Share

BAB 4

Author: NawankWulan
last update Last Updated: 2026-02-05 17:54:06

"Apa yang kamu lakukan, Pak?! Kenapa dia ada di ranjang kita?!" Suara parau ibu terdengar dari luar rumah saat aku dan adikku baru pulang jualan keripik keliling kampung.  

"Ibu kenapa, Mbak?" lirih Amy begitu cemas dan takut.

Aminah teramat ketakutan sampai memelukku erat. Sebenarnya aku pun cemas dan takut, tapi sebagai seorang kakak aku harus terlihat lebih kuat dan berani. Dengan begitu aku berharap bisa sedikit mengurangi ketakutan Amy saat ini. Yang pasti aku tak ingin membuatnya semakin panik jika dia melihat kepanikan yang sama padaku. 

"Apa yang kalian lakukan?! Katakan!" sentak ibu lagi dengan suara yang berbeda, benar-benar tak seperti biasanya.

Tak pernah kudengar suara ibu setinggi ini. Semarah apapun ibu selalu berusaha bicara dengan lembut dan sopan pada bapak, tapi sepertinya kali ini berbeda. Tujuh belas tahun bersamanya, baru kali ini kudengar suaranya meninggi. Apa mungkin ibu sudah melihat sendiri bagaimana hubungan bapak dengan adiknya?

"Mbak, aku takut. Ibu kenapa marah-marah?" tanya Aminah lirih. Kedua matanya berkaca saking takut dan cemasnya. Kuusap pelan lengannya yang terbalut sweater cokelat.

"Tenang ya, Dek. Mungkin ada sedikit masalah antara bapak dan ibu. Nggak apa-apa, namanya juga berumah tangga. Pasti akan banyak ujianNya. Nanti kalau kamu sudah dewasa pasti mengerti soal ini. Kalau kamu takut, ke rumah Nayla dulu gimana? Biar Mbak yang tenangkan ibu," ucapku sembari mengurai pelukan.

"Tapi, Mbak ...."

Kuusap kedua pipinya yang basah lalu tersenyum. Berharap bisa membuat Aminah sedikit lebih tenang saat melihat senyumku. Aku tak ingin pikirannya ke mana-mana, apalagi minggu depan dia harus ujian kelulusan sekolah dasar.

"Belajar dulu di sana ya? Nanti Mbak susul kalau ibu sudah tenang. Jangan khawatir, InsyaAllah ibu nggak kenapa-kenapa. Ada Mbak yang akan menjaganya. Kamu percaya sama Mbak kan?" sambungku meyakinkan.

Aminah bergeming. Sepertinya dia masih menimbang-nimbang apakah akan masuk ke rumah atau mengikuti saranku untuk pergi ke rumah teman sebangkunya, Nayla.

"Dek, minggu depan kamu ujian. Belajar yang rajin supaya lulus dengan baik. Ibu pasti senang kalau kamu lulus sekolah. Oke?" bujukku lagi.

Aminah mendongak lalu senyum tipis itupun terlukis di kedua sudut bibirnya.

"Oke, Mbak. Aminah janji akan belajar lebih giat supaya ibu senang dan bangga."

"MasyaAllah, anak pintar," balasku sembari mengusap puncak kepalanya yang tertutup hijab coklat muda.

"Sana ke rumah Nayla. Mbak masuk dulu."

Aminah kembali mengangguk lalu berlari kecil ke arah rumah Nayla yang tak terlalu jauh dari rumah kami. Setelah melihatnya menghilang di tikungan jalan, aku bergegas masuk ke rumah. Suara ibu yang meninggi tak terdengar lagi, berganti dengan bentakan-bentakan bapak dan suara perempuan lain yang jelas kukenali.

Berlagak super hero di depan adikku, nyatanya  nyaliku masih ciut. Tak berani masuk rumah, aku memilih duduk di teras sembari mendengarkan pertengkaran mereka. Aku ingin tahu bagaimana perasaan ibu saat ini.

Apakah ibu akan tetap beralibi dan mencari berbagai alasan untuk menutupi aib bapak atau ibu memilih pergi setelah melihat sendiri pengkhianatannya. Jika aku buru-buru masuk rumah, aku takut ibu kembali berlagak tak terjadi apa-apa seperti biasanya. Aku nggak mau dibohongi dengan sikap ibu yang pura-pura baik-baik saja.

"Siti itu adikmu, Sri. Selama ini dia menderita bersama suaminya yang tukang selingkuh itu. Biar saja dia menjadi madumu. Aku akan bersikap adil pada kalian berdua," ucap bapak yang diiyakan oleh Bi Siti.

"Aku dan Siti akan menikah siri besok pagi," sambung bapak dengan lantangnya. Terdengar isak ibu sembari beristighfar lirih.

