LOGINSheza menyimpan sore itu sebagai sesuatu yang istimewa.Bukan semata karena keintiman yang baru saja ia bagi bersama Satria, melainkan karena untuk pertama kalinya setelah menjadi orang tua baru, mereka kembali menemukan jalan pulang satu sama lain.Di antara tangisan Saga di malam hari, jadwal menyusui, botol ASI, dan rasa lelah yang datang bergantian, Sheza sempat takut bahwa sebagian dari dirinya akan tertinggal di sana.Bahwa ia hanya akan menjadi ibu, sementara bagian dirinya sebagai seorang istri perlahan memudar.Namun sore itu membuktikan sebaliknya.Satria masih memandangnya dengan cara yang sama. Masih menginginkannya dengan ketulusan yang tak pernah pandai ia ucapkan lewat kata-kata.Dan Sheza, yang selama ini selalu merasa harus kuat untuk semua orang, mendapati dirinya bisa begitu rapuh di dekat pria itu.Sore itu tidak hanya menjadi tentang mereka sebagai suami dan istri.Tetapi juga tentang dua orang tua baru yang sedang belajar bahwa cinta tidak berakhir ketika seorang
Sheza sampai lupa kalau siang telah berganti menuju sore.Padahal tadinya ia ingin membicarakan banyak hal dengan Satria. Tentang perlengkapan yang baru saja datang setelah dipesannya dari aplikasi online. Tentang ruangan dekat garasi yang akan disulap menjadi Studio Sheza, studio mungil yang sudah lama ingin ia miliki. Tempat untuk memulai proyeknya sendiri. Memanfaatkan media sosial yang pengikutnya terus bertambah sejak sebelum ia menikah.Namun sore itu, semua rencana pembicaraan itu menguap begitu saja.Entah kenapa, berada di dekat Satria selalu membuat pertahanannya melemah.Ia hanya ingin berada di dekat pria itu.Satria yang tidak banyak bicara justru membuatnya semakin penasaran. Membuatnya diam-diam ingin terus diperhatikan, disentuh, dan diinginkan oleh pria itu.Saat Satria berada di rumah, Sheza ingin suaminya tidak pergi jauh-jauh darinya.Kadang ia malu mengakuinya.Bahwa ia tidak suka Satria pulang terlalu larut. Bahwa ia tidak suka ketika nama Nadine terlalu sering m
Satria kembali mencium Sheza.Kali ini ciumannya lebih dalam. Tangannya berpindah ke pinggang wanita itu, menahannya tetap dekat di atas pangkuannya.Napas Sheza mulai tidak teratur ketika kecupan-kecupan itu bergeser ke sudut rahangnya."Mas …,” bisiknya pelan.Satria hanya mendengus rendah sebagai jawaban. Bibirnya menyusuri garis leher Sheza perlahan. Berhenti beberapa detik di sana sebelum mengecupnya lagi. Tangan Sheza otomatis mencengkeram bahu pria itu. "Mas Satria ….”Satria mengangkat wajahnya sebentar. Tatapannya meredup. "Hm?""Ini..." Sheza melirik sekeliling bathtub. "...sempit."Satria diam beberapa detik. Lalu mengecup bahu Sheza singkat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Iya." Ia menyandarkan kepala ke bahu Sheza sesaat sebelum mundur sedikit. "Ke sini."Sheza mengerjap."Ayo, mandi dulu." Satria mengambil shower dari tepi bathtub.Nada bicaranya datar seperti biasa. Seolah beberapa menit sebelumnya bukan dia yang membuat wajah Sheza memerah.Sheza tertawa
Satria masih tersenyum ketika menyusul Sheza ke kamar. Suara langkah ringan yang terburu-buru tadi berakhir dengan bunyi pintu kamar mandi yang tertutup."Pagi tadi udah mandi, kan?" tanya Satria seraya menutup pintu kamar kedua.Tatapannya berkeliling ruangan itu sejenak. Pompa ASI elektrik tergeletak di atas nakas. Pertanda Sheza memang baru menggunakannya beberapa saat lalu.Untuk sesaat ia berdiri di dekat nakas, menikmati keheningan siang di rumah yang jarang ia rasakan. Terutama di Kamar Kedua. Kamar utama di lantai satu yang terletak di pojok sayap kanan. Tidak sering dilalui orang."Aku udah mandi. Tapi jadi nggak pede kalau dekat Mas Satria siang-siang begini."Suara Sheza terdengar dari dalam kamar mandi.Satria hanya menanggapinya dengan tawa pelan. Sedikit tak menyangka kalau Sheza bisa merasa seperti itu.Dari balik pintu, ia mendengar suara gemericik air yang tenang.Langkahnya perlahan mendekat sambil membuka kancing kemejanya satu per satu. Setelah terbuka seluruhnya,
