بيت / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 206. Yang Datang, Yang Pergi

مشاركة

Bab 206. Yang Datang, Yang Pergi

مؤلف: juskelapa
last update تاريخ النشر: 2026-05-17 22:56:51

Ruangan persalinan kembali tenang setelah dokter keluar.

Hanya tersisa bunyi monitor dan napas Sheza yang mulai tidak beraturan.

Kontraksi datang semakin rapat sekarang.

Marina duduk di sisi ranjang sambil mengusap punggung Sheza perlahan. Sesekali membantu membetulkan rambut yang mulai menempel di pelipis wanita itu karena keringat.

“Sheza …,” ucap Marina pelan, mencoba mengalihkan fokusnya. “Tau nggak sih … saking misteriusnya Satria ….”

Sheza yang sedang mengatur napas menoleh sedikit.

“…dia
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (8)
goodnovel comment avatar
lilyedy.
Baby Sagara benar2 nunggu ayahnya untuk hadir kedunia ini Perjuanganmu berhasil She selamat y. mas Sat & She
goodnovel comment avatar
carsun18106
baby bener2 nunggu bapaknya ya ^_^
goodnovel comment avatar
Rahma Wati
waaah selamat mas sat n.zee.. selamat punya adek y nay n Dio
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • KAMAR KEDUA   Bab 208. Kabar yang Cepat Sampai

    Roman masih memegang buket bunga itu sambil memperhatikan kartu kecil di tangannya beberapa detik lebih lama.“Teguh,” ulangnya lagi.Lalu matanya bergerak perlahan ke arah Satria yang sedang menggendong Saga.“Siapa Teguh?”Satria bahkan tidak langsung menjawab.Tatapannya masih tertuju pada bayi kecil di pelukannya yang mulai mengantuk setelah kenyang menyusu.Roman menyipitkan mata.“Wah.” Ia menunjuk buket itu. “Kayaknya ujian rumah tangga lo belum selesai, Sat.”Julian langsung terkekeh kecil. “Roman hidup dari gosip orang,” katanya.“Gue hidup dari insting.” Roman mendekat ke sisi Satria sambil menurunkan suara. “Dan insting gue bilang bunga beginian nggak dikirim bos biasa.”Satria akhirnya mendengus kecil. “Tapi memang bos biasa.”“Nah, tau ternyata.” Roman langsung menunjuk Satria penuh kemenangan.Namun sebelum obrolan makin panjang, Saga mulai bergerak kecil di pelukan Satria. Pria itu refleks langsung diam.Gerakannya berubah super hati-hati saat menurunkan bayi laki-laki

  • KAMAR KEDUA   Bab 207. Jam Empat Pagi

    Jam empat pagi membuat ruang bersalin terasa berbeda.Lebih sunyi. Lebih lambat. Seolah dunia di luar sana masih tertidur saat kehidupan kecil yang baru justru sedang dimulai di dalam ruangan itu.Lampu putih di atas ranjang persalinan masih menyala terang. Bunyi monitor kini jauh lebih tenang dibanding satu jam sebelumnya.Dan di atas dada Sheza … ada bayi laki-laki mereka sedang bergerak kecil mencari sumber hangat pertamanya.Tangisan keras tadi sudah berubah menjadi suara rengekan pelan.Satria berdiri sangat dekat di sisi ranjang. Tatapannya tidak lepas sedikit pun dari bayi itu.Raut wajah dingin dan tegang tadi benar-benar berubah. Tak ada kemarahan lagi di sana. Tapi sesuatu yang jauh lebih lembut.Bahkan saat jemari kecil Sagara bergerak menyentuh kulit Sheza, Satria seakan lupa cara bernapas beberapa detik.“Pelan-pelan ya, Dek,” gumam bidan sambil membantu mengarahkan kepala bayi itu sedikit.Lalu … Sagara berhasil menemukan puting Sheza. Mulut kecilnya langsung menyusu ref

  • KAMAR KEDUA   Bab 206. Yang Datang, Yang Pergi

    Ruangan persalinan kembali tenang setelah dokter keluar.Hanya tersisa bunyi monitor dan napas Sheza yang mulai tidak beraturan.Kontraksi datang semakin rapat sekarang.Marina duduk di sisi ranjang sambil mengusap punggung Sheza perlahan. Sesekali membantu membetulkan rambut yang mulai menempel di pelipis wanita itu karena keringat.“Sheza …,” ucap Marina pelan, mencoba mengalihkan fokusnya. “Tau nggak sih … saking misteriusnya Satria ….”Sheza yang sedang mengatur napas menoleh sedikit.“…dia nikah dulu nggak ada yang tau.” Sudut bibir Marina terangkat kecil. “Tiba-tiba udah nikah.”Sheza mencoba tersenyum tipis di sela rasa sakitnya.“Pisah juga sama.” Marina terkekeh kecil. “Tau-tau udah cerai aja.”Kontraksi kembali datang.Sheza langsung memejam sambil menggenggam sisi ranjang lebih erat.Marina mengusap punggungnya pelan.“Tapi…” lanjut Marina lebih lembut, “…kayanya kalau tentang kamu dia lebih banyak ngobrol.”Sheza membuka mata perlahan.“Biasanya dia kalau ada apa-apa ya di

