LOGINCatatan : Masa tunggu / masa Iddah adalah konsep hukum agama Islam. Masa tunggu seorang wanita yang suaminya meninggal [sebelum diperbolehkan menikah lagi] adalah 4 bulan 10 hari, apabila istri tidak dalam keadaan hamil.
Keesokan paginya, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Ada rapat pagi yang berlangsung cukup lama. Nadine mengikutinya dan mengeksekusi jalannya rapat dengan profesional seperti biasanya.Menjelang jam makan siang, seorang klien lama datang untuk bertemu. Nadine menerimanya di lounge khusus. Ia tampil cerdas dan tenang, seperti tidak ada apa pun yang terjadi.Kembali ke ruangannya, ia menyelesaikan tumpukan dokumen yang harus dibaca dan ditandatangani. Tak sampai satu jam kemudian, semuanya telah rampung.Hari itu berjalan seperti biasa.Hanya saja, Nadine lebih banyak diam daripada biasanya.Tanpa terasa, waktu makan siang telah lewat. Jarum jam bahkan sudah menunjukkan pukul dua siang ketika sekretarisnya masuk sambil membawa sebuah amplop cokelat.“Bu ... ini baru saja diantar kurir.” Sekretaris itu meletakkan amplop tersebut di atas meja.Nadine menerimanya tanpa banyak berpikir. “Terima kasih.”Baru saja matanya menangkap logo di sudut kiri atas amplop itu, jantungnya seolah b
“Kamu benar-benar nggak melihat apa yang sedang aku usahakan?” Suara Satria terdengar sangat lirih. Ia terdiam beberapa saat. “Aku pulang supaya bisa makan malam sama kalian. Aku bekerja supaya Nayla tumbuh tanpa merasa kekurangan.” Suasana mendadak sunyi. Nadine menggeleng pelan. “Itu bukan cinta yang aku mau.” Satria memejamkan mata sesaat, lalu kembali menatap istrinya. “Aku nggak sedang membela diri.” Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini terdengar jauh lebih lelah. “Tapi jangan pura-pura nggak tau gimana semuanya berawal, Nadine. Sejak awal aku memang nggak pernah menjanjikan kisah cinta yang sempurna. Dan kamu juga tau itu.” Ia menarik napas pelan. “Aku tau jatuh cinta nggak bisa dipaksa. Perasaan itu tumbuh seiring waktu. Karena itu, selama ini aku berusaha menuju ke sana.” Tatapannya tidak bergeser sedikit pun. “Harusnya ... kamu membantuku. Bukan terus-terusan mengujiku.” Ia berhenti sejenak. “Kita nggak akan pernah bisa melihat perjuangan seseo
Nadine beberapa kali melirik layar ponselnya.Pesan yang ia kirim kepada Satria belum lama terkirim.Sat, kamu diminta jemput aku sekarang. Papa yang minta. Alamatnya aku kirim sebentar lagi.Ia menggigit bibir bawahnya pelan.Entah kenapa, kali ini ia benar-benar berharap Satria membalas seperti biasa."Aku nggak bisa."Atau ..."Masih di pelabuhan."Atau alasan apa pun yang selama ini sudah terlalu sering ia dengar.Namun beberapa detik kemudian, layar ponselnya menyala."Aku ke sana sekarang."Nadine membeku.Sesaat ia tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin kesal.__________Sekitar tiga puluh menit kemudian, pintu ruang private terbuka.Satria muncul dengan pakaian kerja yang masih melekat di tubuhnya. Kemeja putih berlengan panjang itu sudah dipenuhi lipatan halus, sementara bagian lengannya digulung sampai siku. Di salah satu ujung lengan tampak noda tipis bekas debu pelabuhan yang belum sempat dibersihkan. Rambutnya pun tidak lagi serapi saat berangkat pagi. Wajahnya
