Beranda / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 58. Bayang Dunia Lama

Share

Bab 58. Bayang Dunia Lama

Penulis: juskelapa
last update Tanggal publikasi: 2026-01-22 23:48:18
Satria melangkah lebih dalam ke rumah dan menutup pintu ruang kerjanya dengan gerakan pelan tapi pasti. Ruangan itu sunyi dengan aroma kayu dan kertas. Tempat ia biasa mengambil keputusan tanpa perlu disaksikan siapa pun.

Nama di layar ponsel masih menyala.

Salim Prajogo Kertasoedibyo.

Satria berdiri beberapa detik sebelum menjawab. Energi tubuhnya mengenali nama itu sebagai sesuatu yang lama, berat, dan tidak pernah benar-benar pergi.

“Selamat pagi, Pak,” sahut Satria akhirnya. Suaranya
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (34)
goodnovel comment avatar
Desi Permatasari
lanjut kak njus
goodnovel comment avatar
Siela Roslina
lanjut kak
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Mas sat merinding sebadan-badan deh tangan nya di pegang Sheza hihihi Lanjut kak jus
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • KAMAR KEDUA   Bab 205. Bantuan Kawan

    Satria masih terbatuk saat motornya memasuki halaman rumah sakit. Asap kebakaran gudang yang dipenuhi kertas dan debu membuat tenggorokannya terasa terbakar sejak tadi. Napasnya kasar. Pendek. Setiap tarikan udara terasa menyakitkan di dadanya.Peluh membasahi tubuhnya bersama debu, pasir, dan jelaga hitam yang menempel di jaket kulitnya. Jaket itu bahkan nyaris tak berbentuk lagi. Sobek di beberapa bagian. Gelap oleh darah yang mulai mengering.Motor besar itu melambat mendekati sisi gedung IGD.Dari kejauhan Vian langsung berjalan cepat menghampirinya.“Sini—sini!” seru Vian, melambai.Satria mematikan mesin motornya tak jauh dari Vian.Brak.Kakinya turun menahan tubuhnya sendiri beberapa detik sebelum akhirnya ia melepas helm perlahan.Pelipisnya bengkak. Sudut bibirnya pecah. Dan darah di lehernya sudah mengering sampai ke kerah baju.Roman langsung mendekat lalu berputar sedikit mengamati tubuh Satria dari samping.Ia berdiri sambil menenteng tas gym hanya bisa menatap beberapa

  • KAMAR KEDUA   Bab 204. Malam Penebusan

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Sesaat sebelumnya suara dua motor masih meraung liar di jalan raya pelabuhan.Brraaaammm!Satria sudah dua kali berhasil memotong kendaraan besar untuk mempersulit si kidal. Tapi pria itu masih terus menempelinya.Masih sejajar. Masih mencoba menjatuhkannya.Brak!Sekali lagi stang motor si kidal menghantam sisi kanan motor Satria.Motor besar itu berguncang keras. Nyaris menghantam kendaraan di sisi kirinya. Namun Satria tetap bertahan.Ia langsung mengambil sisi kanan sebuah truk kontainer besar di depannya. Menempel sangat dekat dengan truk itu. Terlalu dekat bahkan untuk ukuran motor besar.Si kidal menyusul di sampingnya.Lalu melakukan hal yang pernah ia lakukan pada Prabu. Sengaja terus mendesak dari kanan. Berusaha kembali membuat Satria menghantam badan truk. Suara besi bergesekan nyaris terdengar. Namun tepat beberapa meter sebelum ruang di depan menutup … Satria memutar gas penuh.Brraaaammm!Motornya melon

  • KAMAR KEDUA   Bab 203. Rencana Cadangan 

    Beberapa hari sebelumnya saat Satria dan Arga sudah terlalu lelah membahas Hendra Kusuma Wijaya, ada obrolan santai yang keluar dari mulut mereka. Obrolan itu seperti janji yang tidak dramatis.Hanya obrolan pria yang membicarakan sesuatu yang terdengar seperti candaan buruk.Tentang gudang nomor tujuh belas.Tentang kemungkinan paling gila yang bisa dilakukan Satria.“Kalau gue nekat masuk ke gudang itu dan ngerampok semua isinya…” Satria memutar gelas di tangannya. “Lo bakal ngapain?”Arga langsung mendengkus. “Gue bakal cegah lo.”Satria tertawa kecil. “Segitunya?”“Karena itu ide paling goblok yang pernah gue dengar dari lo.” Arga tertawa.Julian yang duduk di sofa lain ikut tertawa pendek sambil memainkan korek api.Namun Satria tetap diam. Tatapannya serius. “Hm…” ia mengangguk pelan. “Tapi gimana kalau lo nggak bisa cegah gue?”Ruangan itu sempat hening beberapa detik. Arga menatap Satria lama sebelum akhirnya mengembuskan napas kasar.“Kalau gue nggak bisa cegah lo…” katanya p

