بيت / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 39. Yang Tidak Diucapkan

مشاركة

Bab 39. Yang Tidak Diucapkan

مؤلف: juskelapa
last update تاريخ النشر: 2026-01-15 23:58:21

Sheza berdiri lebih tegak. Seperti baru saja mengingat sesuatu yang lama tersimpan. “Mas pernah bilang sesuatu ke aku,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Waktu itu Mas bilang … kalau suatu hari aku menemukan pria yang tulus dan kucintai, yang mau menerima aku dan Dio, aku boleh pergi.”

Ia berhenti sejenak. Menatap Satria tanpa menantang. “Gitu, kan? Itu kata-kata Mas.”

Satria tidak menjawab. Ia tidak mengangguk atau menyangkalnya. Tapi napasnya sedikit tertahan dan entah kenapa hatinya terasa sedik
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (15)
goodnovel comment avatar
Ulil Baba
cerita kisah Dio lebih seperti kisah nya Dul,Dul punya bapak yang gak ada baiknya, kalau Dio bapak nya sudah alm tapi banyak meninggalkan masalah
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
sekolah elit, kenapa cara pikir wali murid ga elit y???? malah pikiran y cetek2
goodnovel comment avatar
siti anisah
poor Dio, kuat ya sayangg..Onty disini mendoakan ya sayangg ...️...️ big hug untuk Shezaa
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • KAMAR KEDUA   Bab 216. Luka yang Disembunyikan

    Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Satria mengembuskan napas pendek. Ia menyerah pada sorot mata cantik yang menatapnya.“Ada luka kecil,” katanya akhirnya.Sheza masih diam.Tangannya tetap menggenggam tangan Satria seolah meminta pria itu tetap di sana.“Luka di punggung. Kecil. Dan aku nggak apa-apa,” lanjut Satria pelan.Namun kali ini Sheza menggeleng kecil.“Kita udah tidur bareng cukup lama, Mas,” katanya lirih.Tatapan Satria turun padanya.“Aku hafal tubuh Mas Satria.”Kalimat itu membuat r

  • KAMAR KEDUA   Bab 215. Rumah Bagi Satria

    “Ini Bu Rena,” ujar Satria sambil berdiri dekat pintu kamar mereka. “Terapis postnatal.”Sheza langsung mengangkat alis.Wanita itu tersenyum profesional. “Saya bantu recovery pasca melahirkan ya, Bu.”Dan malam itu Sheza baru sadar ternyata Satria benar-benar sudah menyiapkan semuanya.Minyak khusus pijat ibu menyusui.Kompres hangat.Sabuk penyangga perut.Sampai jadwal terapi laktasi dan stretching ringan.“Mas serius banget,” gumam Sheza setengah geli saat Bu Rena mulai menempelkan handuk hangat di dadanya beberapa menit sebelum pijatan dimulai.“Kalau hangat dulu biasanya alirannya lebih gampang keluar, Bu,” jelas Bu Rena lembut.Setelah itu gerakan tangannya mulai memijat perlahan dari sisi luar payudara menuju depan. Tidak sakit, tapi cukup membuat bagian yang sejak tadi keras perlahan terasa lebih ringan.Sementara Satria duduk memperhatikan dengan wajah serius seperti sedang menghafal semua instruksi.“Tubuh kamu habis kerja berat,” kata Satria dari sofa dekat ranjang sambil

  • KAMAR KEDUA   Bab 214. Arti Sebuah Rumah

    Subuh baru saja lewat ketika Sheza terbangun perlahan.Ruangan rawat itu masih temaram. Lampu utama dimatikan. Hanya menyisakan cahaya kekuningan dari lampu kecil dekat meja di sebelahnya dan garis pucat matahari yang mulai masuk dari sela tirai jendela.Saga sedang tidur di boks bayi di sisi ranjang. Napas kecilnya terdengar teratur.Sementara di ranjang pendamping … Satria tertidur.Sheza diam beberapa saat memperhatikannya.Tubuh pria itu tampak terlalu besar untuk ranjang pendamping rumah sakit yang sempit. Kakinya sedikit menekuk. Satu tangan terlipat di atas perut. Dan bahkan saat tidur pun … tubuhnya terlihat kaku.Tidak benar-benar rileks.Sheza memperhatikan lebih lama.Cara bahu Satria miring seperti sengaja tidak menempel penuh ke ranjang—seolah sedang menjaga bagian tertentu.Tatapannya perlahan turun ke punggung pria itu. Lalu kembali ke wajah Satria yang terlihat jauh lebih lelah dibanding dua hari lalu.Ada lingkar samar di bawah matanya. Luka kecil di pelipis mulai men

