Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 32. Jarak yang Mulai Menyempit

Share

Bab 32. Jarak yang Mulai Menyempit

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-12 23:12:27
Satria mengangguk, seolah jawaban itu sudah ia perkirakan. Mobil melambat ketika melewati polisi tidur. Terlalu halus untuk disebut kebetulan.

Sheza memperhatikan satu hal kecil lain; AC mobil dinaikkan sedikit. Suhu yang ideal untuk ia dan Dio yang sedang tidur.

“Kamu lama di sana?” tanya Satria kemudian, tanpa menoleh.

Sheza menarik napas. “Lumayan.”

Satria terdiam sebentar. Lalu berkata, seolah itu informasi biasa, “Athar bilang kamu masih di rumah ibumu pas aku sampai rumah.”

Sheza
juskelapa

Dear Boeboo, Terima kasih sudah menjadi salah satu saksi untuk pasangan She-Sat; Sheza Satria. Sebagai informasi buat yang kemarin merasa janggal dengan kesalahan di bab 27 dan 28, kali ini sudah bisa dibaca secara utuh menyeluruh untuk menyatukan feel-nya. Selamat membaca, selamat malam. Jakarta Timur, 12-1-2026

| 99+
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (24)
goodnovel comment avatar
PiMary
Perlahan.....rasa itu bkl tercipta Sat,sabarr....
goodnovel comment avatar
dian
eh tidak terasa ya udah Sampai bab ini
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
kenapa aku yang nggak sabar ya buat segera mereka nikah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 205. Bantuan Kawan

    Satria masih terbatuk saat motornya memasuki halaman rumah sakit. Asap kebakaran gudang yang dipenuhi kertas dan debu membuat tenggorokannya terasa terbakar sejak tadi. Napasnya kasar. Pendek. Setiap tarikan udara terasa menyakitkan di dadanya.Peluh membasahi tubuhnya bersama debu, pasir, dan jelaga hitam yang menempel di jaket kulitnya. Jaket itu bahkan nyaris tak berbentuk lagi. Sobek di beberapa bagian. Gelap oleh darah yang mulai mengering.Motor besar itu melambat mendekati sisi gedung IGD.Dari kejauhan Vian langsung berjalan cepat menghampirinya.“Sini—sini!” seru Vian, melambai.Satria mematikan mesin motornya tak jauh dari Vian.Brak.Kakinya turun menahan tubuhnya sendiri beberapa detik sebelum akhirnya ia melepas helm perlahan.Pelipisnya bengkak. Sudut bibirnya pecah. Dan darah di lehernya sudah mengering sampai ke kerah baju.Roman langsung mendekat lalu berputar sedikit mengamati tubuh Satria dari samping.Ia berdiri sambil menenteng tas gym hanya bisa menatap beberapa

  • KAMAR KEDUA   Bab 204. Malam Penebusan

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Sesaat sebelumnya suara dua motor masih meraung liar di jalan raya pelabuhan.Brraaaammm!Satria sudah dua kali berhasil memotong kendaraan besar untuk mempersulit si kidal. Tapi pria itu masih terus menempelinya.Masih sejajar. Masih mencoba menjatuhkannya.Brak!Sekali lagi stang motor si kidal menghantam sisi kanan motor Satria.Motor besar itu berguncang keras. Nyaris menghantam kendaraan di sisi kirinya. Namun Satria tetap bertahan.Ia langsung mengambil sisi kanan sebuah truk kontainer besar di depannya. Menempel sangat dekat dengan truk itu. Terlalu dekat bahkan untuk ukuran motor besar.Si kidal menyusul di sampingnya.Lalu melakukan hal yang pernah ia lakukan pada Prabu. Sengaja terus mendesak dari kanan. Berusaha kembali membuat Satria menghantam badan truk. Suara besi bergesekan nyaris terdengar. Namun tepat beberapa meter sebelum ruang di depan menutup … Satria memutar gas penuh.Brraaaammm!Motornya melon

  • KAMAR KEDUA   Bab 203. Rencana Cadangan 

    Beberapa hari sebelumnya saat Satria dan Arga sudah terlalu lelah membahas Hendra Kusuma Wijaya, ada obrolan santai yang keluar dari mulut mereka. Obrolan itu seperti janji yang tidak dramatis.Hanya obrolan pria yang membicarakan sesuatu yang terdengar seperti candaan buruk.Tentang gudang nomor tujuh belas.Tentang kemungkinan paling gila yang bisa dilakukan Satria.“Kalau gue nekat masuk ke gudang itu dan ngerampok semua isinya…” Satria memutar gelas di tangannya. “Lo bakal ngapain?”Arga langsung mendengkus. “Gue bakal cegah lo.”Satria tertawa kecil. “Segitunya?”“Karena itu ide paling goblok yang pernah gue dengar dari lo.” Arga tertawa.Julian yang duduk di sofa lain ikut tertawa pendek sambil memainkan korek api.Namun Satria tetap diam. Tatapannya serius. “Hm…” ia mengangguk pelan. “Tapi gimana kalau lo nggak bisa cegah gue?”Ruangan itu sempat hening beberapa detik. Arga menatap Satria lama sebelum akhirnya mengembuskan napas kasar.“Kalau gue nggak bisa cegah lo…” katanya p

