Accueil / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 54. Meja yang Selalu Kosong

Partager

Bab 54. Meja yang Selalu Kosong

Auteur: juskelapa
last update Date de publication: 2026-01-21 23:50:14
Sheza tidak pernah berniat jatuh cinta hari itu. Ia hanya ingin makan siang dengan tenang. Cafe kecil itu bukan tempat istimewa. Letaknya di sudut jalan yang agak masuk dan selalu ramai di jam makan siang. Salah satu alasannya memilih cafe itu bukan karena masakannya enak. Toh, ia kadang membawa bekal sendiri. Ia memilih cafe itu karena murah dan pemiliknya pria tua yang ramah.

Juga … cafe itu dekat dengan tempat kerjanya waktu itu, dan karena di sana ia bisa duduk lama tanpa ditanya-tanya pela
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (30)
goodnovel comment avatar
Marlena Mrndf
huhuhu satria mundur krn dia sadar dia milik orang lain
goodnovel comment avatar
Larose
lega...akhirnya teka teki Satria,Sheza dan Prabu terungkap btw sejelek apa prilaku Nadine hingga Prabu bahkan enggan menyebut nya
goodnovel comment avatar
Aisyah Ai
hahhh akhirnya teka teki ku terjawab d bab 54,ok lanjut bc lg!!!
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • KAMAR KEDUA   Bab 339. Silaturahmi Kebetulan?

    Setelah selesai makan, Roman membayar dua porsi mie ayam. Rania sempat menawarkan untuk membayar bagiannya sendiri, tetapi Roman menolaknya."Kali ini biar aku aja," katanya.Rania mengangkat alis. "Kali ini?" Setelah kali ini, apakah artinya akan ada kali lainnya?, batinnya.Roman terdiam sebentar, kemudian tersenyum. "Kalau kamu mau."Rania tidak langsung menjawab. Ia hanya mengambil tasnya. "Ya sudah."Mereka meninggalkan gerobak pedagang. Udara malam terasa lebih sejuk. Jalan di depan rumah sakit mulai lengang, hanya beberapa kendaraan yang sesekali melintas."Kos kamu benar-benar dekat?" tanya Roman."Dekat.""Biasanya jalan kaki?""Iya. Di sana," katanya, menunjuk lokasi di seberang rumah sakit.Roman melihat arah jalan yang ditunjuk Rania. "Saya temenin.""Nggak usah, Mas.""Kenapa?""Sudah malam.""Karena udah malem, makanya ditemenin. Yuk."Rania terdiam, lalu akhirnya mengangguk. "Ya sudah."Mereka berjalan berdampingan. Tidak ada kendaraan di antara mereka, tidak ada jarak

  • KAMAR KEDUA   Bab 338. Percakapan di Tepi Jalan

    Pedagang mie ayam yang mereka datangi hanya berupa gerobak, meja panjang, dan bangku-bangku plastik yang disusun rapi. Malam itu bagian ujung meja terisi dua orang pekerja rumah sakit yang baru pulang, serta seorang pria muda yang tampilannya seperti mahasiswa yang tinggal di sekitar rumah sakit.Rania berjalan di samping Roman. Awalnya ia masih sedikit canggung, sesekali tangannya merapikan tali tas yang menggantung di bahu, sementara Roman berjalan santai di sebelahnya."Sering makan di sini?" tanya Rania."Lumayan." Roman merapikan bangku untuk Rania. "Kalau lagi praktik sampai malam, kadang mampir." Padahal yang barusan dikatakannya itu sebuah kebohongan kecil—ia tidak pernah makan di sana. Hanya melihat gerobak itu sesaat sebelum berbelok ke rumah sakit tadi.Rania duduk. "Berarti rumah sakit Mas Roman juga dekat dari sini?""Nggak terlalu dekat. Saya praktik di Jakarta Selatan.""Oh." Rania mengangguk kecil. "Kalau di sini Jakarta Barat, Jakarta Selatan itu jauh nggak, ya? Saya

