FAZER LOGIN"Mbak, boleh menginap semalam di sini? Mas Rudy tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, Mbak. Aku takut dia berbuat onar lagi," ujar Bi Siti dengan mimik memelas.
"Duduk dulu, Sit," pinta ibu sembari menarik lengan adik senasabnya itu. "Tolong ambilkan minum buat Bibi sama Mira, My." Amy mengangguk lalu melangkah tergesa ke dapur. Tak selang lama, dia membawa dua gelas air putih di atas nampan. Kedatangan Bi Siti kali ini benar-benar membuat pikiranku kemana-mana. Biasanya dia tak pernah mau menginap di rumah sederhana kami dengan alasan macam-macam, tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda? Mendadak teringat cerita Amy siang tadi soal bapak dan Bi Siti. Apa sekarang Bi Siti sengaja memperlihatkan hubungannya dengan bapak di depan ibu? Sekeji itukah sikap seorang adik yang selama ini selalu disayangi dan dirawat sepenuh hati oleh ibuku? "Cerita sama Mbak, apa yang sebenarnya terjadi," ujar ibu penuh perhatian. Sesekali mengusap lengan Bi Siti untuk menenangkan, sementara bapak masih terdiam di sofa, bersebelahan dengan sofa yang diduduki ibu dan Bi Siti. "Akhir-akhir ini Mas Rudy sering datang, Mbak. Kedatangannya membuat Mira ketakutan. Aku pun tak jarang mendapatkan kekerasan darinya. Aku takut kejadian beberapa bulan lalu terulang, makanya pengin menginap di sini. Malam ini saja, Mbak. Aku janji besok akan pulang," ujar wanita tiga puluh tahunan itu lagi sembari mengusap kedua pipinya yang basah. "Astaghfirullah, Rudy. Apa dia nggak kapok sempat masuk penjara karena tindakannya? Kenapa masih mengulangi hal yang sama, padahal kalian sudah sah bercerai. Kasihan kamu sama Mira. Kalau begitu, menginap di sini saja. InsyaAllah dia nggak berani datang karena ada iparmu di rumah." Ibu menoleh pada bapak yang kuyakini sedikit mengulas senyum. Namun wajahnya kembali berubah seperti semula saat bertatapan dengan ibu. "Benar kan, Pak?" tanya ibu kemudian. "Benar. Rudy nggak akan berani berbuat onar selama ada aku di rumah. Kamu tenang saja, Sit. Kalian aman di sini." Bi Siti menatap bapak lalu mengangguk pelan. Kembali kuhela napas panjang. Drama apalagi yang akan mereka lakukan kali ini. Teganya mencurangi ibuku. Jika ibu tak mau membalas, biar aku saja yang membalas rasa sakit hatinya. Aku tak akan pernah tinggal diam saat melihat ibuku didzalimi, apalagi oleh orang-orang yang teramat ia sayangi. "Zi, malam ini kamu sama Amy tidur di ruang tengah ya? Kamarnya biar dipakai Bi Siti sama Mira." Tak mau berdebat, aku mengangguk saja. Kembali menuruti permintaan ibu untuk membersihkan kamar itu agar kedua tamunya lebih nyaman saat memakainya. "Sudah adzan, kita sholat isya dulu ya? Nanti Budhe bikinkan telur ceplok buat Mira." Tanpa menoleh, Mira hanya mengangguk sembari terus menatap layar handphonenya. "Bapak nggak sholat?" tanya Amy lirih. "Kamu saja yang sholat sana!" balas bapak sembari mengambil sebatang rokoknya. "Kita jamaah saja, Bu." Ibu mengiyakan ajakanku lalu meminta Bi Siti ikut serta. "Aku lagi nggak sholat, Mbak. Kalian sajalah." "Bi Siti lagi M?" Amy kembali bertanya. Wanita itupun mengangguk pelan. "M bukan berarti menstruasi ya, Dek. Bisa juga artinya Malas." Kulirik Bi Siti yang bersungut kesal. Sejak kecurigaanku beberapa bulan belakangan tentang hubungannya dengan bapak, sikapku memang berubah drastis. Aku tak mau beramah tamah lagi, meski ibu sering kali komplain. Aku tak paham kenapa ibu selalu membela adik perempuannya itu, padahal beberapa kali kepergok mesra dengan bapak. Ibu selalu berusaha berpikir positif sekalipun tanda-tanda negatif ada di depan matanya. Ibu bilang, itu sikap wajar seorang adik pada kakak iparnya sendiri. Ibu tak pernah percaya apapun yang kukatakan tentang kedekatan mereka sebelum ada bukti yang nyata. "Mbak ke kamar mandi dulu, Dek. Kamu dzikir dulu saja sama ibu," lirihku pada Amy setelah mengucap salam. Amy mengangguk lalu mencium punggung tanganku. Perlahan keluar dari musholla kecil kami dan melangkah perlahan ke ruang