ホーム / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 49. Atas Nama Istri

共有

Bab 49. Atas Nama Istri

作者: juskelapa
last update 公開日: 2026-01-20 23:22:29

Pagi sebelum Sheza pergi ke rumah Dio.

Ponsel di nakasnya bergetar ketika subuh belum sepenuhnya pergi. Langit masih pucat, dan rumah berada dalam sunyi yang belum disentuh aktivitas.

Satria terjaga lebih dulu. Ia duduk bertelanjang dada; mengusap wajah dan menyingkirkan selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Ia meraih ponsel tanpa menyalakan lampu.

“Ternyata chat,” gumam Satria. Getaran pesan masuk yang bertubi-tubi itu menyerupai panggilan. “Pak Firman.”

Seketika kesadarannya terkump
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (22)
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
ahhhh prabu apa sebenarnya yg terjadi???? rahasia mu terlalu rumit untuk ku pahami
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Dan satria dgn sabar dan berkorban banyak utk menjaga juga menolong dan melindungi Sheza juga Dio ..
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • KAMAR KEDUA   Bab 168. Gudang Biasa

    Satria masuk ke ruang kerjanya lagi dengan secangkir kopi yang baru ia seduh. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam. Meski begitu, isi kepalanya yang masih amat sibuk seakan memaksanya untuk tetap terjaga.Ruang kerja masih sama seperti saat ia tinggalkan. Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas yang dikeluarkannya tadi masih menunggu. Seperti tidak sabar dibuka kembali.Satria duduk menarik napas pendek. Tangannya meraih kabel charger laptop, membungkuk sedikit untuk menyambungkannya ke stop kontak di bawah meja. Dan tanpa sengaja … sikunya menyenggol tumpukan berkas.Brak!Beberapa lembar berkas yang letaknya di bagian atas terjatuh. Satria menghela napas pelan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Sepersekian detik kemudian tangannya berhenti—urung memungut kertas di lantai. Dahinya mengernyit.Kertas itu … terbaca terbalik. Bagian kepala surat yang biasa bertuliskan nama perusahaan terletak di bawah. Sehingga matanya tertuju pada stempel perusahaan yang memudar—yang b

  • KAMAR KEDUA   Bab 167. Sebuah Kekhawatiran 

    Ketegangan malam itu tidak terelakkan. Sorot mata Sheza yang lebih berani dari biasanya bukan hanya mewakili dirinya sendiri saat itu. Ia merasa membawa hal yang lebih penting.“Kejadian siang tadi itu nyeremin banget, Mas. Aku nggak yakin kalau lain kali ada kejadian serupa … aku bisa ngadepinnya lagi. Ini udah berlebihan. Mas Satria kayak terobsesi banget sama masalah ini,” ujarnya, mengusap perut yang terasa agak lebih kencang karena gerakannya bangkit barusan.Tidak ada yang salah dalam ucapan Sheza. Tapi kata berlebihan membuat wajah Satria berubah menjadi muram.“Ini bukan masalah berlebihan atau terobsesi, Zee.” Nada bicaranya datar seakan mengomentari cuaca. “Aku nggak mau kita terdengar saling tuduh. Tapi awal Prabu meninggal kamu pasti sedikit banyak nyalahin aku. Dan itu benar … aku merasa bersalah.”“Mas, kenapa jadi ngomongin yang lalu, sih? Awal dulu ya jelas beda. Dan mungkin situasi kita juga bakal beda seandainya aku nggak hamil anak Mas Satria ….” Sheza diam kemudian

  • KAMAR KEDUA   Bab 166. Realita yang Semakin Dekat

    Satria tidak langsung duduk ketika masuk ke ruang observasi. Ia berdiri di samping ranjang, cukup dekat untuk menyentuh Sheza, tapi ia tidak terburu-buru melakukannya.Setelah memastikan sekilas bahwa Nayla dan Dio baik-baik saja, kini tatapannya tinggal lebih lama pada Sheza. Memandang perutnya lalu kembali memandang wajahnya. Ia sedang memastikan sesuatu yang tidak bisa ia tanyakan dengan kata-kata.“Kamu baik-baik aja?” tanyanya dengan suara pelan. Kini suaranya mengandung nada kekhawatiran yang tidak pernah didengar Sheza sebelumnya.Sheza mengangguk tegas. Ia tidak ingin Satria mengkhawatirkannya terlalu berlebihan. Meski udara di sekitar mereka mendadak berat, ia menarik napas—menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya belum sepenuhnya ikut tenang.“Tadi … mobil kita ditabrak dari belakang,” ucap Sheza. “Pak Heri juga kaget. Aku ikut kaget … terus perutku langsung kencang.” Ia berhenti sebentar, memberi jarak di antara kalimatnya. “Makanya aku minta dibawa ke sini.”Satria m

