Share

BAB 3

Author: NawankWulan
last update publish date: 2026-02-05 17:53:43

"Mbak, boleh menginap semalam di sini? Mas Rudy tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, Mbak. Aku takut dia berbuat onar lagi," ujar Bi Siti dengan mimik memelas.

"Duduk dulu, Sit," pinta ibu sembari menarik lengan adik senasabnya itu.

"Tolong ambilkan minum buat Bibi sama Mira, My." Amy mengangguk lalu melangkah tergesa ke dapur. Tak selang lama, dia membawa dua gelas air putih di atas nampan.

Kedatangan Bi Siti kali ini benar-benar membuat pikiranku kemana-mana. Biasanya dia tak pernah mau menginap di rumah sederhana kami dengan alasan macam-macam, tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda?

Mendadak teringat cerita Amy siang tadi soal bapak dan Bi Siti. Apa sekarang Bi Siti sengaja memperlihatkan hubungannya dengan bapak di depan ibu? Sekeji itukah sikap seorang adik yang selama ini selalu disayangi dan dirawat sepenuh hati oleh ibuku?

"Cerita sama Mbak, apa yang sebenarnya terjadi," ujar ibu penuh perhatian. Sesekali mengusap lengan Bi Siti untuk menenangkan, sementara bapak masih terdiam di sofa, bersebelahan dengan sofa yang diduduki ibu dan Bi Siti.

"Akhir-akhir ini Mas Rudy sering datang, Mbak. Kedatangannya membuat Mira ketakutan. Aku pun tak jarang mendapatkan kekerasan darinya. Aku takut kejadian beberapa bulan lalu terulang, makanya pengin menginap di sini. Malam ini saja, Mbak. Aku janji besok akan pulang," ujar wanita tiga puluh tahunan itu lagi sembari mengusap kedua pipinya yang basah.

"Astaghfirullah, Rudy. Apa dia nggak kapok sempat masuk penjara karena tindakannya? Kenapa masih mengulangi hal yang sama, padahal kalian sudah sah bercerai. Kasihan kamu sama Mira. Kalau begitu, menginap di sini saja. InsyaAllah dia nggak berani datang karena ada iparmu di rumah." Ibu menoleh pada bapak yang kuyakini sedikit mengulas senyum. Namun wajahnya kembali berubah seperti semula saat bertatapan dengan ibu.

"Benar kan, Pak?" tanya ibu kemudian.

"Benar. Rudy nggak akan berani berbuat onar selama ada aku di rumah. Kamu tenang saja, Sit. Kalian aman di sini."

Bi Siti menatap bapak lalu mengangguk pelan. Kembali kuhela napas panjang. Drama apalagi yang akan mereka lakukan kali ini. Teganya mencurangi ibuku. Jika ibu tak mau membalas, biar aku saja yang membalas rasa sakit hatinya. Aku tak akan pernah tinggal diam saat melihat ibuku didzalimi, apalagi oleh orang-orang yang teramat ia sayangi.

"Zi, malam ini kamu sama Amy tidur di ruang tengah ya? Kamarnya biar dipakai Bi Siti sama Mira." Tak mau berdebat, aku mengangguk saja. Kembali menuruti permintaan ibu untuk membersihkan kamar itu agar kedua tamunya lebih nyaman saat memakainya.

"Sudah adzan, kita sholat isya dulu ya? Nanti Budhe bikinkan telur ceplok buat Mira." Tanpa menoleh, Mira hanya mengangguk sembari terus menatap layar handphonenya.

"Bapak nggak sholat?" tanya Amy lirih.

"Kamu saja yang sholat sana!" balas bapak sembari mengambil sebatang rokoknya.

"Kita jamaah saja, Bu." Ibu mengiyakan ajakanku lalu meminta Bi Siti ikut serta.

"Aku lagi nggak sholat, Mbak. Kalian sajalah."

"Bi Siti lagi M?" Amy kembali bertanya. Wanita itupun mengangguk pelan.

"M bukan berarti menstruasi ya, Dek. Bisa juga artinya Malas." Kulirik Bi Siti yang bersungut kesal.

Sejak kecurigaanku beberapa bulan belakangan tentang hubungannya dengan bapak, sikapku memang berubah drastis. Aku tak mau beramah tamah lagi, meski ibu sering kali komplain.

