Se connecter"Apa yang kamu lakukan, Pak?! Kenapa dia ada di ranjang kita?!" Suara parau ibu terdengar dari luar rumah saat aku dan adikku baru pulang jualan keripik keliling kampung.
"Ibu kenapa, Mbak?" lirih Amy begitu cemas dan takut. Aminah teramat ketakutan sampai memelukku erat. Sebenarnya aku pun cemas dan takut, tapi sebagai seorang kakak aku harus terlihat lebih kuat dan berani. Dengan begitu aku berharap bisa sedikit mengurangi ketakutan Amy saat ini. Yang pasti aku tak ingin membuatnya semakin panik jika dia melihat kepanikan yang sama padaku. "Apa yang kalian lakukan?! Katakan!" sentak ibu lagi dengan suara yang berbeda, benar-benar tak seperti biasanya. Tak pernah kudengar suara ibu setinggi ini. Semarah apapun ibu selalu berusaha bicara dengan lembut dan sopan pada bapak, tapi sepertinya kali ini berbeda. Tujuh belas tahun bersamanya, baru kali ini kudengar suaranya meninggi. Apa mungkin ibu sudah melihat sendiri bagaimana hubungan bapak dengan adiknya? "Mbak, aku takut. Ibu kenapa marah-marah?" tanya Aminah lirih. Kedua matanya berkaca saking takut dan cemasnya. Kuusap pelan lengannya yang terbalut sweater cokelat. "Tenang ya, Dek. Mungkin ada sedikit masalah antara bapak dan ibu. Nggak apa-apa, namanya juga berumah tangga. Pasti akan banyak ujianNya. Nanti kalau kamu sudah dewasa pasti mengerti soal ini. Kalau kamu takut, ke rumah Nayla dulu gimana? Biar Mbak yang tenangkan ibu," ucapku sembari mengurai pelukan. "Tapi, Mbak ...." Kuusap kedua pipinya yang basah lalu tersenyum. Berharap bisa membuat Aminah sedikit lebih tenang saat melihat senyumku. Aku tak ingin pikirannya ke mana-mana, apalagi minggu depan dia harus ujian kelulusan sekolah dasar. "Belajar dulu di sana ya? Nanti Mbak susul kalau ibu sudah tenang. Jangan khawatir, InsyaAllah ibu nggak kenapa-kenapa. Ada Mbak yang akan menjaganya. Kamu percaya sama Mbak kan?" sambungku meyakinkan. Aminah bergeming. Sepertinya dia masih menimbang-nimbang apakah akan masuk ke rumah atau mengikuti saranku untuk pergi ke rumah teman sebangkunya, Nayla. "Dek, minggu depan kamu ujian. Belajar yang rajin supaya lulus dengan baik. Ibu pasti senang kalau kamu lulus sekolah. Oke?" bujukku lagi. Aminah mendongak lalu senyum tipis itupun terlukis di kedua sudut bibirnya. "Oke, Mbak. Aminah janji akan belajar lebih giat supaya ibu senang dan bangga." "MasyaAllah, anak pintar," balasku sembari mengusap puncak kepalanya yang tertutup hijab coklat muda. "Sana ke rumah Nayla. Mbak masuk dulu." Aminah kembali mengangguk lalu berlari kecil ke arah rumah Nayla yang tak terlalu jauh dari rumah kami. Setelah melihatnya menghilang di tikungan jalan, aku bergegas masuk ke rumah. Suara ibu yang meninggi tak terdengar lagi, berganti dengan bentakan-bentakan bapak dan suara perempuan lain yang jelas kukenali. Berlagak super hero di depan adikku, nyatanya nyaliku masih ciut. Tak berani masuk rumah, aku memilih duduk di teras sembari mendengarkan pertengkaran mereka. Aku ingin tahu bagaimana perasaan ibu saat ini. Apakah ibu akan tetap beralibi dan mencari berbagai alasan untuk menutupi aib bapak atau ibu memilih pergi setelah melihat sendiri pengkhianatannya. Jika aku buru-buru masuk rumah, aku takut ibu kembali berlagak tak terjadi apa-apa seperti biasanya. Aku nggak mau dibohongi dengan sikap ibu yang pura-pura baik-baik saja. "Siti itu adikmu, Sri. Selama ini dia menderita bersama suaminya yang tukang selingkuh itu. Biar