Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 48. Waktu untuk Berduka

Share

Bab 48. Waktu untuk Berduka

Penulis: juskelapa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 23:18:11
“Bu, koran Bapak sudah saya letakkan di meja kerja. Siapa tau Bapak mau baca selesai sarapan.” Tuti menghampiri Sheza yang baru saja mengikatkan apron di tengkuknya.

“Masih koran cetak, ya …,” gumam Sheza. Ia membiarkan Tuti lewat dan pergi membuka kulkas untuk mengeluarkan bahan makanan. Setelah mengingat sesuatu, ia mendekati Tuti. “Mbak, saya baru ingat mau keluar lebih awal hari ini. Jadi, saya bantu buat sarapan, ya.”

Tuti sontak menegakkan tubuh. “Jangan, Bu. Jangan. Nanti bapak komplain
juskelapa

Ikuti media sosial Insstagraam @juskelapaofficial dan Faceeboook Anda Juskelapa untuk info update dan visual-visual manis.

| 99+
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (21)
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
🍁Mam 2R🍁
wajar Sheza masih bersedih, bagaimanapun mereka hidup bersama sudah beberapa tahun dan menikah juga mungkin dulunya karena saling cinta, semoga saja tak ada rahasia Prabu yang bisa jadi boom waktu suatu hari nanti
goodnovel comment avatar
Christina Natalia
nyesek euyyy kangen pasti Zee...dia suamimu...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 127. Hangat yang Tidak Terucap

    Satria benar-benar tidak menyentuh kopinya seharian itu. Ia baru menyadarinya ketika tubuhnya mulai terasa berat dan kepalanya sedikit berdenyut.Saat Sheza selesai membereskan meja, Satria menyandarkan punggungnya ke kursi dan berkata pelan, “Zee, bikinin aku kopi sedikit. Hitam aja.”Sheza mengangguk tanpa bertanya. Ia tahu itu bukan sekadar kopi. Itu jeda. Itu cara Satria menurunkan hari yang terlalu panjang.Aroma kopi menyebar pelan di dapur yang sudah hampir gelap. Sheza menuangkannya ke cangkir kecil favorit Satria. Tanpa gula, tanpa tambahan apa pun. Ia menyerahkannya, dan Satria menerimanya dengan tatapan yang sedikit lebih lama dari biasanya. “Terima kasih.”Sheza hanya tersenyum kecil, lalu duduk tak jauh dari Satria. Satu tangan pria itu berpindah ke pahanya, lalu mengusap bagian itu dan pindah ke lengannya. Satria terus membelainya sampai tangan mereka bertemu, lalu bertaut. Satria menggenggam tangannya lama dan hangat. Beberapa menit kemudian mereka masuk ke kamar. Lamp

  • KAMAR KEDUA   Bab 126. Bukan yang Mama Pikir

    Garpu itu berhenti.Nasi beruang yang tadi ditekan sampai rusak kini diam di ujung sendok. Nayla menatapnya beberapa detik, seperti sedang menenangkan sesuatu di dalam dadanya.Lalu ia menarik napas kecil.“Papa nggak akan pernah ninggalin aku,” katanya pelan.Nadine tersenyum tipis. “Mama juga nggak bilang Papa ninggalin.”“Tapi Mama ngomongnya bikin aku takut.” Kalimat itu keluar tanpa marah dari mulut Nayla.Nadine sedikit terdiam.Nayla menaruh sendoknya pelan. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi suaranya berusaha tenang. “Papa kalau peluk aku itu beda,” lanjutnya.“Beda bagaimana?” tanya Nadine.Nayla berpikir sebentar, mencari kata yang ia punya. “Kalau Papa peluk aku, Papa nggak liat jam,” kata Nayla pelan.“Papa nggak sambil pegang HP. Papa nggak sambil bilang, ‘Sebentar ya.’”Sunyi turun tipis. “Aku juga nggak pernah dengar Ibun minta apa-apa sama Papa,” tambah Nayla. “Ibun cuma bilang Papa juga harus istirahat, jangan kerja terus.”Nadine menyilangkan tangan di dada. “Kamu

