FAZER LOGINSore itu, Rania datang bersama Roman. Mereka disambut Tuti di ruang tamu, dan tak lama kemudian Sheza keluar dari kamar dengan langkah pelan, dibantu Satria."Kak Sheza, aku pamit ya," ucap Rania, menyalami Sheza dengan hangat. "Malam ini aku pulang ke Kebumen.""Naik apa, Ran? Roman nyetir?""Tadinya mau, Kak." Rania melirik Roman sambil menahan senyum. "Tapi Kebumen jauh. Mas Roman bisa capek nyetir sendirian pulang-pergi.”"Tapi aku tetap mau nganter," sahut Roman cepat. "Sampai stasiun.""Iya, sampai stasiun Kebumen saja."Sheza tertawa kecil. "Ya sudah. Hati-hati ya. Titip salam buat ibu kamu."Sebelum pamit, Rania meminta izin menggendong Sofia. Lastri menyerahkan bayi itu dengan hati-hati, dan Rania langsung tahu cara menopang kepalanya, gerakan yang terbiasa dari kuliah kebidanan. Sofia menggeliat sedikit, bibirnya bergerak-gerak, lalu kembali tenang dalam dekapannya."Cantik sekali," bisik Rania.Tak lama kemudian Sheza merasa perlu ke toilet, dan Satria membantunya. Lastri p
Lewat tengah malam, Satria terbangun tanpa alarm. Lampu tidur masih menyala redup. Sheza tidur miring dengan napas dalam dan teratur.Dengan sangat pelan ia menyibak selimut dan memeriksa dada istrinya. Payudara itu terasa penuh dan hangat, kencang dibanding tadi. Ia memeriksa kembali putingnya, tak ada yang lecet karena pompa ASI ataupun Sofia yang kadang belum menempel sempurna saat menyusu. Ia lalu memasang corong ke payudara Sheza dengan hati-hati."Hmm ... Mas?" gumam Sheza, matanya nyaris tak terbuka."Tidur lagi, Zee. Aku yang urus.”Sheza menghela napas dan terlelap lagi. Pompa berdengung lirih. Satria duduk menunggu sambil sesekali memijat pelan sisi dada istrinya, sampai botol terisi hampir penuh. Ia mematikan mesin dan melepas corong dengan hati-hati.Kain kecil yang sudah dibasahi air hangat sudah ia siapkan di meja samping. Dengan gerakan ringan, ia membersihkan puting Sheza satu per satu, menepuk pelan tanpa menggosok, lalu mengeringkannya dengan tisu lembut. Ia memeriks
Bab 368. Papa Empat AnakBu Rena tiba selepas Maghrib dengan tas besar berisi minyak urut dan kain jarik. Satria masih berada di kamar saat wanita paruh baya itu masuk dan menyapa dengan senyum ramah. Sofia sudah dibawa babysitter ke kamar bayi, jadi kamar utama terasa lebih tenang dari seharian ini."Bu Sheza sudah siap?" tanya Bu Rena sambil meletakkan tasnya di sofa beberapa langkah dari ranjang. Ia bisa memandang punggung Sheza dari tempatnya. "Sebentar ya, Bu." Sheza duduk di tepi kasur, bergerak pelan karena tubuhnya masih terasa pegal. Satria sudah lebih dulu berlutut di sampingnya, membantu melepaskan pakaiannya satu per satu dengan hati-hati, sampai hanya celana dalam postpartum yang tersisa.Tanpa jeda, seperti sesuatu yang sudah sering ia lakukan, Satria menyelipkan telapak tangannya ke bagian bawah dan menekan pembalut itu sekilas untuk memeriksa seberapa penuh darah nifasnya. Gerakannya ringan dan santai, tanpa canggung sedikit pun, sementara Sheza hanya diam membiarkann
"Iya," jawab Nadine. "Itu Satria."Langkahnya tidak melambat, tapi ia melirik Damar sekilas. "Kok Mas Damar bisa langsung tau? Kita kan belum pernah ketemu dia, dan aku nggak ada ngasi tau.""Mirip Nayla." Damar terkekeh kecil. "Matanya, terutama. Dan caranya berdiri, tenang tapi kelihatan sedang memperhatikan semuanya. Pas dia lihat ke arah kita tadi, aku langsung kepikiran, oh, ini ayahnya Nayla."Nadine mengangkat alis di balik kacamata hitamnya. "Selama ini orang bilang Nayla lebih mirip aku.""Mungkin bagian pinter ngomongnya Nayla dari kamu." Damar tersenyum. "Tapi sisanya jelas dari papanya.”Nadine mengangguk, sudut bibirnya naik tipis. Ia menatap lurus ke depan, ke arah mobil yang terparkir di ujung jalan. Tidak ada tawa, tapi bahunya sudah tidak setegang tadi pagi."Dia orang baik," ucapnya setelah beberapa langkah. "Bukan suami yang tepat buatku dulu, tapi dia ayah yang baik buat Nayla. Itu cukup bikin aku tenang.""Aku percaya." Damar membukakan pintu mobil untuknya. "Dan
Keesokan harinya, mobil Damar berhenti di depan kantor Nadine tepat waktu. Ia turun, merapikan kemeja hitamnya, dan menunggu di samping pintu penumpang tanpa membunyikan klakson.Nadine keluar dengan pakaian bernuansa gelap dan kacamata hitam, langkahnya mantap seperti biasa. Damar membukakan pintu, dan Nadine masuk tanpa banyak bicara. Beberapa menit pertama hanya bunyi mesin yang terdengar."Satria pasti datang," ucap Nadine akhirnya, menatap lurus ke depan. "Dia dekat sama Papa, dan dia yang menemukan Pakde. Mungkin teman-temannya juga ikut." Ia berhenti sebentar. "Mas Damar oke dengan itu?"Damar melirik sekilas, lalu kembali ke jalan. Ia tidak langsung menjawab. "Jujur, ya, agak canggung juga," katanya akhirnya, sambil mengusap tengkuk dengan satu tangan. "Aku belum pernah ketemu dia. Tapi dia Papa Nayla, jadi cepat atau lambat pasti ketemu. Soal oke atau nggak … Aku oke aja, Nad. Kita bukan anak remaja lagi, kan. Kita orang dewasa yang sudah selesai dengan masa lalu dan hidup un
Sehari sebelumnya.Nadine mengerutkan dahi. "Dari Pak Damar?""Iya, Bu. Yang mengantar orang kantornya. Admin yang di kantor. Saya juga nggak ketemu. Cuma dititipin ke security.” Lala meletakkan kantong kertas yang cukup besar di meja Nadine.Setelah Lala keluar, Nadine membuka kantong itu perlahan. Isinya bukan kotak bekal mewah dengan pita atau kartu ucapan. Hanya wadah-wadah dari sebuah restoran yang dikenalnya: nasi putih yang masih hangat, ayam bakar bumbu kuning, tumis kangkung, perkedel, sambal terpisah dalam wadah kecil, dan di dasar kantong ada puding karamel yang masih dingin. Di atas wadah nasi tertempel secarik kertas catatan kuning.Jangan lewatkan makan siang. — DNadine menatap tulisan tangan yang rapi dan agak miring itu cukup lama. Ia teringat Yudi, rekan Damar yang tadi pasti berdiri canggung di depan resepsionis dengan helm di tangan. Seperti yang dikatakan pria itu kemarin, Damar ada pekerjaan di sekitar kantornya. Dan alih-alih menelepon untuk mengajaknya makan, i






