/ Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 31. Bukan Tempat Pulang

공유

Bab 31. Bukan Tempat Pulang

작가: juskelapa
last update 게시일: 2026-01-12 23:09:34

“Kami ada surat perjanjian khusus, Bu. Bawa surat dari KUA ke Rukun Warga. Kemarin dibantu tim legal perusahaan Mas Prabu. Aku kurang paham gimana tapi Mas Satria yang urus. Katanya karena kondisi khusus, demi keamanan aku dan Dio.” Sheza menghela napas.

Setelah sekian lama mondar-mandir ke pengadilan dan bergaduh dengan kenyataan hidupnya, ibunya memilih baru bertanya sekarang.

“Baik bener ya Satria …,” ucap Bu Pur, lalu mematikan api kompornya. Ia lalu ke bak cuci piring mencuci tangannya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (14)
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Ibunya Sheza emang pontang panting utk menghidupi anak2nya sejak ayahnya sakit dan setelah nya menikahi berondong ,dan Sheza membiarkannya karena ibunya perlu pelindung
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Satria mulai perhatian sama Sheza ,Tanya apa capek ???
댓글 더 보기

최신 챕터

  • KAMAR KEDUA   Bab 194. Menjelang Kelahiran

    Selama kurun kehamilan Sheza, Satria memang sudah banyak membaca. Kehamilan Nadine yang sebagian dihabiskan di luar negeri dan ditangani para dokter ahli dan kehamilan IVF yang spesial membuat ia hanya mengikuti apa yang diinginkan Nadine. Yang bisa dilakukannya saat itu adalah menjaga suasana hati Nadine. Beda dengan kehamilan Sheza saat ini. Ia bisa terlibat lebih banyak. Sheza memuaskan banyak sisi kelelakiannya.Tak hanya lebih banyak mendengar apa yang ia inginkan, Sheza juga selalu bercerita apa yang dirasakan tubuhnya. Itu membuat Satria merasa hubungan mereka perlahan menjadi lebih intim.Sheza membiarkan ia mengambil alih banyak hal. Membuat sisi dominannya menjadi terpuaskan.“Kamu pakai ini aja,” kata Satria, menambah lapisan kimono panjang di bagian luar dress pendek yang ia kenakan. Kimono katun itu turut menyamarkan bentuk tubuhnya.“Memang bloody show, kan?” Sheza memastikan lagi. Saat Satria mengusap lipatan luar kelembutannya tadi, ia hanya melihat permukaan jari Sa

  • KAMAR KEDUA   Bab 193. Gerak Cepat

    Usai Satria mengakhiri pembicaraan, Ratri terlihat salah tingkah sesaat. Makanan mereka baru tiba dan obrolan belum bergulir lebih dalam. Namun, di balik wajah paniknya, Satria berdiri dengan raut puas. Seakan ia sudah mendapat seluruh informasi yang ia butuhkan.Ratri masih duduk saat Satria mengulurkan tangan. “Maaf, Rat. Aku harus pulang sekarang. Terima kasih untuk makan malam yang belum bisa disebut makan malam. Mungkin lain waktu aku bisa bayar hutang ini ke kamu.”“It's okay, Sat.” Ratri ikut berdiri. Ia membalas jabatan tangan Satria dengan senyum lembut. “Walaupun rasanya cuma sebentar banget. Tapi … makasih karena udah mau jadi teman cerita buat hari ini.”Satria mengangguk saja tanpa mengatakan apa pun. Setelah itu tidak ada basa-basi lagi. Satria sudah tenggelam dengan isi pikirannya. Soal Sheza dan soal siapa yang harus ia hubungi untuk mencari Calvin. Satria meninggalkan meja dengan langkah cepat. Ia berjalan menuju meja kasir dan membayar seluruh pesanan mereka malam i

  • KAMAR KEDUA   Bab 192. Percakapan Tarik Ulur

    Satria menarik sedikit senyum di sudut bibirnya. Sengaja tidak menjawab langsung. Ia tahu kalau pelayan datang mendekati mereka. Dan dengan dandanan Ratri yang seakan menghadiri makan malam dengan seorang menteri, Satria tahu kalau pelayan pasti mengira mereka sedang berkencan malam itu.Pelayan berhenti di sisi meja.Satria membuka menu sekilas. Tidak lama. Hanya cukup untuk memastikan.Lalu ia menutupnya.“Untuk kami,” ucapnya tenang. “Pan-seared Chilean sea bass. Saus lemon butter.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Dry-aged ribeye. Medium rare.”Matanya sempat beralih ke Ratri. Memastikan semua pesanannya sesuai dengan keinginan wanita itu.Dan Ratri terlihat mengulum senyum seakan Satria sedang menyampaikan pidato kenegaraan yang membuatnya bangga. “Satu truffle mashed potato. Sama grilled asparagus.” Ia menambahkan tanpa melihat menu lagi, “Sparkling water. Dan … Chardonnay.”Satria mengangguk mantap saat pelayan mengulangi pesanan mereka dan pergi berlalu dari sana.Pes