saja dia menjadi madumu. Aku akan bersikap adil pada kalian berdua," ucap bapak yang diiyakan oleh Bi Siti. "Aku dan Siti akan menikah siri besok pagi," sambung bapak dengan lantangnya. Terdengar isak ibu sembari beristighfar lirih. "Menikahi dua bersaudara sekaligus haram hukumnya, Pak. Apa kamu tak tahu soal itu? Bisa-bisanya kamu memilih adikku sendiri sebagai maduku. Kalian boleh menikah kalau kita sudah bercer4i atau aku sudah mati!" balas ibu dengan suara bergetar. Tak pernah kudengar ibu semarah ini sebelumnya. Dia selalu mengalah tiap kali bapak mulai meninggikan suara. Berusaha tetap tenang dan sabar menghadapi amukan bapak yang kadang tak terkendali. Namun kini sepertinya ibu sudah teramat lelah. Langit yang sebelumnya cerah pun kini mendadak mendung. Seolah ikut menangis melihat keadaan keluargaku detik ini. Aku tahu, selama ini bapak bukanlah sosok laki-laki yang baik untukku ataupun untuk adikku. Dia terang-terangan tak mengharapkan kami hadir dalam hidupnya karena sejak dulu bapak memang menginginkan anak laki-laki. Bapak jarang bicara dengan ibu, apalagi denganku dan Aminah. Kami tinggal serumah, tapi serasa asing. Kami sedarah, tapi tak pernah dekat selayaknya anak dan ayah. Kami hidup berdampingan, tapi serasa teramat jauh berseberangan. Aku tak tahu kenapa bapak begitu membenciku dan Aminah, padahal selama ini kami berusaha menjadi anak yang baik dan penurut untuknya. Tak pernah banyak menuntut dan menerima semua sikapnya yang semena-mena. Di balik itu semua tangis dan luka itu, ibu selalu berusaha menjadi yang terbaik. Meski bapak jarang memberinya uang dan kasih sayang, tapi ibu nyaris tak pernah mengeluh. Ketegaran, kesabaran dan keikhlasannya membuatku dan Aminah tumbuh menjadi gadis yang tak gampang menyerah. Kami sama-sama berjuang meringankan beban ibu dan tak ingin membuat hidupnya bertambah berat. "Tak peduli apa katamu. Yang pasti aku mencintai Siti dan ingin membahagiakannya. Selama ini dia sudah terlalu menderita karena hidup dengan lelaki yang salah," ucap bapak lagi. "Benar kata Mas Ridwan, Mbak. Tiga tahun berumah tangga hidupku seperti di dalam bara. Jangankan memberiku duit dan cinta, waktunya saja tak pernah ada. Dia sibuk dengan dunianya sendiri. Mas Ridwan teramat baik padaku sejak dulu, apalagi setelah melihatku bercer4i. Dia sering memberiku uang untuk jajan dan sekolah Mira. Awalnya aku juga tak berminat menikah lagi, tapi melihat ketulusan Mas Ridwan aku mulai luluh. Wajar jika sekarang aku juga ingin bahagia kan?" Suara Bi Siti terdengar jelas di telinga. Hatiku saja teramat sakit mendengar pengakuannya yang seolah tanpa dosa apalagi perasaan ibuku detik ini. "Jika pernikahanmu di masa lalu tak bahagia, lantas apakah kamu berniat merebut kebahagiaanku?" tanya ibu masih dengan suaranya yang parau. "Apakah aku harus mengalami nasib yang sama denganmu? Jika suamimu berselingkuh dengan perempuan lain, lantas apakah kamu membalasnya dengan perselingkuhan serupa? Jika iya, apa bedanya kamu dengan selingkuhan suamimu? Bukankah sama-sama murahnya?!" sambung ibu menggebu. ***"Ibu merestui hubunganmu dengan Zaki, Zi. Ibu tahu Zaki anak yang baik, tulus, pengertian dan pekerja keras. InsyaAllah kelak dia akan membuatmu bahagia. Tapi, kalau kedua orang tuanya tak merestui, sebaiknya kamu berhenti sampai di sini. Walau bagaimanapun, ridho orang tua adalah ridhoNya. Yakin saja jika kalian memang berjodoh, kelak pasti akan dipersatukan