"Menikahi dua bersaudara sekaligus haram hukumnya, Pak. Apa kamu tak tahu soal itu? Bisa-bisanya kamu memilih adikku sendiri sebagai maduku. Kalian boleh menikah kalau kita sudah bercer4i atau aku sudah mati!" balas ibu dengan suara bergetar.

Tak pernah kudengar ibu semarah ini sebelumnya. Dia selalu mengalah tiap kali bapak mulai meninggikan suara. Berusaha tetap tenang dan sabar menghadapi amukan bapak yang kadang tak terkendali. Namun kini sepertinya ibu sudah teramat lelah.

Langit yang sebelumnya cerah pun kini mendadak mendung. Seolah ikut menangis melihat keadaan keluargaku detik ini. Aku tahu, selama ini bapak bukanlah sosok laki-laki yang baik untukku ataupun untuk adikku. Dia terang-terangan tak mengharapkan kami hadir dalam hidupnya karena sejak dulu bapak memang menginginkan anak laki-laki. 

Bapak jarang bicara dengan ibu, apalagi denganku dan Aminah. Kami tinggal serumah, tapi serasa asing. Kami sedarah, tapi tak pernah dekat selayaknya anak dan ayah. Kami hidup berdampingan, tapi serasa teramat jauh berseberangan. Aku tak tahu kenapa bapak begitu membenciku dan Aminah, padahal selama ini kami berusaha menjadi anak yang baik dan penurut untuknya. Tak pernah banyak menuntut dan menerima semua sikapnya yang semena-mena.

Di balik itu semua tangis dan luka itu, ibu selalu berusaha menjadi yang terbaik. Meski bapak jarang memberinya uang dan kasih sayang, tapi ibu nyaris tak pernah mengeluh. Ketegaran, kesabaran dan keikhlasannya membuatku dan Aminah tumbuh menjadi gadis yang tak gampang menyerah. Kami sama-sama berjuang meringankan beban ibu dan tak ingin membuat hidupnya bertambah berat.

"Tak peduli apa katamu. Yang pasti aku mencintai Siti dan ingin membahagiakannya. Selama ini dia sudah terlalu menderita karena hidup dengan lelaki yang salah," ucap bapak lagi.

"Benar kata Mas Ridwan, Mbak. Tiga tahun berumah tangga hidupku seperti di dalam bara.  Jangankan memberiku duit dan cinta, waktunya saja tak pernah ada. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Mas Ridwan teramat baik padaku sejak dulu, apalagi setelah melihatku bercer4i. Dia sering memberiku uang untuk jajan dan sekolah Mira. Awalnya aku juga tak berminat menikah lagi, tapi melihat ketulusan Mas Ridwan aku mulai luluh. Wajar jika sekarang aku juga ingin bahagia kan?" Suara Bi Siti terdengar jelas di telinga. Hatiku saja teramat sakit mendengar pengakuannya yang seolah tanpa dosa apalagi perasaan ibuku detik ini.

"Jika pernikahanmu di masa lalu tak bahagia, lantas apakah kamu berniat merebut kebahagiaanku?" tanya ibu masih dengan suaranya yang parau.

"Apakah aku harus mengalami nasib yang sama denganmu? Jika suamimu berselingkuh dengan perempuan lain, lantas apakah kamu membalasnya dengan perselingkuhan serupa? Jika iya, apa bedanya kamu dengan selingkuhan suamimu? Bukankah sama-sama murahnya?!" sambung ibu menggebu.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 5

    "Ap-- apa kamu bilang, Mbak?!" getar suara Bi Siti yang tak terima dengan sindiran ibu."Selama ini aku tak pernah menuntut banyak pada bapak yang jauh lebih menyayangimu dibandingkan aku, Sit. Apapun yang kamu minta selalu diturutinya, sementara aku hanya bisa menitikkan air mata. Saat kamu, ibumu dan bapak pergi jalan-jalan ataupun piknik bersama, aku hanya menangis di sudut kamar tanpa bisa menuntut apa-apa. Kepergian ibuku membuat hidupku hancur, namun jauh lebih hancur saat ibumu datang dan merebut cinta bapak sampai kamu terlahir ke dunia. Apakah masih kurang banyak pengorbananku untukmu, sampai akhirnya kamu merebut Mas Ridwan dariku? Seburuk apapun dia adalah bapak dari anak-anakku. Aku bertahan selama ini bukan semata-mata karena cinta, tapi aku hanya tak ingin anakku kehilangan sosok bapaknya. Tapi kenapa kamu hadir lagi di hidupku setelah sekian lama aku berusaha mengikhlaskan masa lalu yang pahit itu?!" Ibu meradang.Lidahku kelu mendengar pengakuan ibu. Selama ini tak per

