu.“Saya memang nggak pernah merasa Hendra bersaing dengan saya. Begitu pula sebaliknya.” “Karena Bapak menganggapnya keluarga?”“Iya.”Pak Salim tersenyum tipis. “Kami sudah kenal sejak kecil. Saya tahu bagaimana dia berpikir. Setidaknya, saya merasa tahu.”Ia berhenti sebentar. Lalu melanjutkan,“Tapi mungkin ada beberapa hal yang dulu saya anggap biasa.”Satria tidak menyela.“Pernah ada satu tender pengangkutan yang cukup besar. Wak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status