Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 33. Suara Batin Satria

Share

Bab 33. Suara Batin Satria

Author: juskelapa
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-13 23:56:05

Ada malam-malam di mana Satria tak bisa memejamkan matanya. Bisa jadi karena terlalu lelah secara fisik, terlalu bersemangat akan sesuatu, atau beban-beban sebagai seorang pria yang terasa amat banyak dan perlu dikeluarkan.

Seperti malam itu. Entah karena dia mulai gelisah akan sesuatu atau entah karena dia terlalu bersemangat buat esok hari. Kepalanya terasa terlalu penuh untuk direbahkan. Ada jenis malam yang tidak cocok dihabiskan di ranjang.

Ia memilih workshopnya.

Ruangan kecil yang be
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (24)
goodnovel comment avatar
Listi Dwi Warno
aku suka sekali bahasanya, bisa lihat visualisasinya dimana ya author?
goodnovel comment avatar
Esti Eritia
Cara lelaki dewasa mencintai, meredam nafsu... good...
goodnovel comment avatar
Asrama Hijrah
penulis berkelas dn cerita yang apik.... thanks
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KAMAR KEDUA   Bab 170. Meninggalkan Jejak Luka

    Bab 170. Meninggalkan Jejak LukaSatria mendesis pelan.Sedetik kemudian sesuatu yang hangat membasahi siku kemejanya. Diikuti dengan rasa perih. Satria tahu luka itu tidak dalam. Tapi gudang yang pengap dan gerakan yang sangat intens membuat keringatnya dengan cepat bercampur dengan darah dari lukanya.Kedua pria itu kembali beradu.Kali ini lebih brutal.Tubuh saling hantam tanpa pola. Saling dorong dengan tendangan dan pukulan membuat punggung mereka bergantian menghantam rak besi yang kokoh. Beberapa map jatuh berserakan. Debu beterbangan, membuat napas semakin berat.Pria itu menyerang lagi.Meski pincang, ia tetap berbahaya.“Harusnya lo berhenti dari awal,” geramnya.Satria menangkap lengannya, membantingnya ke sisi rak. Suara benturan keras menggema di dalam gudang. Pisau itu terlepas.Jatuh berputar di lantai.Keduanya sama-sama melihat.Dan dalam satu detik yang terlalu cepat—keduanya bergerak bersamaan.Satria lebih dulu.Ia menyepak pisau itu menjauh ke lorong lain.Pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 169. Duel Dalam Gelap

    Langkah kaki itu terdengar perlahan, sengaja diringankan agar tidak diketahui jelas arah langkahnya. Sedetik kemudian langkah itu berhenti—belum jauh dari pintu.Satria tidak bergerak.Punggungnya menempel pada sisi rak. Menahan napasnya sebentar lalu mengaturnya menjadi napas lebih pendek. Tangan kirinya yang mencengkeram ransel, pelan-pelan turun. Merapikan ransel itu agar tangannya leluasa jika harus melakukan sesuatu. Terdengar dering ponsel yang kemudian secepat kilat dipadamkan. Tak lama, sepertinya seseorang di dekat pintu mengetik sesuatu di ponsel. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering.“Jangan telepon sekarang. Lo nggak baca pesan?” Suara pria itu terdengar berbisik. Pria di dekat pintu sepertinya mengakhiri pembicaraan. Suasana hening seketika. Satria memindahkan tangannya di rak dengan pelan. Meraba permukaan rak terdekat dengannya untuk mencari sesuatu. Hening.Lalu … suara benda logam dijatuhkan pelan ke lantai.Seperti kunci.Atau … sesuatu yang sengaja

  • KAMAR KEDUA   Bab 168. Gudang Biasa

    Satria masuk ke ruang kerjanya lagi dengan secangkir kopi yang baru ia seduh. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Meski begitu, isi kepalanya yang masih amat sibuk seakan memaksanya untuk tetap terjaga.Ruang kerja masih sama seperti saat ia tinggalkan. Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas yang dikeluarkannya tadi masih menunggu. Seperti tidak sabar dibuka kembali.Satria duduk menarik napas pendek. Tangannya meraih kabel charger laptop, membungkuk sedikit untuk menyambungkannya ke stop kontak di bawah meja. Dan tanpa sengaja … sikunya menyenggol tumpukan berkas.Brak!Beberapa lembar berkas yang letaknya di bagian atas terjatuh. Satria menghela napas pelan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Sepersekian detik kemudian tangannya berhenti—urung memungut kertas di lantai. Dahinya mengernyit.Kertas itu … terbaca terbalik. Bagian kepala surat yang biasa bertuliskan nama perusahaan terletak di bawah. Sehingga matanya tertuju pada stempel perusahaan yang memudar—yang b