  • KAMAR KEDUA   Bab 213. Pertolongan Papa Baru

    Sheza mengangguk tanda paham. Tapi malam itu sepertinya Sagara belum bisa mengisap dengan kuat. Dagunya sudah bisa menempel tapi bayi itu tidak sabar untuk terus mencoba.Setengah jam menempel di puting Sheza, Sagara kembali merengek. Bidan dan perawat sudah meninggalkan mereka. Tersisa Satria yang berdiri dengan alat pemompa ASI elektrik keluaran terbaru.“Ini diletakkan di tiap sisi?” tanya Satria dengan wajah canggung.“Tadi udah aku pake, tapi keluarnya dikit banget, Mas.” Dahi Sheza mengernyit karena gelisah.“Konsepnya seperti selang, kan? Alirannya bakal lancar kalau sedotan Saga kenceng?” Satria bertanya dengan suara pelan. Seakan tak mau mengimbangi rengekan bayinya yang sedang berjuang mengisap ASI.“Iya, gitu.”“Kita ke ruang laktasi aja?” tanya Satria hati-hati. Ia benar-benar takut salah dan membuat Sheza tak nyaman. Kurang tidur dan lelah membuat wanita itu terlihat sedikit sensitif. Ia tak berani menyarankan untuk membawa bayi mereka ke ruangan bayi karena Sheza bertekad

  • KAMAR KEDUA   Bab 212. Besok Main Lagi 

    Menjelang malam, kamar rawat itu kembali ramai oleh suara anak-anak.Dio sudah duduk selonjoran di sofa sambil memeluk bantal kecil rumah sakit. Sementara Nayla berdiri dekat boks bayi sejak tadi, memperhatikan Saga yang sedang tidur seperti penjaga kecil yang terlalu serius dengan tugas barunya.Athar yang dari tadi beberapa kali melihat jam akhirnya berdiri sambil menepuk paha pelan.“Ayo,” katanya. “Kita pulang dulu.”“Nggak mau. Ini belum malem, Om.” Nayla menjawab duluan.Dio ikut menggeleng keras. “Aku juga nggak mau. Baru aja sore ke sini.”Athar langsung mengembuskan napas panjang sambil mendongak sebentar ke langit-langit kamar. “Supir udah nunggu dari tadi.”“Tunggu bentar lagi,” kata Dio cepat.“Dari tadi juga bilang bentar lagi,” balas Athar.Nayla akhirnya menoleh sedikit. Wajahnya terlihat benar-benar keberatan. “Aku mau jagain adik.”“Adiknya tidur,” jawab Athar sabar.“Aku tau,” balas Nayla. “Kalau dia bangun, dia juga belum bisa ngajak ngobrol,” sahut Athar. Dio ter

  • KAMAR KEDUA   Bab 211. Sheza Memperhatikan 

    Dari sejak pagi, Sheza mulai sadar ada yang aneh dengan tubuh Satria.Bukan wajahnya.Karena luka kecil di pelipis dan sudut bibir itu masih bisa dianggap lecet biasa. Bisa saja Satria terlibat perselisihan antar sesama pria. Baginya sendiri … itu tidak terasa aneh bagi seorang Satria yang ia kenal.Namun … ada yang aneh dengan cara pria itu bergerak. Terasa tidak biasa.Kadang bahu terlihat kaku saat mengangkat Saga. Kadang napasnya berhenti sepersekian detik saat berdiri dari sofa. Dan beberapa kali Sheza menangkap Satria seperti menahan nyeri saat lengannya bergerak terlalu jauh.Satria tidak mengaduh atau meringis. Tidak mengatakan apa-apa seperti biasa. Tapi jelas ada sesuatu yang ditahannya.Selebihnya … Satria tetap berjalan ke sana kemari membantu mengambil air minum, membetulkan selimut, atau mengangkat Saga seolah tubuhnya baik-baik saja.Namun justru hal itu yang membuat Sheza semakin gelisah. Karena Satria biasanya memang lebih diam saat sesuatu benar-benar serius terjadi.

  • KAMAR KEDUA   Bab 132. Tak Lagi Sendirian

    Di parkiran rumah sakit, Nayla masuk ke mobil lebih dulu dan duduk masih dengan hasil cetak USG di tangannya. Sesekali ia mengangkat foto itu ke atas, lalu memandanginya seksama. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu, tapi usai memandang, ia kemudian mengangguk.“Aku duduk di belakang, y

    last updateآخر تحديث : 2026-04-03
  • KAMAR KEDUA   Bab 123. Pelabuhan dan Cerita Bekal

    Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas

    last updateآخر تحديث : 2026-04-02
  • KAMAR KEDUA   Bab 115. Rumah yang Hidup

    Sheza terbangun karena rasa mual yang datang seperti gelombang pelan tapi pasti.Selimut hanya menutup setengah tubuhnya. Semalam ia tertidur tanpa mengenakan apa pun selain celana dalam tipis yang kini sedikit bergeser di pinggulnya. Perutnya mulai terlihat membulat dengan payudara yang semakin te

    last updateآخر تحديث : 2026-04-01
  • KAMAR KEDUA   Bab 15. Layaknya Seorang Pria

    Begitu mereka masuk mobil, Satria menutup pintu dengan cepat dan menghubungi seseorang. Suaranya yang datar memberi instruksi singkat. Satria kembali ke dalam rumah sebentar untuk mengecek jendela yang berlubang. Sheza melihat dari mobil. Siluet pria itu dalam hujan tipis, sendirian menilai kerus

    last updateآخر تحديث : 2026-03-17
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status