  • KAMAR KEDUA   Bab 202. Persalinan Maju

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria sempat oleng ketika si kidal menghantam setangnya.Brak!Motor besarnya bergeser liar beberapa senti ke samping.Namun refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari rasa sakit di bahunya. Dalam sepersekian detik Satria kembali menguasai motor itu. Tangannya mencengkeram setang lebih erat sementara ban motornya kembali lurus membelah jalan.Sisi kirinya kosong.Tanpa ragu ia membelokkan motor sedikit ke kiri. Si kidal tetap menempel dari sisi kanan.Terus di sana.Terus mencoba mencari celah.Sorot mata Satria menyipit di balik visor helmnya. Ia mencoba membaca gerakan lawannya.Cara pria itu mengambil tikungan. Cara pria itu menahan stang. Cara ia menjaga keseimbangan. Dan semakin lama Satria semakin sadar satu hal.Si kidal ternyata tidak terlalu hebat dengan motor.Mungkin hari di mana Prabu kecelakaan memang berbeda. Prabu tidak sadar sedang diburu. Tidak sadar sedang diarahkan menuju kematian.Karena itu Prabu le

  • KAMAR KEDUA   Bab 201. Duel Sesungguhnya

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Satria meraih sebotol air mineral dari dalam ranselnya.Tanpa pikir panjang, air itu langsung disiramkannya ke kepala sendiri. Membasahi rambut, wajah, sampai lehernya yang panas terkena hawa api.Sisanya ia tuang ke handuk kecil yang juga diambil dari dalam tas.Handuk basah itu langsung menutupi hidung dan mulutnya.Persiapan kecil yang bahkan tadi terasa berlebihan saat ia memasukkannya ke dalam ransel. Tapi sekarang … justru menyelamatkannya.Sejak berangkat menuju gudang nomor tujuh belas, ada bayangan aneh yang terus mengganggu kepalanya. Bayangan tentang dirinya yang mungkin tidak akan dibiarkan keluar begitu saja dari tempat itu.Dan karena pikiran gila itulah, tanpa sadar ia membawa benda-benda yang bahkan tidak ia rencanakan sebelumnya.Kakinya mulai terseret saat berjalan menuju pintu gudang.Bahu belakangnya berdenyut semakin liar. Asap membuat pandangannya kabur. Tapi ia tetap memaksa bergerak. Tangannya me

  • KAMAR KEDUA   Bab 200. Luka Untuk Menang

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Tatapan Satria dan si kidal beradu di tengah kobaran api yang mulai membesar.Tatapan yang sama-sama gelisah. Sama-sama menghitung kemungkinan hidup.Mata Satria bergerak cepat. Ke ranselnya yang tergeletak di dekat kaki rak besi. Lalu ke pintu gudang yang masih terkunci rantai. Dan terakhir … ke jerigen bensin yang terguling miring, membiarkan cairannya terus mengalir pelan di lantai.Sementara itu si kidal menoleh ke arah rak roboh yang menimpa tubuh rekannya. Pria besar itu tak bergerak sama sekali di bawah tumpukan besi.Lalu matanya ikut berpindah ke pintu. Ke api. Ke bensin. Dan akhirnya … kembali ke Satria.Keduanya menyadari hal yang sama. Mereka tidak lagi sedang bertarung untuk menang. Mereka sedang berebut keluar hidup-hidup dari gudang yang sebentar lagi berubah jadi neraka.“‘Kita perlu berkas-berkas di gudang nomor tujuh belas buat jadi barang bukti.’”Suara Arga kembali terngiang di kepala Satria.Namun t

  • KAMAR KEDUA   Bab 79. Telepon Malam

    Lampu ruang kerja masih menyala ketika ponsel Satria bergetar untuk kesekian kalinya malam itu. Berkas-berkas dari kantor Prabu terbuka di meja. Beberapa map sudah ia pilah. Beberapa angka ia lingkari dengan pena merah. Ada pola yang tidak rapi, dan ketidakteraturan itu membuatnya belum bisa berhent

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 75. Udara yang Tidak Cukup

    Hari terasa berlalu tanpa jeda. Satria kembali tenggelam ke ritme yang dikenalnya sejak lama. Deru pelabuhan, suara derek, bau solar, dan dokumen yang berpindah tangan lebih cepat daripada percakapan. Pagi ke malam, malam ke pagi. Seolah hidupnya kembali ke mode lama. Tapi kali ini, bukan hanya u

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 77. Pria Dingin Itu

    Ruang rawat itu terlalu terang untuk sebuah pagi yang seharusnya tenang. Tirai tipis hanya menahan cahaya setengah hati. Bau antiseptik menggantung, bersih dan dingin. Nayla tertidur setelah obat penurun panas bekerja. Napasnya teratur, pipi masih sedikit merah, tapi tidak lagi sepanik semalam. D

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • KAMAR KEDUA   Bab 73. Yang Datang Membawa Tagihan

    Satria tiba lebih dulu. Jam di dashboard mobilnya menunjukkan pukul 06.58 ketika ia memarkirkan kendaraan di depan kafe yang masih setengah mengantuk. Kafe itu bukan tempat yang mencolok. Tidak populer di media sosial, tidak ramai, tidak murah dan justru itu para eksekutif sering memilih tempat i

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status