Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 54. Meja yang Selalu Kosong

Share

Bab 54. Meja yang Selalu Kosong

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-21 23:50:14
Sheza tidak pernah berniat jatuh cinta hari itu. Ia hanya ingin makan siang dengan tenang. Cafe kecil itu bukan tempat istimewa. Letaknya di sudut jalan yang agak masuk dan selalu ramai di jam makan siang. Salah satu alasannya memilih cafe itu bukan karena masakannya enak. Toh, ia kadang membawa bekal sendiri. Ia memilih cafe itu karena murah dan pemiliknya pria tua yang ramah.

Juga … cafe itu dekat dengan tempat kerjanya waktu itu, dan karena di sana ia bisa duduk lama tanpa ditanya-tanya pela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (30)
goodnovel comment avatar
Marlena Mrndf
huhuhu satria mundur krn dia sadar dia milik orang lain
goodnovel comment avatar
Larose
lega...akhirnya teka teki Satria,Sheza dan Prabu terungkap btw sejelek apa prilaku Nadine hingga Prabu bahkan enggan menyebut nya
goodnovel comment avatar
Aisyah Ai
hahhh akhirnya teka teki ku terjawab d bab 54,ok lanjut bc lg!!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 353. Apa yang Diinginkan Nadine

    Setelah beberapa hari tenggelam dalam kesibukan memimpin perusahaan, ia mendapat laporan perkembangan hasil kerja gedung. Bagian kolom gedung sudah selesai. Bersamaan dengan itu, ia kembali teringat obrolannya bersama Damar soal makan malam.Malam itu, lewat pukul sepuluh, Nadine baru menyetir sendiri pulang dari kantor. Jalanan Jakarta yang biasanya ramai sudah lengang, tapi pikirannya justru mengembara ke banyak hal yang selama ini jarang ia izinkan muncul.Setelah Satria, tentu ada beberapa orang yang pernah mencoba mendekatinya. Entah karena ia memang belum benar-benar berdamai dengan masa lalu, atau karena kenyamanan yang ia rasakan sekarang terasa berbeda, Nadine tidak pernah benar-benar berpikir untuk meladeni percakapan lebih jauh dengan siapa pun. Semuanya berhenti di basa-basi, lalu lenyap begitu saja dari ingatannya.Berbeda dengan Damar.Damar baginya seperti teman ngobrol yang menyenangkan. Mereka nyambung, entah bagaimana caranya. Damar easygoing, dan anehnya, cukup saba

  • KAMAR KEDUA   Bab 352. Nasi Goreng Sepiring Berdua

    Mobil Damar melaju pelan menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang. Nadine duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota berkelip di kejauhan."Kita ke mana?" tanyanya akhirnya."Gultik," jawab Damar singkat, matanya tetap di jalan. "Di Blok M. Udah pernah coba?"Nadine menggeleng. "Gultik? Namanya lucu.”"Katanya sih kepanjangannya gulai tikungan. Porsinya kecil-kecil, jadi setelah gultik, kita bisa makan yang lain.” Damar tersenyum, memperhatikan anggukan Nadine dan sepasang mata wanita yang bercahaya. Ia lalu membelokkan mobil ke arah Blok M.Mereka berhenti di deretan gerobak yang berjejer di pinggir jalan, asap mengepul dari arang yang menyala, aroma daging bercampur bumbu gulai memenuhi udara malam. Damar memesan dua porsi tanpa bertanya dulu, lalu duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang ketika Nadine ikut duduk."Ini aman buat perut Ibu?" tanya Damar, sedikit meragu begitu makanan datang—sepiring nasi putih yang disiram gulai."Saya

  • KAMAR KEDUA   Bab 351. Mahasiswa Baru

    Setelah mengiyakan tawaran Damar, siang itu Nadine sudah berjalan beberapa langkah di belakang Damar, menyusuri koridor gedung Fakultas Teknik yang dindingnya dipenuhi poster seminar, kegiatan kampus atau pengumuman tugas akhir. Beberapa mahasiswa yang berpapasan dengan mereka menoleh, lalu berbisik-bisik pelan begitu melewati keduanya.Pembicaraan para mahasiswa yang mengenal Damar itu terdengar berbisik-bisik. "Pak Damar bawa tamu?""Itu kayaknya klien proyeknya, deh."Damar tidak menghiraukan bisikan-bisikan itu. Ia berjalan santai, sesekali menyapa mahasiswa yang menyapanya lebih dulu, tangannya membawa map berisi slide presentasi yang sudah dicetak."Kelasnya penuh?" tanya Nadine, suaranya pelan."Lumayan. Ini kelas struktur lanjut, semester akhir. Nggak terlalu besar, sekitar tiga puluh orang." Damar membuka pintu ruang kelas, lalu mempersilakan Nadine masuk lebih dulu. "Duduk di belakang aja, Bu. Biar nggak ganggu konsentrasi mereka. Mereka pasti penasaran siapa tamu yang data