  • KAMAR KEDUA   Bab 191. Malam Panjang 

    Arga dan Julian masih menatap punggung Satria saat pria itu membuka pintu dan menghilang.Keduanya saling pandang dalam diam. Bahkan sampai pintu sudah tertutup sejak beberapa menit yang lalu.Satria pergi begitu saja membawa berkas, membawa pikirannya, dan meninggalkan sisa ketegangan yang belum benar-benar reda di ruangan itu.Julian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tangannya sempat mengusap wajah, lalu berhenti di sana sebelum akhirnya ia menatap Arga. “Menurut lo … ini masih wajar?”Arga membalas pandangannya sambil merapikan beberapa kertas di meja, meski jelas pikirannya tidak benar-benar ada di situ. “Apanya?” tanyanya datar.“Ya, Satria.”Lalu hening sebentar sebelum Julian melanjutkan, “Gue tahu dia kehilangan Prabu. Kita semua juga,” kata Julian, suaranya lebih rendah. “Tapi ini udah bukan sekadar cari tau lagi, Ga. Dia kayak … ngejar sesuatu yang nggak mau dia lepas.”Arga menyandarkan tubuhnya ke kursi. Menatap langit-langit sejenak sebelum akhirnya menjawab. “Gue juga udah

  • KAMAR KEDUA   Bab 190. Keputusan Setengah Jadi

    Satria memang belum melupakan suatu malam beberapa bulan yang lalu.Malam ketika ia dan Arga masih sibuk mencari ponsel kedua milik Prabu. Malam yang waktu itu terasa seperti jalan buntu … dan sekarang, setelah semua potongan puzzle tersusun, justru terlihat sebagai sesuatu yang lebih besar.Hendra Kusuma Wijaya.Sebuah nama yang memang tidak pernah terpikirkan oleh Satria sama sekali. Pria yang lebih ramah, hangat, terlihat penuh perhatian dan sayang keluarga itu ternyata menyimpan banyak misteri dalam identitasnya.Malam ketika ia memergoki seorang pria di kantor Prabu, ia berpikir bahwa pria itu juga mencari ponsel kedua Prabu. Seperti mereka. Ke sana kemari mengais informasi yang disisakan Prabu, serta berlomba dengan pihak yang belum kasat di mata mereka.Satria menerawang—menjatuhkan tatapannya ke sudut ruangan tempat di mana sebuah speaker besar diletakkan. “Malam itu gue mengira orang yang masuk kantor Prabu nyari handphone kedua Prabu. Sama seperti kita. Tapi setelah gue piki

  • KAMAR KEDUA   Bab 189. Yang Semakin Nyata

    Julian mengangguk ragu.“Prabu punya klien yang sama berulang-ulang,” kata Satria. “Perusahaan kecil. Nggak terlalu dikenal. Tapi frekuensinya tinggi. Yang sedang kita lihat ini.” Ia mengetukkan jari di atas kertas-kertas.Julian langsung menyela, “Itu biasa. Repeat client—”“Enggak,” potong Satria. Pendek dan tegas. “Bukan repeat biasa.”Ia menarik satu lembar kertas lagi. Lalu satu lagi. Menyusunnya berdampingan. “Perusahaannya beda nama. Direksinya beda orang,” lanjutnya, “tapi jalur dan caranya sama semua. Persis.”Julian menyipitkan mata. “Jalur itu sama dengan alur persetujuan semua dokumen di pelabuhan, sampai kapan bisa diberangkatkan?”Satria mengangguk, lalu terlihat ia menelan ludah pelan. “Awalnya gue kira normal, tapi … nama direksi dua perusahaan yang berusaha kita cek sama-sama tadi, ternyata orang dari lingkungan Pak De Hendra sendiri.”“Jadi … semua yang di pelabuhan itu keliatannya aja perusahaannya banyak. Tapi sebenarnya orang yang main itu-itu juga, kan?” Arga men

  • KAMAR KEDUA   Bab 102. Alur yang Disimpan

    Alina membasahi bibirnya.Tatapannya sempat turun ke lantai, lalu naik perlahan ke wajah Sheza. Bukan tatapan menantang. Lebih seperti seseorang yang ingin memastikan—wanita di depannya cukup kuat untuk mendengar cerita yang akan ia buka. Meski bukan kekuatan fisik yang dibutuhkan saat itu. Ia men

    last update최신 업데이트 : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 104. Batas Yang Tidak Boleh Dilewati

    Roman tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana.“Serius banget sih, Sat. Dari dulu juga hidup lo nggak pernah santai.”Satria menatapnya sebentar.Tatapan itu mampu membuat Roman berhenti tertawa.“Gue memang nggak pernah hidup buat santai,” kata Satria. Ia tidak menaikkan suara.“Dan orang yang b

    last update최신 업데이트 : 2026-03-30
  • KAMAR KEDUA   Bab 100. Kenyataan Yang Mengejar

    “Mas…,” suara Sheza keluar pelan. Tatapannya tertuju pada punggung Satria. “Udah.”Satria tidak menoleh.Namun tubuhnya sedikit bergeser—cukup untuk berdiri tepat di depan Sheza. Meski tidak menyentuh atau memeluk Sheza, postur itu terlihat jelas sedang melindungi.Alina sempat tersentak. Langkahny

    last update최신 업데이트 : 2026-03-29
  • KAMAR KEDUA   Bab 92. Biar Aku Jelaskan

    Satria menghela napas. Lalu menyentuh pipi Sheza. “Aku lebih takut,” jawab Satria tenang, “kalau kamu milih diem-diem aja karena ngerasa nggak pantas minta apa-apa dari aku.” Sheza memandangnya dengan sepasang mata basah. Tubuh wanita itu masih hangat dan lembap ketika ia melepaskan pelukannya tad

    last update최신 업데이트 : 2026-03-28
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status