Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 143. Awal Mula Sebuah Kesepakatan 

Share

Bab 143. Awal Mula Sebuah Kesepakatan 

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-03-11 00:00:41

Satria Elang Rylee masuk ke ruang makan itu dengan langkah tenang. Tubuhnya tinggi, rapi dengan setelah jas casual yang dipadukan dengan jeans berwarna gelap. Gesturenya tenang dan percaya diri. Saat masuk ia langsung menyalami Pak Salim lebih dahulu.

“Terima kasih sudah mengundang saya, Pak.”

Pak Salim menepuk lengannya ringan.

“Anggap aja makan malam biasa.”

Lalu Satria menoleh pada Nadine.

“Selamat malam.”

“Selamat malam.”

Nadine tersenyum lembut.

Mereka duduk.

Makan malam dimulai dengan per
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (35)
goodnovel comment avatar
Ratnasih
kalo aku pun pasti jd kepikiran dengan kata2 nadine,apa lagi dengan posisi hamil.
goodnovel comment avatar
Ummi Wahyu
ya nggak mngkin kalo satria nggak ngerasa
goodnovel comment avatar
Christina Natalia
mksh Yo nya kak njus.....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 278. Akhirnya Kumenemukanmu

    “May I have your name?” tanya petugas itu. “Ratriana,” sahutnya singkat."His name?" tanya petugas itu. Ratri menelan ludah. "Calvin Tjandra."Petugas kepolisian itu segera mengetikkan nama tersebut ke dalam sistem.Beberapa detik berlalu belum ada hasil. Dahinya berkerut tipis. Ia menggeleng. "Any other name?"Ratri terdiam. Polisi itu menanyakan apakah Calvin memiliki nama lain. Ingatannya melayang pada kartu nama yang didapatnya di ruang kerja Calvin dan masih tersimpan di dalam tasnya. Calvin Andersen.Jadi ... Calvin memang mengganti namanya?Perlahan ia kembali menatap petugas itu. "He may have changed his name ... Calvin Andersen."Jemari petugas itu kembali menari di atas papan ketik.Kali ini … ekspresinya berubah. Ia berhenti mengetik. Tatapannya terpaku pada layar komputer beberapa saat lebih lama.Raut wajahnya yang semula datar berubah serius. Perlahan ia mengangkat pandangan. "Please ... give me a moment."Petugas itu berdiri, meminta izin, lalu berjalan menuju ruang

  • KAMAR KEDUA   Bab 277. Kamu Semakin Dekat

    Raka mengangguk patuh sambil memeluk buku gambarnya. Ratri menggandeng putranya memasuki kantor tersebut."Kamu duduk di sini dulu, ya," pintanya lembut seraya menuntun Raka ke sebuah sofa empuk di ruang tunggu.Raka mengangguk tanpa protes. Ia duduk rapi sambil memeluk buku gambarnya di pangkuan. Kedua kakinya yang belum menyentuh lantai terayun pelan, sementara matanya menjelajahi setiap sudut ruangan dengan rasa ingin tahu khas anak-anak.Ruangan itu terang dan tenang. Beberapa pelanggan tampak sedang berbicara dengan petugas di balik meja layanan.Setelah menunggu beberapa menit, tibalah gilirannya."Good afternoon. May I help you?" sapa seorang perempuan berambut pirang dengan senyum profesional.Ratri mengangguk pelan. "Excuse me ... I'd like to ask something." Ia mengeluarkan struk yang sedari tadi disimpannya dengan hati-hati. "Is this receipt from your company?"Ia mengatupkan bibir. Menunggu kepastian apakah tanda terima rental mobil berasal dari perusahaan itu. Perempuan i

  • KAMAR KEDUA   Bab 276. Arah yang Semakin Jelas

    "Tanggal kita jadian?” Suara itu pecah bersama sebutir air mata yang jatuh ke punggung tangannya. "Kamu masih ingat ….”Cepat-cepat ia mengusap matanya. Tersadar kalau waktunya tak banyak di tempat itu. Ia tidak bisa larut dalam kenangan. Folder-folder di desktop segera dibukanya. Namun dahinya langsung berkerut."Dokumen lama?"Semua berkas berhenti sekitar tiga tahun lalu. Tak ada satu pun file yang lebih baru.“Aneh.”Dengan gerakan yang mulai terburu-buru, ia masuk ke akun driver-nya sendiri.Satu per satu folder di laptop Calvin disalin ke akun miliknya. Baru setelah proses penyalinan berjalan, ia membuka aplikasi email. Kotak masuknya tampak biasa.Tagihan kartu kredit.Laporan rekening.Buletin.Notifikasi langganan aplikasi.Tidak ada yang mencurigakan. "Hampir semuanya normal...." Ia hendak menutup aplikasi itu. Namun pandangannya berhenti pada satu folder.Draft.Ratri mengekliknya.Ada delapan email yang tak pernah dikirim.Email pertama membuat napasnya tertahan.Pengirim:

  • KAMAR KEDUA   Bab 275. Jejak yang Tertinggal

    Suara yang baru didengar Ratri, membuat darah wanita itu seperti berhenti mengalir.Baru saja ia mendengar ada suara langkah kaki. Pelan dan samar berasal dari arah ruang televisi. Setidaknya begitulah yang didengarnya.Jantungnya berdegup semakin keras. "Mas ...?" panggilnya lirih.Tak ada jawaban."Mas Calvin?"Sunyi.Dengan napas yang mulai memburu, Ratri memberanikan diri melangkah keluar dari ruang kerja. Setiap langkah terasa begitu berat, sementara matanya menyapu setiap sudut apartemen kecil itu.Lalu … saat keberaniannya semakin menipis dan ia hendak berbalik meninggalkan apartemen itu, seekor kucing putih melompat turun dari atas sofa.Kucing itu mengeong pelan.Ratri refleks menepuk dadanya sendiri. "Astaga ...." Tanpa sadar ia bersandar ke dinding sejenak. Ia mengembuskan napas panjang, lalu tersenyum kecil di tengah rasa lega yang perlahan datang."Jadi kamu yang bikin aku kaget,” kata Ratri.Kucing itu berjalan santai mendekatinya, sama sekali tak terlihat takut pada ora

  • KAMAR KEDUA   Bab 274. Ruang yang Bisu

    Sebenarnya, jika hanya memikirkan dirinya sendiri, Ratri tak yakin sanggup menempuh perjalanan sejauh ini.Ia tak akan berdiri di depan sebuah unit apartemen di Swiss, menggenggam kartu akses dengan telapak tangan yang terus berkeringat, sementara masa depannya dipenuhi jawaban yang belum tentu sanggup ia terima.Namun, ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri.Ada Raka yang berhak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada ayahnya.Bip.Suara panel akses berbunyi pelan.Ratri mengembuskan napas panjang sebelum mendorong pintu apartemen itu.Apa pun yang menunggunya di dalam … ia sudah siap.Begitu melangkah masuk, hanya suara sepatunya sendiri yang terdengar memenuhi ruangan.Apartemen itu sederhana.Rapi.Nyaris terlalu rapi.Persis seperti selera Calvin yang tak pernah menyukai terlalu banyak barang. Sejak dulu pria itu gemar menyembunyikan apa pun di balik kompartemen-kompartemen tersembunyi. Bahkan rak sepatu di rumah mereka dulu dibuat rata dengan dinding agar ruangan te

  • KAMAR KEDUA   Bab 273. Seseorang yang Tak Pernah Meninggalkan 

    Sebenarnya, tidak ada pasangan yang bertengkar dengan niat mengakhiri pernikahannya.Hampir semua pertengkaran dimulai dari hal-hal yang terasa biasa. Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau kalimat-kalimat yang terlontar karena emosi sesaat.Begitu pula yang terjadi pada Calvin dan Ratri.Perbedaan latar belakang yang begitu jauh membuat mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk saling memahami. Cara mereka memandang hidup berbeda. Cara mereka menyelesaikan masalah pun sering kali tidak sejalan.Namun, semua itu masih terasa wajar.Setidaknya, begitulah yang selalu diyakini Ratri.Ia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pertengkaran mereka pada suatu pagi akan menjadi percakapan terakhir sebelum Calvin menghilang dari hidupnya.Yang hingga kini masih terus menghantuinya adalah satu pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban.Apa sebenarnya yang sedang dipikul Calvin saat itu?Ratri tidak pernah benar-benar tahu.Ia hanya menyadari, beberapa hari sebelum menghilang, Calvin m

  • KAMAR KEDUA   Bab 70. Kita yang Sebenarnya

    Sheza tahu seharusnya malam itu harusnya sudah selesai. Harusnya Satria melepaskan tubuhnya dan memberikan ia kesempatan untuk menutup kaki dan menarik napas. Tapi rupa-rupanya Satria tidak memberi jeda yang berarti. Buatnya … hal seperti itu benar-benar berbeda. Satria menaklukkannya tanpa ampun.

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMAR KEDUA   Bab 17. Penyangkalan atau Penerimaan

    Ternyata Sheza tak perlu bertanya pada Satria soal janji sore itu. Satria muncul tepat pukul tiga sore. Satu jam sebelumnya Satria hanya mengirimkan pesan ‘Aku jemput pukul tiga. Kamu bisa siap-siap sekarang.’ Sheza sangat belum terbiasa dengan gaya dingin itu. Meski rahangnya sempat mengeras kare

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • KAMAR KEDUA   Bab 145. Yang Tidak Selesai Sekali

    Sheza semakin mendongak. Ia mengerang. Seluruh aliran darahnya seakan dipompa ke satu tempat. Kedua tangannya yang tadi menopang belakang tubuh, kini satunya terangkat untuk mengacak rambut Satria. Jemarinya menyusuri kepala pria itu. Menggaruk pelan.Satria masih menunduk di antara pahanya. Pria i

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • KAMAR KEDUA   Bab 142. Sesuatu yang Tak Direncanakan

    Sheza menoleh mengikuti arah jari Nayla.Kafe yang ditunjuk anak perempuan itu tidak terlalu jauh dari tempat mereka berdiri. Dari tempat mereka berdiri bahkan terlihat beberapa meja di dalamnya.Sheza menghela napas kecil. “Nayla, lain kali jangan ke toilet sendirian, ya,” katanya lembut sambil me

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status