  • KAMAR KEDUA   Bab 165. Gudang yang Terlalu Biasa

    Mobil berhenti di depan gudang nomor tujuh belas. Tidak ada penampilan yang mencolok dari luar. Beberapa pekerja pelabuhan melintas seperti biasa. Suara kontainer dipindahkan, teriakan mandor, dan dentingan besi saling bersahutan seperti rutinitas yang tidak pernah benar-benar berhenti.Gudang itu berdiri panjang dan lebar.Bukan tinggi menjulang, tapi melebar seperti bangunan yang tidak ada niat untuk terlihat penting. Catnya sudah kusam. Pintu besarnya tertutup, tapi tidak terkunci.“Tau ini nomor tujuh belas dari mana, sih? Di peta ada nomor-nomor gudang, tapi di bangunannya malah nggak ada.” Arga berdiri di bagian depan gudang dan berjalan beberapa langkah mengitarinya.Satria berjalan menuju pintu yang tingginya nyaris dua kali orang dewasa. Ia menekan celah pintu dan bagian itu bergeser sedikit.“Nomor gudang itu buat sistem, Ga. Bukan buat orang.” Satria menoleh Arga sekilas. “Yang kerja di sini udah hafal nggak perlu lihat.”“Kalau gitu gue cek dulu kepemilikannya,” kata Arga

  • KAMAR KEDUA   Bab 164. Urutan Investigasi

    “Gue nggak pernah nunggu Prabu mati,” ucap Satria tenang.Arga terdiam.Satria melanjutkan, “Dan apa yang ada sekarang … bukan sesuatu yang gue rencanain.” Ia diam lalu berkata pelan, “Tapi gue jaga.”“Gue cuma khawatir … kalau lo masuk terlalu jauh ke kasus ini, Sheza bisa kehilangan suaminya dua kali, Sat. Sorry kalau yang gue bilang ini kejam, tapi gue beneran khawatir.” Khawatir yang disebut-sebut Arga memang terdengar dari nada suaranya.“Lo tau nggak apa yang gue pikir sekarang?” Suara Satria sedikit lebih dalam dan pelan.“Gue nggak tau apa yang lo pikirin, Sat. Gue bukan Prabu yang bisa nebak-nebak aja terus bener tiap ngomong sama lo.” Arga tertawa kecil.Satria mengangguk. “Bercandanya Prabu itu selalu pas.”“Gue jadi mikir … andai Prabu bisa menilai kedekatan kita semua, andai ada masalah di perusahaannya, dia bisa minta bantuan kita. Atau setidaknya … Prabu bisa minta bantuan lo.” Arga meninju pelan bahu Satria.Sementara Satria menggeleng. “Nggak. Prabu bukan orang yang k

  • KAMAR KEDUA   Bab 163. Semakin Berani

    Mendengar ucapan Sheza, Pak Heri mulai ragu.Di depan, polisi lalu lintas itu tetap jalan—motor jenis trail dengan plat kepolisian yang tak dimengerti Sheza. Di belakang, pengendara motor masih mengikuti mereka.Sheza tidak punya waktu untuk berpikir panjang. “Pak, bunyiin klakson,” pintanya pada Pak Heri.“Bu?”“Bunyiin sekarang!”Tak lama klakson panjang terdengar.Sekali.Lalu dua kali.Mobil kemudian melambat dan berhenti.Polisi lalu lintas di depan langsung menoleh, lalu berputar dan kembali mendekati dari sisi Sheza.“Ada apa, Bu?” tanyanya saat tiba di dekat pintu. Tubuhnya condong dan mendekat seakan mengamati dengan cermat apa yang terjadi di dalam mobil.Sheza membuka kaca. Tangannya memegang perut.Dan dalam satu detik—ia berubah.“Pak …. Tolong…” suaranya pecah. “Saya … saya sakit … perut saya sakit banget ini. Sepertinya saya mau lahiran ….”Pak Heri langsung panik menoleh ke belakang. “Bu?”Sheza menunduk, napasnya memburu. Ia mencoba bersandar lalu kembali mencondongk

  • KAMAR KEDUA   Bab 78. Sedikit Refleksi

    Di malam-malam lain, Satria semakin sering duduk di tepi ranjang Sheza. Saat ia pulang larut dan mendapati wanita itu tertidur di ruang televisi dengan wajah lelah. Ia selalu mengangkat Sheza ke kamar dan duduk di tepi ranjang sejenak hanya untuk memandang wajah Sheza dan tangan wanita itu selalu m

    last update最終更新日 : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 71. Yang Belum Sempat Dibicarakan

    Pintu depan terbuka bersamaan dengan suara yang terlalu familiar untuk disangkal. “Ibun! Ibuuun! Kok nggak kangen aku?” Suara Dio datang lebih dulu, mendahului langkah kecilnya yang berlari masuk ke rumah. Sheza yang baru keluar dari dapur langsung menoleh, dan sebelum sempat mengatakan apa pun,

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 67. Mungkin Hanya Sebuah Kewajiban

    “Zee … kalau aku lanjut, aku nggak akan setengah-setengah.” Kalimat itu jatuh keluar tanpa tekanan dan paksaan. Justru itulah yang membuat Sheza terdiam. Ia berdiri di hadapan Satria, berusaha mencerna bagaimana ia bisa sampai di kamar ini—kamar yang tak pernah ia masuki, kamar seorang pria yang k

    last update最終更新日 : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 66. Wanita yang Mengendalikan Hidupnya

    Dalam beberapa hari terakhir, Sheza sedikit merasa kesepian. Bukan karena selama ia berada di rumah Satria mereka jadi sering mengobrol dan bercengkerama. Bukan itu. Malah ketika mereka berada di satu ruangan, seringnya mereka hanya diam; mendengar sendok kopi mereka beradu, penyemprot tanaman, at

    last update最終更新日 : 2026-03-25
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status