Aku tak paham kenapa ibu selalu membela adik perempuannya itu, padahal beberapa kali kepergok mesra dengan bapak. Ibu selalu berusaha berpikir positif sekalipun tanda-tanda negatif ada di depan matanya. Ibu bilang, itu sikap wajar seorang adik pada kakak iparnya sendiri. Ibu tak pernah percaya apapun yang kukatakan tentang kedekatan mereka sebelum ada bukti yang nyata.

"Mbak ke kamar mandi dulu, Dek. Kamu dzikir dulu saja sama ibu," lirihku pada Amy setelah mengucap salam. Amy mengangguk lalu mencium punggung tanganku.

Perlahan keluar dari musholla kecil kami dan melangkah perlahan ke ruang tamu. Dadaku kembali memanas saat melihat bapak sudah duduk di samping Bi Siti. Dia menduduki sofa yang sebelumnya diduduki ibu, sementara Mira masih asyik dengan handphonenya di ruang tengah.

"Untung Mbak Sri percaya, Mas. Jadi, kita bisa tinggal seatap lagi malam ini," ujar perempuan itu lirih. Bapak tampak berbinar lalu mengangguk pelan sembari mengusap punggung tangan adik iparnya itu.

"Mira suka sama sepedanya kan? Maaf kalau handphonenya bekas pakai, nanti kalau ada duit aku belikan yang baru."

"Nggak apa-apa, Mas. Mira suka kok sepedanya. Handphonenya juga masih bagus meski second. Pokoknya makasih banyak ya, Mas. Aku nggak percaya kalau ternyata laki-laki baik dan perhatian itu masih ada." Bi Siti bergelayut manja di lengan bapak. Benar-benar membuatku muak.

Mereka nyaris berciuman sebelum melihatku muncul dari lorong ruang tengah. Keterkejutan jelas tampak di wajah keduanya. Mereka salah tingkah. Perlahan bapak sedikit menjauh dari tempat duduk sebelumnya. Di sofa panjang itu, Bi Siti duduk di ujung kanan sementara bapak di ujung kiri. Tak seperti tadi yang menempel satu sama lain.

"Sudah selesai sholatnya, Zi?" tanya Bi Siti gugup. Aku hanya berdehem lagi.

"Cepat sekali."

"Memang cepat kok, Bi. Makanya heran kenapa nggak mau pada sholat, padahal sholat nggak butuh waktu berjam-jam."

"Maksudmu apa bilang begitu? Mau mengajari kami soal ibadah? Mau ceramah?" Bapak menyahut.

"Nggak. Mana mungkin anak kemarin sore mengajari orang tua." Aku membalas asal sembari menyandarkan tubuh di pintu.

"Baguslah kalau kamu sadar."

"Aku selalu sadar, Pak. Bapak saja yang nggak pernah sadar."

"Maksudmu apa ngomong begitu?!" sentak bapak sembari beranjak dari tempat duduknya. Bi Siti sedikit panik melihat sikap bapak. Dia berusaha menenangkan dan meminta bapak duduk kembali.

"Aku sudah sedewasa ini, masih mau dibohongi?" lirihku sambil menatap mereka bergantian.

Wajah bapak yang sebelumnya penuh amarah, kini kembali berubah gelisah. Bi Siti pun tak jauh beda. Dia menatapku lekat lalu menatap bapak beberapa saat.

"Bapak seharusnya tahu, sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat jatuh juga. Kuharap bapak lekas bertaubat sebelum menyesal di kemudian hari. Ingat, Pak. Perempuan shalihah  akan tetap setia di samping suaminya dalam keadaan apapun, sementara perempuan calon penghuni neraka akan mudah bermesraan dengan lawan jenisnya padahal jelas-jelas berdosa."

Tanpa menunggu balasan mereka, aku pergi begitu saja. Seperti pamitku pada Amy, aku buru-buru ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kubasuh wajahku yang memanas karena emosi. Rasa sakit ini teramat dalam, tapi kuyakin rasa sakit ibuku jauh lebih dalam.