  • KAMAR KEDUA   Bab 350. Cerita yang Bergerak Maju

    Nadine berhenti sejenak, tangannya yang sedang memegang gelas air putih melambat di udara. "Aku cuma mau Papa tau perkembangannya jelas.""Jelas banget, malah," sahut Pak Salim, kali ini dengan nada menggoda yang jarang sekali ia pakai pada putrinya. "Sampai gaya kerjanya, cara dia nyusun jadwal, cara dia bikin opsi cadangan—semua kamu hafal."Nadine meletakkan gelasnya, berusaha terdengar biasa saja. "Gedung itu kan proyek tambahan aku, Pa. Aku cuma berusaha menjaga kepercayaan Papa.”Pak Salim tersenyum tipis, lalu kembali meraih tabletnya, seolah tidak ingin membuat putrinya terlalu tersudut. "Kedengarannya Pak Damar ini orangnya simpatik, ya. Atau apalah namanya—orang yang gampang bikin orang lain nyaman kerja sama dia."Nadine tidak langsung menjawab. Ia meraih tasnya dari kursi sebelah, berdiri lebih cepat. "Aku berangkat dulu, Pa," katanya, suaranya sedikit lebih cepat dari biasanya. "Nanti aku kabari lagi perkembangannya."Ia mendekat untuk mencium pipi ibunya yang sejak tadi

  • KAMAR KEDUA   Bab 349. Mulai Berbeda

    Esok harinya Nadine sudah bangun lebih awal dari biasanya, siap dengan setelan kerja lengkap. Tapi alih-alih langsung turun ke ruang makan seperti rutinitasnya, ia malah berbelok ke samping rumah, ke tempat mobilnya diparkir semalam oleh Damar.Ia berjalan memutar perlahan, memandangi ban belakang kiri yang sudah terganti dengan ban cadangan. Tanpa sadar, ia berjongkok untuk memperhatikannya lebih dekat—baut-baut terpasang rapi, tidak ada bekas kotor di velg, bahkan posisi bannya terlihat presisi seolah dipasang oleh mekanik profesional, bukan seseorang yang mengerjakannya sendirian di pinggir jalan tengah malam."Rapi juga kerjanya," gumamnya pelan, lebih pada diri sendiri daripada siapa pun.Ia berdiri, lalu tanpa benar-benar berpikir panjang, membuka pintu pengemudi dan duduk di sana. Tangannya meraih ke konsol tengah—bukan mobilnya sendiri yang ia duduki semalam, tapi kebiasaan tangannya seakan masih mengingat ke mana harus menjangkau.Ia tersadar itu mobilnya sendiri, bukan Volvo

  • KAMAR KEDUA   Bab 348. Kedua Sudut Pandang

    Nadine duduk di balik kemudi SUV hitam itu—sebuah Volvo. Ia menyesuaikan posisi spion, lalu mulai berjalan pelan menuju rumahnya, tanpa perlu menoleh ke belakang untuk tahu Damar pasti sudah mengikuti.Dasbornya bersih, nyaris steril. Tidak ada tisu berserakan, tidak ada kemasan permen atau struk parkir yang menumpuk seperti yang biasa ia lihat di mobil kebanyakan orang. Hanya ada pengharum mobil kecil yang terpasang di ventilasi AC, aromanya seperti kopi hitam, tidak menyengat, hanya samar dan hangat.Di bagian tengah konsol, ada charger ponsel tergulung rapi, dan di sampingnya—Nadine hampir tertawa melihatnya—segepok uang pecahan lima ribu, terikat karet gelang.Ia tersenyum kecil. Untuk hal itu, mereka ternyata sama. Selalu siap sedia uang receh untuk tol atau parkir dadakan, kebiasaan orang-orang yang terlalu sering terjebak macet dan malas repot mencari uang pas.Senyum itu bertahan beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari, sampai akhirnya ia sendiri merasa aneh dengan ekspr

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status