juga. Kalau berpisah, berarti kalian memang tak ditakdirkan bersama dan kelak akan dipertemukan dengan jodoh kalian masing-masing. Jodoh yang terbaik menurutNya."Pesan Sri waktu itu kembali terngiang di benak Zizi. Kedua matanya berkaca tiap kali mengingat momen itu. Di saat orang tua Zaki berusaha menjauhkannya bahkan sengaja mengirim Zaki ke luar negeri dengan alasan study. Namun, kini semua kesakitan itu dibayar lunas.Senyum dan tawa terlihat begitu jelas di wajah kedua orang tua Zaki detik ini. Pun senyum tulus ibunya bahkan kini lengkap dengan bapak dan bibinya. Tak ketinggalan celoteh riang Amy dan Mira, sepupunya.Merek
"Bibi? Mira?" pekik Amy saat akan keluar kontrakan. Gadis kecil itu teramat kaget melihat bibi dan sepupunya datang. Amy juga tak menyangka jika akhirnya kembali bertemu dengan mereka detik ini setelah sekian lama tak bersua. "Ibu ada, My?" tanya Siti dengan senyum tipis. Tak seperti sebelumnya yang selalu terlihat sinis, saat ini Siti terlihat lebih santun dan manis. "Ada, Bi. Ibu masih di dapur," ujar Amy sembari mempersilakan dua tamunya itu masuk ke kontrakan. Keduanya duduk lesehan di karpet yang memang sudah disediakan untuk para tamu di ruangan paling depan. Amy buru-buru melangkah ke ruangan terakhir di kontrakan itu yang dijadikan dapur dan kamar mandi. "Bu, ada Bi Siti sama Mira," ujar Amy lirih pada ibunya yang masih membuat pisang goreng. Hari ini mereka memang tak berjualan. Zizi masih sibuk di kampus karena mulai mengurus skripsinya. Sri tak tega melihat Amy yang kelelahan karena baru saja pulang dari kegiatan campingnya di sekolah. "Mbak ...." Tiba-tiba Siti jongk
Hari terus bergulir. Semakin berjalannya waktu, Zizi terlihat semakin bersemangat dan bahagia menjalani hari-harinya. Berkali-kali istikharah, akhirnya dia memantapkan hati untuk memilih Zaki. Zaki emang cinta pertamanya dan mungkin karena itu pula sulit terhapus dalam ingatan. Zizi tak tahu apakah jawaban istikharahnya kali ini benar-benar tepat atau semua itu karena hatinya memang lebih condong ke Zaki, tapi dia memasrahkan semua padaNya. Entah bagaimana nanti endingnya, dia tetap yakin jika semua itu akan indah di saat yang tepat. "Zi, mau kemana?" Zayyan membuka kaca mobil sebelum masuk ke halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis saat melihat Zizi keluar dari kontrakan dengan motor maticnya. "Mau jalan-jalan sama Aina, Mas. Baru pulang dari cafe?" tanya Zizi begitu sopan. "Iya, Zi. Kebetulan cafe disewa teman untuk acara spesial istrinya nanti malam. Jadi, setelah bantu-bantu beresin ini itu usai, aku pulang dulu." Zizi manggut-manggut mendengar balasan Zayyan. Hubungannya denga
Dokter yang menangani Delima keluar dari UGD. Dia memanggil Bima lalu menjelaskan kondisi Delima yang kini sudah melewati masa kritisnya. "Alhamdulillah, Dok. Bersyukur sekali istri saya sudah melewati masa kritis itu. Saya benar-benar lega mendengarnya." Bima tersenyum tipis. Kedua matanya berkaca saking bahagianya. "Alhamdulillah." Tiga anak muda.di samping Bima itupun mengucap Hamdallah bersama. "Sekarang Ibu Delima masih istirahat. Mohon jangan diganggu dulu ya, Pak. Kalau mau jenguk silakan, sebaiknya bergantian supaya tak mengganggu istirahat pasien." Dokter mengingatkan. Mereka pun kompak mengangguk. "Mau ikut jenguk mamanya Zaki bareng Om, Zi?" "Memangnya boleh, Om?" tanya Zizi dengan wajah polosnya. "Boleh dong. Kamu pasti juga pengin tahu keadaan mamanya Zaki sekarang kan?" Zizi mengangguk cepat. "Ayo." Bima kembali mengajak Zizi, Zayyan pun mengangguk pelan. "Na, aku masuk dulu ya?" Aina mengangguk lalu kembali duduk di kursi tunggu, sementara Zayyan memilih berdiri