  • KAMAR KEDUA   Bab 125. Bukan Bekal Biasa

    Pertanyaan Nadine itu keluar begitu ringan. Nayla masih berdiri di depan meja makan. Kantong pink itu sudah tergeletak di atas meja. Tangannya belum juga melepaskan pegangan tasnya. “Ibun … ya Ibun,” jawabnya pelan.Nadine mengangkat alis tipis. “Mama nggak pernah ngajarin kamu manggil orang sembarangan pakai sebutan begitu.”Nayla terdiam.Ia membuka resleting tas pink itu pelan, seolah mencari waktu. Kotak bekal itu ia keluarkan dengan hati-hati dan diletakkan di atas meja granit yang dingin.Nadine memperhatikan setiap gerakan itu. “Kamu makan di sana?” tanyanya.Nayla menggeleng. “Belum.”“Kenapa?”“Aku mau makan di rumah.” Jawaban itu sederhana. Tapi nadanya membuat Nadine menyipitkan mata.“Kenapa nggak makan di sana saja?” lanjut Nadine.Nayla membuka tutup kotak itu perlahan. Nasi berbentuk beruang kecil masih utuh, sedikit mengeras di sudutnya. Sosis bunga. Telur gulung yang mulai pucat. “Biar bisa makan pelan-pelan,” jawab Nayla.“Pelan-pelan?” Nadine tersenyum tipis. “Atau

  • KAMAR KEDUA   Bab 124. Cahaya di Balik Pintu

    Satria tidak langsung masuk seluruhnya. Ia membuka sepersekian, cukup untuk membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gelap.Cahaya tipis memang berasal dari meja kerja Prabu. Lampu meja kecil menyala redup, terarah ke permukaan kayu yang penuh bayangan.Di sudut ruangan, dekat lemari arsip, seseorang sedang membungkuk. Jaket hitam. Gerakan cepat tapi hati-hati. Seperti orang yang sudah tahu apa yang ia cari atau justru sedang panik karena tidak menemukannya.Satria melangkah masuk.Selangkah. Dua langkah.Lantai berkarpet memantulkan bunyi halus di bawah sepatu kulitnya.Pria itu berhenti.Hanya sepersekian detik.Tidak menoleh.Lalu refleks.Tubuhnya berputar setengah, cukup bagi Satria menangkap siluet wajah yang tertutup bayangan. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berlari dan melompat keluar jendela yang memang sudah terbuka setengah.Angin malam masuk mendadak.Jendela itu mengarah ke balkon kecil. Tidak terlalu tinggi. Dua lantai saja. Cukup bagi orang yang nekat untuk turun ce

  • KAMAR KEDUA   Bab 123. Pelabuhan dan Cerita Bekal

    Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas itu menarik napas. “Kami hanya menjalankan perintah.”“Perintah siapa?”Sunyi.Di luar, klakson kapal terdengar pendek. Satria melangkah lebih dekat ke meja. Ia berdiri terlalu dekat untuk diabaikan. Sebelum bicara terlihat Satria menarik napas pelan.“Manifest ini sudah diverifikasi tiga hari lalu. Nomor registrasi, berat muatan, rute, semuanya sudah sesuai. Kalau ada kekurangan, tunjukkan pasalnya.” Ia tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari petugas yang mulai kehilangan keberanian.Petugas itu membuka-buka berkas lagi. Tangannya sedikit gemetar. “Bagian tanda tangan digital—”“Sudah tervalidasi sistem pusat,” potong Satria tenang. “Saya punya salinannya.”Ia mengeluarkan ponsel, menu

  • KAMAR KEDUA   Bab 122. Angin Dingin di Tikungan 

    Suasana hening beberapa saat. Petugas di depan mereka ikut menegang. “Apakah korban biasa menggunakan lebih dari satu perangkat?” tanya Kanit hati-hati. Satria menjawab tenang, “Seharusnya tidak.” Ia tidak ingin terlalu cepat membuka asumsi. Arga kembali melihat log. “Panggilan ke Alina tercatat semua dari nomor ini,” gumamnya. Satria mengangguk. Berarti nomor lain itu bukan untuk Alina. Bukan untuk keluarga. Bukan untuk sahabat dekat. Lalu untuk siapa? Ruangan terasa lebih dingin. Petugas kepolisian kembali menyimpan semua catatan, foto, dan barang bukti ke dalam map tebal berlabel tanggal kejadian. Helm itu ikut diangkat dari meja—dimasukkan kembali ke plastik transparan yang sudah agak menguning. Arga dan Satria keluar dari ruangan berpendingin dingin itu dengan kepala lebih penuh daripada saat mereka masuk. Helmnya memang pecah. Satria ingat jelas bagaimana sore itu helm Prabu tergeletak beberapa meter dari tubuhnya. Helm mahal itu tidak hancur berkeping-kep

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status