  • KAMAR KEDUA   Bab 167. Sebuah Kekhawatiran 

    Ketegangan malam itu tidak terelakkan. Sorot mata Sheza yang lebih berani dari biasanya bukan hanya mewakili dirinya sendiri saat itu. Ia merasa membawa hal yang lebih penting.“Kejadian siang tadi itu nyeremin banget, Mas. Aku nggak yakin kalau lain kali ada kejadian serupa … aku bisa ngadepinnya lagi. Ini udah berlebihan. Mas Satria kayak terobsesi banget sama masalah ini,” ujarnya, mengusap perut yang terasa agak lebih kencang karena gerakannya bangkit barusan.Tidak ada yang salah dalam ucapan Sheza. Tapi kata berlebihan membuat wajah Satria berubah menjadi muram.“Ini bukan masalah berlebihan atau terobsesi, Zee.” Nada bicaranya datar seakan mengomentari cuaca. “Aku nggak mau kita terdengar saling tuduh. Tapi awal Prabu meninggal kamu pasti sedikit banyak nyalahin aku. Dan itu benar … aku merasa bersalah.”“Mas, kenapa jadi ngomongin yang lalu, sih? Awal dulu ya jelas beda. Dan mungkin situasi kita juga bakal beda seandainya aku nggak hamil anak Mas Satria ….” Sheza diam kemudian

  • KAMAR KEDUA   Bab 166. Realita yang Semakin Dekat

    Satria tidak langsung duduk ketika masuk ke ruang observasi. Ia berdiri di samping ranjang, cukup dekat untuk menyentuh Sheza, tapi ia tidak terburu-buru melakukannya.Setelah memastikan sekilas bahwa Nayla dan Dio baik-baik saja, kini tatapannya tinggal lebih lama pada Sheza. Memandang perutnya lalu kembali memandang wajahnya. Ia sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa ia tanyakan dengan kata-kata.“Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan suara pelan. Kini suaranya mengandung nada kekhawatiran yang tidak pernah didengar Sheza sebelumnya.Sheza mengangguk tegas. Ia tidak ingin Satria mengkhawatirkannya terlalu berlebihan. Meski udara di sekitar mereka mendadak berat, ia menarik napas—menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya belum sepenuhnya ikut tenang.“Tadi … mobil kita ditabrak dari belakang,” ucap Sheza. “Pak Heri juga kaget. Aku ikut kaget … terus perutku langsung kencang.” Ia berhenti sebentar, memberi jarak di antara kalimatnya. “Makanya aku minta dibawa ke sini.”Satria m

  • KAMAR KEDUA   Bab 165. Gudang yang Terlalu Biasa

    Mobil berhenti di depan gudang nomor tujuh belas. Tidak ada penampilan yang mencolok dari luar. Beberapa pekerja pelabuhan melintas seperti biasa. Suara kontainer dipindahkan, teriakan mandor, dan dentingan besi saling bersahutan seperti rutinitas yang tidak pernah benar-benar berhenti.Gudang itu berdiri panjang dan lebar.Bukan tinggi menjulang, tapi melebar seperti bangunan yang tidak ada niat untuk terlihat penting. Catnya sudah kusam. Pintu besarnya tertutup, tapi tidak terkunci.“Tau ini nomor tujuh belas dari mana, sih? Di peta ada nomor-nomor gudang, tapi di bangunannya malah nggak ada.” Arga berdiri di bagian depan gudang dan berjalan beberapa langkah mengitarinya.Satria berjalan menuju pintu yang tingginya nyaris dua kali orang dewasa. Ia menekan celah pintu dan bagian itu bergeser sedikit.“Nomor gudang itu buat sistem, Ga. Bukan buat orang.” Satria menoleh Arga sekilas. “Yang kerja di sini udah hafal nggak perlu lihat.”“Kalau gitu gue cek dulu kepemilikannya,” kata Arga

  • KAMAR KEDUA   Bab 132. Tak Lagi Sendirian

    Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, y

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
  • KAMAR KEDUA   Bab 134. Jalur yang Dipinjam

    Papan kayu itu terangkat sepenuhnya.Debu tipis beterbangan saat Satria menyelipkan jarinya lebih dalam dan mengangkatnya hati-hati. Di bawahnya ada rongga yang dibuat rapi dan memang sengaja disiapkan untuk menyimpan sesuatu.Di dalamnya tersimpan map-map tebal yang dibungkus plastik bening, dilip

    last updateHuling Na-update : 2026-04-03
  • KAMAR KEDUA   Bab 122. Angin Dingin di Tikungan 

    Suasana hening beberapa saat. Petugas di depan mereka ikut menegang. “Apakah korban biasa menggunakan lebih dari satu perangkat?” tanya Kanit hati-hati. Satria menjawab tenang, “Seharusnya tidak.” Ia tidak ingin terlalu cepat membuka asumsi. Arga kembali melihat log. “Panggilan ke Alina tercat

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
  • KAMAR KEDUA   Bab 123. Pelabuhan dan Cerita Bekal

    Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas

    last updateHuling Na-update : 2026-04-02
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status