Mendengar apa yang dikatakan Satria, Sheza terdiam cukup lama. Tangannya yang masih melingkar di pinggang Satria sedikit mengencang. "Sendirian?" tanyanya.Satria mengangguk."Kenapa nggak ngajak aku?" Pertanyaan itu keluar pelan dari mulut Sheza. Meski sebenarnya ia sendiri belum siap bila tiba-tiba Satria mengajaknya menengok makam Prabu bersama.Satria memandang Saga yang mulai tertidur pulas di pelukannya. "Aku harus ngobrol sama Prabu dulu. Berdua.”Sheza masih diam. Kini pria itu duduk di salah satu kursi dan ia mengambil Saga yang sudah waktunya tidur di boksnya.“Aku kasih Saga sama Nila dulu,” kata Sheza, pergi sebentar dan tak lama kemudian sudah kembali ke dekat Satria. Pria itu lalu menunjuk lingkaran basah di dadanya.“Kayaknya Saga nyusunya kenyang banget, ya.” Ujung jari Satria menyentuh lingkaran basah itu.Sheza menunduk dan tertawa kecil. “Saga nyusu langsung dan aku baru ngosongin ASI. Dapatnya lumayan banget buat stok malam Saga.”“Ayo, kamu duduk di sini. Kita mak
Satria kemudian berjongkok. Mengusap pusara Prabu pelan. Kali itu … air matanya tidak terbendung. Sebulir air mata jatuh dan cepat-cepat disekanya.“Lo pasti tau alasan gue nikahin Sheza, Bu.” Ia menunduk. “Lo tau kalau gue sayang kalian. Gue sayang mereka. Gue ... sekarang gue cinta Sheza, Bu.""Dan gue rasa ... kalau lo lihat dia sekarang..." Sudut bibirnya bergerak tipis."...lo bakal marah."Satria tertawa kecil sendiri. "Karena dia jauh lebih cantik sekarang.""Lo dulu sering cerita kalau Sheza ngambek bisa lama. Waktu itu gue nggak bisa ngasih saran karena gue nggak tau gimana. Ternyata lo harus lebih keras usahanya. Lo harus tetap ngomong meski dia diem. Lo harus paksa dia buat jawab pertanyaan lo.”"Kerasnya Sheza itu beda. Kerasnya Sheza nggak egois, Bu. Sheza cuma terlalu lama melindungi dirinya sendiri.”Ia menggeleng pelan."Dan sekarang Sheza bukan cuma tanggung jawab lo lagi."Tatapannya lurus ke depan."Dia tanggung jawab gue. Dio juga.”Kalimat itu keluar mantap. Tidak
Satria melangkah lebih dalam ke rumah dan menutup pintu ruang kerjanya dengan gerakan pelan tapi pasti. Ruangan itu sunyi dengan aroma kayu dan kertas. Tempat ia biasa mengambil keputusan tanpa perlu disaksikan siapa pun. Nama di layar ponsel masih menyala. Salim Prajogo Kertasoedibyo. Satria
Dio keluar rumah hampir berlari. Langkah kecilnya berhenti mendadak di teras ketika matanya menangkap pot-pot yang tersusun rapi. “Ibun!” serunya. “Itu…itu bunga kita!” Sheza menoleh sambil tersenyum kecil. “Iya. Ibun bawa beberapa dari rumah kita.” Dio mendekat, berjongkok di depan pot mawar ya
Satria berdiri di ambang pintu, masih dengan kemeja yang sama, lengannya digulung. Di belakangnya meja kerja berantakan oleh berkas dan map cokelat yang belum ditutup. Wajahnya tenang, tapi matanya waspada seperti seseorang yang sedang bersiap menerima amukannya. “Ada apa?” tanyanya. Sheza tidak
Sheza berdiri lebih tegak. Seperti baru saja mengingat sesuatu yang lama tersimpan. “Mas pernah bilang sesuatu ke aku,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Waktu itu Mas bilang … kalau suatu hari aku menemukan pria yang tulus dan kucintai, yang mau menerima aku dan Dio, aku boleh pergi.” Ia berhenti sejen







