Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 31. Bukan Tempat Pulang

Share

Bab 31. Bukan Tempat Pulang

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-12 23:09:34

“Kami ada surat perjanjian khusus, Bu. Bawa surat dari KUA ke Rukun Warga. Kemarin dibantu tim legal perusahaan Mas Prabu. Aku kurang paham gimana tapi Mas Satria yang urus. Katanya karena kondisi khusus, demi keamanan aku dan Dio.” Sheza menghela napas.

Setelah sekian lama mondar-mandir ke pengadilan dan bergaduh dengan kenyataan hidupnya, ibunya memilih baru bertanya sekarang.

“Baik bener ya Satria …,” ucap Bu Pur, lalu mematikan api kompornya. Ia lalu ke bak cuci piring mencuci tangannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Ibunya Sheza emang pontang panting utk menghidupi anak2nya sejak ayahnya sakit dan setelah nya menikahi berondong ,dan Sheza membiarkannya karena ibunya perlu pelindung
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Satria mulai perhatian sama Sheza ,Tanya apa capek ???
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 307. Kebaikan Bersama

    Satria mengemudikan mobilnya menuju restoran Jepang yang dipilih Nadine malam itu.Lampu-lampu kota bergerak di balik kaca jendela. Jalanan cukup padat, tetapi pikirannya jauh lebih ramai daripada lalu lintas yang dihadapinya.Sheza masih terbayang di kepalanya.Cara perempuan itu menangis ketika menyebut Nayla. Cara tangannya mencengkeram lengan Satria seolah takut satu keputusan yang belum terjadi sudah cukup untuk mengambil Nayla dari mereka.Mungkin sebagian adalah pengaruh kehamilan.Satria tahu istrinya memang jauh lebih sensitif beberapa bulan terakhir. Namun ia juga tahu, ketakutan Sheza bukan sesuatu yang dibuat-buat.Dengan segala dugaan yang terlintas di pikiran mereka, serta kemungkinan terburuk, ia sendiri tidak akan sanggup kehilangan NaylaKarena itu, sejak siang tadi ia sengaja menyelesaikan pekerjaan lebih cepat. Ia pulang, menghabiskan waktu bersama Sheza dan Sagara, lalu malam ini memenuhi janji dengan Nadine.Ia tidak ingin pertemuan itu menjadi sesuatu yang kemudi

  • KAMAR KEDUA   Bab 306. Mungkin Sebuah Penyelesaian

    Begitu panggilan berakhir, Satria menurunkan ponselnya.Tidak ada percakapan panjang. Nadine hanya menyampaikan maksudnya, lalu menutup telepon.Satria mengangkat wajah.Tatapannya bertemu dengan Sheza.Perempuan itu langsung bangkit dan duduk. Wajahnya berubah panik. Tangannya buru-buru menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi dadanya, sementara satu tangannya yang lain meraih lengan Satria.“Itu mamanya Nayla, kan?”Satria mengangguk.“Dia ngomong apa?”“Nadine ngajak aku ketemu.” Satria berhenti sebentar. “Berdua.”Sheza menatapnya tanpa berkedip.“Katanya dia punya penawaran yang menarik.”Mata Sheza langsung berkaca-kaca. Sebulir air mata menggantung di sudut matanya sebelum buru-buru ia usap.“Perasaan aku nggak enak, Mas.”Suaranya mulai bergetar.“Itu pasti soal Nayla.”Tangannya masih menggenggam lengan Satria, seakan membutuhkan sesuatu untuk membuat dirinya tetap tenang.“Mas harus janji sama aku.”Satria menatapnya.“Apa pun yang nanti disampaikan Mama Nayla, Mas janga

  • KAMAR KEDUA   Bab 305. Yang Ditakutkan Itu Terjadi

    Sejak pertemuannya dengan Nadine, ada satu bagian dalam kepala Sheza yang tidak pernah benar-benar tenang.Ia tetap menjalani hari seperti biasa.Pagi-pagi mengurus Saga, membuat konten sesuai perjanjian kontrak kerjanya, juga beberapa konten tambahan yang akan di-upload secara bertahap sesuai tema. Sesekali keluar bersama Dio dan Nayla, lalu kembali ke rumah sebelum sore. Kehamilannya yang sudah memasuki bulan keempat juga membuat tubuhnya jauh lebih bersahabat dibandingkan beberapa bulan pertama.Tetapi pikirannya tidak.Di sela-sela memeriksa naskah konten, Sheza bisa tiba-tiba berhenti membaca hanya karena teringat satu kalimat Nadine.“Saya sudah mendapatkan informasi yang saya butuhkan.”Informasi apa?Untuk apa?Dan kenapa setelah itu Nadine justru tidak melakukan apa-apa?Hari berganti.Minggu pertama, Nayla datang seperti biasa. Minggu berikutnya juga. Tidak ada perubahan.Nadine tidak pernah menghubunginya. Tidak pernah mempertanyakan kapan Nayla pulang. Tidak pernah mengiri