Tak tahu bagaimana perasaannya nanti setelah kebusukan itu terbongkar. Andai punya handphone, aku pasti sudah merekam tingkah mereka. Sayangnya aku belum punya bukti, karena itu pulalah ibu tak pernah percaya apapun yang kukatakan tentang hubungan mereka selama ini.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   TAMAT

    "Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Tak Disangka

    "Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Pesan Istimewa

    Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Saatnya Memilih

    Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Minta Maaf dan Memaafkan

    "Zi, are you okay?" lirih Zayyan saat melihat Zizi begitu lemas setelah mendonorkan darahnya untuk Delima. Zizi hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Zayyan dan Aina yang membantunya duduk di kursi tunggu. "Minum susunya, Zi. Biskuit sama telur rebusnya juga habiskan biar nggak lemas," pinta Zayyan sembari membuka biskuit keju itu. Tak banyak bicara, Zizi mengikuti perintah Zayyan dan Aina. Dia mulai minum susu dan sebutir telur rebus yang dibeli oleh Zayyan tadi. "Aku kupasin yang ini mau?" ujar Zayyan menunjuk telur rebus yang tersisa. Zizi menggeleng pelan. "Sudah kenyang, Mas. Buat nanti aja. Makasih ya.""Sama-sama, Zi. Justru aku yang makasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante Delima. Benar kan, Om?" Zayyan sengaja minta pendapat Bima yang sedari tadi masih terdiam memperhatikan Zizi. "Iya, Zay. Alhamdulillah ada Zizi, kalau nggak entah gimana nasib tantemu. Mana hujan masih deras mengguyur.""Saya hanya membantu sedikit, Om. Selebihnya karena Allah.""Iya, tapi kamu pe

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Menyadari Kesalahan

    "Kenapa bingung begitu?" tanya Aina lagi. Sebagai seorang sahabat, Aina paham betul perasaan Zizi saat ini. Hanya saja, dia mencoba mencairkan keheningan yang ada, meminta Zizi agar mau menceritakan kegelisahannya. Mungkin dengan bercerita, Zizi akan jauh lebih tenang dibandingkan sekarang. "Aku masih bingung bagaimana caranya menghadapi papa dan mamanya Zaki nanti, Na. Kamu tahulah gimana posisiku saat ini. Meski sudah lama tak berhubungan dengan Zaki, tapi-- Zizi menjeda kalimatnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu memejamkan mata beberapa saat. "Jika jodoh tak akan kemana, Zi. Yakinlah." Aina mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan. Zizi tersenyum lalu mengangguk pelan. Sejak Zaki memergokinya jalan dengan Zayyan di mall waktu itu, Zaki memang benar-benar menghilang. Zaki tak menghubunginya via email beberapa minggu, sampai akhirnya Zizi memilih tak lagi membuka email-nya karena takut kecewa. Bahkan dia membuat email untuk keperluan kuliahnya. Zizi merasa bersalah

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Duda Tampan Itu Bernama Zayyan

    "Saya yakin bukan karena nasi rames yang Bu Sri jual. Buktinya suami saya makan juga nggak ada masalah. Kalau memang beracun harusnya semua yang makan nasi itu ikut keracunan dong. Nyatanya apa? Cuma anak dan suami ibu ini saja. Iya kan?" Tetangga lain ikut berkomentar. Mereka saling mengiyakan, me

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Cemburu

    "Kenapa, Zak? Tumben telepon," ujar Sarah yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia baru selesai mandi sore, rencananya mau jalan-jalan dengan bapaknya ke mall terdekat. "Apa Zizi pernah cerita sesuatu sama kamu, Sar?" tanya Zaki sedikit ragu.Sebenarnya dia tak ingin kembali melibatka

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Balasan Telak dari Amy

    "Anak sama suami saya muntah-muntah setelah makan nasi rames buatannya, Mas. Saya nggak mau tahu, dia harus tanggungjawab!" sentak wanita berhijab coklat itu lagi setelah duduk di ruang tamu Santi. Di sana sudah ada keluarga Zizi dan beberapa tetangga yang ingin tahu permasalahan mereka. "Ibu sud

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   Kejutan dari Zaki

    Bulan telah berganti. Ujian sekolah pun sudah terlewati dengan baik. Semua siswa lulus dengan hasil yang pasti berbeda. Zizi masih menempati urutan pertama dengan nilai nyaris sempurna. Dia bahkan mendapatkan beasiswa untuk jenjang pendidikan berikutnya. Hari ini semua siswa saling bergerombol mem

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status