"Zi, are you okay?" lirih Zayyan saat melihat Zizi begitu lemas setelah mendonorkan darahnya untuk Delima. Zizi hanya mengangguk pelan lalu mengikuti Zayyan dan Aina yang membantunya duduk di kursi tunggu. "Minum susunya, Zi. Biskuit sama telur rebusnya juga habiskan biar nggak lemas," pinta Zayyan sembari membuka biskuit keju itu. Tak banyak bicara, Zizi mengikuti perintah Zayyan dan Aina. Dia mulai minum susu dan sebutir telur rebus yang dibeli oleh Zayyan tadi. "Aku kupasin yang ini mau?" ujar Zayyan menunjuk telur rebus yang tersisa. Zizi menggeleng pelan. "Sudah kenyang, Mas. Buat nanti aja. Makasih ya.""Sama-sama, Zi. Justru aku yang makasih karena kamu sudah menyelamatkan Tante Delima. Benar kan, Om?" Zayyan sengaja minta pendapat Bima yang sedari tadi masih terdiam memperhatikan Zizi. "Iya, Zay. Alhamdulillah ada Zizi, kalau nggak entah gimana nasib tantemu. Mana hujan masih deras mengguyur.""Saya hanya membantu sedikit, Om. Selebihnya karena Allah.""Iya, tapi kamu pe
"Kenapa bingung begitu?" tanya Aina lagi. Sebagai seorang sahabat, Aina paham betul perasaan Zizi saat ini. Hanya saja, dia mencoba mencairkan keheningan yang ada, meminta Zizi agar mau menceritakan kegelisahannya. Mungkin dengan bercerita, Zizi akan jauh lebih tenang dibandingkan sekarang. "Aku masih bingung bagaimana caranya menghadapi papa dan mamanya Zaki nanti, Na. Kamu tahulah gimana posisiku saat ini. Meski sudah lama tak berhubungan dengan Zaki, tapi-- Zizi menjeda kalimatnya. Dia kembali menghela napas panjang lalu memejamkan mata beberapa saat. "Jika jodoh tak akan kemana, Zi. Yakinlah." Aina mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan. Zizi tersenyum lalu mengangguk pelan. Sejak Zaki memergokinya jalan dengan Zayyan di mall waktu itu, Zaki memang benar-benar menghilang. Zaki tak menghubunginya via email beberapa minggu, sampai akhirnya Zizi memilih tak lagi membuka email-nya karena takut kecewa. Bahkan dia membuat email untuk keperluan kuliahnya. Zizi merasa bersalah
"Kenapa, Zak? Tumben telepon," ujar Sarah yang masih mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia baru selesai mandi sore, rencananya mau jalan-jalan dengan bapaknya ke mall terdekat. "Apa Zizi pernah cerita sesuatu sama kamu, Sar?" tanya Zaki sedikit ragu.Sebenarnya dia tak ingin kembali melibatka
"Saya yakin bukan karena nasi rames yang Bu Sri jual. Buktinya suami saya makan juga nggak ada masalah. Kalau memang beracun harusnya semua yang makan nasi itu ikut keracunan dong. Nyatanya apa? Cuma anak dan suami ibu ini saja. Iya kan?" Tetangga lain ikut berkomentar. Mereka saling mengiyakan, me
"Anak sama suami saya muntah-muntah setelah makan nasi rames buatannya, Mas. Saya nggak mau tahu, dia harus tanggungjawab!" sentak wanita berhijab coklat itu lagi setelah duduk di ruang tamu Santi. Di sana sudah ada keluarga Zizi dan beberapa tetangga yang ingin tahu permasalahan mereka. "Ibu sud
"Ngapain dia datang, Mbak? Mau bikin rusuh lagi?" lirih Amy yang gelisah di samping kakaknya. "Nggak tahu, Dek. Kalau ke sini sebagai tamu, kita wajib menghormatinya.""Tamu sih tamu, Mbak. Tapi nanti pasti bikin ribet." Kakak beradik itupun beranjak dari kursi lalu menyambut tamu tak diundangnya