Nadine belum pernah melupakan kejadian lebih dari enam tahun yang lalu. Bukan karena ia tidak mau melupakannya. Hanya saja … mungkin belum ada ingatan lain yang lebih menyenangkan untuk menghapus soal hari itu.Akhir minggu yang selalu terlihat sibuk. Nayla baru saja mengenakan pakaian renangnya dan dibawa ke belakang oleh babysitter. Nadine sempat mengangguk pada Nayla sebelum ia kembali memasang wajah kesal dan pergi menuju kamar.Pintu kamar tertutup sedikit lebih keras dari biasanya.Nadine meletakkan tasnya di atas sofa dengan wajah masam. Ia bahkan belum sempat mengganti pakaian ketika Satria masuk beberapa detik kemudian. Pria itu baru selesai menerima telepon dari kepala operasional di pelabuhan.“Ada apa?” tanya Satria pelan.Nadine menoleh sekilas. “Besok jadi berangkat lagi?”Satria mengangguk. “Pagi-pagi.”“Hah...” Nadine tertawa hambar. “Lagi.”Satria menangkap nada kecewa itu. Ia melepaskan jam tangannya, lalu meletakkannya di atas nakas. “Aku memang harus berangkat.”“K
“Jangan melupakan apa yang pernah kamu minta kepada Papa,” ucap Pak Salim.Nadanya tetap tenang. Namun justru ketenangan itu membuat Nadine perlahan menggeser piringnya ke samping.“Ucapan yang mana?” balasnya dingin. “Soal aku jatuh cinta sama Satria? Kenapa persoalan basi itu masih terus diungkit?”“Bukan diungkit.” Pak Salim menatap putrinya lekat. “Papa hanya ingin kamu berhenti menyalahkan Papa atas perceraianmu.”Nadine tertawa pendek.“Sebenarnya aku masih bisa mempertahankan pernikahanku.” Tatapannya tak lepas dari wajah sang ayah. “Tapi Papa yang bilang aku harus melepaskan Satria.”Pak Salim menggeleng pelan.“Kamu sendiri yang berkali-kali minta cerai kepada Satria.” Ia menarik napas sebelum melanjutkan. “Sebenarnya kamu mencari apa? Validasi? Kamu berharap Satria memohon-mohon supaya kamu tetap bertahan seperti yang selama ini dia lakukan?”Pak Salim meletakkan korannya sedikit lebih keras.“Dia juga laki-laki, Nadine. Ada batas kesabarannya. Cepat atau lambat dia pasti le
Napas Satria perlahan tertahan.Sebagai orang yang puluhan tahun hidup di dunia pelayaran, ia tahu persis arti perubahan sekecil itu.Perubahan satu kode saja, bisa mengubah seluruh prosedur keselamatan sebuah kapal.Tatapannya kembali jatuh pada tulisan tangan yang ada di sudut halaman."Menunggu klasifikasi akhir dari pihak pengirim.” Ia mengucapkannya sekali lagi.Entah ia yang terlalu ingin menghindar dari lembaran kenyataan yang terlalu berat untuk dibaca ulang atau dulu ia sosok yang belum terlalu ahli dan ceroboh untuk membaca angka rumit dan tulisan-tulisan kecil dengan berbagai istilah di lembaran manifest. Satria tidak tahu.Yang jelas, ia merasa ada sesuatu yang tidak pernah selesai pada hari kapal itu meledak.Namun kali ini ia bertanya pada dirinya sendiri.“Manifest yang mana ... yang akhirnya benar-benar digunakan Papa untuk berlayar?”Satria kembali menatap dua lembar manifest yang terbentang di hadapannya. Kembali membacanya dengan teliti. Khawatir ia yang terlalu le
Sheza sebenarnya ingin langsung masuk ke ruangannya. Ia tidak ingin mengobrol. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Hanya ingin duduk di kursi kerjanya, menatap layar, dan menyelesaikan apa yang tertunda sejak kemarin. Berharap kalau rutinitas bisa menahan kepalanya agar tidak meledak. Di mejanya, ia
Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.
Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare
Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i







