Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 33. Suara Batin Satria

Share

Bab 33. Suara Batin Satria

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-13 23:56:05

Ada malam-malam di mana Satria tak bisa memejamkan matanya. Bisa jadi karena terlalu lelah secara fisik, terlalu bersemangat akan sesuatu, atau beban-beban sebagai seorang pria yang terasa amat banyak dan perlu dikeluarkan.

Seperti malam itu. Entah karena dia mulai gelisah akan sesuatu atau entah karena dia terlalu bersemangat buat esok hari. Kepalanya terasa terlalu penuh untuk direbahkan. Ada jenis malam yang tidak cocok dihabiskan di ranjang.

Ia memilih workshopnya.

Ruangan kecil yang be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (24)
goodnovel comment avatar
Listi Dwi Warno
aku suka sekali bahasanya, bisa lihat visualisasinya dimana ya author?
goodnovel comment avatar
Esti Eritia
Cara lelaki dewasa mencintai, meredam nafsu... good...
goodnovel comment avatar
Asrama Hijrah
penulis berkelas dn cerita yang apik.... thanks
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 172. Yang Ditakuti Satria

    Kali ini Satria menarik Sheza ke pangkuannya. Kepalanya menggeleng pelan. “Sebagian yang berantakan itu memang hasil kerjanya Opa Nayla. Beberapa klienku kacau, sebagian tiba-tiba meragukan kinerja perusahaanku.” Ia mengangkat bahu. “Tapi aku juga nggak boleh tutup mata untuk yang lain bahwa Opa Nayla kurasa … nggak terlibat.”“Mas punya bukti? Mas Satria nggak punya bukti,” kata Sheza. Wajahnya sedikit ditekuk. Sorot matanya sekilas tadi jelas menuduh Satria membela mantan mertuanya.“No, Zee. Jangan kira aku membela Opa Nayla. Nggak ada perasaan pribadi di sini. Kita sedang bicara fakta.” Satria masih menggenggam tangan Sheza. “Zee … aku nggak bisa tau dengan pasti siapa pemilik bisnis pencucian uang terbesar di pelabuhan itu dengan gamblang. Mereka nggak mungkin pakai nama mereka langsung. Itu yang sedang diselidiki Arga. Butuh waktu.”“Meski nggak terlibat, kurasa mereka tetap tau apa yang terjadi,” Sheza berkata pelan. Ia baru saja hendak menggeser tubuhnya dari kungkungan kaki S

  • KAMAR KEDUA   Bab 171. Yang Tidak Pernah Sederhana

    Sunyi di ruang kerja itu berubah menjadi sesuatu yang menekan.Bukan lagi sekadar malam yang tenang, tapi menjadi malam yang menunggu jawaban.Sheza masih berdiri di dekat Satria. Tangannya berhenti setelah menempelkan kasa terakhir dengan rapi. Jemarinya masih menyentuh lengan Satria beberapa detik lebih lama, seolah memastikan luka itu benar-benar tertutup.Lalu perlahan … tangannya turun. Mengambil jarak untuk menarik napas dalam. Lalu suaranya kembali terdengar, pelan. “Mas ….”Satria mengangkat pandangan untuk menatap Sheza. Wanita itu mengangguk samar padanya. “Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi.”Nadanya biasa saja tanpa ledakan emosi. Tapi Satria tahu kalau istrinya sangat serius. Ia menghela napasnya yang tertahan.Sheza melanjutkan, lebih pelan namun dengan sangat jelas. “Aku nggak mau ditebak-tebak lagi. Aku nggak mau cuma ngerasa takut tanpa tau apa yang aku hadapin.” Tangannya tanpa sadar kembali menyentuh perutnya. “Mas Satria harus jawab aku. Aku nggak mau jawaba

  • KAMAR KEDUA   Bab 170. Meninggalkan Jejak Luka

    Bab 170. Meninggalkan Jejak LukaSatria mendesis pelan.Sedetik kemudian sesuatu yang hangat membasahi siku kemejanya. Diikuti dengan rasa perih. Satria tahu luka itu tidak dalam. Tapi gudang yang pengap dan gerakan yang sangat intens membuat keringatnya dengan cepat bercampur dengan darah dari lukanya.Kedua pria itu kembali beradu.Kali ini lebih brutal.Tubuh saling hantam tanpa pola. Saling dorong dengan tendangan dan pukulan membuat punggung mereka bergantian menghantam rak besi yang kokoh. Beberapa map jatuh berserakan. Debu beterbangan, membuat napas semakin berat.Pria itu menyerang lagi.Meski pincang, ia tetap berbahaya.“Harusnya lo berhenti dari awal,” geramnya.Satria menangkap lengannya, membantingnya ke sisi rak. Suara benturan keras menggema di dalam gudang. Pisau itu terlepas.Jatuh berputar di lantai.Keduanya sama-sama melihat.Dan dalam satu detik yang terlalu cepat—keduanya bergerak bersamaan.Satria lebih dulu.Ia menyepak pisau itu menjauh ke lorong lain.Pria