  • KAMAR KEDUA   Bab 304. Sayang Tak Terbagi

    Pertanyaan itu datang begitu mendadak sampai Sheza tidak langsung menemukan jawaban.Nadine tidak tersenyum. Tatapannya masih tertuju pada perut Sheza. “Atau lebih tepatnya,” lanjutnya, “seberapa besar peran seks dalam mempertahankan rumah tangga kamu dan Satria?”Sheza mengembuskan napas pelan. “Mbak Nadine sebenarnya sedang bertanya tentang apa?”“Saya cuma penasaran.”“Pertanyaan seperti itu biasanya bukan sekadar penasaran.”Nadine mengangkat alis. “Kenapa? Kamu tersinggung?”“Tidak.” Sheza meraih gelasnya dan menuangkan air mineral. Es batu di dalamnya bergeser pelan ketika ia mengangkat gelas itu. “Saya cuma mau tahu arah pertanyaannya.” Ia meneguk sedikit, lalu meletakkan kembali gelasnya.Nadine masih menunggu. “Saya lihat kamu hamil lagi,” katanya. “Jadi saya bertanya-tanya. Apa memang sesederhana itu? Satria mau punya banyak anak, kamu hamil, lalu semuanya berjalan baik?”Sheza menatapnya dengan tenang. “Rumah tangga nggak sesederhana itu, Mbak.”“Bukannya berarti seks itu h

  • KAMAR KEDUA   Bab 303. Yang Ingin Dipastikan

    Nadine menatap Sheza beberapa saat setelah perempuan itu mengatakan, Ternyata cuma soal ini? Ia menarik napas lalu berkata,“Buat kamu mungkin cuma.”Sheza menatap Nadine lebih lama. Nadine lalu berkata, “Nayla satu-satunya anak saya.”“Saya tau.” Sheza memang paham itu. Tapi ia mulai gelisah dan punya firasat tidak enak tentang hal yang baru diucapkan wanita di depannya.“Sedangkan sebentar lagi Satria punya tiga anak di rumah itu.”Sheza langsung mengernyit. “Dio bukan anak kandung Mas Satria.”“Tapi hidupnya dibiayai Satria, tinggal di rumah Satria, memang dia memanggil kamu Ibun dan tumbuh bersama anak-anak Satria.” Nadine mengangkat bahu. “Mau disebut apa juga terserah. Faktanya Satria membesarkan dia.”Sheza tidak membantah.“Dan sekarang kamu hamil lagi.”“Iya.”“Masih mau tambah?”Sheza sempat mengernyit mendengar pertanyaan itu. “Tadi kita sudah membicarakan hal ini.”Nadine tertawa sumbang. “Iya benar. Tadi kamu udah bilang Satria mau anak banyak.”“Mas Satria memang suka an

  • KAMAR KEDUA   Bab 302. Setajam Kata-katanya

    Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari mereka yang bergerak. Senyum yang tadi masih tersisa di wajah Sheza perlahan menghilang. Hari yang sejak pagi terasa begitu ringan tiba-tiba berubah arah.Dari sorot mata Nadine, Sheza langsung tahu bahwa pertemuan mereka kali ini tidak akan berlangsung sebentar.Ada sesuatu yang menyala di sana. Bukan kemarahan yang meledak-ledak, melainkan ketegasan yang jauh lebih sulit dihadapi. Seolah-olah perempuan itu sudah lama menunggu kesempatan untuk berbicara dengannya tanpa kehadiran Satria di antara mereka.Kaki Sheza terasa sedikit lemas.Terlebih ketika beberapa detik sebelumnya ia menangkap perubahan kecil pada wajah Nadine saat melihat Nayla duduk bersama mereka.Sheza tidak tahu apa yang terjadi antara ibu dan anak itu. Namun ia cukup mengenal Nadine untuk tahu bahwa perempuan itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.Nadine berjalan mendekati meja.Wajahnya datar. Tidak ada kemarahan yang diperlihatkan secara terang-terangan. Mung

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status