تسجيل الدخولSatria duduk di bangku panjang dan menatap lantai.Selama ini ia selalu mengingat perceraian mereka sebagai sesuatu yang terjadi karena Nadine terlalu banyak menuntut.Itu tidak sepenuhnya salah.Tetapi juga tidak sepenuhnya benar.Nadine memang terlalu sering meminta semuanya segera.Nadine ingin rumah tangga yang sempurna. Ingin suami yang selalu ada.Ingin semuanya berjalan seperti yang ia bayangkan. Dan keinginan itu sebenarnya tidak salah.Yang salah adalah mereka tidak pernah memberi waktu kepada satu sama lain untuk menemukan cara mencapai keinginan itu.Satria mengembuskan napas.Ia ingin membangun perusahaan.Nadine ingin membangun keduanya sekaligus dan dalam jangka waktu yang ia tentukan sendiri.Keduanya sama-sama memiliki tujuan.Masalahnya, mereka tidak pernah benar-benar belajar bagaimana berjalan menuju tujuan itu bersama-sama.Satria terobsesi membangun perusahaannya dan lepas dari bayang-bayang mertua.Nadine terlalu sibuk menuntut hasil.Dan di antara keduanya, tida
Nadine memperbesar foto itu.“Katanya namanya Sagara,” ucap Nadine. Ia melihat bagaimana Nayla dan adiknya sama-sama tersenyum ke kamera. Matanya berpindah dari wajah Nayla ke wajah bayi kecil di sampingnya.“Mereka mirip sekali,” gumamnya.Kali ini tidak ada nada mencemooh dalam suaranya. Kalimat datar yang berisi pengakuan. Ia menatap foto itu sedikit lebih lama.Sagara adalah adik Nayla. Anak dari papanya. Bagian dari keluarga yang sekarang dimiliki putrinya.Dan mungkin sudah waktunya ia berhenti melihat keluarga itu sebagai sesuatu yang merebut Nayla darinya.Ia justru ingin menjadi bagian dari kehidupan Nayla dengan cara yang lebih baik.Barangkali menjadi dewasa adalah ketika ia harus berhenti mencari siapa yang harus disalahkan dan mulai berani melihat kesalahan yang menjadi bagiannya. Nadine mengunci ponselnya.Ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Nayla. Untuk sekarang, itu sudah cukup. Ia tidak membutuhkan pria baru. Tidak membutuhkan pernikahan baru. Tidak membutuhkan
Nadine duduk sendirian di meja kerjanya.Sejak pagi, beberapa pekerjaan sudah menunggunya. Ada dokumen yang harus diperiksa, beberapa pesan dari tim yang belum dibalas, dan agenda yang seharusnya ia selesaikan sebelum sore.Namun sejak kembali dari pertemuannya dengan Satria minggu lalu, tidak satu pun hal yang benar-benar masuk ke pikirannya.Ia kebanyakan duduk melamun. Pikirannya terasa belum selesai menyimpulkan sesuatu. Sekarang ia sedang menatap layar komputer yang sejak tadi tidak berubah.Entah kenapa ia mulai berani menyimpulkan beberapa hal yang terjadi di masa lalu mereka.Dulu, Nadine selalu menganggap pernikahan itu sebagai sesuatu yang seharusnya berjalan karena memang sudah diputuskan.Keluarga mereka sepakat.Mereka menikah.Selesai.Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, ia baru berani mengakui bahwa memang tidak pernah ada cinta di awalnya.Pernikahan itu adalah kesepakatan.Sebuah pernikahan bisnis yang dibungkus dengan nama keluarga, hubungan baik, dan harapan
Untuk beberapa saat, Pak Hendra masih memegang map itu. Sebuah nama yang juga harus berakhir.Sebenarnya, orang itu bukan siapa-siapa baginya. Bukan menantu atau bahkan kenalan yang cukup dekat. Namun keberanian dan kelancangan orang itu telah menyentuh egonya, sekaligus melukai harga dirinya. Sebagai seseorang yang sudah lama berkuasa dan terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkannya, ia tidak terbiasa membiarkan seseorang mempermainkannya. Ia lalu mencampakkan berkas yang telah dikumpulkannya setiap harus berurusan dengan orang yang harus disingkirkannya ke dalam api yang menyala. “Sudah selesai,” bisiknya.Tangannya kemudian beralih pada berkas terakhir.Ia masih duduk di kursi recliner dan beberapa saat menatap isi tong. Memastikan api melahap dan menghancurkan tiap lembarnya. Lalu tangannya meraih map paling akhir. Map yang paling lama ia simpan. Bahkan sudah hampir terlupa sampai Satria muncul di rumahnya siang itu. Bagian sudut-sudutnya mulai melengkung dimakan usia. Tint
“Kalau suatu hari Bram ditemukan,” kata Satria perlahan, “dan dia bisa menjelaskan apa yang terjadi sebelum kapal Satria Elang berangkat ... nama Pak Salim mungkin bisa dibersihkan.”Pak Hendra tidak menjawab.Satria menunggu.Pria tua itu justru mengambil cangkir dan meminumnya sedikit.“Kalau dia ditemukan,” ulang Satria.Pak Hendra meletakkan cangkir seraya menghela napas. “Bram tidak akan ditemukan.”Satria menatapnya. Rahangnya mengeras. “Bapak yakin?”“Sudah terlalu lama,” ucap Pak Hendra. “Orang bisa tetap hidup puluhan tahun,” sahut Satria. Pak Hendra mengangguk. “Tapi ada orang-orang yang lebih baik tetap menjadi bagian dari masa lalu.”Satria tidak mengatakan apa-apa lagi.Ia menatap pria di hadapannya beberapa detik. “Kalau dia ditemukan,” ulang Satria, “Bapak kira apa yang akan dia katakan?”Pak Hendra menatapnya. “Saya nggak tahu.”“Mungkin tentang apa yang terjadi sebelum Satria Elang berangkat?”“Mungkin.”Satria mengangguk pelan. “Kalau gitu, seharusnya Bapak berhara
Satria mengangguk samar. Langsung mengerti ke mana arah pembicaraan itu.“Saya nggak mau pura-pura nggak tahu, Pak.”Pak Hendra menatapnya.“Saya tau Ratri dan Raka udah pergi ke Swiss. Sebelum berangkat, Ratri memang cerita ke saya.”Pak Hendra tetap diam.Satria menarik napas pendek. “Dan saya rasa kita juga nggak perlu pura-pura nggak tau apa yang terjadi belakangan ini.”Tatapan Pak Hendra tidak berubah.Satria menatapnya beberapa saat. “Kita sama-sama tau kenapa Ratri pergi, kan, Pak?” Ucapannya seakan memaksa Pak Hendra untuk kembali mengingat pembicaraan panjang mereka di ruangan private restoran.Pak Hendra lagi-lagi tidak menjawab. Hanya tatapan matanya saja yang bergerak gelisah. Satria lalu mengangguk kecil. Ia tidak membutuhkan jawaban lebih jauh.Beberapa detik kemudian, pandangannya beralih ke arah ruang makan. Teringat pada boarding pass yang tadi terhampar di meja.“Bapak nggak menyusul mereka?” tanya Satria dengan suara pelan.Pak Hendra yang tadi sempat mengalihkan