  • KAMAR KEDUA   Bab 337. Saling Bercerita

    Pulang dari rumah sakit malam itu belum terlalu larut seperti kemarin. Rania langsung membereskan pakaian kotor dan bersih-bersih untuk bersiap tidur. Saat berbaring, ia mengingat-ingat lagi yang terjadi hari itu.Ia mengulang beberapa hal yang dipelajarinya—tentang membedakan kontraksi persalinan dengan kontraksi palsu, membaca perkembangan pembukaan dari partograf, sampai mengenali perubahan kecil pada kondisi ibu yang bisa menjadi tanda awal komplikasi. Ada pula beberapa tips dari bidan pembimbing tentang kapan harus lebih waspada dan kapan sebuah kondisi masih bisa diobservasi.Semakin lama berada di rumah sakit, Rania mulai memahami bahwa kebidanan bukan sekadar menghafal teori. Yang lebih sulit adalah membaca situasi dan mengambil keputusan pada waktu yang tepat.Namun, dari semua yang berputar di kepalanya malam itu, ada satu hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan rumah sakit.Roman.Pria yang hampir dua minggu ini terus menghujaninya dengan makanan enak.Rania mengerutk

  • KAMAR KEDUA   Bab 336. Percikan yang Mulai Tersebar

    Malam itu, Rania berbaring di kasur kosnya dengan kedua tangan terlipat di bawah kepala. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar yang sejak beberapa hari terakhir mulai terasa akrab, meski belum sepenuhnya terasa seperti rumah.Pikirannya kembali pada satu hal yang sejak tiga hari lalu belum juga terjawab.Saudara-nya Roman.Sudah tiga hari pria itu datang ke rumah sakit membawa makanan untuknya dengan alasan yang sama. Katanya, ada saudaranya yang juga sedang menjalani praktik klinik di rumah sakit tersebut.Tapi sampai sekarang, Rania belum pernah melihat orangnya.Tidak ada nama dan jurusan yang jelas.Bahkan tidak ada satu pun perawat atau mahasiswa praktik lain yang pernah menyebut ada peserta praktik baru yang memiliki hubungan keluarga dengan Roman—pria yang sering menunggunya di lobby.Rania mengembuskan napas pelan.Mungkin memang kebetulan.Bisa saja jadwal praktik mereka berbeda. Bisa jadi saudaranya berada di ruangan lain. Rumah sakit itu cukup besar dan mahasiswa prakt

  • KAMAR KEDUA   Bab 335. Pendekatan Tak Biasa

    "Maksudnya ini buat saya?" tanya Rania, memandang kopi dan paper bag yang dijejalkan ke tangannya."Buat kamu," kata Roman, memandang sekeliling. Rania tetap menatapnya dengan sorot curiga."Bapak benar-benar temannya Kak Sheza dan Mas Satria? Apa kita pernah ketemu sebelumnya?""Pernah. Maksudnya saya pernah lihat kamu. Tapi kamu nggak lihat saya." Roman kembali tersenyum.Rania memandang kopi di tangannya, lalu berkata pelan, "Tapi saya nggak minum kopi."Wajah Roman mendadak berubah, binar cerianya hilang. "Umm… nggak minum kopi? Tumben," katanya."Tumben? Siapa yang tumben?"Roman menggeleng lemah, sorot optimisnya padam seketika. Ia hampir saja bilang aneh kalau gadis seusia Rania tidak minum kopi—biasanya gadis-gadis yang ia ajak keluar di akhir pekan akan berakhir duduk di coffee shop, memesan berbagai varian kopi dan camilan manis kesukaan mereka."Itu… yang di dalam paper bag ada cake." Roman menyentuh paper bag di tangan Rania. "Kamu suka cake, kan?"Lagi-lagi Rania menggele

  • KAMAR KEDUA   Bab 334. Gerak Cepat

    Tak perlu waktu lama bagi Satria untuk tahu kalau Roman sedang membutuhkan sesuatu dari Athar. Tidak ada yang membuat Roman bisa seramah dan sepersuasif itu selain keperluannya sendiri.Anak-anak yang mengambilkan Roman jagung dan hasil panggangan menyerahkan piring itu pada pria itu sesaat kemudian.Menjelang pukul sembilan, anak-anak sudah tidak terlihat lagi di dekat kolam renang. Nayla mengajak Violetta ke kamarnya, sedangkan Dio sudah pamit lebih dulu karena mengantuk.Satria baru saja kembali keluar setelah meletakkan Sagara di kamar. Kini ia berdiri di sebelah Sheza."Jamuan malam ini benar-benar luar biasa. Gue kekenyangan, Sat." Vian mengusap perutnya, merangkul Tania yang tersenyum-senyum di sebelahnya."Ntar kapan-kapan di rumah lo ya. Biar lain kali ikutan manggang." Arga menimpali dari sisi lain, dengan Wenny yang berdiri memeluk pinggangnya."Semua makanannya enak. Terutama bumbu barbeque-nya. Sheza yang bikin katanya." Wenny tersenyum menatap Sheza."Dari dulu Sheza sel

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status