tamu. Dadaku kembali memanas saat melihat bapak sudah duduk di samping Bi Siti. Dia menduduki sofa yang sebelumnya diduduki ibu, sementara Mira masih asyik dengan handphonenya di ruang tengah. "Untung Mbak Sri percaya, Mas. Jadi, kita bisa tinggal seatap lagi malam ini," ujar perempuan itu lirih. Bapak tampak berbinar lalu mengangguk pelan sembari mengusap punggung tangan adik iparnya itu. "Mira suka sama sepedanya kan? Maaf kalau handphonenya bekas pakai, nanti kalau ada duit aku belikan yang baru." "Nggak apa-apa, Mas. Mira suka kok sepedanya. Handphonenya juga masih bagus meski second. Pokoknya makasih banyak ya, Mas. Aku nggak percaya kalau ternyata laki-laki baik dan perhatian itu masih ada." Bi Siti bergelayut manja di lengan bapak. Benar-benar membuatku muak. Mereka nyaris berciuman sebelum melihatku muncul dari lorong ruang tengah. Keterkejutan jelas tampak di wajah keduanya. Mereka salah tingkah. Perlahan bapak sedikit menjauh dari tempat duduk sebelumnya. Di sofa panjang itu, Bi Siti duduk di ujung kanan sementara bapak di ujung kiri. Tak seperti tadi yang menempel satu sama lain. "Sudah selesai sholatnya, Zi?" tanya Bi Siti gugup. Aku hanya berdehem lagi. "Cepat sekali." "Memang cepat kok, Bi. Makanya heran kenapa nggak mau pada sholat, padahal sholat nggak butuh waktu berjam-jam." "Maksudmu apa bilang begitu? Mau mengajari kami soal ibadah? Mau ceramah?" Bapak menyahut. "Nggak. Mana mungkin anak kemarin sore mengajari orang tua." Aku membalas asal sembari menyandarkan tubuh di pintu. "Baguslah kalau kamu sadar." "Aku selalu sadar, Pak. Bapak saja yang nggak pernah sadar." "Maksudmu apa ngomong begitu?!" sentak bapak sembari beranjak dari tempat duduknya. Bi Siti sedikit panik melihat sikap bapak. Dia berusaha menenangkan dan meminta bapak duduk kembali. "Aku sudah sedewasa ini, masih mau dibohongi?" lirihku sambil menatap mereka bergantian. Wajah bapak yang sebelumnya penuh amarah, kini kembali berubah gelisah. Bi Siti pun tak jauh beda. Dia menatapku lekat lalu menatap bapak beberapa saat. "Bapak seharusnya tahu, sepandai-pandainya tupai melompat suatu saat jatuh juga. Kuharap bapak lekas bertaubat sebelum menyesal di kemudian hari. Ingat, Pak. Perempuan shalihah akan tetap setia di samping suaminya dalam keadaan apapun, sementara perempuan calon penghuni neraka akan mudah bermesraan dengan lawan jenisnya padahal jelas-jelas berdosa." Tanpa menunggu balasan mereka, aku pergi begitu saja. Seperti pamitku pada Amy, aku buru-buru ke kamar mandi untuk buang air kecil. Kubasuh wajahku yang memanas karena emosi. Rasa sakit ini teramat dalam, tapi kuyakin rasa sakit ibuku jauh lebih dalam. Tak tahu bagaimana perasaannya nanti setelah kebusukan itu terbongkar. Andai punya handphone, aku pasti sudah merekam tingkah mereka. Sayangnya aku belum punya bukti, karena itu pulalah ibu tak pernah percaya apapun yang kukatakan tentang hubungan mereka selama ini. ***"Ap-- apa kamu bilang, Mbak?!" getar suara Bi Siti yang tak terima dengan sindiran ibu."Selama ini aku tak pernah menuntut banyak pada bapak yang jauh lebih menyayangimu dibandingkan aku, Sit. Apapun yang kamu minta selalu diturutinya, sementara aku hanya bisa menitikkan air mata. Saat kamu, ibumu dan bapak pergi jalan-jalan ataupun piknik bersama, aku hanya menangis di sudut kamar tanpa bisa menuntut apa-apa. Kepergian ibuku membuat hidupku hancur, namun jauh lebih hancur saat ibumu datang dan merebut cinta bapak sampai kamu terlahir ke dunia. Apakah masih kurang banyak pengorbananku untukmu, sampai akhirnya kamu merebut Mas Ridwan dariku? Seburuk apapun dia adalah bapak dari anak-anakku. Aku bertahan selama ini bukan semata-mata karena cinta, tapi aku hanya tak ingin anakku kehilangan sosok bapaknya. Tapi kenapa kamu hadir lagi di hidupku setelah sekian lama aku berusaha mengikhlaskan masa lalu yang pahit itu?!" Ibu meradang.Lidahku kelu mendengar pengakuan ibu. Selama ini tak per