  • KAMAR KEDUA   Bab 205. Bantuan Kawan

    Satria masih terbatuk saat motornya memasuki halaman rumah sakit. Asap kebakaran gudang yang dipenuhi kertas dan debu membuat tenggorokannya terasa terbakar sejak tadi. Napasnya kasar. Pendek. Setiap tarikan udara terasa menyakitkan di dadanya.Peluh membasahi tubuhnya bersama debu, pasir, dan jelaga hitam yang menempel di jaket kulitnya. Jaket itu bahkan nyaris tak berbentuk lagi. Sobek di beberapa bagian. Gelap oleh darah yang mulai mengering.Motor besar itu melambat mendekati sisi gedung IGD.Dari kejauhan Vian langsung berjalan cepat menghampirinya.“Sini—sini!” seru Vian, melambai.Satria mematikan mesin motornya tak jauh dari Vian.Brak.Kakinya turun menahan tubuhnya sendiri beberapa detik sebelum akhirnya ia melepas helm perlahan.Pelipisnya bengkak. Sudut bibirnya pecah. Dan darah di lehernya sudah mengering sampai ke kerah baju.Roman langsung mendekat lalu berputar sedikit mengamati tubuh Satria dari samping.Ia berdiri sambil menenteng tas gym hanya bisa menatap beberapa

  • KAMAR KEDUA   Bab 204. Malam Penebusan

    (Playing track : Spin in the Dark (extended version) - Bela Vibe)Sesaat sebelumnya suara dua motor masih meraung liar di jalan raya pelabuhan.Brraaaammm!Satria sudah dua kali berhasil memotong kendaraan besar untuk mempersulit si kidal. Tapi pria itu masih terus menempelinya.Masih sejajar. Masih mencoba menjatuhkannya.Brak!Sekali lagi stang motor si kidal menghantam sisi kanan motor Satria.Motor besar itu berguncang keras. Nyaris menghantam kendaraan di sisi kirinya. Namun Satria tetap bertahan.Ia langsung mengambil sisi kanan sebuah truk kontainer besar di depannya. Menempel sangat dekat dengan truk itu. Terlalu dekat bahkan untuk ukuran motor besar.Si kidal menyusul di sampingnya.Lalu melakukan hal yang pernah ia lakukan pada Prabu. Sengaja terus mendesak dari kanan. Berusaha kembali membuat Satria menghantam badan truk. Suara besi bergesekan nyaris terdengar. Namun tepat beberapa meter sebelum ruang di depan menutup … Satria memutar gas penuh.Brraaaammm!Motornya melon

  • KAMAR KEDUA   Bab 203. Rencana Cadangan 

    Beberapa hari sebelumnya saat Satria dan Arga sudah terlalu lelah membahas Hendra Kusuma Wijaya, ada obrolan santai yang keluar dari mulut mereka. Obrolan itu seperti janji yang tidak dramatis.Hanya obrolan pria yang membicarakan sesuatu yang terdengar seperti candaan buruk.Tentang gudang nomor tujuh belas.Tentang kemungkinan paling gila yang bisa dilakukan Satria.“Kalau gue nekat masuk ke gudang itu dan ngerampok semua isinya…” Satria memutar gelas di tangannya. “Lo bakal ngapain?”Arga langsung mendengkus. “Gue bakal cegah lo.”Satria tertawa kecil. “Segitunya?”“Karena itu ide paling goblok yang pernah gue dengar dari lo.” Arga tertawa.Julian yang duduk di sofa lain ikut tertawa pendek sambil memainkan korek api.Namun Satria tetap diam. Tatapannya serius. “Hm…” ia mengangguk pelan. “Tapi gimana kalau lo nggak bisa cegah gue?”Ruangan itu sempat hening beberapa detik. Arga menatap Satria lama sebelum akhirnya mengembuskan napas kasar.“Kalau gue nggak bisa cegah lo…” katanya p

  • KAMAR KEDUA   Bab 31. Bukan Tempat Pulang

    “Kami ada surat perjanjian khusus, Bu. Bawa surat dari KUA ke Rukun Warga. Kemarin dibantu tim legal perusahaan Mas Prabu. Aku kurang paham gimana tapi Mas Satria yang urus. Katanya karena kondisi khusus, demi keamanan aku dan Dio.” Sheza menghela napas. Setelah sekian lama mondar-mandir ke pengad

    last updateآخر تحديث : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 35. Isak Seorang Anak

    Satria tidak menjawab cepat. Ia menunggu sampai Nayla mengangkat wajahnya. “Kamu nggak usah mikir sejauh itu,” katanya akhirnya. “Papa urus bagian Papa.” Nayla tersenyum kecil. “Iya. Aku cuma ngomong.” “Kita ke ruang keluarga, yuk. Dio pasti nunggu kamu.” Satria berdiri dari kursi. Nayla ikut

    last updateآخر تحديث : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 36. Hari yang Hampir Normal

    Kalau dihitung dengan benar, hari pernikahan yang sudah mereka daftarkan ke KUA itu dilaksanakan tepat empat hari lagi. Sheza sudah memastikan kalau Athar yang akan menjadi wali nikahnya. Ibunya mengatakan dengan jelas tidak akan hadir dan memilih menjaga Dio di rumah. Entah kenapa Sheza sedikit leg

    last updateآخر تحديث : 2026-03-20
  • KAMAR KEDUA   Bab 32. Jarak yang Mulai Menyempit

    Satria mengangguk, seolah jawaban itu sudah ia perkirakan. Mobil melambat ketika melewati polisi tidur. Terlalu halus untuk disebut kebetulan. Sheza memperhatikan satu hal kecil lain; AC mobil dinaikkan sedikit. Suhu yang ideal untuk ia dan Dio yang sedang tidur. “Kamu lama di sana?” tanya Satri

    last updateآخر تحديث : 2026-03-20
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status