Inicio / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 52. Hari Sudah Terang

Compartir

Bab 52. Hari Sudah Terang

Autor: juskelapa
last update Última actualización: 2026-01-21 23:50:01
Satria masih duduk di tepi ranjang dengan jarak yang sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran dua orang yang belum sepenuhnya saling menerima.

Jarak mereka saat itu bahkan terasa lebih panjang daripada pelukan kemarin. Saat itu tangan Satria masih berada dalam genggaman Sheza. Wanita itu mengepalnya, lalu mendekapnya. Seolah tangan itu adalah benda yang aman untuk dibawa tidur. Sesuatu yang bisa dipeluk tanpa perlu sadar.

“Hmmm…Mas…,” gumam Sheza.

“Ya?” jawab Satria pelan.

Ia tidak pedul
juskelapa

Semua narasi di cerita ini tidak ditulis sia-sia. Semua selalu diusahakan indah dan penting. Untuk dimengerti dan untuk menemani. Love, SheSat Couple.

| 99+
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (22)
goodnovel comment avatar
Desi Permatasari
cerita nya tidak bertele-tele
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
karya kk jush emang gda dua y, selalu keren bahasa yg gampang di mengerti meski itu istilah2 di satu bidang tertentu seperti di bid hukum. the best lah pokok y
goodnovel comment avatar
Siti Rofikoh
makasi thor atas novelx amat bermanfaat buat saya
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • KAMAR KEDUA   Bab 126. Bukan yang Mama Pikir

    Garpu itu berhenti.Nasi beruang yang tadi ditekan sampai rusak kini diam di ujung sendok. Nayla menatapnya beberapa detik, seperti sedang menenangkan sesuatu di dalam dadanya.Lalu ia menarik napas kecil.“Papa nggak akan pernah ninggalin aku,” katanya pelan.Nadine tersenyum tipis. “Mama juga nggak bilang Papa ninggalin.”“Tapi Mama ngomongnya bikin aku takut.” Kalimat itu keluar tanpa marah dari mulut Nayla.Nadine sedikit terdiam.Nayla menaruh sendoknya pelan. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi suaranya berusaha tenang. “Papa kalau peluk aku itu beda,” lanjutnya.“Beda bagaimana?” tanya Nadine.Nayla berpikir sebentar, mencari kata yang ia punya. “Kalau Papa peluk aku, Papa nggak liat jam,” kata Nayla pelan.“Papa nggak sambil pegang HP. Papa nggak sambil bilang, ‘Sebentar ya.’”Sunyi turun tipis. “Aku juga nggak pernah dengar Ibun minta apa-apa sama Papa,” tambah Nayla. “Ibun cuma bilang Papa juga harus istirahat, jangan kerja terus.”Nadine menyilangkan tangan di dada. “Kamu

  • KAMAR KEDUA   Bab 125. Bukan Bekal Biasa

    Pertanyaan Nadine itu keluar begitu ringan. Nayla masih berdiri di depan meja makan. Kantong pink itu sudah tergeletak di atas meja. Tangannya belum juga melepaskan pegangan tasnya. “Ibun … ya Ibun,” jawabnya pelan.Nadine mengangkat alis tipis. “Mama nggak pernah ngajarin kamu manggil orang sembarangan pakai sebutan begitu.”Nayla terdiam.Ia membuka resleting tas pink itu pelan, seolah mencari waktu. Kotak bekal itu ia keluarkan dengan hati-hati dan diletakkan di atas meja granit yang dingin.Nadine memperhatikan setiap gerakan itu. “Kamu makan di sana?” tanyanya.Nayla menggeleng. “Belum.”“Kenapa?”“Aku mau makan di rumah.” Jawaban itu sederhana. Tapi nadanya membuat Nadine menyipitkan mata.“Kenapa nggak makan di sana saja?” lanjut Nadine.Nayla membuka tutup kotak itu perlahan. Nasi berbentuk beruang kecil masih utuh, sedikit mengeras di sudutnya. Sosis bunga. Telur gulung yang mulai pucat. “Biar bisa makan pelan-pelan,” jawab Nayla.“Pelan-pelan?” Nadine tersenyum tipis. “Atau