  • KAMAR KEDUA   Bab 202. Persalinan Maju

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria sempat oleng ketika si kidal menghantam setangnya.Brak!Motor besarnya bergeser liar beberapa senti ke samping.Namun refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari rasa sakit di bahunya. Dalam sepersekian detik Satria kembali menguasai motor itu. Tangannya mencengkeram setang lebih erat sementara ban motornya kembali lurus membelah jalan.Sisi kirinya kosong.Tanpa ragu ia membelokkan motor sedikit ke kiri. Si kidal tetap menempel dari sisi kanan.Terus di sana.Terus mencoba mencari celah.Sorot mata Satria menyipit di balik visor helmnya. Ia mencoba membaca gerakan lawannya.Cara pria itu mengambil tikungan. Cara pria itu menahan stang. Cara ia menjaga keseimbangan. Dan semakin lama Satria semakin sadar satu hal.Si kidal ternyata tidak terlalu hebat dengan motor.Mungkin hari di mana Prabu kecelakaan memang berbeda. Prabu tidak sadar sedang diburu. Tidak sadar sedang diarahkan menuju kematian.Karena itu Prabu le

  • KAMAR KEDUA   Bab 201. Duel Sesungguhnya

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria meraih sebotol air mineral dari dalam ranselnya.Tanpa pikir panjang, air itu langsung disiramkannya ke kepala sendiri. Membasahi rambut, wajah, sampai lehernya yang panas terkena hawa api.Sisanya ia tuang ke handuk kecil yang juga diambil dari dalam tas.Handuk basah itu langsung menutupi hidung dan mulutnya.Persiapan kecil yang bahkan tadi terasa berlebihan saat ia memasukkannya ke dalam ransel. Tapi sekarang … justru menyelamatkannya.Sejak berangkat menuju gudang nomor tujuh belas, ada bayangan aneh yang terus mengganggu kepalanya. Bayangan tentang dirinya yang mungkin tidak akan dibiarkan keluar begitu saja dari tempat itu.Dan karena pikiran gila itulah, tanpa sadar ia membawa benda-benda yang bahkan tidak ia rencanakan sebelumnya.Kakinya mulai terseret saat berjalan menuju pintu gudang.Bahu belakangnya berdenyut semakin liar. Asap membuat pandangannya kabur. Tapi ia tetap memaksa bergerak. Tangannya me

  • KAMAR KEDUA   Bab 200. Luka Untuk Menang

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Tatapan Satria dan si kidal beradu di tengah kobaran api yang mulai membesar.Tatapan yang sama-sama gelisah. Sama-sama menghitung kemungkinan hidup.Mata Satria bergerak cepat. Ke ranselnya yang tergeletak di dekat kaki rak besi. Lalu ke pintu gudang yang masih terkunci rantai. Dan terakhir … ke jerigen bensin yang terguling miring, membiarkan cairannya terus mengalir pelan di lantai.Sementara itu si kidal menoleh ke arah rak roboh yang menimpa tubuh rekannya. Pria besar itu tak bergerak sama sekali di bawah tumpukan besi.Lalu matanya ikut berpindah ke pintu. Ke api. Ke bensin. Dan akhirnya … kembali ke Satria.Keduanya menyadari hal yang sama. Mereka tidak lagi sedang bertarung untuk menang. Mereka sedang berebut keluar hidup-hidup dari gudang yang sebentar lagi berubah jadi neraka.“‘Kita perlu berkas-berkas di gudang nomor tujuh belas buat jadi barang bukti.’”Suara Arga kembali terngiang di kepala Satria.Namun t

  • KAMAR KEDUA   Bab 81. Bahan Baru Perdebatan

    Malam sebelumnya, setelah percakapan Satria dan Sheza berakhir di pesan singkat, Nadine duduk di tepi ranjang pendamping sambil merapikan rambut. Ia melirik Nayla yang tertidur pulas di ranjang rumah sakit dengan wajah damai dan napas teratur. Lampu kamar diredupkan. Waktu hampir menyentuh pagi.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • KAMAR KEDUA   Bab 80. Siapa Aku?

    “Aku udah dateng. Kamu istirahat aja. Nayla lebih suka ketenangan,” kata Satria pada Nadine. Monitor infus berdetak pelan. Nayla sudah tertidur nyenyak. Wajahnya lebih tenang sekarang, tidak lagi panas, napasnya sudah teratur. Satria memandanginya sebentar, memastikan, lalu mengalihkan pandangan k

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • KAMAR KEDUA   Bab 82. Pria Paling Peka

    “Kamu udah dapat semuanya,” lanjut Satria, suaranya rendah dan kokoh. “Udah aku urus sampai selesai.” Ia menatap Nadine tanpa emosi. Tanpa kebencian. “Kamu lupa, Nadine,” katanya. “Perceraian kita itu clear. Selesai. Kita berbagi hak asuh. Kamu dapat tunjangan. Semuanya sah. Rapi.” Satria melangk

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • KAMAR KEDUA   Bab 85. Hangat yang Dipaksakan

    Satria meletakkan mangkuk sup di meja kecil di samping sofa. Uap tipis masih naik perlahan, membawa aroma jahe dan bawang yang lembut. Ia tidak langsung menyodorkannya. Ia justru berdiri sebentar, mengamati Sheza yang masih meringkuk, dengan selimut menutup bahunya. “Duduk, yuk,” katanya pendek.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status