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 4

    "Apa yang kamu lakukan, Pak?! Kenapa dia ada di ranjang kita?!" Suara parau ibu terdengar dari luar rumah saat aku dan adikku baru pulang jualan keripik keliling kampung. "Ibu kenapa, Mbak?" lirih Amy begitu cemas dan takut.Aminah teramat ketakutan sampai memelukku erat. Sebenarnya aku pun cemas dan takut, tapi sebagai seorang kakak aku harus terlihat lebih kuat dan berani. Dengan begitu aku berharap bisa sedikit mengurangi ketakutan Amy saat ini. Yang pasti aku tak ingin membuatnya semakin panik jika dia melihat kepanikan yang sama padaku. "Apa yang kalian lakukan?! Katakan!" sentak ibu lagi dengan suara yang berbeda, benar-benar tak seperti biasanya.Tak pernah kudengar suara ibu setinggi ini. Semarah apapun ibu selalu berusaha bicara dengan lembut dan sopan pada bapak, tapi sepertinya kali ini berbeda. Tujuh belas tahun bersamanya, baru kali ini kudengar suaranya meninggi. Apa mungkin ibu sudah melihat sendiri bagaimana hubungan bapak dengan adiknya?"Mbak, aku takut. Ibu kenap

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 3

    "Mbak, boleh menginap semalam di sini? Mas Rudy tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, Mbak. Aku takut dia berbuat onar lagi," ujar Bi Siti dengan mimik memelas."Duduk dulu, Sit," pinta ibu sembari menarik lengan adik senasabnya itu."Tolong ambilkan minum buat Bibi sama Mira, My." Amy mengangguk lalu melangkah tergesa ke dapur. Tak selang lama, dia membawa dua gelas air putih di atas nampan.Kedatangan Bi Siti kali ini benar-benar membuat pikiranku kemana-mana. Biasanya dia tak pernah mau menginap di rumah sederhana kami dengan alasan macam-macam, tapi kenapa sekarang sikapnya berbeda?Mendadak teringat cerita Amy siang tadi soal bapak dan Bi Siti. Apa sekarang Bi Siti sengaja memperlihatkan hubungannya dengan bapak di depan ibu? Sekeji itukah sikap seorang adik yang selama ini selalu disayangi dan dirawat sepenuh hati oleh ibuku?"Cerita sama Mbak, apa yang sebenarnya terjadi," ujar ibu penuh perhatian. Sesekali mengusap lengan Bi Siti untuk menenangkan, sementara bapak masih terdia

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 2

    "Jangan bilang ibu soal tadi ya, Mbak. Amy nggak mau bikin ibu pusing," ujar Amy saat aku dan dia keluar rumah dengan membawa sekeranjang keripik singkong."Nggak, Dek. Lagipula belum tentu yang dikatakan Mira benar. Bisa jadi Bi Siti titip uang ke bapak buat beliin Mira sepeda. Iya kan?""Tapi kenapa bapak harus menginap di rumahnya segala, Mbak?""Mungkin bapak kemalaman saat antar sepeda Mira atau karena hujan deras makanya bapak menginap di sana. Amy tahu kan kalau semalam memang hujan." Aku mencoba memberikan alasan yang masuk akal agar dia tak berpikir macam-macam."Benar juga, Mbak. Semalam memang hujan, makanya bapak menginap di sana. Mungkin sekarang bapak langsung ke toko Haji Abdullah, jadi nggak sempat pulang dulu," lirihnya mengiyakan alasanku."Betul itu. Sudah, jangan dipikirkan lagi masalah itu. Yang penting sekarang kita harus semangat jualan keripik biar lekas pulang sebelum maghrib."Amy mengangguk lalu kembali ikut menawarkan keripik singkong yang kami bawa untuk p

  • KAMI BISA BAHAGIA TANPAMU, PAK   BAB 1

    "Bapak belum pulang, Bu?" tanyaku pada ibu yang masih sibuk memasak di dapur. "Belum, Zi.""Dari kemarin nggak pulang? Memangnya lembur lagi?" tanyaku memastikan. "Sepertinya begitu." Ibu menoleh lalu tersenyum tipis ke arahku. "Ibu nggak tanya kenapa bapak nggak pulang semalaman?""Bapak itu supir kepercayaan Pak Abdullah, Zi. Wajar jika sering diminta lembur dadakan atau bantu ini itu," ujar ibu menjelaskan. Aku menghela napas panjang. Tiap kali aku mulai bertanya tentang bapak, ibu selalu berusaha membuatku tenang dan tak berpikir macam-macam, meski dalam hatinya kuyakin muncul keraguan. Ragu akan jawabannya sendiri. "Hari ini ibu goreng tempe lagi? Apa bapak nggak ngasih uang belanja? Apa uang hasil jualan keripik kemarin diminta bapak buat beli rokok?" tanyaku menggebu. "Zi ....""Sudahlah, Bu. Zizi sudah dewasa. Zizi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ibu tak perlu menutup-nutupinya lagi. Bapak memang keterlaluan." Aku berdecak kesal. "Jangan begitu, Zi. Kalau sudah gajian

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status