  • KAMAR KEDUA   Bab 124. Cahaya di Balik Pintu

    Satria tidak langsung masuk seluruhnya. Ia membuka sepersekian, cukup untuk membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gelap.Cahaya tipis memang berasal dari meja kerja Prabu. Lampu meja kecil menyala redup, terarah ke permukaan kayu yang penuh bayangan.Di sudut ruangan, dekat lemari arsip, seseorang sedang membungkuk. Jaket hitam. Gerakan cepat tapi hati-hati. Seperti orang yang sudah tahu apa yang ia cari atau justru sedang panik karena tidak menemukannya.Satria melangkah masuk.Selangkah. Dua langkah.Lantai berkarpet memantulkan bunyi halus di bawah sepatu kulitnya.Pria itu berhenti.Hanya sepersekian detik.Tidak menoleh.Lalu refleks.Tubuhnya berputar setengah, cukup bagi Satria menangkap siluet wajah yang tertutup bayangan. Tanpa sepatah kata pun, pria itu berlari dan melompat keluar jendela yang memang sudah terbuka setengah.Angin malam masuk mendadak.Jendela itu mengarah ke balkon kecil. Tidak terlalu tinggi. Dua lantai saja. Cukup bagi orang yang nekat untuk turun ce

  • KAMAR KEDUA   Bab 123. Pelabuhan dan Cerita Bekal

    Pria itu menghindari tatapannya. “Ini prosedur, Pak.”Satria tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Prosedur tidak berubah dalam semalam.”“Kadang ada penyesuaian,” sahut pria itu lagi.“Penyesuaian atau intervensi?” suara Satria masih rendah, tapi setiap kata terdengar jelas.Petugas itu menarik napas. “Kami hanya menjalankan perintah.”“Perintah siapa?”Sunyi.Di luar, klakson kapal terdengar pendek. Satria melangkah lebih dekat ke meja. Ia berdiri terlalu dekat untuk diabaikan. Sebelum bicara terlihat Satria menarik napas pelan.“Manifest ini sudah diverifikasi tiga hari lalu. Nomor registrasi, berat muatan, rute, semuanya sudah sesuai. Kalau ada kekurangan, tunjukkan pasalnya.” Ia tak melepaskan pandangannya sedetik pun dari petugas yang mulai kehilangan keberanian.Petugas itu membuka-buka berkas lagi. Tangannya sedikit gemetar. “Bagian tanda tangan digital—”“Sudah tervalidasi sistem pusat,” potong Satria tenang. “Saya punya salinannya.”Ia mengeluarkan ponsel, menu

  • KAMAR KEDUA   Bab 122. Angin Dingin di Tikungan 

    Suasana hening beberapa saat. Petugas di depan mereka ikut menegang. “Apakah korban biasa menggunakan lebih dari satu perangkat?” tanya Kanit hati-hati. Satria menjawab tenang, “Seharusnya tidak.” Ia tidak ingin terlalu cepat membuka asumsi. Arga kembali melihat log. “Panggilan ke Alina tercatat semua dari nomor ini,” gumamnya. Satria mengangguk. Berarti nomor lain itu bukan untuk Alina. Bukan untuk keluarga. Bukan untuk sahabat dekat. Lalu untuk siapa? Ruangan terasa lebih dingin. Petugas kepolisian kembali menyimpan semua catatan, foto, dan barang bukti ke dalam map tebal berlabel tanggal kejadian. Helm itu ikut diangkat dari meja—dimasukkan kembali ke plastik transparan yang sudah agak menguning. Arga dan Satria keluar dari ruangan berpendingin dingin itu dengan kepala lebih penuh daripada saat mereka masuk. Helmnya memang pecah. Satria ingat jelas bagaimana sore itu helm Prabu tergeletak beberapa meter dari tubuhnya. Helm mahal itu tidak hancur berkeping-kep

  • KAMAR KEDUA   Bab 121. Ucapan Cinta Pertama

    Esoknya Sheza bangun lebih awal, saat rumah masih sunyi dan udara dingin belum terusir matahari. Ia sudah hafal tubuhnya sendiri, sekitar pukul delapan pusing itu biasanya datang. Jadi sebelum lelah mengejarnya, ia memilih bergerak lebih dulu.Dengan kimono sutra putih melingkari tubuhnya, ia menyalakan lampu dapur. Tangannya bekerja tenang—mencuci beras, mengiris ayam tipis, menumis sayur dengan api kecil. Bekal kali ini bukan untuk anak-anak. Tak ada nasi beruang atau sosis bunga. Hanya susunan sederhana, rapi, untuk orang dewasa.Saat menggulung telur, ia teringat Nayla yang kemarin pulang membawa tas bekal pink dengan wajah cerah. Soal kapan bentonya dimakan, Sheza belum tahu. Ia sempat bertanya pada Satria, dan pria itu hanya berkata, “Tunggu aja. Nanti dia cerita sendiri.”Sheza tersenyum kecil mengingatnya.Delapan tahun lalu, ia membuat kotak bekal pertamanya dengan tangan gemetar. Berjam-jam di dapur. Menonton video berkali-kali. Mengulang potongannya yang terlalu besar. Menc

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status