  • KAMAR KEDUA   Bab 169. Duel Dalam Gelap

    Langkah kaki itu terdengar perlahan, sengaja diringankan agar tidak diketahui jelas arah langkahnya. Sedetik kemudian langkah itu berhenti—belum jauh dari pintu.Satria tidak bergerak.Punggungnya menempel pada sisi rak. Menahan napasnya sebentar lalu mengaturnya menjadi napas lebih pendek. Tangan kirinya yang mencengkeram ransel, pelan-pelan turun. Merapikan ransel itu agar tangannya leluasa jika harus melakukan sesuatu. Terdengar dering ponsel yang kemudian secepat kilat dipadamkan. Tak lama, sepertinya seseorang di dekat pintu mengetik sesuatu di ponsel. Beberapa detik kemudian ponselnya kembali berdering.“Jangan telepon sekarang. Lo nggak baca pesan?” Suara pria itu terdengar berbisik. Pria di dekat pintu sepertinya mengakhiri pembicaraan. Suasana hening seketika. Satria memindahkan tangannya di rak dengan pelan. Meraba permukaan rak terdekat dengannya untuk mencari sesuatu. Hening.Lalu … suara benda logam dijatuhkan pelan ke lantai.Seperti kunci.Atau … sesuatu yang sengaja

  • KAMAR KEDUA   Bab 168. Gudang Biasa

    Satria masuk ke ruang kerjanya lagi dengan secangkir kopi yang baru ia seduh. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Meski begitu, isi kepalanya yang masih amat sibuk seakan memaksanya untuk tetap terjaga.Ruang kerja masih sama seperti saat ia tinggalkan. Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas yang dikeluarkannya tadi masih menunggu. Seperti tidak sabar dibuka kembali.Satria duduk menarik napas pendek. Tangannya meraih kabel charger laptop, membungkuk sedikit untuk menyambungkannya ke stop kontak di bawah meja. Dan tanpa sengaja … sikunya menyenggol tumpukan berkas.Brak!Beberapa lembar berkas yang letaknya di bagian atas terjatuh. Satria menghela napas pelan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Sepersekian detik kemudian tangannya berhenti—urung memungut kertas di lantai. Dahinya mengernyit.Kertas itu … terbaca terbalik. Bagian kepala surat yang biasa bertuliskan nama perusahaan terletak di bawah. Sehingga matanya tertuju pada stempel perusahaan yang memudar—yang b

  • KAMAR KEDUA   Bab 167. Sebuah Kekhawatiran 

    Ketegangan malam itu tidak terelakkan. Sorot mata Sheza yang lebih berani dari biasanya bukan hanya mewakili dirinya sendiri saat itu. Ia merasa membawa hal yang lebih penting.“Kejadian siang tadi itu nyeremin banget, Mas. Aku nggak yakin kalau lain kali ada kejadian serupa … aku bisa ngadepinnya lagi. Ini udah berlebihan. Mas Satria kayak terobsesi banget sama masalah ini,” ujarnya, mengusap perut yang terasa agak lebih kencang karena gerakannya bangkit barusan.Tidak ada yang salah dalam ucapan Sheza. Tapi kata berlebihan membuat wajah Satria berubah menjadi muram.“Ini bukan masalah berlebihan atau terobsesi, Zee.” Nada bicaranya datar seakan mengomentari cuaca. “Aku nggak mau kita terdengar saling tuduh. Tapi awal Prabu meninggal kamu pasti sedikit banyak nyalahin aku. Dan itu benar … aku merasa bersalah.”“Mas, kenapa jadi ngomongin yang lalu, sih? Awal dulu ya jelas beda. Dan mungkin situasi kita juga bakal beda seandainya aku nggak hamil anak Mas Satria ….” Sheza diam kemudian

  • KAMAR KEDUA   Bab 123. Pelabuhan dan Cerita Bekal

    Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • KAMAR KEDUA   Bab 115. Rumah yang Hidup

    Sheza terbangun karena rasa mual yang datang seperti gelombang pelan tapi pasti.Selimut hanya menutup setengah tubuhnya. Semalam ia tertidur tanpa mengenakan apa pun selain celana dalam tipis yang kini sedikit bergeser di pinggulnya. Perutnya mulai terlihat membulat dengan payudara yang semakin te

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • KAMAR KEDUA   Bab 112. Cerita Pelabuhan Lama

    Di sisi lain ruangan, seorang pria berdiri berbicara dengan dua lelaki pelaku di dunia tambang yang usianya jauh lebih tua. Jas hitamnya pas di badan. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak tertawa.Tapi semua orang mendengarkan saat ia bicara. Wajahnya tegas. Garis rahangnya jelas. Tatapannya tenang

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • KAMAR KEDUA   Bab 110. Irama yang Sama

    Satria merasakan tubuh Sheza menyambutnya sepenuhnya. Di dalam, tubuh Sheza hangat, hidup dan … berdenyut bagai nadi mereka. Satria memejamkan mata, menarik napas panjang ketika tubuh mereka menyatu lebih dalam. Sensasi itu membuat rahangnya mengeras. Kenikmatan yang sulit digambarkan menggelenyar

    last updateLast Updated : 2026-03-31
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status