"Apa yang kamu lakukan, Pak?! Kenapa dia ada di ranjang kita?!" Suara parau ibu terdengar dari luar rumah saat aku dan adikku baru pulang jualan keripik keliling kampung. "Ibu kenapa, Mbak?" lirih Amy begitu cemas dan takut.Aminah teramat ketakutan sampai memelukku erat. Sebenarnya aku pun cemas dan takut, tapi sebagai seorang kakak aku harus terlihat lebih kuat dan berani. Dengan begitu aku berharap bisa sedikit mengurangi ketakutan Amy saat ini. Yang pasti aku tak ingin membuatnya semakin panik jika dia melihat kepanikan yang sama padaku. "Apa yang kalian lakukan?! Katakan!" sentak ibu lagi dengan suara yang berbeda, benar-benar tak seperti biasanya.Tak pernah kudengar suara ibu setinggi ini. Semarah apapun ibu selalu berusaha bicara dengan lembut dan sopan pada bapak, tapi sepertinya kali ini berbeda. Tujuh belas tahun bersamanya, baru kali ini kudengar suaranya meninggi. Apa mungkin ibu sudah melihat sendiri bagaimana hubungan bapak dengan adiknya?"Mbak, aku takut. Ibu kenap
"Mbak, boleh menginap semalam di sini? Mas Rudy tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, Mbak. Aku takut dia berbuat onar lagi," ujar Bi Siti dengan mimik memelas."Duduk dulu, Sit," pinta ibu sembari menarik lengan adik senasabnya itu."Tolong ambilkan minum buat Bibi sama Mira, My." Amy mengangguk lalu melangkah tergesa ke dapur. Tak selang lama, dia membawa dua gelas air putih di atas nampan.Kedatangan Bi Siti kali ini benar-benar membuat pikiranku kemana-mana. Biasanya dia tak pernah mau menginap di rumah sederhana kami dengan alasan macam-macam, tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda?Mendadak teringat cerita Amy siang tadi soal bapak dan Bi Siti. Apa sekarang Bi Siti sengaja memperlihatkan hubungannya dengan bapak di depan ibu? Sekeji itukah sikap seorang adik yang selama ini selalu disayangi dan dirawat sepenuh hati oleh ibuku?"Cerita sama Mbak, apa yang sebenarnya terjadi," ujar ibu penuh perhatian. Sesekali mengusap lengan Bi Siti untuk menenangkan, sementara bapak masih terdia
"Jangan bilang ibu soal tadi ya, Mbak. Amy nggak mau bikin ibu pusing," ujar Amy saat aku dan dia keluar rumah dengan membawa sekeranjang keripik singkong."Nggak, Dek. Lagipula belum tentu yang dikatakan Mira benar. Bisa jadi Bi Siti titip uang ke bapak buat beliin Mira sepeda. Iya kan?""Tapi kenapa bapak harus menginap di rumahnya segala, Mbak?""Mungkin bapak kemalaman saat antar sepeda Mira atau karena hujan deras makanya bapak menginap di sana. Amy tahu kan kalau semalam memang hujan." Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar dia tak berpikir macam-macam."Benar juga, Mbak. Semalam memang hujan, makanya bapak menginap di sana. Mungkin sekarang bapak langsung ke toko Haji Abdullah, jadi nggak sempat pulang dulu," lirihnya mengiyakan alasanku."Betul itu. Sudah, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Yang penting sekarang kita harus semangat jualan keripik biar lekas pulang sebelum maghrib."Amy mengangguk lalu kembali ikut menawarkan keripik singkong yang kami bawa untuk p
"Bapak belum pulang, Bu?" tanyaku pada ibu yang masih sibuk memasak di dapur. "Belum, Zi.""Dari kemarin nggak pulang? Memangnya lembur lagi?" tanyaku memastikan. "Sepertinya begitu." Ibu menoleh lalu tersenyum tipis ke arahku. "Ibu nggak tanya kenapa bapak nggak pulang semalaman?""Bapak itu supir kepercayaan Pak Abdullah, Zi. Wajar jika sering diminta lembur dadakan atau bantu ini itu," ujar ibu menjelaskan. Aku menghela napas panjang. Tiap kali aku mulai bertanya tentang bapak, ibu selalu berusaha membuatku tenang dan tak berpikir macam-macam, meski dalam hatinya kuyakin muncul keraguan. Ragu akan jawabannya sendiri. "Hari ini ibu goreng tempe lagi? Apa bapak nggak ngasih uang belanja? Apa uang hasil jualan keripik kemarin diminta bapak buat beli rokok?" tanyaku menggebu. "Zi ....""Sudahlah, Bu. Zizi sudah dewasa. Zizi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tak perlu menutup-nutupinya lagi. Bapak memang keterlaluan." Aku berdecak kesal. "Jangan begitu, Zi. Kalau sudah gajian







