ホーム / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 53. Masih dalam Kenanganku

共有

Bab 53. Masih dalam Kenanganku

作者: juskelapa
last update 公開日: 2026-01-21 23:50:08
Suara gelas pecah memantul keras. Satria langsung berlari dan mendapati pemandangan yang membuat jantungnya mencelos. Gelas air putih jatuh di lantai, pecah berserakan.

Sheza setengah duduk di ranjang, napasnya terengah, tangannya gemetar, selang infus tertarik sedikit.

“Zee,” panggil Satria cepat. “Mau ke mana?” Pandangan Satria menyapu serpihan kaca yang masih berserak di lantai, sementara Sheza duduk di tepi ranjang dengan kaki terjulur.

“Aku baru minum, Mas,” jawab Sheza pelan. Suarany
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (44)
goodnovel comment avatar
Ani Murnani
jadi ternyata dahulu mereka pernah menyimpan rasa
goodnovel comment avatar
Desi Permatasari
sebenarnya mereka memang pernah jatuh cinta sebelum sama prabu...jadi sedih
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
saling cinta ternyata bermula dr cafe kecil di dekat pelabuhan pasti. cuman bang sat ada istri dan anak blm lagi dia tau klo cewek yg mau di kenalankan parabu itu dia.
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • KAMAR KEDUA   Bab 216. Luka yang Disembunyikan

    Satria menatap tangan Sheza yang masih menahan pergelangan tangannya pelan.Lampu kamar sudah diredupkan. Dari kamar bayi di sebelah hanya terdengar dengung kecil baby monitor dan sesekali suara napas Saga yang samar.“Aku cuma capek,” ucap Satria rendah.Namun Sheza tidak melepas tangannya. Tatapannya justru semakin tenang. Semakin lembut. Dan itu selalu lebih berbahaya.Karena Satria tahu, Sheza hanya akan bicara selembut itu kalau wanita itu sudah benar-benar memperhatikan sesuatu.Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Satria mengembuskan napas pendek. Ia menyerah pada sorot mata cantik yang menatapnya.“Ada luka kecil,” katanya akhirnya.Sheza masih diam.Tangannya tetap menggenggam tangan Satria seolah meminta pria itu tetap di sana.“Luka di punggung. Kecil. Dan aku nggak apa-apa,” lanjut Satria pelan.Namun kali ini Sheza menggeleng kecil.“Kita udah tidur bareng cukup lama, Mas,” katanya lirih.Tatapan Satria turun padanya.“Aku hafal tubuh Mas Satria.”Kalimat itu membuat r

  • KAMAR KEDUA   Bab 215. Rumah Bagi Satria

    “Ini Bu Rena,” ujar Satria sambil berdiri dekat pintu kamar mereka. “Terapis postnatal.”Sheza langsung mengangkat alis.Wanita itu tersenyum profesional. “Saya bantu recovery pasca melahirkan ya, Bu.”Dan malam itu Sheza baru sadar ternyata Satria benar-benar sudah menyiapkan semuanya.Minyak khusus pijat ibu menyusui.Kompres hangat.Sabuk penyangga perut.Sampai jadwal terapi laktasi dan stretching ringan.“Mas serius banget,” gumam Sheza setengah geli saat Bu Rena mulai menempelkan handuk hangat di dadanya beberapa menit sebelum pijatan dimulai.“Kalau hangat dulu biasanya alirannya lebih gampang keluar, Bu,” jelas Bu Rena lembut.Setelah itu gerakan tangannya mulai memijat perlahan dari sisi luar payudara menuju depan. Tidak sakit, tapi cukup membuat bagian yang sejak tadi keras perlahan terasa lebih ringan.Sementara Satria duduk memperhatikan dengan wajah serius seperti sedang menghafal semua instruksi.“Tubuh kamu habis kerja berat,” kata Satria dari sofa dekat ranjang sambil

  • KAMAR KEDUA   Bab 214. Arti Sebuah Rumah

    Subuh baru saja lewat ketika Sheza terbangun perlahan.Ruangan rawat itu masih temaram. Lampu utama dimatikan. Hanya menyisakan cahaya kekuningan dari lampu kecil dekat meja di sebelahnya dan garis pucat matahari yang mulai masuk dari sela tirai jendela.Saga sedang tidur di boks bayi di sisi ranjang. Napas kecilnya terdengar teratur.Sementara di ranjang pendamping … Satria tertidur.Sheza diam beberapa saat memperhatikannya.Tubuh pria itu tampak terlalu besar untuk ranjang pendamping rumah sakit yang sempit. Kakinya sedikit menekuk. Satu tangan terlipat di atas perut. Dan bahkan saat tidur pun … tubuhnya terlihat kaku.Tidak benar-benar rileks.Sheza memperhatikan lebih lama.Cara bahu Satria miring seperti sengaja tidak menempel penuh ke ranjang—seolah sedang menjaga bagian tertentu.Tatapannya perlahan turun ke punggung pria itu. Lalu kembali ke wajah Satria yang terlihat jauh lebih lelah dibanding dua hari lalu.Ada lingkar samar di bawah matanya. Luka kecil di pelipis mulai men

  • KAMAR KEDUA   Bab 213. Pertolongan Papa Baru

    Sheza mengangguk tanda paham. Tapi malam itu sepertinya Sagara belum bisa mengisap dengan kuat. Dagunya sudah bisa menempel tapi bayi itu tidak sabar untuk terus mencoba.Setengah jam menempel di puting Sheza, Sagara kembali merengek. Bidan dan perawat sudah meninggalkan mereka. Tersisa Satria yang berdiri dengan alat pemompa ASI elektrik keluaran terbaru.“Ini diletakkan di tiap sisi?” tanya Satria dengan wajah canggung.“Tadi udah aku pake, tapi keluarnya dikit banget, Mas.” Dahi Sheza mengernyit karena gelisah.“Konsepnya seperti selang, kan? Alirannya bakal lancar kalau sedotan Saga kenceng?” Satria bertanya dengan suara pelan. Seakan tak mau mengimbangi rengekan bayinya yang sedang berjuang mengisap ASI.“Iya, gitu.”“Kita ke ruang laktasi aja?” tanya Satria hati-hati. Ia benar-benar takut salah dan membuat Sheza tak nyaman. Kurang tidur dan lelah membuat wanita itu terlihat sedikit sensitif. Ia tak berani menyarankan untuk membawa bayi mereka ke ruangan bayi karena Sheza bertekad

  • KAMAR KEDUA   Bab 212. Besok Main Lagi 

    Menjelang malam, kamar rawat itu kembali ramai oleh suara anak-anak.Dio sudah duduk selonjoran di sofa sambil memeluk bantal kecil rumah sakit. Sementara Nayla berdiri dekat boks bayi sejak tadi, memperhatikan Saga yang sedang tidur seperti penjaga kecil yang terlalu serius dengan tugas barunya.Athar yang dari tadi beberapa kali melihat jam akhirnya berdiri sambil menepuk paha pelan.“Ayo,” katanya. “Kita pulang dulu.”“Nggak mau. Ini belum malem, Om.” Nayla menjawab duluan.Dio ikut menggeleng keras. “Aku juga nggak mau. Baru aja sore ke sini.”Athar langsung mengembuskan napas panjang sambil mendongak sebentar ke langit-langit kamar. “Supir udah nunggu dari tadi.”“Tunggu bentar lagi,” kata Dio cepat.“Dari tadi juga bilang bentar lagi,” balas Athar.Nayla akhirnya menoleh sedikit. Wajahnya terlihat benar-benar keberatan. “Aku mau jagain adik.”“Adiknya tidur,” jawab Athar sabar.“Aku tau,” balas Nayla. “Kalau dia bangun, dia juga belum bisa ngajak ngobrol,” sahut Athar. Dio ter

  • KAMAR KEDUA   Bab 211. Sheza Memperhatikan 

    Dari sejak pagi, Sheza mulai sadar ada yang aneh dengan tubuh Satria.Bukan wajahnya.Karena luka kecil di pelipis dan sudut bibir itu masih bisa dianggap lecet biasa. Bisa saja Satria terlibat perselisihan antar sesama pria. Baginya sendiri … itu tidak terasa aneh bagi seorang Satria yang ia kenal.Namun … ada yang aneh dengan cara pria itu bergerak. Terasa tidak biasa.Kadang bahu terlihat kaku saat mengangkat Saga. Kadang napasnya berhenti sepersekian detik saat berdiri dari sofa. Dan beberapa kali Sheza menangkap Satria seperti menahan nyeri saat lengannya bergerak terlalu jauh.Satria tidak mengaduh atau meringis. Tidak mengatakan apa-apa seperti biasa. Tapi jelas ada sesuatu yang ditahannya.Selebihnya … Satria tetap berjalan ke sana kemari membantu mengambil air minum, membetulkan selimut, atau mengangkat Saga seolah tubuhnya baik-baik saja.Namun justru hal itu yang membuat Sheza semakin gelisah. Karena Satria biasanya memang lebih diam saat sesuatu benar-benar serius terjadi.

  • KAMAR KEDUA   Bab 32. Jarak yang Mulai Menyempit

    Satria mengangguk, seolah jawaban itu sudah ia perkirakan. Mobil melambat ketika melewati polisi tidur. Terlalu halus untuk disebut kebetulan. Sheza memperhatikan satu hal kecil lain; AC mobil dinaikkan sedikit. Suhu yang ideal untuk ia dan Dio yang sedang tidur. “Kamu lama di sana?” tanya Satri

    last update最終更新日 : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 37. Selama Badai Belum Reda

    Di tepi kolam renang, lima pria masih duduk bertukar cerita. Topik pembahasan masih sama. Acara hari Jumat. Vian dan Roman bertukar cerita tentang jadwal. Julian mengamati raut serius Arga yang masih memegang amplop cokelat pemberian Satria barusan. Arga membacanya perlahan, sesekali berhenti, lal

    last update最終更新日 : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 26. Seiris Masa Lalu

    Usai pembicaraan di ruang makan, Satria terjaga lebih lama dari biasanya. Ia tidak mengantuk meski tanpa kopi. Topik soal pekerjaan tadi memang masih menggantung di kepalanya. Bukan karena ia keberatan. Sheza atau wanita mana pun yang meminta pendapatnya, ia tak akan keberatan dengan ide bekerja.

    last update最終更新日 : 2026-03-19
  • KAMAR KEDUA   Bab 30. Hidup Tetap Harus Berjalan

    “Bu Sheza mau keluar?” Sheza menoleh ke belakang dan melihat Tuti berdiri dengan selembar kertas di tangannya. Ia memang baru saja menyampirkan slingbag cokelat ke bahunya. “Iya, Mba. Kayaknya aku bakal sampai malam karena sekalian mau ke rumah ibuku. Pulang sekolah Dio dibawa ke sana sama Athar

    last update最終更新日 : 2026-03-19
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status